Marry The Heir

Marry The Heir
Strawberrynya sampai ke hati



Kean masih terduduk di dalam mobilnya, memandangi rumahnya dari halaman. Beberapa lampu sudah di padamkan karena malam sudah cukup larut. Di sampingnya ada sebuah goody bag berisi makanan yang ia beli dalam perjalanan pulang.


Ia belum berniat turun karena masih ada yang ia pikirkan saat ini yaitu kata-kata Reza beberapa saat lalu.


Reza memang mau di ajak pulang walau pikirannya masih terlihat kacau. Ia belum selesai berfikir dan masih sesekali melamun. Kean mengantarkan Reza ke gallery, agar ia bisa mengabari Nita dan menenangkannya kalau putra kesayangannya baik-baik saja.


Walau bersama-sama mulai dari sasana sampai gallery, pikiran mereka berada di tempat yang berbeda. Reza dengan pikiran kalutnya, masih memandangi buku partiture yang ada di atas pianonya, lengkap dengan bayangan Disa yang terasa masih duduk di sampingnya. Ia masih mengingat tanda bahwa Disa menjaga jarak darinya, yaitu saat ia hendak menggenggam tangannya dan gadis itu menghindar.


Tidak. Sebenarnya sudah cukup lama ia melihat perubahan pada diri Disa. Matanya masih ramah menyambut saat mereka bertemu tapi binarnya sudah bukan untuknya lagi.


Terduduk di kursi hadap piano, memandangi barisan tuts dan ia masih ingin berharap. Penolakan Disa mungkin hanya sebuah bagian dari proses dan ia masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki semuanya dan menunjukkan cara yang lebih bisa di terima Disa.


“Bro, gue pulang dulu."


"Gue udah ngehubungin nyokap lo dan bilang kalo lo baik-baik aja. Mungkin besok dia baru kemari.” Kean berpesan sebelum ia pulang. Bagaimana pun, ia dan Reza sama-sama memerlukan ruang untuk hati dan pikian masing-masing. Dan memastikan sahabatnya baik-baik saja adalah bagian dari kepeduliannya pada Reza.


Reza terpaku tidak menangapi. Ia lebih tertarik untuk mengulang kenangan yang terjadi selama ia mengenal Disa.


Satu tepukan di bahu Reza, Kean berikan sebelum ia pergi meninggalkan sahabatnya.


“Lo bisa bantu gue?” suara Reza menahan langkah Kean yang sudah sampai di mulut pintu.


Kean tidak lantas berbalik. Entah apa yang akan diminta sahabatnya.


“Hem.” Jawaban singkat Kean untuk menegaskan kalau laki-laki patah hati itu masih ia pedulikan.


Reza menghela nafas dalam, berusaha menenangkan dirinya sendiri. Ia belum pernah meminta apapun pada Kean tapi kali ini ia harus meminta bantuan sahabatnya. Entah Kean bisa mengabulkannya atau tidak.


“Gue masih berharap kalau disa bisa ngasih gue kesempatan.”


Kalimat awal itu membuat tubuh Kean menegang seketika. Bantuan apa yang akan diminta sahabatnya, kok perasaannya tidak nyaman?


“Gue ngerasa, gue cukup mengenal disa. Tau persis apa yang dia rasakan dan bagaimana sikapnya sama gue selama ini.”


“Gue masih sangat yakin kalau disa punya perasaan buat gue. Gue hanya perlu meyakinkannya lagi."


"Lagi pula, gue gak bisa ngebiarin disa pergi gitu aja dari samping gue."


"Setelah malam itu, mungkin udah banyak hal yang disa pikirkan dan hubungan gue sama dia gak bisa sebaik dulu.”


“Gue belum bisa nerima itu. Hati gue berasa kosong dan hampa. Apa lo bisa bantu gue buat dapetin disa?” tanya Reza terdengar memelas.


Bahu Kean yang semula melorot kali ini ia tegakkan. Ada sikap yang harus ia ambil menanggapi permintaan Reza. Bukan ia tidak peduli pada patah hati Reza hanya saja ia tidak mau menjanjikan sesuatu yang tidak yakin bisa ia berikan, terlebih itu tentang Disa.


“Bro, seiring berjalannya waktu, banyak hal yang mungkin berubah.” Kean berbalik menatap Reza.


“Ada yang bisa lo kendalikan dan ada yang nggak.”


“Perasaan seseorang bukan hal yang bisa lo paksakan buat lo miliki. Mungkin selama ini lo bisa ngedapetin banyak wanita tapi bukan disa.”


Sahabatnya harus di sadarkan pada realita yang ada dan berhenti memimpikan sesuatu yang sudah tidak bisa ia miliki hanya karena ia belum bisa menerima kenyataan. Ia tidak boleh seegois itu.


“Gue bisa bantu lo ngedekatin wanita mana pun yang lo mau. Tapi bukan disa. Jangan paksa dia buat melakukan apa yang nggak ia inginkan.” Tegas Kean.


Ia tidak bersedia membantu Reza untuk satu masalah itu. Reza bisa meminta bantuan apapun, tapi bukan dengan memaksakan perasaan Disa.


Reza tersenyum samar. Ia balik menatap sahabatnya dengan laman.


“Kenapa?”


“Lo gak bisa bantu deketin disa sama gue atau karena lo punya perasaan sama dia hah?” tembak Reza langsung pada rasa penasarannya.


Kean tidak menjawab. Ia memalingkan wajahnya dari Reza dan berusaha menyembunyikan raut wajah yang tiba-tiba berubah. Mana mungkin ia harus mengakuinya sekarang. Kondisi Reza tidak baik-baik saja dan ia masih punya hati untuk tidak membuat perasaan Reza semakin hancur.


Melihat sikap Kean, rasanya Reza tahu alasannya. Jawaban sahabatnya, bukan tanpa alasan.


“Gue ngerti maksud lo. Mungkin kali ini hal yang kita takutin bakalan benar-benar terjadi."


"Bersaing untuk mendapatkan gadis yang sama.” tegas Reza.


Kean tidak menimpali. Dan rasanya ia sudah yakin dengan keputusan yang di buatnya saat ini. Dan jika ada konsekuensi, maka ia akan menghadapinya. Tidak akan membiarkan lagi kesempatan di depan mata menghilang begitu saja.


Turun dari mobil dengan membawa sebuah goody bag berisi makanan. Ini buah tangan pertama yang Kean bawa untuk Disa. Ia melihat isinya sebentar seraya berharap Disa akan menyukai apa yang di bawanya. Mungkin memang benar, kali ini persaingan antara ia dengan Reza resmi di mulai.


Masuk ke dalam rumah, Kean mendengar suara gemericik air dari dapur. Terdengar juga gumaman suara yang bernada. Kean hanya tersenyum saat menyadari Disa masih bangun dan sedang menyelesaikan pekerjaannya.


Ia melangkah pelan, berusaha tidak mengusik fokus Disa dan memperhatikannya dari arah meja makan. Disa belum menyadari kedatangannya.


Jika diperhatikan, wajah Disa tidak pernah terlihat lelah. Ia selalu tersenyum dan wajahnya ceria meski pekerjaan yang dilakukannya tidaklah sedikit. Ada titik-titik keringat yang coba ia usap dengan lengannya.


Kean tersenyum sendiri saat mengingat malam yang kelam ketika ia mengira hubungan Disa dan Reza telah resmi. Sehancur itu perasaannya yang seperti di tinggalkan dengan cara yang menyakitkan.


“Tuan? Anda sudah pulang?” Disa baru sadar keberadaan Kean yang sedari tadi mematung memandanginya.


“Hem. Pekerjaanmu belum selesai?” menaruh goody bag di atas meja lantas melepas jaket yang semula membalut tubuhnya.


“Sebentar lagi tuan. Apa ada yang tuan perlukan?” fokusnya berpindah pada Kean.


Ini yang Kean sukai saat berbicara dengan Disa, fokus dan penuh perhatian. Menempatkan kehadiran Kean di hadapannya sebagai sesuatu hal yang penting.


Kean tidak menjawab. Ia memilih menghampiri Disa dan berdiri di sampingnya. Satu mangkuk penuh busa sabun ia ambil dan membilasnya di air keran.


“Tuan, apa yang anda lakukan? Kalau anda memerlukan mangkuk, saya akan mengambilkannya.” Ujar Disa yang terkejut melihat apa yang Kean lakukan. Masuk ke dapur adalah sebuah pantangan bagi majikannya apalagi menyentuh pekerjaan yang seharusnya menjadi tugasnya.


“Tidak perlu. Saya hanya ingin membantumu.” Sahut Kean dengan senyuman tipis yang terbit.


Semakin terkejut saja dan Disa malah memandangi laki-laki tampan di sampingnya. Ada apa dengan tuan mudaku? Mungkin itu yang sedang ia gumamkan dalam hatinya.


Satu mangkuk sudah selesai Kean cuci. Ia pun mengambil gelas yang ada di tangan Disa. “Cuci tanganmu dan siapkan dua mangkuk kecil, skup es krim dan dua sendok.” Titah Kean kemudian.


“Hah?” Disa semakin ternganga dengan wajah bingungnya.


Kean menoleh gadis yang tampak terkejut tersebut lantas mendekat untuk berbisik. “Apa suaraku tidak cukup terdengar?” bisik Kean yang membuat Disa sedikit menarik tubuhnya saat hembusan nafas Kean bertiup di daun telinganya. Membuat meremang saja.


“Terdengar tuan!” sahutnya.


Ia segera mencuci tangannya hingga bersih dan menuruti perintah Kean selanjutnya, menyiapkan mangkuk, sendok dan apa tadi?


Aarghh! Bodoh! Gara-gara tingkah tuan mudanya pikirannya jadi kacau.


Dari pantulan cermin di wastafel, Kean memperhatikan apa yang Disa lakukan. Wajah bingungnya membuat ia ingin tertawa.


“Mangkuk kecil, skup es krim dan dua sendok.” Kean mengulang perintahnya.


“Oh iya skup es krim.” Disa mengulang nama benda yang ia lupa sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sejak kapan otak Disa jadi blank begini? “Apa kita akan makan es krim tuan?”


Dia baru sadar dengan ekspresi wajah antara terkejut dan senang.


“Apa kamu pernah makan cendol pake skup es krim?” Kean balik bertanya, tanpa bisa menahan senyumnya.


“Em, tidak tuan.” Bodoh, Disa merutuki pertanyaan bodohnya tadi. “Saya siapkan.” Imbuhnya yang segera mengambil bangku kecil untuk ia pijak saat akan mengambil mangkuk kecil. Kakinya yang mungil sedikit berjinjit, membuat Kean gemas sendiri.


Tugas mencuci piring selesai dan Disa sudah menyiapkan dua mangkuk di atas meja lengkap benda lain yang ia minta.


Di meja makan, Ia menopang wajahnya dengan kedua tangan seraya memandangi goody bag yang belum berani ia buka. Air liurnya serasa mau menetes saat ini membayangkan akan makan es krim dengan merk dari sebuah brand terkenal.


“Gelato Secrets.” Nama itu Disa gumamkan beberapa kali.


Nama yang cukup familiar untuknya. Kata Rianti itu brand es krim dan gelato yang enak. Dulu setelah menghadiri peragaan busana Disa dan Rianti berencana untuk mampir ke tempat ini. Tapi sayangnya ia urung datang ke sana karena harus pulang cepat. Dan kali ini rasa penasarannya akan segera terbayar.


“Dia bisa meleleh kalo terus kamu pandangi.” Suara kean terdengar tiba-tiba menjeda air luir yang hampir menetes dari sudut bibir Disa.


“Hehehehe.. Apa lagi kalau saya kasih kedipan ya tuan.” Timpal Disa mengimbangi candaan Kean.


Gurauan seperti ini biasanya di lontarkan oleh laki-laki sejenis Eko, tapi siapa sangka tuan mudanya pun bisa melakukannya.


“Iya, dia bisa mencair.” masih di sahuti seraya menarik kursi dan duduk di hadapan Disa. Menatap Disa laman dengan tangan terlipat di depan meja.


“Eh? Apa maksudnya? Ini lagi becanda kan? Kok aku deg-degan?” batin Disa seraya mengalihkan pandangan dari laki-laki yang tersenyum padanya.


“Bukalah. Aku ingin melihat seperti apa kamu menyiapkan es krim.” Tantang Kean yang ikut tidak sabar melihat Disa menyiapkan es krim untuknya.


Kata orang, saat menikmati es krim dengan orang yang kita sukai, rasa manisnya akan bertambah berkali lipat. Ia jadi penasaran, seperti apa rasanya.


“Wah, banyak sekali tuan.” Seru Disa saat melihat tiga kotak es krim dalam goody bag. Pantas saja bawanya pakai goody bag besar.


Tidak hanya itu, Kean juga membeli cone-nya juga buah strawberry dan blue berry sebagai toping. Lengkap sekali.


“Strawberry-nya manis. Kamu cobalah.” Cetus Kean saat melihat mata Disa yang berbinar melihat strawberry.


“Bagaimana tuan tahu kalau saya suka strawberry?” tanya Disa penasaran. Perasaan ia tidak pernah cerita pada siapapun.


“Karena kamu selalu licik kalau bikin jus. Kamu bikinin saya jus brokoli tapi kamu hanya menggunakan pisang dan starwbery untuk campurannya.” Timpal Kean, mengambil satu buah strawberry yang kemudian masuk ke mulutnya.


“Belum di cuci tuan!” Disa menahan tangan Kean, sayang strawberry sudah di kunyah. Kean sampai merem melek merasakan rasa asam strawberry di mulutnya.


Ternyata bohong, walau strawberry ia coba makan di hadapan orang yang ia sukai, rasanya tetap saja asam.


“Aahh…” matanya langsung menyipit merasakan asam.


“Hahahhaa… tuan main hap saja.” Disa tertawa puas melihat ekspresi tuan mudanya saat mengunyah strawberry.


Dan ajaib, rasa asam itu benar-benar hilang saat Kean melihat Disa tertawa. Apa semenyenangkan itu bagi Disa saat melihat salah satu kebodohan Kean?


“Langsung makan es krimnya tuan.” Disa menyuapkan satu sendok es krim rasa coklat ke mulut Kean yang otomatis terbuka. “Hahahaha.. Sedikit berkurang bukan, asamnya?” imbuh Disa saat melihat perubahan ekspresi Kean.


Kean hanya tersenyum, menikmati sensasi dingin, manis dan asam yang bercampur di mulutnya. Disa masih memandanginya, seperti menunggu perubahan ekspresi Kean adalah sesuatu yang menarik untuk tidak dilewatkan.


“Kamu, makanlah.” Salah tingkah juga kalau Disa terus memandanginya seperti ini. Lihat senyumnya yang merekah, membuat jantung Kean berdebaran. Sungguh, ia pengalaman pertamanya makan es krim dengan seorang gadis yang ia suka.


“Baik tuan.” Disa lebih memilih cone. Ia mencampur rasa strawberry, coklat dan blueberry dalam satu tangkai cone. Tidak lupa topingnya, strawberry dan blueberry utuh.


Saking penasaran dengan rasanya, Disa segera menyuapkan es krim ke mulutnya. Rasa dingin bercampur rasa es krim membuat otaknya seperti terkena serangan petir tiba-tiba. Dingin dan membekukan. Ia begitu menikmati es krimnya. Ternyata Rianti benar kalau es krim ini sangat enak.


“Saya mau coba.” Kean dengan wajah penasarannya saat melihat ekspresi Disa yang begitu menikmati es krim di tangannya.


“Mau saya buatkan tuan?” tawarnya, dengan noda es krim yang beleber di sekitar bibir.


“Ini saja.” Meraih tangan Disa lantas menjilati es krim milik Disa.


“Tuan, ini bekas saya.” pekik Disa menahan tangannya. Sepertinya tuan mudanya hilang akal. Ia tidak suka makanannya di cicipi tapi malah makan es krim bekas Disa.


"Apa tidak boleh?" Kean memilih acuh. Ia terlalu menikmati es krim yang ada di tangan Disa seraya memandangi wajah Disa yang merona.


“Boleh, untuk tuan saja.” Akhirnya Disa mengalah daripada jantungnya meledak karena dag dig dug.


“Terima kasih.” Ceria sekali wajah tuan mudanya menikmati es krim sisanya.


Disa kembali membuat ramuan es krim yang sama. Mencoba menikmatinya dengan tenang walau perasaannya sudah tidak setenang awal-awal. Kean terlalu mengagetkannya namun ia menikmati debaran kencang yang membuat darahnya maksimal terpompa ke seluruh tubuh.


“Bagaimana persiapan mu untuk besok?” tanya Kean setelah berhasil menghabiskan satu cone es krim. Rasanya ia ketagihan dan mengambil kembali es krim dari tangan Disa.


“Ba-baik.” Aahh semakin berdebar saja rasanya. Ada apa dengan tuan mudanya?


“Nikmati es krimnya, siapa tahu bisa menambah inspirasi untuk perlombaan besok.”


Apanya yang harus di nikmati kalau es krimnya kembali berpindah tangan.


“Kamu harus berani untuk hari besok. Tunjukkan karyamu yang paling bagus. Bersemangatlah!” ujarnya seraya menepuk bahu Disa.


Disa hanya terpaku, menatap bahunya yang tadi di tepuk Kean. Entah mengapa rasanya begitu menenangkan. Seperti semangatnya bertambah berkali-kali lipat.


“Terima kasih tuan.” Seperti rasa es krim itu tidak hanya bercampur di mulutnya tapi terbawa hingga ke hatinya.


Tuan muda, apa yang anda lakukan? Kenapa semakin sulit mengatur jarak dengan anda?


*****