
Pagi ini menjadi pagi yang ceria bagi Arini. Melihat Kean sudah bangun sepagi ini, membuat sarapan sendiri yang katanya ini roti isi resep Disa dan tentu saja wajahnya yang terlihat segar, beda dari biasanya, memberi ketenangan sendiri bagi Arini.
Arini masih memperhatikan dari kejauhan saat Kean asyik berbincang melalui sambungan video sambil memegang penjepit roti.
“Alpukatnya di potongnya gimana? Memanjang apa melebar?” tanya Kean yang baru selesai mengupas alpukatnya. Tangannya belepotan. Ini saja sudah memerlukan usaha ekstra untuk melepas cangkak alpukat tanpa merusak dagingnya.
“Di belah dua dulu, baru tuan balik kayak gini, nah terus di iris tapi jangan terlalu tipis.” Suara Disa yang terdengar di sebrang sana.
Arini jadi tersenyum sendiri melihat kerjasama dua orang ini membuat sarapan.
“Mba disa ya tan?” Shafira yang baru turun seraya menghampiri Arini.
Arini refleks mendesis seraya menaruh telunjuknya di atas bibir. Ia masih ingin menikmati pemandangan pagi yang menunjukkan kedekatan Kean dan Disa.
“Mereka?” Shafira langsung membulatkan matanya mendengar perbincangan keduanya.
“Nggak tau. Jangan di ganggu, kita liat dulu.” Arini masih berbisik, agar tidak di dengar Kean.
Kean yang mendengar ke gaduhan di belakangnya, menoleh mencari asal suara. Dengan cepat Shafira menarik kursi roda Arini agar bersembunyi. Bahu mereka bergetar menahan tawa saat obrolan lainnya mereka dengarkan.
“Terus madunya segimana? Se sendok cukup?” mengangkat sendok dan botol madu berdampingan.
“Iya, satu sendok cukup tapi jangan terlalu penuh, supaya gak terlalu manis.” Timpal Disa.
“Okey, aku coba.” menuangkan sedikit demi sedikit madu di atas sendok dan saat sudah cukup banyak suara Disa yang terdengar.
“Sudah cukup tuan.”
Satu sendok madu itu yang kemudian Kean siramkan ke atas roti yang sudah di beri alpukat.
“Udah bisa di makan belum ini?” ragu melihat hasil karyanya sendiri, karena tidak secantik buatan Disa.
“Udah tuan, cobalah, pasti enak.” Disa meyakinkan Kean yang tampak ragu.
Sebenarnya Kean tidak percaya kalau roti isinya ini akan enak. Ukuran tomat dan bawang bombay yang di potongnya saja jauh dari kata rapi, ada yang terlalu besar dan ada yang terlalu kecil. Tapi, ia sudah sangat rindu dengan roti isi ini sampai terbawa mimpi hingga ia memilih bangun pagi-pagi untuk membuatnya.
Satu gigitan masuk ke mulutnya, Disa menunggu dengan tidak sabar ekspresi Kean berikutnya. Satu suapan belum terasa, di sambung suapan kedua dan ketiga tanpa komentar.
“Gimana tuan?” penasaran jadinya karena Kean malah asyik mengunyah.
“Aku maaauuuu!!!” seru Shafira yang sudah bosan terus menerus bersembunyi. “Mba disaaa!!!” serunya menyapa Disa.
Disa hanya tersenyum melihat wajah cerah Shafira yang datang tiba-tiba. Rasanya malu juga ketahuan video call dengan Kean. Tapi nona mudanya bersikap biasa, mungkin agar Disa tidak canggung.
Saat perhatian Kean tertuju pada Disa, dengan segera Shafira menarik tangan Kean dan menggigit ujung rotinya.
“Iihhh, apa sih?!” protes Kean saat Shafira berhasil menggigit rotinya. Ia menahan dahi Shafira, agar menjauh dan menarik tangannya sendiri, lepas dari cengkraman Shafira.
Tidak rela untuk berbagi roti dengan adik sambungnya.
“Ih abang, pelit banget sih?!” protesnya kesal. Baru sedikit yang berhasil ia gigit dan masih penasaran mengecap rasanya lebih banyak lagi.
“Enak aja! Bikin sendiri!” mendorong talenan berisi kulit bawang yang bercampur alpuket dan sisa potongan tomat.
“Gak mau! Abang yang bikinin.” Shafira merajuk manja.
“Ogah!” Kean langsung menjauh. Memakan sisa roti di tangannya dan mengambil ponsel yang ia pasang di phone holder.
“Kean, kasih fira dikit dong. Ngeces nanti dia.” Arini ikut keluar dari persembunyiannya.
“Mamah, udah bangun?” baru sadar kalau Arini ada di dekatnya.
“Udah dari tadi lagi. Siapa?” Arini pura-pura tidak tahu.
Kean hanya tersenyum, menunjukkan layar ponselnya pada Arini dengan malu-malu.
“Disa, selamat pagi.” Sapa Arini pada Disa yang masih berada di dalam selimut.
Semalaman ia begadang melanjutkan menjahitnya, saat baru akan tidur, Kean lebih dulu menelponnya minta di ajari cara membuat roti isi.
“Selamat pagi nyonya.” Disa segera merapikan rambutnya yang berantakan.
Matanya yang mengantuk langsung terbuka lebar saat Arini ada di hadapannya. Badannya pun ia tegakkan dan duduk bersandar pada sandaran tempat tidur.
“Tumben kamu video call disa, apa ada yang terlewat sama mamah?” Arini menatap penuh selidik.
Kean dan Disa sama-sama membisu, ternyata sangat mendebarkan kalau sudah Arini yang bertanya seperti ini.
“Jangan bilang mba disa mau jadi kakakku?” Shafira segera mendekat. Membawa lembaran roti yang belum selesai ia olesi butter.
“Kepo! Ngapain sih kamu pagi-pagi udah di sini?” Kean berusaha mengalihkan pembicaraan. Ia memang masih bingung harus menyampaikannya seperti apa pada Arini.
“Ngapain udah di sini?! Aku tuh nginep di sini gara-gara udah malem abang belum pulang. Kasian tau tante sendirian. Abang kemana sih?” Bibirnya mengerucut kesal.
Semalam Kean memang baru pulang tengah malam, setelah menghabiskan waktunya bersama Disa. Mendengar pertanyaan Shafira, Kean jadi menoleh gadisnya, teringat apa yang terjadi semalam. Disa tersipu malu di tempatnya, ingatan tentang ia dan Kean seolah menari-nari di ingatannya. Bagaimana Kean menciumnya dengan serakah, memeluknya dengan erat seperti enggan berpisah.
“Aku tidur di kamar mba disa loh. Kata tante tiap malem abang juga tidur di sana cuma semalem aja nggak, kangen kali ya sama mba disa? Sambil ngayal gitu.” Ledek shafira. Suara gadis itu berhasil menyadarkan keduanya dari lamunan yang dalam.
“Heh! Berisik!” Kean langsung membekap mulut Shafira yang kadang tidak terkontrol. Tentu saja ia tidak tidur di kamar Disa karena semalaman ia asyik video call sambil menemani Disa mengerjakan desainnya. Suara mesin jahit seolah menjadi melodi di antara mereka dan Kean menikmati setiap kali melihat wajah Disa yang terlihat serius dan cantik saat asyik dengan pekerjaannya.
Shafira berusaha melepaskan diri dari bekapan Kean, “Tante!” serunya seraya berlari, bersembunyi di belakang Arini, mencari perlindungan.
“Kean udah akh. Kamu belum jelasin apa-apa sama mamah. Disa juga.” Menatap Kean dan disa bergantian.
Keduanya hanya tertunduk malu sambil senyum-senyum tidak jelas.
Arini mendekat pada putranya yang terlihat salah tingkah. Ikut menatap disa di layar ponselnya.
“Disa, udah bersedia ya?” tanya Arini, penasaran.
Kean tidak langsung menjawab, di pandanginya Disa yang tetap terlihat cantik walau rambutnya sedikit berantakan. Semalaman mereka melanjutkan perbincangan lewat video, banyak hal yang mereka utarakan satu sama lain.
Di helanya nafas dalam sebelum menjawab pertanyaan Arini. Arini seperti tidak bisa menunggu lagi. Baik sekarang atau nanti, bukankah ia tetap harus mengatakannya?
“Iya mah.” Jawabnya dengan penuh keyakinan.
“Hah, beneran?” seru Shafira, menunggu jawaban pasti dari Disa.
Disa mengangguk pelan, dengan wajah yang memerah, malu.
“Yeaaayy!!! Aku beneran jadi adenya mba disa!!!” seru Shafira yang melonjak-lonjak kegirangan seperti anak kecil.
Disa dan Kean jadi sama-sama tertawa melihat tingkah Shafira. Bajunya sudah putih abu tapi kelakuan masih seperti anak ingusan pikirnya.
Lagi kean menatap Disa yang tidak bosan ia pandangi. Ia sangat bersyukur karena ternyata Disa mau menerimanya dengan segala kekurangannya.
“Alhamdulillah, mamah ikut seneng. Akhirnyaa…” Arini menghembuskan nafasnya lega, setelah usahanya ternyata tidak sia-sia. Di genggamnya tangan Kean dengan erat, lantas Kean mengecupnya dengan lembut.
Disa yang berada di sebrang sana, merasa terharu melihat interaksi Kean dan Arini yang selalu penuh kasih. Ia mengingat petuah kalau ingin tahu cara melihat perlakuan terbaik laki-laki terhadap perempuan, maka lihatlah cara ia memperlakukan ibunya. Kean begitu menyayangi Arini, memperlakukannya dengan sangat baik. Maka, rasanya pilihan Disa tidak salah untuk memilih Kean sebagai pendamping hidupnya kelak.
“Mba disa, nanti fira ke tempat mba disa ya pulang sekolah. Ada yang mau fira kasih liat.” Semangat shafira langsung menggebu untuk menemui calon kakak iparnya. Sudah banyak rencana yang ia susun untuk ia lakukan bersama Disa.
“Jangan! Disa lagi sibuk.” Baru Disa akan menjawab, sudah keduluan Kean.
“Ih abang pelit banget sih. Orang aku gak bakal ganggu kok. Cuma mau nemenin mba disa aja. Boleh kan mba disa?”
“Fir, abang kamu bener. Disa perlu fokus sama kerjaannya. Waktunya tinggal 2 hari lagi loh sebelum acara final. Kamu pasti ganggu konsentrasinya kalau ke sana.” Arini tahu benar, putri sambungnya yang tidak bisa berhenti bicara pasti akan sangat menganggu Disa yang harus berkonsentrasi penuh, bekerja keras menyelesaikan semuanya.
“Non fira, kita kan bisa bertemu saat nanti saya pagelaran. Non fira datang kan?” berusaha menghibur Shafira yang terlihat kecewa.
“Iya dong pasti. Aku bakalan duduk paling depan dan ngeliat langsung karya mba disa lewat persis di depan mata aku. Aku sama tante arini udah pesen desk VVIP pokoknya. Iya kan tan?”
“Hem, iya sa. Saya dan fira pasti datang. Kamu yang semangat ya…” Ujar Arini dengan sungguh-sungguh.
“Baik nyonya, non fira terima kasih.”
“Sama-sama mba disa. Ya udah, sekarang mba disa terusin kerjaannya. Aku, tante sama abang mau lanjutin sarapan. Bye mba disa, love you!” serunya seraya melambaikan tangan.
Beberapa saat kemudian Shafira mengakhiri panggilannya dengan Disa tanpa seizin Kean.
“Eh ni anak.” Protes Kean yang mengeram kesal.
“Hehehehe… Kan mba disa harus fokus bang, fokus. Jangan di ganggu.” Mengacungkan telunjuknya di depan Kean. Dengan mudah Shafira mengembalikan kata-kata Kean tadi.
Kean hanya bisa menggeram kesal, padahal ia masih ingin melihat wajah Disa. Dasar anak kecil, mengganggu saja pikirnya.
*****
Rencana untuk tidur ternyata tidak bisa terrealisasi. Setelah berbicara dengan Arini dan Shafira malah membuat matanya semakin tidak mengantuk.
Disa memilih untuk beranjak dari tempat tidurnya. Merapikan selimut dan menata bantal. Setelah cukup rapi, ia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Yang terjadi sekarang, Disa tidak langsung mandi. Ia malah berdiri mematung di depan kaca seraya memandangi wajahnya sendiri. Sedikit menghangat dan merah, ia menangkup kedua sisi pipinya dengan kedua tangan. Mengigit sendiri bibirnya saat mengingat apa yang terjadi semalam antara ia dengan Kean. Rasanya masih sama, hangat dan mendebarkan.
Perhatian Disa teralih pada sebuah benjolan kecil yang kemerahan muncul di dahinya. Tepat di tempat Kean mengecup dahinya sebelum ia pulang. Sedikit nyeri tapi seolah menjadi penanda kalau dahi ini sekarang area kekuasaan Kean. Eh?
“Hihihihi…”
Disa jadi terkekeh sendiri dengan isi pikirannya yang terkadang di luar kontrol. Imajinasinya terlalu tinggi sampai ia merasa kalau Kean ada di belakangnya, berdiri dengan jarak yang sangat dekat, ia memiringkan kepalanya saat terasa ada sapuan lembut dari hembusan nafas Kean yang hangat menyapu tengkuknya.
Gilaa, ini benar-benar gila. Jatuh cinta untuk kesekian kalinya membuat otak Disa mulai tidak waras. Kadang ia tidak bisa membedakan mana nyata dan khayalan terlebih saat membayangkan Kean ada di dekatnya. Disa memeluk tubuhnya sendiri, dengan mata terpejam membayangkan Kean ada di dekatnya. Hangat dan menenangkan.
"Semangat sa, kamu yang terbaik." kalimat itu yang kemudian terngiang di telinganya, persis seperti yang di ucapkan Kean semalam. Seperti ada ribuan energi yang kemudian mengisi semangatnya hingga level maksimal.
“Tok tok tok!” suara ketukan terdengar nyaring mengagetkan Disa. Dengan cepat lamunannya pudar.
“Tok tok tok!” lagi suara ketukan di pintu terdengar tidak sabaran. Apa boleh buat, Disa segera menyadarkan dirinya, menghampiri sebelum pintunya rusak karena di gedor paksa.
“Clara?” gumam Disa saat melihat sosok cantik yang berdiri di hadapanya.
Wangi yang segar, khas parfum mahal yang tidak mencolok, riasan Korean looks yang paripurna hingga kulitnya terlihat glowing, mengalahkan porselen yang selalu di usap setiap hari. Juga kacamata hitam yang ia lepas dengan sedikit gerakan slow motion, membuat Disa yang seorang wanita saja jadi terpesona, apa kabar kaum adam?
Bandingkan dengan tampilannya yang masih memakai piyama kebesaran dalam arti sesungguhnya. Benar-benar longgar namun terasa nyaman.
“Lama banget sih lo bukain pintu doang juga.” Clara langsung menerobos masuk ke kamarnya dan berdiri tepat di hadapan manekin Disa.
“Udah berapa persen? Udah bisa gue fitting sekarang gak?” pertanyaan bertubi-tubi, mengabaikan keterkejutan Disa.
Di pandanginya baju yang Disa buat khusus untuknya.
“Em, yang formal dan informal looks, udah ready tinggal fitting terakhir. Saya memakai ukuran terakhir yang di kirimkan assisten clara. Kalau yang ini, baru 80%.” Terang Disa dengan jelas.
Jujur, terlalu sulit menyelesaikan baju terakhir tanpa mengukur tubuh Clara secara langsung. Ia belum sehebat desainer kondang yang sekali lihat tubuh modelnya, bisa langsung memperkirakan ukuran yang pas untuk tubuh modelnya. Ia masih perlu banyak belajar.
“Selesai besok gak nih? Gue gak mau ya, kalo sampe baju yang gue pake setengah jadi.” Ujarnya ketus.
“Iya claire, saya usahakan selesai besok sore, jadi malamnya bisa di coba sambil make up test.” Sebisa mungkin Disa menenangkan Clara, ia tidak mau model sekaligus idolanya kecewa.
Clara masih memperhatikan detail gaun buatan disa. Mengusap permukaan kain dengan lembut. Memperhatikan detail manik dan batuan kecil yang terlihat berkilauan saat terkena cahaya. Melihat bagian dada yang ia bilang adalah bagian favoritnya, juga pinggangnya yang ramping. Gaun yang terlihat lebih indah dari gaun milik dewi yunani ini memang benar-benar sesuai dengan konsep Disa.
Yang menarik bagi Clara, adalah bagian sayap yang di lukis Disa. Ia tahu, ini bukan hal yang mudah, membatik pada kain jenis ini. Perlu skill yang tinggi untuk membuatnya. Dan setelah jadi, ternyata sangat indah.
“Bisa lo bentangin gak sayapnya, gue mau liat.” Tiba-tiba saja Clara mengatakan hal itu.
“Bisa? Mau sekalian di coba? Saya juga sudah membuatkan versi gambar 3Dnya. Mau lihat?” semangat Disa langsung menggebu melihat Clara antusias dengan karyanya.
“Mana?” sudut matanya tetap terkesan sinis, gengsinya memang tinggi, penasaran tapi masih di tahan.
“Sabar disa, memang seperti ini clara. Aslinya baik, hanya perlu terbiasa dengan sikap ketusnya.” Disa menghibur hatinya yang sesekali mencelos.
Disa segera mengambil ipad-nya, menunjukkan versi 3D yang ia buat. “Silakan, Claire.”
Clara duduk dengan anggun, seraya melihat desain yang Disa buat. Sesekali membandingkannya dengan asli.
“Gue mau coba, bisa?”
Tertarik juga rupanya.
“BISA!” sahut Disa dengan semangat.
Akhirnya, entah mimpi apa semalam sehingga Clara datang dan mau mencoba gaunnya. Padahal saat melihat Clara ada di depan pintu, Disa pikir Clara akan memakinya atas masalah ia dengan Kean. Tapi ternyata tidak.
Rasanya Disa harus belajar untuk tidak negative thinking pada orang lain, sekalipun yang memperlakukannya sebagai musuh.
Melepas gaunnya dari manekin dengan sedikit gemetar saking senangnya. Lantas memakaikannya pada Clara di hadapan sebuah kaca tinggi, lebih tinggi dari Clara.
Clara memperhatikan tubuhnya yang berbalut gaun buatan Disa. Entah seperti apa perasaannya karena tidak ada perubahan ekspresi wajah yang berarti. Sedikit mengangkat dagunya khas model, melepas pengikat rambutnya yang diikat ekor kuda dan membuat rambut lurusnya jatuh terurai. Di acaknya sedikit agar terlihat messy. Sesekali mengangkatnya, untuk mencari model yang pas untuk hair do nya.
“Mungkin bagusnya di buat bergelombang di bagian ujung dan sedikit highlight warna.” Saran Disa yang ikut memandangi Clara. Ciptaan tuhan yang satu ini memang sangat indah.
“Hem, tapi gue gak suka bagian ini agak longgar. Bisa lo kencengin gak?” ia memegangi bagian pinggang yang menurutnya terlalu longgar.
“Bisa! Boleh saya ukur?”
“Hem.” Sahutan pendek itu sungguh berarti bagi Disa. Apapun alasan Clara merubah prinsipnya agar Disa tidak menyentuhnya, ia hanya bisa bersyukur. Ternyata tidak salah ia mengidolakan Clara sebagai modelnya yang terkenal professional.
Disa dengan cepat mengukur ulang tubuh Clara. Bagian-bagian yang menurutnya adalah kunci untuk kesempurnaan gaunnya, ia pastikan beberapa kali agar tidak salah. Sampai kempis kembung jantung Disa karena saking senangnya.
“Apa segini nyaman?” mengunci satu bagian yang menurut Disa penting, bagian punggung.
“Ya, cukup.”
Di cermin sana, sesekali Clara memperhatikan Disa. Wanita ini tidak pernah menyerah pada sikapnya yang kerap menyebalkan. Tekadnya sangat kuat padahal ia selalu memperlakukan Disa dengan sinis.
Bertanya nyaman, ya gadis ini bertanya kenyamanan atas gaun yang dikenakannya. Padahal, terkadang bagi seorang model yang memperagakan sebuah busana, yang penting terlihat stunning, tidak peduli itu nyaman atau tidak. Masalah nyaman, hanya berlaku bagi mereka yang memang pada akhirnya memiliki baju tersebut. Tugasnya hanya memperagakan, ya sebatas itu saja.
Jadi tersenyum sendiri saat sadar kalau Disa tidak memperlakukannya seperti manekin hidup. Ia menghargai perasaan Clara, kenyamanannya. Ia membuat gaun yang di pikir akan menonjolkan kelebihannya dan menutupi kekurangannya. Tapi, Disa tidak melakukannya.
Disa membiarkan bagian yang di benci Clara itu untuk tetap terlihat hanya saja di buat dengan tampilan yang special hingga Clara tidak merasakan kalau itu bagian dari kekurangan tubuhnya.
“Lo berbakat.” Dua kata itu yang kemudian ia ucapkan dan membuat Disa tersipu.
“Terima kasih Claire.” Semakin semangat saja untuk ia melanjutkan karyanya.
“Oh iya, tentang kean,” Clara menjeda kalimatnya, menunggu ekspresi Disa yang mulai menghentikan pergerakan tangannya mengukur tubuhnya.
“Gue udah gagalin rencana pertunangan gue sama kean.” Imbuhnya saat Disa mulai menyimak.
Disa hanya tersenyum simpul, entah seperti apa ia harus berrespon. Tapi paling tidak, Clara bukan lagi saingannya untuk berebut Kean.
Apa sebenarnya yang terjadi hari ini, mengapa begitu menyenangkan?
*****