
Banyak hal yang bisa kita syukuri setiap hari. Mulai dari membuka mata dan menghela nafas dengan lega, merasakan tubuh yang segar dan sehat adalah sebagian hal yang kita syukuri di antara banyak nikmat lain yang kadang kita lupa, kalau hal tersebut sangat berarti. hal seperti itu baru terasa bermakna saat kita tidak lagi merasakannya. Misal saat sakit atau hanya sekedar flu. Bisa menarik nafas dengan lega menjadi moment yang di nanti setelah kita sembuh.
Seperti yang dirasakan Kean saat ini. Ketika ia terbangun, tubuhnya terasa begitu segar. Ia menggeliat, merenggangkan otot-otot tubuhnya yang kekar, ternyata begitu nikmat. Tubuhnya terasa ringan seperti energinya telah terisi kembali. Ia menoleh jam yang berada di samping tempat tidurnya, sudah hampir setengah 6.
Beranjak dari tempat tidurnya setelah menyingkirkan selimut yang semalaman membungkus tubuhnya. Ia pergi ke kamar mandi lantas membasuh wajahnya dan berwudhu.
Sejak ada Disa di rumah ini, hidupnya mulai teratur. Tidak hanya tentang kapan ia bangun, makan, mandi hingga tidur lagi. Ia pun lebih apik mengurus kewajibannya pada sang pencipta.
“Disa, setelah ini apa ada tempat yang mau kamu tuju?”
“Em,, mungkin cari mushola dulu tuan. Saya belum sholat ashar.”
“Disa, kita makan di mana?”
“Mungkin baiknya di tempat makan yang ada musholanya, supaya tenang.”
Kalimat-kalimat itu yang di dengar Kean seharian saat bersama Disa. Seperti sebuah renjatan yang mengingatkan dirinya pada kewajiban dasar yang kerap terlupakan.
Kean masih ingat, mukena warna kuning yang selalu berada di dalam tas Disa. Kemanapun ia pergi, ia selalu membawa benda dari kain parasit yang bisa di lipat hingga kecil, sebesar kepalan tangan saja.
“Kenapa harus warna kuning?” sambil melepas sepatu Kean masih memperhatikan mukena yang berwarna cerah tersebut.
“Heehehehe.. Ini dibelikan oleh nenek saya tuan. Katanya kalau warnanya jreng seperti ini, kalau hilang lebih mudah di cari.” Tuturnya seraya memandangi mukena di tangannya dengan sendu. Sepertinya ia sedang memikirkan orang yang memberikan mukena ini.
Selalu ada hal tidak terduga dari seorang Paradisa.
Dan kali ini, Kean pun memulai harinya dengan menunaikan kewajibannya. Seperti yang selalu di katakan Disa, setelah menunaikan kewajibannya perasaannya akan lebih tenang dan pikirannya terbuka. Mungkin hal ini yang membuat ia selalu merasa nyaman saat di dekat Disa. Auranya yang tenang dan menenangkan.
Pagi ini Kean berencana untuk berolah raga. Ia sudah mengenakan pakaian olah raganya, lengkap dengan smart watch yang melingkar di tangannya. Sebelum menuruni anak tangga, ia sempatkan untuk memandangi pintu kamar Disa yang sudah tertutup rapat. Ia masih tidak menyangka kalau Disa benar-benar mulai memiliki tempat di rumah ini. Ia meninggalkan banyak jejak hingga Kean merasa Disa ada di mana-mana.
Turun ke lantai satu, suasana cukup sepi. Tidak ada Disa yang biasanya di jam ini sedang sibuk bergelut dengan pekerjaan domestiknya di dapur.
Di meja makan, sudah tersedia satu gelas air mineral beserta sebuah tumbler yang terisi air.
“Selamat pagi tuan.” Sapa suara yang ia kenali. Ringan dan hangat.
Kean menoleh ke arah taman dan terlihat Disa yang sedang duduk-duduk bersama Arini. Arini sudah terlihat rapi dengan pakaian tebal yang membalut tubuhnya.
“Pagi.” Sahut Kean. Ia menghampiri Arini yang sedang menikmati udara segar di taman. “Hay mah.” Satu kecupan Kean daratkan di kening Arini.
“Hay.” Wanita itu tersenyum seraya mengusap wajah Kean dengan lembut.
“Mamah gak kedinginan keluar rumah sepagi ini?” menggenggam kedua tangan Arini lantas Kean bertekuk lutut di hadapannya.
“Nggak sayang, malah enak, seger gini. Lagian mamah pake baju tebel gini. Disa juga udah ngolesin tabir surya ke seluruh tubuh mamah supaya aman kalau terkena matahari pagi.”
“Lagi pula, mamah bosen diem terus di rumah. Disa udah nanya ke dokter Austin, katanya mamah pun perlu sesekali terkena matahari. Hanya saja gak boleh terlalu lama dan tidak terkena cahaya langsung.” Arini dengan semangat bercerita. Sepertinya ia sangat menikmati saat-saat menghabiskan waktunya di luar rumah yang biasa mengurungnya.
Jika Kean perhatikan, kondisi Arini memang semakin membaik dari waktu ke waktu. Saat di amerika, walau ia di bantu dengan banyak alat untuk menyetabilkan kondisi tubuhnya, badannya tetap tidak sekuat sekarang. Ia lebih sering berada di atas tempat tidur dengan ekspresi wajah yang selalu sendu. Merasa selalu lelah dan tidak bertenaga, begitu Arini mengakui kondisi tubuhnya.
Tapi saat ini semua berubah. Arini makan dengan lahap walau masih harus di bantu oleh Disa. Sambil bercerita biasanya satu mangkuk bubur habis beserta buah yang di potong kecil-kecil atau jus sayuran yang di buat Disa. Waktu makan yang paling tidak di sukai oleh Arini berubah menjadi suatu kegiatan yang menyenangkan. Jika biasanya Arini akan berusaha menunjukkan ia baik-baik saja tapi kali ini, ia menunjukkan kalau ia benar-benar sudah membaik. Tidak ada kepura-puraan yang ia sembunyikan demi menenangkan Kean.
Garis bibirnya pun mulai bisa tersenyum samar. Beberapa kali ia melihat Disa mengoleskan minyak di pipi Arini dan memijat dengan lembut beberapa titik di wajah Arini. Layaknya terapis yang di bayar mahal seperti saat mereka di amerika dulu.
“Tapi kalau ada yang tidak nyaman, mamah harus bilang ya.. Jangan memaksakan diri sendiri.” Ujar Kean seraya mengecup kedua tangan Arini dengan lembut.
“Iya sayang… Ini anak mamah udah jenggotan juga masih aja manja gini.” Ledek Arini dengan senyuman samar.
“Ya emang kean gak boleh manja sama mamah?” Kean menempatkan kepalanya di pangkuan Arini yang kemudian dihadiahi belaian lembut oleh Arini. Matanya terpejam seperti tengah menikmati waktunya bersama sang ibu.
“Boleh lah. Tapi ingat, di dunia ini gak cuma ada kita, ada disa juga.” Bisiknya seraya terkekeh.
Kean tersenyum senang, akhirnya ia bisa kembali mendengar suara tawa Arini walau terdengar kaku. Ia mengangkat kepalanya lantas melirik Disa yang berdiri di belakang Arini.
“Kalo dia mau ngeledek aku manja juga gak masalah.” Kilah Kean dengan santai. Sesekali memberi Disa kesempatan untuk menganggunya sepertinya akan menjadi hal yang menarik.
Disa hanya tersenyum tipis. Rasanya begitu menyenangkan melihat kedekatan tuan mudanya dengan sang ibu. Ia seperti melihat sisi lain dari seorang Kean yang kaku, serius dan dingin.
“O iya, kalo kamu mau olahraga, ajak disa lah. Disa juga harus sehat dan bugar.” Permintaan Arini lebih terdengar seperti sebuah perintah.
“Boleh. Cuma kean mau ngegym, fisiknya disa kuat gak?” kalimat Kean terdengar seperti sebuah ledekan.
“Eh jangan salah. Disa dari pagi udah bangun. Beresin ini itu, kadang bersepeda juga ke pasar. Mungkin olah raganya lebih banyak dari kamu. Emang kamu pikir ngurus rumah bukan olahraga?” Arini mencubit gemas hidung sang putra.
“Adududuuh iya mah ampun. Kean kan cuma nanya.” Ternyata seperti ini kalau tuan muda sudah bertemu pawangnya. Lemah.
“Kamu mau kan sa, olah raga bareng kean? Refreshing dikit lah.” Kali ini Arini bertanya pada Disa.
“Em tidak usah nyonya. Saya di rumah saja, menjaga nyonya. Seperti yang nyonya bilang, di rumah pun bisa berolah raga.” Rasanya tidak nyaman bagi Disa meninggalkan Arini seorang diri di rumah. Ia khawatir Arini memerlukan sesuatu dan tidak ada yang membantunya.
“Udah ikut aja. Lagi pula, saya udah minta kinar untuk datang ke sini, bawain bubur ayam favorit saya. Sekalian deh saya minta kinar bawain baju olah raga buat kamu.” Arini terlihat begitu bersemangat.
Saat Disa akan menyela, dengan cepat Kean menggeleng, isyarat agar Disa tidak menolak keinginan ibunya.
“Baik nyonya.” Ya, akhirnya hanya bisa menurut.
*****
Tempat yang asing bagi Disa membuat matanya bersafari melihat ke sekeliling ruang besar yang di sebut gym. Sesekali ia membelalak dan sesekali terpejam. Membelalak saat melihat isi gym yang di penuhi alat olah raga yang lengkap dan sesekali terpejam saat melihat kaum adam yang asyik berolah raga dan memamerkan tubuh atletisnya yang tampak seksi dengan keringat bercucuran. Pantas saja gadis-gadis kerap berteriak saat melihat barisan otot seksi di dada, perut hingga kedua lengan.
“Heh! Sebelah sini.” Cetus Kean yang mendorong bahu Disa ke salah satu sudut. Sedari tadi Disa hanya mematung memperhatikan lingkungan yang asing untuknya. "Norak!" batin Kean dengan sudut hati yang ikut tersenyum.
“Pemanasan dulu.” Sahut Kean yang menghampiri sebuah treadmill. Ia naik ke atas treadmill dan mulai mengaturnya.
Disa celingukan sendiri, begitu banyak tombol yang berada di treadmill consol dan tidak ada yang ia mengerti selain tombol start dan stop.
Melihat kebingungan Disa, Kean menghentikan sejenak jalan santainya. “Naik.” Dengan sudut mata Kean menunjuk walking area treadmill.
“Ke sini tuan?” tunjuknya ragu. Ia masih mengingat video lucu yang memperlihatkan seorang wanita gemuk terjatuh dari treadmill. Ingin terawa tapi takut dosa. Mungkin saja ia mengalami hal yang sama yang akan membuatnya malu setengah mati.
“Hem.” Hanya itu sahutan Kean.
Ragu-ragu Disa naik ke atas treadmill, berdiri di hadapan treadmill consol menerka-nerka fungsi dari setiap tombol sampai tiba-tiba ada tangan kekar milik Kean yang melewati bahunya dan membantu menyetel pengaturan di treadmill consol.
Dia melihat bayangannya sendiri di cermin dan terlihat Kean yang ada di belakangnya. Tubuhnya yang sedikit membungkuk membuat jarak dagu Kean hanya beberapa senti saja dari kepala Disa. Sedikit menarik tubuhnya agar tidak menghalangi. Ia mencium wangi tubuh Kean yang maskulin, entah sejak kapan tuan mudanya suka menggunakan parfum yang wanginya sangat enak untuk di hirup.
“Astaga!” cetus Disa saat tiba-tiba walking area treadmillnya bergerak mundur.
“Langkahkan kakimu.” Ujar Kean yang lebih terdengar seperti bisikan.
“I-Iya tuan.” Rasanya jarak tubuh Kean terlalu dekat dengannya hingga ia bisa merasakan hawa hangat dari tubuh tuan mudanya.
Kean hanya tersenyum tanpa terlihat oleh Disa lantas kembali ke tempatnya dan mengatur ritme langkahnya lebih cepat.
Kean mulai menikmati sesi pemanasannya. Sesekali ia melirik disa yang senyum-senyum sendiri merasakan sensasi olah raga barunya.
“Tombol itu untuk meningkatkan speed.” Tunjuk Kean dengan sudut matanya.
“Baik tuan.” Langsung Disa coba untuk menambah speednya dan ia pun mulai berlari. Pemandangan yang indah di luar kaca membuat ia merasa seperti berlari di taman yang indah dengan semilir angin yang segar.
Tidak lama ada pengunjung lain yang memulai pemanasannya di samping Disa. Ia menyetel speednya dan mulai berlari kecil.
Sekilas ia melirik Disa dan tidak memalingkan wajahnya. Ia memperhatikan gadis berkepang yang sedang berlari di sampingnya. Laki-laki itu tersenyum lantas bersiul memperhatikan tubuh Disa yang menurutnya sangat menarik.
Tampilan Disa memang berbeda dari biasanya. Sedikit terbuka dan menampilkan lekuk tubuhnya yang mengenakan atasan sport tank dan legging setengah betis. Tubuhnya yang tidak terlalu kurus dengan bagian dada dan panggul yang padat memang sangat menarik bagi mata kaum pria. Laki-laki itu terus memperhatikan Disa yang sepertinya tidak sadar kalau ia sedang menjadi pusat perhatian beberapa laki-laki.
Kean yang berada di sampingnya, menyadari benar pandangan laki-laki di sekitarnya pada Disa. Ia melambatkan treadmillnya walau belum waktunya untuk berhenti.
“Turun lah!” titahnya seraya menarik tangan Disa.
“Ada apa tuan? Masih 8 menit lagi katanya.” Menunjuk consol treadmill yang ia tinggalkan begitu saja.
Tidak menjawab apapun, Kean lebih memilih membawa Disa ke tempat olah raga beban yang tidak terlalu ramai. Sekilas ia melirik sinis laki-laki yang tadi memperhatikan Disa dan laki-laki itu hanya tersenyum tipis seraya memalingkan wajahnya.
Ada rasa kesal saat laki-laki lain memperhatikan Disa dan seolah menikmati pemandangan di hadapannya.
“Tuan, apa kita akan menggunakan alat ini?” memandangi mesin pec deck yang berdiri kokoh di hadapannya.
“Kamu mau mencobanya?” tanya Kean kemudian.
“Susah tidak tuan?” takut tapi penasaran, itu yang dirasakan Disa. Ia sering melihat wanita bertubuh atletis menggunakan alat ini. Terlihat keren dengan keringat bercucuran. Hasilnya bentuk tubuh mereka pun bagus-bagus.
“Duduklah.” Kean menekan tubuh Disa untuk duduk di atas peron. “Tegakkan tubuhmu.” Titahnya berikutnya.
Disa menegakkan tubuhnya dan sesaat kemudian Kean menyelipkan tangannya di antara punggung Disa dan sandaran pec dec. “Mundur sedikit.” Ujarnya.
Disa menurut saja. Ia sedikit menahan nafasnya karena Kean seperti tengah merangkulnya. Perlahan punggung Disa terasa menyentuh telapak tangan Kean membuatnya sedikit terperanjat. “Kurang tegak.” Lagi Kean mendekat.
“I-Iya tuan.” Rasanya dada Disa sesak dan ia kekurangan oksigen karena jarak tubuh yang terlalu dekat dengan Kean membuatnya tidak bisa bebas bernafas.
Setelah tubuh Disa cukup tegak. Ia menekan paha Disa. “Kaki kamu harus menapak dengan rata. Dan posisi punggung jangan berubah, kalau salah kamu bisa cedera.” Perintahnya berisi ancaman yang membuat Disa hanya bisa menurut saja.
Kean tersenyum dalam hati melihat Disa yang menurut saja ia perintahkan ini dan itu. Cukup menyenangkan untuk mengganggunya.
“Taruh tangan kamu di sini.” Menempatkan kedua tangan Disa untuk memegangi pegangan mesin dengan masing-masing tangan. Meletakkan lengan bawah di setiap bantalan, “Tekuk lengan kamu pada sudut 90 ° dan pertahankan siku setinggi dada.” Menepuk tangan Disa agar berpegangan pada bantalan dengan benar.
“Pegang pegangan dek dada, tarik lengan ke arah tubuh sambil mengencangkan otot dada. Tarik bantalan lengan di depan dada lalu tahan selama beberapa detik, setelah itu lepaskan pelan-pelan dan kembalikan ke posisi awal.” Kean mencontohkan gerakan tersebut dengan menggerakkan tangan Disa mendekat lalu kembali menjauh dari tubuhnya. Ia memang ahlinya mengarahkan. “Bisa?” tanyanya dengan tatapan laman.
“Bisa tuan.” Sahut Disa dengan yakin.
“Cobalah.” Ia masih memperhatikan Disa melakukan beberapa gerakan. Wajahnya yang memerah dan berkeringat membuatnya gemas sendiri. Disa berusaha mengatur nafasnya membuat rongga mulutnya kempis kembung seperti ikan koi.
“Bernafas yang benar. Buang napas waktu kamu menarik gagang ke arah dada dan tarik napas saat kamu mengembalikan pegangan ke posisi awal.” Titahnya kemudian.
“Baik tuan.” Disa sedikit mengeraskan otot perutnya karena harus menarik beban bersamaan dengan berbicara.
Kean hanya tersenyum samar melihat usaha Disa. Cukup menarik pikirnya.
Selesai mengatur posisi Disa, ia memilih alat olah raga yang berhadapan dengan Disa. Sebuah mesin Lat pulldown yang ia gerakkan naik turun membuat otot tubuhnya sesekali mengembang dan kemudian menegang dengan seksi.
Ternyata cukup menyenangkan menghabiskan hari libur dengan berolah raga bersama. Kean bisa melihat kegigihan Disa melakukan instruksi saat berolah raga. Benar yang di katakan Arini kalau fisik Disa cukup kuat. Mungkin karena ia terbiasa melakukan pekerjaan rumah dengan cepat. Sesekali ia pun melihat Disa mengangkat sendiri gallon air minum.
Dan rasanya ia ingin mengulang moment-moment seperti ini. Berolah raga dengan menyenangkan.
****