Marry The Heir

Marry The Heir
Kekecewaan yang lebih



Menemukan CD di dashboard mobil dinas Roy, entah harus di syukuri Kean atau di sesalinya. Wajahnya tampak menegang dengan tangan yang mengepal kuat saat melihat tayangan yang ia putar beberapa kali.


Isinya memang sangat simple, hanya berisi rekaman mulai dari Kean datang, masuk ke kamar Disa lalu pulang. Tapi dari kejadian ini bisa membuat orang-orang menyimpulkan banyak hal. Rekaman ini seperti bola liar yang memancing siapapun untuk berasumsi atas apa yang dilakukan Kean dan Disa di dalam kamar tersebut.


Yang membuatnya kesal adalah karena saat gossip tentang dirinya dan Disa beredar, Kean sudah memerintahkan Roy untuk meminta bukti rekaman di hotel tersebut namun Roy mengatakan kalau pihak hotel tidak mau memberikannya. Mereka bahkan mengancam untuk melakukan pelaporan pencemaran nama baik hotel yang dijadikan tempat karantina para finalis.


Namun sekarang rekaman itu malah ada di dashboard mobil Roy. Di tempat yang tidak pernah Kean bayangkan keberadaannya. Darimana sebenarnya asal rekaman itu dan mengapa Roy bisa memilikinya? Lalu, mengapa Roy berbohong tentang rekaman ini, padahal ia sangat mempercayainya?


Pikiran itu terus berputar di kepala Kean tanpa bisa menemukan jawabannya.


Tidak ada pilihan lain, selain memutuskan untuk bertanya langsung pada orang kepercayaannya tersebut. Kita lihat apa masih bisa ia percaya atau tidak.


Menuju ruangan Roy, perasaan di bohongi sudah menguasai emosi Kean saat ini dan rasanya nyaris meledak. Ia bertekad untuk meminta penjelasan Roy atas apa yang ia lakukan di belakangnya.


Roy sedang melakukan panggilan telepon, saat tiba-tiba Kean menghampirinya ke meja kerjanya.


“Saya telpon lagi nanti.” Ujar Roy saat melihat wajah Kean yang tidak bersahabat dengan mata yang menatapnya tajam.


“Ada yang bisa saya bantu tuan?” Roy tetap bersikap tenang seolah tidak ada yang terjadi.


Pintar sekali orang ini berpura-pura, bisik batin Kean.


Kean melemparkan CD tersebut ke hadapan Roy, “Ada yang mau kamu jelaskan?” tanyanya dengan tegas.


Kean menarik kursi dengan kakinya lantas duduk di sana.


“Tu-tuan, ini,” Roy tergagap.


Ia sangat terkejut karena tiba-tiba CD ini ada di tangan Kean.


Kean tidak menimpali. Lebih memilih bersidekap seraya menatap Roy tajam, tidak sabar menunggu jawaban.


“Tu, tuan. Ini hanya kesalah pahaman saja.” Roy kelimpungan mencari kata-kata yang tepat untuk ia sampaikan pada Kean.


Tatapannya yang dingin seolah ikut membekukan neuron-neuron di otaknya hingga tidak bisa berpikir.


“Kamu tahu kan kalau saya sangat mempercayai kamu?” kalimat Kean terdengar penuh penekanan. Rasa kecewa terasa bernar dari caranya berbicara.


“Tuan!” Roy segera beralih lantas bertekuk lutut di hadapan Kean.


“Ampuni saya tuan, saya tidak pernah bermaksud membohongi anda.” Suaranya terdengar gemetar dan tidak sedikitpun ia berani menatap wajah tuan mudanya.


Kean harus menelan pil kekecewaan karena satu kalimat itu seolah menjadi pengakuan yang di berikan Roy terhadapnya. Kecewa, ya Kean sangat kecewa. Lagi, orang yang ia percaya telah mengkhianatinya.


Di usapnya wajah dengan kasar. Wajah dingin yang semula di tunjukkan kini mulai meradang. Kean lantas berdiri dan,


“BRAK!!” ia menendang kursi yang di dudukinya hingga terjungkal dan mengenai lemari kerja Roy.


Roy tersentak. Tubuhnya gemetaran melihat kemarahan Kean. Para sekretaris yang berada di luar ruangan Roy, segera terdiam di tempat masing-masing saat mendengar suara gaduh tersebut. Sudah lama mereka tidak mendengar sikap kasar Kean terhadap karyawannya terlebih itu Roy yang sangat dipercayainya.


Roy tidak mampu berkata-kata, terpaku di tempatnya dengan rasa sesal di dadanya. Ia sadar ia telah memancing kemarahan singa di hadapannya.


Dalam kemarahannya, Kean masih mencoba berpikir rasional tentang apa yang dialaminya setelah kejadian itu. Semuanya seperti berhubungan dan jika dirangkai akan menjadi kebenaran yang sangat mengecewakannya.


“Apa kamu yang menyebarkannya, atau kamu tahu siapa yang menyebarkannya dan kamu menjadi kaki tangannya?”


Satu kalimat itu yang menjadi simpulan Kean saat ini. Rahang dan kepalnya yang mengeras terlihat seperti ingin mencabik laki-laki yang ada dihadapannya. Kean yakin, Roy tidak akan bersikap seperti ini jika ia tidak merasa terlibat.


Dan Roy, ia tidak berani berkata-kata. Ia sedikit mengangkat kepalanya, melihat kaki kokoh yang berdiri dihadapannya dengan tegak dan seperti siap menendangnya jika jawabannya tidak sesuai dengan yang tuannya harapkan.


Wajahnya yang merah menahan marah, membuat perasaan Roy ketar-ketir. Apalagi matanya yang menyalak tajam, seperti mata pedang yang siap menghujam jantungnya.


Melihat Kean seperti ini, bibirnya malah terasa kelu, jangankan untuk menjelaskan, mengeluarkan satu abjad saja terasa begitu sulit. Alhasil, bibirnya hanya bergetar pelan tanpa ada suara yang terdengar. Kerongkongannya seperti tercekik oleh rasa takut.


Sekali lalu, Kean berjongkok, ia meraih kerah baju Roy lantas menariknya hingga Roy berdiri.


“JAWAB BRENGSEK!!!” gertaknya dengan tatapan tajam seperti ingin menguliti laki-laki dihadapannya.


Tangannya begitu kuat mencengkram kerah Roy, hingga nafas laki-laki di hadapannya tercekat nyaris sesak.


Jujur, Ia tidak sesabar itu untuk menunggu Roy berbicara.


Bibir Roy tampak bergumam, suaranya terdengar lirih dan terengah karena nafasnya seperti mau habis. Beberapa kalimat diucapkan Roy di telinga Kean, membuat laki-laki itu mengeram kesal dengan kemarahan yang memuncak.


Jangan tanya batas kemarahannya, ia bahkan sudah tidak tahu apakah ini dirinya sendiri atau iblis yang bangkit dalam dirinya.


“BRENGSEK KAMU ROY!!!!” Kean mengibaskan tangannya, mendorong Roy menjauh darinya hingga laki-laki itu jatuh tersungkur.


Beberapa kalimat yang diucapkan Roy, sudah cukup memberinya penjelasan tentang apa yang terjadi padanya dan Disa.


"Maafkan saya tuan.." hanya kalimat itu yang bisa diucapkan Roy.


Kean tidak mampu lagi berkata-kata hingga akhirnya ia memutuskan pergi dengan langkah panjang dan tegasnya.


Orang-orang yang berada di luar ruangan segera menunduk saat tuan mudanya keluar ruangan dengan wajah penuh kemarahan. Auranya sangat dingin, seperti siap untuk membunuh siapapun yang menghalangi jalannya.


Kean dengan kemarahannya, berjalan dengan cepat menuju lift. Ia melonggarkan dasinya yang terasa mencekik lehernya. Hingga sampai di mobilnya, Kean masih dengan kemarahan yang menggunung dan siap ia tumpahkan pada siapapun yang mendekat.


“ARRGGHHHH!!!!! SIAL! SIAL! SIAL!!!!” teriaknya sambil memukul-mukul stir yang ada dihadapannya.


Kemarahan dan kekecewaannya sudah sampai di ubun-ubun. Ia bahkan sudah tidak bisa berpikir dengan jernih. Dalam satu injakan gas, Kean melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju tempat yang seharusnya ia datangi sekarang. Kendaraan di depannya ia salip berkali-kali tanpa jeda atau sedikitpun melonggarkan speedometer-nya. Ia hanya ingin segera sampai dan mendengar dengan jelas semua yang ingin ia dengar.


“Selamat siang tuan,” sapaan yang dilakukan Kinar saat melihat tuan mudanya datang seperti angin lalu yang tidak di anggap keberadaannya.


Kean dengan langkah tegas dan cepatnya, segera menuju tempat yang sedari tadi ingin ia datangi. Ia berlari kecil menaiki anak tangga untuk sesegera mungkin sampai di tempat itu.


“Brak!”


Adalah pintu kamar Arini yang Kean buka lebar-lebar tanpa permisi. Rasa marah dan kecewa semakin terasa saat ia melihat wanita itu ada di kamarnya dan lantas berbalik menyambutnya. Lihat senyumannya yang seolah bijak itu, Aarrgghh Kean muak.


Ia berjalan menghampiri Arini yang juga mendekat dengan kursi rodanya.


“Nak, kamu pulang? Kok gak ngabarin. Baru aja disa,”


Arini tampak mengernyitkan dahi, mencoba mengerti mengapa putranya datang dalam kondisi semarah ini.


Diambilnya CD yang tergeletak di atas tempat tidur, dan matanya langsung membulat saat ia mengenal benar tulisan hitam yang merangkai nama seseorang di atasnya.


“Kean, ini..” Arini tidak sanggup meneruskan kalimatnya. Ia memperhatikan wajah putranya yang dingin dan merah padam, pasti karena ia sudah melihat isi rekaman CD ini.


“Mamah kan yang nyuruh roy untuk melakukannya?” pertanyaan tegas itu kemudian di lontarkan Kean. Tidak ada lagi Kean yang berbicara rendah dan pelan penuh kasih di hadapannya.


“Mamah juga kan yang menyuruh roy untuk menyembunyikan CD ini, memanipulasi berita di media online dan menyuruh wartawan untuk bertanya tentang hubunganku dengan Disa?” pertanyaan Kean di lontarkan tanpa jeda.


Nafasnya terengah, seperti ia memang tidak mau untuk menghela nafas atau menjeda pertanyaan yang sedari tadi ingin ia lontarkan.


“Lebih dari itu, mamah juga kan yang menjebakku dan disa?” melewati batas kemarahannya, suara Kean terdengar lirih dan penuh sesal. Seperti beberapa saat lagi, ia akan tumbang.


“BRUK!” dan benar saja.


Untuk beberapa saat, Kean menjatuhkan tubuhnya di atas sofa, kemarahan yang memuncak ternyata malah membuat kedua kakinya lunglai. Ia menangkup wajahnya dengan kedua tangan, lantas menarik-narik rambutnya dengan kasar, berusaha mengumpulkan kembali tenaganya yang tiba-tiba hilang setelah kepercayaannya di patahkan oleh Arini.


“Kenapa mah, KENAPA?!!!!!” teriak Kean yang kembali berdiri. Matanya menyalak dan merah dengan air mata yang kemudian menetes di sudut mata kirinya.


Arini tersentak di tempatnya. Entah darimana Kean mendengar cerita ini yang memang benar adanya.


“Kean, mamah..” suara Arini terdengar gemetar.


Seperti halnya Roy, ia seperti tidak bersiap kalau suatu waktu Kean tahu kebenaran bahwa ia lah yang merencanakan semuanya.


Ya, sejak Arini tahu, kalau Kean datang ke hotel untuk menemui Disa, ia segera mengutus Roy untuk mengeceknya. Beruntung pelayan yang ditugaskan Arini untuk mengantar baju kerja Kean, mengingat dengan jelas detail kedatangan Kean ke hotel hingga ia melihat Kean yang tertidur di kasur Disa.


Saat itu, tiba-tiba saja rencana itu terbersit dalam benaknya. Rencana untuk membuat Kean menikahi Disa tanpa bisa menolaknya. Arini tahu, Kean sangat menghormati Disa, saking terlalu menghormati ia sampai nyaris gila menahan keinginannya sendiri untuk bersama Disa demi agar tidak menyakiti wanita yang di cintainya.


Setiap hari, seperti tidak ada keinginan dalam hidup Kean. Ia tidak terlihat bersemangat dan tidak ada lagi nyala gairah untuk bertahan setelah Disa pergi. Ibu mana yang tahan melihat putra semata wayangnya seperti hidup segan mati tak mau? Bukankah terlalu bodoh untuk membiarkan Kean tersiksa seperti itu?


Untuk alasan itulah Arini mewujudkan rencana itu.


“Kean, mamah tidak pernah bermaksud menjebak kamu dan disa. Mamah hanya ingin melihat kamu bahagia dengan wanita yang kamu cinta.” Alasan itu yang kemudian diucapkan Arini tanpa ragu.


“BULLSHIT!!! Itu hanya keegoisan mamah tanpa pernah memikirkan perasaanku dan disa.” Sanggah Kean dengan yakin. Klise menurut Kean.


“Egois apanya nak?”


“Mamah udah bersusah payah untuk menyatukan kalian. Mencari peluang sekecil apapun untuk membuat kalian bisa bersama-sama.”


“Itu bukan untuk mamah, tapi untuk kamu.”


“Mamah ingin kamu hidup bahagia dengan orang yang kamu cinta. Apa mamah salah?”


“Kamu cinta kan sama disa? Hem, kamu cinta kan?”


Arini meraih tangan Kean yang mengepal sempurna. Ia menatap putranya penuh tanya, tidak mungkin keyakinannya salah, kalau Kean akan bahagia saat bisa bersatu dengan Disa.


“KARENA KEAN CINTA SAMA DISA MAKA DISA ADALAH SATU-SATUNYA WANITA YANG TIDAK SEHARUSNYA KEAN NIKAHI!!!” seru Kean seraya mengibaskan tangannya.


“AAARGGHHHH!!! ****!!!!” Kean menggeram frustasi, mengusap wajahnya kasar dan mengacak rambutnya. Di pukulnya dinding yang kokoh hingga kepalan tangannya memerah dan luka.


“KEAN!!!” gertak Arini yang sudah tidak kuat melihat sikap Kean.


“Tarik kata-kata kamu, jangan buat disa seolah menjadi beban karena kamu nikahi.” Arini memperingatkan.


“Gadis itu, sudah membawa kehidupan baru, tidak hanya bagi kamu tapi bagi keluarga ini.”


“Dia membawa cahaya yang terang di antara gelapnya keluarga kita.”


“Dia bisa menyayangi kamu, mamah, fira bahkan papah sekalipun dengan tulus.”


“Apa yang kurang dari wanita itu?"


"Dengan semua yang Disa berikan, kamu malah masih terlihat berpikir hanya untuk sekedar menyampaikan keinginan kamu untuk memegang tangannya atau memeluknya di depan mamah.”


“Apa yang salah kean?!” akhirnya air mata Arini ikut tumpah.


Semua yang dilakukan putranya terhadap Disa kembali berputar di kepalanya. Kean selalu ragu padahal Disa sangat bersungguh-sungguh.


“Apa mamah juga yang sengaja membuat issue agar calon perusahaan yang mau aku beli hampir menggagalkan kerjasama kami?” tanya Kean penuh selidik.


“YA ITU MAMAH!!!” sahut Arini dengan cepat. Baginya, sudah tidak ada lagi yang perlu ia sembunyikan dari Kean.


“Mamah yang menyuruh roy pura-pura tidak bisa menangani masalah itu.”


“Mamah yang memaksa kamu agar memutuskan pergi ke jogja.”


“Mamah juga yang memaksa agar disa ikut dengan kamu.”


“Untuk apa?"


"Agar kamu sadar sama perasaan kamu sendiri! Apa itu cukup jelas?!” berganti Arini yang membentak putranya.


Kean menghembuskan nafasnya kasar, seraya menatap Arini dengan nanar. Ia tidak pernah menyangka kalau Arini telah melakukan banyak hal hingga sejauh ini. Memanipulasi sebuah jebakan, hingga memanipulasi perasaannya terhadap Disa.


“Mamah terlalu merasa tahu apa yang aku rasakan, padahal sebenarnya mamah tidak tahu apa-apa.” Lirih Kean namun terdengar penuh ketegasan.


Dengan sisa tenaganya, Kean beranjak dari tempatnya tanpa menunggu Arini menimpali kalimatnya. Lagi pula, ia sudah tidak ingin mendengar apapun dari Arini. Arini membuat perasaannya samar, kepercayaannya hancur dan hatinya sekarang patah.


Ia gamang, pada apa yang ia rasakan dan hadapi sekarang. Arini terlalu melakukan banyak hal, yang membuatnya harus melakukan hal buruk pada Disa.


Disa, pada akhirnya memang Disa lah yang tersakiti. Tidak hanya oleh dirinya ataupun Sigit tapi oleh wanita yang sudah ia anggap sebagai ibunya sendiri.


Apa jadinya jika Disa tahu? Apa Kean masih punya muka untuk menemui wanita itu?


*****