Marry The Heir

Marry The Heir
Pukulan serius



Disa masih sendirian di teras rumah saat malam sudah semakin larut. Dengan resah ia menunggu Kean yang hingga semalam ini masih belum pulang. Sudah jam sembilan malam namun belum terlihat tanda-tanda Kean datang. Padahal biasanya paling malam, jam 8  ia sudah pulang. Tidak ada kabar apakah suaminya akan lembur atau ada sesuatu yang membuatnya pulang terlambat.


“A, aa dimana? Masih di kantor?”


Penggalan pesan ini Disa kirimkan saat pesan sebelumnya tidak di jawab Kean. Pesannya terkirim namun tidak kunjung di baca oleh Kean. Dan sekarang ponselnya malah tidak aktif, membuat perasaan Disa semakin tidak menentu.


“A, aa dimana sih? Kok malah gak aktif..” gumam Disa dengan wajah cemasnya.


Ia kembali mencoba menghubungi Kean namun malah tersambung ke kotak pesan.


“A, kenapa hpnya gak aktif? Aa dimana? Masih ada kerjaan kah?” kalimat itu Disa ucapkan setelah bunyi bip kotak masuk berbunyi.


Tubuhnya begitu lemas lantas ia mendudukan tubuhnya di kursi dengan pikiran tidak menentu.


Sejak pagi tadi, Kean mengabaikan teleponnya termasuk saat ia berusaha mengabari kalau ia akan ke rumah utama untuk menjenguk Arini yang sakit.


“Aku butuh waktu, sa.” Kalimat itu yang terakhir Disa dengar setelah perdebatan semalam. Mungkin kali ini Kean memang sedang menepi, memikirkan apa yang mereka perdebatkan semalam.


Tapi bisakah dia tidak membuat Disa cemas seperti ini?


Angin malam yang berhembus kencang, membuat Disa bergidik dan memeluk tubuhnya sendiri. Akhirnya ia memutuskan untuk masuk dan menunggu Kean di dalam.


Saat melewati meja makan, Ia memeriksa kembali makanan yang sudah dingin. Sudah 2 kali ia menghangatkannya dan berharap Kean pulang sebelum makanan itu kembali dingin. Tapi sepertinya ia tidak bisa terlalu berharap, Kean tidak akan pulang cepat.


Akhirnya Disa terduduk di sofa, menatap sendu mural keluarga singa yang pernah ia buat bersama Kean.


Kenangan bersama Kean seperti kembali berputar di kepalanya, membuat ia tersenyum sekaligus meringis sendiri di waktu bersamaan. Ada perasaan sedih yang kini muncul di hatinya yang kemudian membuatnya terisak sendirian saat menyadari kalau tidak pernah ada keluarga singa di rumah ini.


Yang ada hanya seorang singa jantan yang sedang tersesat di dalam hutan yang gelap dan sepi. Ia sudah berusaha membawanya keluar dari hutan itu tapi sepertinya ia tidak pernah berhasil karena singa tersebut memang tidak ingin keluar dari tempatnya berada saat ini. Kean tetap dengan pilihannya untuk terjebak di masa lalu yang membuatnya tersiksa sendiri. Tidak ada gunanya membawakan ia lentera jika yang di terangi memilih menutup matanya sendiri.


Sampai pada titik ini, Disa paham besarnya trauma yang pernah di alami Kean. Di sakiti secara mental dan emosional itu tidak akan sembuh dengan cepat kecuali orang itu sendiri yang berusaha untuk keluar dan melawan kenangan gelapnya. Semuanya terlalu berbekas.


Kean sedang sangat bingung untuk memilih seperti apa cara ia keluar dari rasa traumanya tanpa harus menyeret orang lain untuk ikut terluka. Terlambat, seseorang di sampingnya sudah lebih dulu ikut terluka.


Tidak kunjung mendapat kabar, akhirnya Disa memutuskan untuk menghubungi Roy. Mungkin saja laki-laki ini bisa memberinya kabar tentang Kean.


“Assalamu’alaikum mas roy. Mohon maaf saya mengganggu malam-malam.”


“Saya ingin bertanya, apa suami saya masih di kantor?”


Dua kalimat itu yang Disa kirimkan. Dengan cepat Roy membacanya lalu mengetik pesan balasan.


“Wa’alaikum salam. Selamat malam nona muda.”


“Mohon maaf, saat ini saya masih di jogja, tapi mohon menunggu saya coba tanya dulu ke staf yang ada di kantor.” Balasan itu yang di kirimkan Roy.


Disa harus kembali menunggu dalam kecemasan. Tidak ada Roy di dekat Kean, yang berarti suaminya sendirian. Apa ia akan baik-baik saja di tinggal sendirian sementara pikirannya tidak menentu? Bagaimana kalau ia putus asa dan melakukan hal yang tidak-tidak?


“Ya ampun aa,.. Kenapa aku semakin cemas? Apa aku susul aja ke kantor?” Disa bertanya pada dirinya sendiri.


Ponselnya kembali berdering, menunjukkan satu pesan masuk.


“Mohon maaf telah membuat nona menunggu.”


“Tuan muda masih di kantor dan sedang mengerjakan beberapa pekerjaan.”


"Ponselnya memang tidak aktif. Apa ada yang ingin nona sampaikan?"


“Haaah,..” Disa bisa menghela nafasnya lega. Dengan mengerjakan pekerjaannya, paling tidak Kean masih baik-baik saja. Berdo’a saja semoga suaminya segera pulang.


“Baik terima kasih informasinya mas roy.” Balas Disa.


“Sama-sama nona muda. Selamat malam.”


Disa hanya tersenyum membaca pesan balasan Roy. Sepertinya ia akan menunggu Kean di sini, khawatir suaminya pulang dan memerlukan sesuatu maka ia bisa bangun dengan cepat.


Di sofa itu Disa membaringkan tubuhnya. Meringkuk di bawah selimut tipis yang menghangatkannya. Ia menatap kalender yang ada di ponselnya, harusnya malam ini ia bersiap merayakan sesuatu dengan suaminya. Tapi lagi, ia hanya sendirian melewati waktu-waktu sulit ini. Di peluknya ponsel di depan dada, seraya berharap pesan yang di kirimnya di baca oleh Kean dan Kean tahu kalau ia sangat mencemaskannya.


Mungkin malam ini memang harus seperti ini. Disa dan Kean sedikit berjarak dan berpikir masing-masing untuk diri mereka sendiri dan untuk masa depan keduanya kelak. Dengan berjarak, mungkin mereka bisa memahami banyak hal yang tidak bisa di selesaikan dengan berdebat.


Hingga pagi menjelang, tidak ada tanda-tanda kalau Kean pulang. Disa mengecek garasi, tidak ada mobil yang terparkir. Lalu pergi ke kamar Kean, semuanya rapi. Tidak ada jejak Kean sedikitpun. Kean benar-benar tidak pulang. Ia memilih berdiam diri di kantor tanpa memberinya kabar apapun, seperti ia tidak peduli telah membuat Disa cemas dan menunggunya semalaman.


“Aa benar, untuk kita yang masih bersikap kekanak-kanakan, belum sepantasnya memikirkan apalagi memiliki anak.” Gumam Disa yang terduduk lesu di tepian tempat tidur Kean.


Ia menghela nafasnya dalam, dengan air mata yang perlahan mulai menetes. Seperti inilah di abaikan. Kita hanya akan tahu rasa pedihnya saat kita merasakannya sendiri. Mungkin ini juga yang membuat Disa tidak sepenuhnya paham perasaan Kean saat ini dan alasannya yang begitu sulit beranjak dari traumanya.


****


“Bini lo beneran mau berangkat ke paris?” pertanyaan tiba-tiba itu di lontarkan Clara yang tiba-tiba menemui Kean siang ini.


“Maksud lo?” pertanyaan pendek itu milik Kean yang mengernyitkan dahinya, tidak percaya dengan ucapan Clara.


“Lo gak tau?” sengit Clara.


Ia mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan pesan terusan yang di kirimkan assistant-nya dari assistant disa.


Kean meraih ponsel itu dan pelan-pelan membaca pesan tersebut.


“Iya kak, untuk pagi ini nona muda belum bisa bertemu dengan kak clara. Beliau sedang ada janji temu dengan bu mareta. Saya kabari kalau sudah pulang yaa…”


Begitu bunyi pesan yang di teruskan tersebut.


Kean hanya terpaku di tempatnya dengan perasaan yang tidak bisa ia jabarkan. Benarkah Disa memutuskan untuk berangkat ke Paris tanpa membicarakannya terlebih dahulu dengan dirinya? Bagaimana bisa? Apa karena semalam Ia tidak pulang?


“Jangan bilang lo gak tau!” Clara mengambil ponselnya dari tangan Kean, tanpa perlawanan sedikitpun. Kesal juga melihat Kean hanya mematung seperti orang bodoh.


“Yan, lo denger gue gak sih?!” gertak Clara yang merasa di abaikan.


Kean menoleh sahabatnya beberapa saat lantas beranjak dari tempatnya dan memilih berdiri di hadapan jendela besar ruangannya. Ia perlu ruang yang lebih luas untuk bernafas. Ia berharap pikirannya teralihkan dari rasa takut di tinggalkan yang tiba-tiba hadir.


Jujur, semalam ia memang tidak mengabari Disa, ia mematikan ponselnya dengan berharap ia bisa berpikir jernih tentang masalahnya dengan Disa. Namun ia tidak menyangka kalau hal ini malah membuat Disa memutuskan untuk pergi.


“Lo ada masalah apa sama bini lo sampe dia mutusin pergi?” mendapati Kean yang hanya terdiam, Clara yakin keputusan Disa untuk pergi ada hubungannya dengan sikap Kean.


“Bukan urusan lo.” Sahut Kean pendek. Ia memang tidak mau lebih banyak orang yang masuk dalam pusaran masalahnya dengan Disa, yang akan membuat semuanya semakin runyam.


“Ya okey, masalah pribadi lo emang bukan urusan gue. Tapi, buntutnya, itu jadi masalah buat gue.” Clara terduduk di salah satu sudut sofa dan menatap Kean dengan sinis.


“Lo tau kan, kalo disa udah tanda tangani kontrak kerjasama sama gue. Dan kalau dia mangkir, ada konsekuensinya.” Imbuh Clara dengan penuh penekanan.


Kean tidak bergeming dari tempatnya. “Kalau ada denda kontrak, gue yang akan membayarnya.” Sahutnya lemah. Tidak jauh dari itu konsekuensi yang harus di tanggung istrinya.


“Hahahaha…” Clara tertawa mendengar jawaban Kean, membuat sahabatnya itu menoleh karena sadar Clara sedang menertawakannya.


“Gue lupa kalo gue lagi berurusan sama sultan. Apapun bisa lo bayar pake duit lo. Tapi, duit lo gak bisa bikin seseorang buat tetep ada di sisi lo.” Kalimat Clara adalah sindiran telak bagi Kean yang kini menatapnya sinis.


Sementara Clara, acuh beranjak dari tempatnya seraya merapihkan rambut panjangnya. Ia menghampiri Kean dan berdiri tepat di sampingnya, sama-sama menatap riuhnya kota Jakarta dari lantai 16.


“Satu hal yang harus lo inget, gak semua hal bisa lo selesein pake duit. Terlebih masalah perasaan.” Ia berbalik menghadap Kean.


“Tapi liat sikap lo sekarang, lo memang sangat cocok dengan tampilan seperti ini.” Merapikan dasi dan jas Kean, lantas tersenyum saat Kean menatapnya.


“Sebagai bos.” Bisik Clara di telinga Kean.


“Tapi,” ia menarik tubuhnya menjauh dari Kean. Menyilangkan tangannya di depan dada dan memandangi Kean dari atas hingga ke bawah.


“Cukup brengsek untuk di jadikan pasangan.” Clara tersenyum sinis di ujung kalimatnya.


“Apa maksud lo?! Lo gak tau apa-apa tentang gue.” Sengit Kean tidak terima. Sahabat yang selalu ia jaga malah melabelinya sebagai laki-laki brengsek, tentu ia tidak bisa menerimanya.


“Ya, okey, gue emang gak tau sangat detail soal lo. Karena, selama bertahun-tahun kita bersahabat, lo pasif yan. Lo pemerhati yang tidak pernah berani bertindak.”


“Tapi tolak ukurnya mudah hanya untuk sekedar menilai lo cukup brengsek.”


Clara sengaja menggantung kalimatnya. Dengan santai ia berbicara, seolah ia tahu kalau Kean tidak akan bertindak lebih padanya selain memandanginya dengan sinis.


“Saat seorang perempuan begok kayak disa memilih ninggalin lo, berarti lo cukup brengsek.” Clara menunjuk dada Kean dengan telunjuknya.


“Ya gue bilang dia perempuan begok karena saat jatuh cinta, dia ngasih semua yang dia punya buat lo."


"Dia jadiin lo poros hidupnya, arah satu-satunya yang harus di tuju dan tentu saja, lo jadi harapan terbesarnya.”


“Kalau sekarang dia sadar dan memilih ninggalin lo, berarti dia sadar kalo lo sangat brengsek dan tidak pantas di pertahanin. Mudah bukan?” terang Clara enteng.


Ia mengusap bahu Kean, seperti membersihkan debu yang menempel di sana lalu tersenyum dengan tenang.


“Dan lo sangat bodoh kalo lo biarin masa depan lo pergi hanya karena lo gak bisa keluar dari masa lalu lo.” Tegas Clara dengan wajah serius.


Ia menatap sahabatnya dengan laman. Antara kasihan dan kesal dengan sikap Kean yang seperti ini. Pantas saja kalau akhirnya Disa menyerah dan memilih pergi.


Tidak ada sanggahan dari Kean. Ia hanya tertunduk lesu seraya bersandar pada meja kerjanya. Kalimat Clara seperti pukulan serius yang menghujam ulu hatinya. Dan ia hanya bisa menerima, tidak menimpali. Mungkin yang Clara katakan benar, ia adalah laki-laki brengsek yang pantas di tinggalkan.


Di tinggalkan? Benarkan Disa akan meninggalkannya?


Apa mungkin Disa terbujuk oleh rayuan Reza?


****