
POV Kean:
Aku masih terdiam di sofa sambil menikmati segelas jus buah dan sayuran yang di buat Disa. Dihadapanku masih berputar tayangan perlawanan ular terhadap serangan sekelompok elang yang dengan membabi buta hendak memakan ular tersebut dan menunjukkan kalau elang adalah puncak tertinggi dari sebuah ekosistem.
Di luar sana, ada Disa yang sedang berbincang dengan Reza. Setelah ia tiba-tiba datang dengan alasan ingin menjengukku, lalu ia ikut sarapan dan kami berbincang santai. Tapi sepertinya semua berubah menjadi tidak santai, saat aku tahu kalau mereka sudah saling mengenal cukup lama.
Niatnya menjengukku malah beralih menjadi berbincang asyik dengan Disa. Hah, menyebalkan.
“Di kampus, saat secara tidak sengaja saya menabrak kak reza.” Begitu pengakuan Disa saat aku bertanya di mana mereka bertemu.
Dia tersenyum tipis pada Reza, seolah menyatakan kalau ia sangat senang bisa bertemu Reza kala itu.
“Setelah itu kami juga bertemu di sebuah toko buku, apa kamu mengingatnya?” tanya Reza dengan ekspresi yang sama.
“Ya tentu saya mengingatnya. Saat itu sedang turun hujan dan kak reza meminjamkan payung kak reza untuk saya.” Timpalnya lagi dengan senyum terkembang.
Seperti drama pikirku, bertemu karena bertabrakan lalu sama-sama berada di bawah hujan. Kenapa tidak sekalian saja nyanyi lagu india?
Entah mengapa, seperti ada sesuatu yang berjogol di dadaku melihat keakraban mereka sementara aku hanya menjadi orang ketiga yang menyimak perbincangan seru mereka. Disa tersipu dan Reza yang begitu sering tertawa, jujur itu mengganggu pikiranku.
Oatmeal lunak yang aku nikmati seolah berubah menjadi kerikil tajam yang membuatku hampir tersedak hingga harus menegak segelas air minum hingga tandas.
Hah! Rasanya masih belum bisa juga makanan itu masuk ke lambungku dan malah membuat perutku melilit perih.
“Tuan, apa anda baik-baik saja?” Disa bertanya saat melihatku yang gelisah.
“Ya, saya baik-baik saja. Lanjutkan saja obrolan kalian, sepertinya seru.” Ucapku yang berusaha terlihat biasa saja.
“Gue gak nyangka kalo disa kerja di sini. Pantesan tiap gue ajak ketemu, katanya gak bisa.” Ujar Reza seraya melirikku.
Kata-katanya membuatku seolah menjadi majikan yang jahat. Tapi tunggu, apa benar dia sering ngajak Disa ketemuan?
Lagi-lagi beban pikiranku bertambah. Berada di tempat ini membuatku sedikit tidak nyaman.
“Kalian terusin obrolan kalian, gue ke atas bentar.” Menunjuk arah kamarku walau aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan di dalam sana.
“Okey.” Sahut Reza yang terlihat senang, seolah lebih bebas berbicara dengan Disa.
Aku ke atas, ke kamarku sebentar. Mondar-mandir di sana, sesekali duduk tapi rasa tidak nyaman di dadaku tidak kunjung hilang. Aku menghampiri cermin di samping lemari, berusaha membuat garis senyum dan membulatkan mata yang terlihat sayu. Ayolah, aku tidak boleh terlihat tidak baik-baik saja melihat keakraban mereka. Ekspresi wajahku memang tidak bisa di ajak kompromi. Sudah berlatih tersenyum tapi tetap terlihat seperti wajah kecewa karena seseorang telah mencuri sesuatu dariku.
Hey ayolah, ini bukan bagian dari ekspresiku. Aku menepuk-nepuk wajahku sendiri agar ekspresinya kembali berubah.
Tapi tunggu, kalau di pikir-pikir, sepertinya mereka tidak memperhatikan perubahan ekspresiku. Mereka tetap asyik berbincang walau aku ada di antara mereka. Sedikit bangga, tanpa aku sadari sepertinya aku memang hebat untuk menyembunyikan perubahan raut wajahku atau mungkin mereka yang tidak peduli dengan perubahan ekspresiku.
Aku kembali memandangi wajahku di pantulan cermin. Sangat menyedihkan dengan mata sayu dan wajah pucat. Jauh berbeda dengan Reza yang terlihat segar. Untuk pertama kalinya aku merasa kalah saing dari sahabatku sendiri.
Sebentar, biar ku perhatikan detail wajahku. Alis yang tebal, mata yang tajam, sekali lirik saja seorang gadis bisa langsung luluh. Lalu bibirku, rasanya tidak ada yang bisa menahan pesonaku. Lalu postur tubuhku yang gagah, kenapa aku harus insecure? Secara tampang tentu aku lebih tampan dari sahabatku. Ya, aku harus lebih dulu memuji diriku sebelum orang lain. Dan lagi bukan tanpa alasan aku memuji diriku sendiri. Banyak gadis yang mendekatiku saat di amerika dulu. Diam-diam mencuri perhatianku, bersikap ramah walau aku acuhkan dan beberapa di antara mereka menyatakan langsung perasaannya. Maka tentu ini bukan masalah tampang.
Lalu apa? Apa yang membuatku merasa kalah dari sahabatku sendiri?
Aku masih bertanya pada diriku sendiri. Duduk di tepian tempat tidur tapi ternyata berdiam diri di kamar membuat perasaanku semakin tidak nyaman. Aku kembali keluar kamar dan saat turun aku melihat mereka sedang berbincang di taman. Saling tertawa walau aku tidak tahu apa yang mereka perbincangkan dengan seru.
Tentu tidak mungkin aku menghampiri mereka. Aku memilih kembali duduk di sofa, mencari tayangan yang seru tapi tidak ada. Di hadapanku ada segelas jus buah dan sayur, sepertinya Disa membuatnya special untukku. Aku tersenyum menang.
Tapi tunggu, itu apa yang di teguk Reza? Kenapa minuman kami sama dan ia terlihat menikmatinya?
Hah, aku kesal! Aku langsung menyedot minuman berwarna hijau itu hingga tandas dan berbunyi “Srrookkkk…” saat hanya tersisa udara yang bisa aku sedot.
Disa menoleh padaku, sepertinya ia mendengar suaraku. Aku mengendikan bahuku, seolah mempersilakan ia untuk melanjutkan obrolan mereka dan aku tidak keberatan menjadi penonton atas adegan kebahagiaan mereka.
Cukup lama mereka berada di sana dan entah sudah berapa binatang yang berkelahi dihadapanku.
Ku taruh gelas kosongku dengan kasar. Tidak lama mereka berjalan menghampiriku, sepertinya pembicaraan mereka sudah selesai.
“Bro!” Reza menyapaku sambil cengengesan.
“Yap! Udah selesai ngobrolnya?” aku belaga santai, menurunkan kakiku yang sedari tadi di atas meja. Ku lirik juga Disa yang berjalan di belakang Reza dan tampak blushing. Hah, apa sebenarnya yang mereka bicarakan?
“Iya. Gue ngajak disa dateng ke pameran lukisan, tapi katanya gak bisa.” Reza melirik Disa dan yang di lirik hanya memasang wajah bingung.
“Loh, kenapa gak bisa?” aku beranjak dari tempatku dan berdiri di hadapan Reza.
“Ya, mungkin dia takut gak dapet izin.” Reza mengendikan bahunya. Aku tahu, ini cara Reza meminta izin secara tidak langsung.
“Siapa yang gak ngasih izin? Gue? Gue mah santai aja.” Sahutku berusaha terlihat santai sambil haha hehe. .
“Hah, tidak usah tuan, saya tidak akan kemana-mana.” Disa gelagapan, seperti tidak enak padaku.
“Tenang sa, tuan muda kamu pasti ngizinin kok. Iya kan bro?” Reza seperti tengah memberiku keharusan untuk membuat keputusan. Apa-apaan ini, seolah aku diharuskan meminjamkan Disa padanya. Baru kali ini aku tahu kalau Reza juga bisa menyebalkan.
“Iya lah, boleh. Emang pamerannya kapan?” mengusap tengkukku dengan asal. Aku sendiri tidak tahu apa yang aku lakukan.
“Hari sabtu. Mulai jam 10 pagi.”
“Oh boleh, boleh..” sahutku berlagak santai. Seperti majikan paling baik yang mengizinkan pelayanannya pergi untuk kencan dengan pasangannya.
“Tapi tuan,” Dia semakin terlihat tidak enak padaku.
“Tidak apa-apa disa. Sesekali kamu boleh pergi dengan reza.” Sahutku. Ingat ya, sesekali bukan sering kali. Aku memberi penekanan dalam hatiku.
Dia tersenyum tapi aku tahu dia masih canggung.
“Wah thanks bro. Lo emang the best.” Reza merangkulku, beruntung tidak sampai menepuk bahuku. Sepertinya ia sangat senang.
Aku kembali menoleh Disa, dia hanya tertunduk. Sepertinya dia tidak begitu yakin dengan ucapanku.
“Ya udah, gue balik dulu. Mau ke kampus ngasih daftar nilai. Lain kali gue mampir lagi ya.”
“Iya dong, santai aja.”
“Okey, sekali lagi thanks bro. Bye disa.” Reza berpamitan dengan manis membuatku agak jijik.
“Yo!” seruku.
“Saya antar dulu kak,” kalimat Disa terdengar ragu tapi saat aku mengangguk, senyumnya langsung terbit. Ia pun pergi untuk mengantar Reza sampai ke pintu.
Tidak tahu apa yang mereka perbincangkan di pintu sesaat sebelum Reza pergi. Aku mencuri dengar pun tidak terlalu terdengar. Hah, sudahlah sepertinya Disa membutuhkan privasi sendiri. Tapi kenapa aku merasa dongkol ya?
Aku mengusap dadaku perlahan, ada sedikit sesak. Mungkin bekas pukulan preman itu yang kerap membuatku merasakan sesak.
*****
Semburat senyum masih terlihat jelas di bibir Disa setelah ia mengantar Reza pulang. Langkahnya terlihat lamban seolah ia tengah melayang di udara, menikmati semilir angin yang menerbangkan kelopak bunga sakura di sekitarnya. Sesekali ia menoleh ke arah pintu dengan senyum kecil yang mengembang. Mengulum bibirnya gemas lantas menyelipkan helaian anak rambut ke sela telinganya. Wajahnya tampak merona dengan binar mata penuh rasa cinta.
Kean masih di tempatnya, duduk di sofa sambil memandangi tayangan seekor singa yang tengah berlari di padang steva.
“Dia sudah pulang?” tanya Kean seraya beranjak dari tempatnya.
“Hah?” Disa tampak terkejut mendengar suara tiba-tiba Kean. Wajahnya yang semula ceria berubah tegang. “I-Iya tuan.” Ia tergagap lalu tertunduk.
Kean menghela nafas panjang, memperhatikan ekspresi Disa membuat dadanya sesak sendiri.
“Harusnya jangan kamu izinkan pulang kalau kamu masih mau dia di sini.” Pernyataan yang seolah sindiran dari Kean.
“Kak reza sedang sibuk rapat dengan para dosen tuan, jadi beliau harus segera ke kampus.” Sahut Disa dengan polos.
Kean terkekeh. Baginya yang terdengar adalah “Kalau saja dia sedang tidak sibuk, saya pun ingin dia tetap tinggal.” Tidak diucapkan Disa tapi itu yang dipersepsikan oleh Kean.
“Kak reza?” Kean mengutip panggilan Disa untuk Reza.
Disa mengangguk dengan semangat membuat air muka Kean tampak kesal walau ia seolah sedang tertawa mengejeknya.
“Kalian sepertinya sangat dekat dan kamu sangat mengaguminya.” Berjalan mendekat pada Disa lantas menatapnya dengan tajam.
Mata Disa membulat dengan wajah yang memerah. Seperti baru saja Kean menebak dengan benar isi hatinya.
“Ka-kami, hanya…” masih berusaha menyembunyikan perasaannya tapi sepertinya tidak berhasil.
“Perlu bantuan saya?” pertanyaan yang lebih seperti pancingan Kean lontarkan seraya mendekat dan berbisik di telinga Disa.
Tubuh Disa terlihat kaku dengan jantung berdebar kencang. Entah karena tawaran Kean atau karena cara Kean yang bericara terlalu dekat dengannya.
Disa menggeleng lalu tertunduk. “Tidak tuan.” Sahutnya lirih.
Kean menarik tubuhnya menjauh, memandangi Disa yang masih tertunduk seraya mengulum bibirnya.
“Kenapa?” jawaban yang diterima Kean masih belum membuatnya puas.
Dia mengangkat wajahnya lalu menatap manik hitam milik tuan mudanya. Seperti ada rasa bimbang yang ia simpan.
“Saya tidak masalah kalau kamu dekat dengan reza. Hanya saja,” menarik nafasnya kasar lantas menghembuskannya pelan. “Kamu harus tau posisi kamu dan prioritas kamu. Dan ingat, tidak akan ada yang berubah di antara kita.” Tutur Kean dengan tegas.
Bahu Disa tampak melorot. Kalimat Kean seolah mengingatkan Disa pada martabat dan kastanya. Ia berusaha tersenyum namun air mukanya terlihat sendu.
“Tidak perlu ingatkan saya akan itu, karena saya cukup tau diri.” Batin Disa dengan tangis tertahan. Ada rasa kecewa saat mendengar Kean mengucapkan kalimat tersebut.
Namun bagi Kean, kalimat itu berarti, “Apapun yang terjadi, saya tetap harus jadi prioritas kamu.” Batin Kean.
“Tentu tuan, saya paham benar akan hal itu.” Sahut Disa dengan suara sedikit gemetar.
“Bagus kalau kamu paham. Maka, kembalilah bekerja.” Timpalnya.
Disa mengangguk pamit. Ia segera kembali ke dapur sementara Kean kembali duduk di sofa. Sesekali ia melirik Disa yang membersihkan dapurnya dengan sedikit melamun.
“Sepertinya saya tidak bisa tetap menjadi prioritas kamu disa.” Gumam Kean yang kemudian mengusap wajahnya kasar.
Entah mengapa ia menjadi lebih kesal.
*****