Marry The Heir

Marry The Heir
Sim salabim



“Ngapa lu?” suara Eko menyadarkan Damar dari senyum yang tidak henti ia ukir.


Sedari tadi ia hanya terduduk di sofa dan memandangi ponselnya. Pesan Disa yang berulang ia baca.


“Disa ngechat gue.” Melihat chat Disa saja wajahnya langusung berbinar.


“Dia ngasih tau gue kalo ada lowongan team art bikin graffiti di beberapa terowongan jalan yang baru di bangun.”


“Gue di suruh gabung. Dia juga ngirim link pendaftarannya.”


Membaca pesan Disa, membuat ia langsung teringat kebiasaannya dulu corat-coret dinding sekolah. Pilox warna-warni yang selalu ia simpan di dalam tasnya.


“Mong, dari pada lo corat coret gak jelas, mending ngegambar yang bener. Yang ada artinya. Siapa tau lebih enak di liat dan bisa ngasilin duit.” Ujar Disa seraya memandangi tulisan yang ia gambar di dinding.


Mencorat-coret dinding memang hobinya Damar. Entah mengapa selalu ada kepuasan sendiri saat menuliskan kata-kata yang sedikit kasar dan provokatif di dinding.


Dan dulu rasanya sangat kesal kalau Disa mengomentari coretannya tapi kali ini ia malah merindukannya.


“Terus lo udah daftar?” Eko ikut mendekat. Penasaran juga dengan pesan yang di kirim Disa.


“Udah.” Menunjukkan layar ponselnya pada Eko.


“Dia juga ikutan lomba desain. Katanya udah masuk 10 besar. Padahal dulu waktu almarhum bokap sambung gue nyuruh dia masuk desain, dia gak mau. Malahan sampe nangis semaleman.”


“Baru waktu itu gue bujukin disa susah banget sampe akhirnya gue nawarin diri buat jadi model dia. Untung dia mau. Lumayan lah bayarannya dibikinin mie kuah sama kopi item.” Ingatan Damar melayang pada masa-masa ia tinggal serumah dengan Disa.


Jadi merasa menyesal ia sering mengabaikan Disa, tapi saat Disa sudah menangis, biasanya ia hanya duduk di kursi meja belajar Disa tanpa berbicara sepatah katapun. Cukup ia ada di situ dan menemani Disa sampai tangisnya berhenti sendiri.


“Apa sekarang dia masih cengeng gak ya?”  Damar bertanya pada dirinya sendiri.


Setiap berkirim pesan, kalau melihat dari tulisannya Disa selalu menuliskan pesan-pesan yang positif. Bisa terbayang bagaimana jemarinya yang lentik menari bebas di atas keypad dengan bibir yang bergumam.


“Lo mau kirim sms apa ngirim voice note? Berisik banget!” ledekan Damar saat Disa berkirim pesan.


“Lo ngeledek jangan kebangetan! Ya kali hp ganjel pintu kayak gini bisa ngirim voice note!" Menunjukkan hp nya yang berlayar kecil dan hitam putih. Nada deringnya pun monoponic.


"Ini tuh namanya ekspresi mong, EX – PRE – SI!” seru Disa dengan mata mengerling kesal.


Damar hanya menahan tawanya. Rasanya ia ingin mencubit bibir Disa yang mengerucut dengan gemas. Sayangnya, saat itu mereka tidak sedekat dulu. Ada jarak yang membuat Damar tidak bisa bebas mencubit gemas pipi Disa yang selalu membuat perasaannya lega.


“Weeiiiss, semangat banget dia. Mong, kita sama-sama berjuang yaa.. Jangan lupa do’ain gue juga. Semangka!!” Eko membaca pesan Disa dengan gaya yang di buat mirip Disa.


“Hahah resek lo!” Damar menyikut sahabatnya yang memang pandai impersonate. Mirip sekali suara dan mimiknya dengan Disa.


“Hahahaha.. Ngomong-ngomong semangka apaan?” menunjuk kata yang di kirim Disa. “Dia minta semangka?” mulai deh Eko mikir. Sok punya otak.


“Semangka tuh singkatan. Semangat Kaka!” Damar mencontohkan gaya Disa saat menyerukan kata itu. Tangannya mengepal semangat dan matanya membulat penuh ekspresi.


“Ahahahaha.. Jirrr! Ada-ada aja disa. Bikin gue gemes aja. Kalo dia yang ngomong sih manis tapi kalo lo yang ngomong, jijik gue.” Eko bergidik geli melihat tingkah sahabatnya.


“Rambut aja gondong, kelakukan feminine.” Gerutu Eko sambil melempar kanebo kotor pada Damar.


“Eh sialan lo!” Damar membalas Eko dengan melempar botol minum.


Perkelahian versi bocah pun tidak terelakan. Mereka saling sikut, saling pukul dengan bantal dan tendangan maut dari masing-masing.


Rina yang melihat tingkah kakak sepupunya hanya bisa menggeleng.


“Daras bocah!” dengus Rina seraya berlalu pergi.


*****


Hari yang berat terasa begitu panjang bagi Kean. Meski banyak kesibukan di tengah-tengah pekerjaannya, pikirannya tidak seluruhnya fokus. Ia merasa tubuhnya sangat lelah karena semalaman tidak bisa tidur. Ia terus menguap dan kepalanya terasa berat.


Mungkin bukan karena efek kurang tidur saja, melainkan ada efek dari minuman beralkohol yang di tenggaknya.


Kalau mengingat semalam, ia jadi melamun sendiri. Semua di mulai dari pulang lebih cepat dan meninggalkan pesta, melihat Disa bersama Reza, menghantam cermin di toilet hingga hancur berantakan dan tiba-tiba memiliki keberanian untuk memeluk Disa.


Ia masih mengingat tubuh tegang Disa yang di peluknya tiba-tiba. Tidak ada perlawanan berarti, hanya sebuah dorongan lemah yang masih bisa di tahan Kean. Salah satu efek minuman yang terasa olehnya, membuat ia memiliki keberanian lebih. Untuk beberapa saat ia merasa hebat karena bisa berbicara dengan Disa bahkan memeluknya.


Tapi kalau di pikir kembali, betapa pengecutnya ia. Ia bersembunyi di balik minuman beralkohol agar bisa menghadapi rasa kecewanya. Baru kali ini ia merasa kalau ia telah kalah telak.


Tidak fokus bekerja, akhirnya Kean memutuskan untuk pulang lebih awal. Sore ini ia mengurung diri di kamar, mengurangi kontak dengan orang rumah dan mungkin hanya akan turun saat Arini memanggilnya untuk makan malam.


Walau sedang tidak berselera, ia tidak bisa membiarkan ibunya makan malam sendiri. Lalu bagaimana kalau ada Disa? Apa kali ini ia siap menghadapinya dalam keadaan sadar?


Hah, pura-pura bodoh saja. Ia sangat yakin kalau Disa akan dengan cepat melupakan kejadian semalam.


Suara langkah kaki yang terdengar cukup keras menaiki anak tangga, sedikit mengusik Kean. Ia yang sedang terbaring di bawah selimut dengan guling yang di peluknya, membuat ia tidak terlalu tertarik untuk melihat apa yang terjadi di luar sana. Sudah posisi wuenak dengan lamunan tidak jelas.


“Semalam waktuku sendirian. Angin bertiup kencang


Mendung berganti hujan. Hatiku gak karuan


Aku bertanya-tanya, ada apa gerangan?


Tapi ku gak perduli, Ah mungkin gejala alam


Gak tau kok tiba-tiba gelisah, pikiran serba salah


Jantung berdebar-debar, kaki selalu gemetar


Semakin gak tahan aku. Semakin tersiksa aku


Lalu ingat dirimu, Ingin ceritakan resahku


Sim salabim kucing kawin. Sumpah nyaris mati berdiri


Liat kamu sama lelaki. Bikin aku patah hati


Percaya gak percaya, mau nangis, malu abis


Bukan mimpi, ini nyata. Kamu bikin aku gila


Mual mules perut pun jadi kembung. Pandangan berkunang-kunang


Oh, akhirnya kurasakan, Apa yang kutakutkan


Sungguh ku tak menyangka, Sungguh ku tak mengira


Kamu yang aku cinta. Oh, pandai bersandiwara."


Sepertinya lirik lagu band Tipe-X ini benar adanya.


Tubuh Kean terasa lemas, tidak ada tenaga untuk beranjak dari tempatnya. Seperti ini saja, sudah cukup membuatnya lelah. Nafasnya pun bisa di hitung satu-satu.


Tapi rupanya kenyamanan ini tidak bertahan lama. Deringan telpon membuyarkan lamuan Kean untuk beberapa saat. Ia melihat id pemanggil di ponselnya dan ternyata adalah Nita.


“Iya tan.” Terpaksa Kean menjawabnya. Sambil duduk bersandar pada headboard ia mengguyar rambutnya kasar.


“Nggak ada tan.” Sahut Kean saat Nita bertanya tentang Reza.


Tapi tunggu, mungkin saja ia tidak tahu kalau Reza datang karena sedari tadi ia mengurung diri di kamar.


Akhirnya ia beranjak. Membuka pintu kamarnya dan tidak lama terdengar suara-suara dari kamar Disa.


“*T*ante di galery, tapi pintu di kunci semua. Lampu-lapu juga pada mati, gelap banget.”


“Mana hp nya gak aktif lagi, padahal seharian orang kampus nyariin reza. Kemana ya itu anak? Gak biasanya kayak gini.” Suara Nita kembali terdengar dan penuh kecemasan.


Sedikit mengintip dari celah pintu kamar Disa, ternyata gadis itu sedang bersama Shafira. Pantas berisik. Mereka berbincang serius dan Shafira berputar-putar di hadapannya. Mungkin anak kecil itu sedang menjadi model untuk Disa.


“Ya udah, tante jangan cemas. Kean bantu nyari yaa. Nanti Kean kabarin tante secepatnya.”


Panggilan pun berakhir dan Kean semakin mendekat ke pintu kamar Disa.


“Disa!”


“Ya saya!”


Sudah punya pacar tapi jawabnya masih seperti itu. Apa suara Kean yang paling dominan ada di kepalanya?


“Ada yang bisa saya bantu tuan?” ia segera merapikan penampilannya sebelum menghampiri Kean.


“Malas sebenarnya tapi ia harus bertanya. “Apa reza ada mengabari kamu hari ini?” ini yang membuat Kean malas.


Wajahnya langsung tegang, seperti fokusnya auto berpindah pada pujaan hatinya.


“Tidak tuan. Apa terjadi sesuatu?”


Malah balik bertanya. Membuat Kean menyimpulkan sepertinya Reza memang tidak menghubungi Disa.


Ia bisa percaya karena Disa bukan seseorang yang pandai berbohong.


Kean tidak melanjutkan kalimatnya. Malah bergumam dalam hati. “Pasangan macam apa yang tidak bertukar kabar padahal belum satu hari jadian.” Gerutunya dengan kesal.


Setahu Kean, saat seseorang resmi berpacaran dengan orang yang sangat ia sukai, ia pasti ingin selalu terhubung. Selalu berkirim kabar, mengirimi kata-kata romantis atau sering datang seperti biasanya. Tapi kali ini Reza malah menghilang. Aneh juga sang casanova ini. Atau mungkin ini salah satu trik casanova untuk membuat pacarnya semakin penasaran dan mengejarnya? Picik sekali.


Ah entahlah. Kenapa juga Nita sampai di buat cemas?


Clara adalah orang pertama yang dihubungi Kean untuk menanyakan keberadaan Reza.


“Tumben lo gak tau pacar lo kemana? berantem lo?” jawaban sinis itu yang di lontarkan Clara sambil tertawa puas.


Clara memang sangat suka menyebut Kean dan Reza sebagai pasangan. Clara malah sempat melabelinya “Pasusu: Pasangan suami suami.” Yang benar saja! Ia masih normal. Adiknya hanya bangun karena sentuhan wanita bukan sentuhan sejenisnya. Dasar Clara, tidak ada untungnya berbicara dengan gadis itu.


Yang kedua di hubungi Kean adalah temannya salah seorang pemilik Club malam. Mungkin saja casanova ini masih belum puas dengan pacar barunya jadi masih berburu. Kalau benar itu terjadi, ia sudah berniat untuk menggusur Reza pulang ke rumah apapun caranya.


Masa baru punya pacar masih nyari Wanita lain? Breng sek sekali.


“Gak ada bro! udah lama dia gak main ke sini.” Lagi, jawaban sejenis yang ia dapat.


Aarrgh! Kemana sebenarnya Reza pergi?


Pikiran Kean buntu, akhirnya ia memutuskan untuk mencari langsung. Ia berencana untuk mengunjugi tempat yang biasanya di datangi Reza.


Dimulai dari sasana milik sahabatnya, bang Nasep. Walau kemungkinannya kecil, tidak ada salahnya untuk ia coba.


Mobil Kean meluncur menuju sasana milik Nasep. Tidak banyak waktu yang ia habiskan karena ia memilih jalan yang tidak biasanya macet. Walau tetap saja, padat. Tapi paling tidak, ia bisa menghemat waktunya untuk beberapa lama.


Sasana milik Nasep masih terlihat ramai. Orang-orang yang mengambil kelas work out sore hingga malam hari, baru selesai berlatih. Sang pemilik pun berada di luar, mengantar seseorang hingga naik ke mobil dan melambaikan tangannya saat pergi. Sepertinya orang itu salah satu kenalan dekat Nasep.


“Tet tet!” Kean membunyikan klaksonnya memanggil Nasep. Laki-laki bertubuh atletis itu segera menghampiri saat ia melihat kean.


“Woohhoo! Tumben lo mampir malem-malem?!” sambil mengajak Kean tos.


“Gue nyari reza bang. Ada ke sini gak?” tidak terlalu yakin tapi tidak ada salahnya bertanya.


“Ada noh di dalem!” tunjuk Nasep santai.


“Hah beneran?” Kean benar-benar tidak percaya kalau Reza benar-benar ada di dalam.


“Gak cuma lo yang kaget. Gue juga kaget.” aku Nasep dengan sesuangguhnya.


“Udah lo turun dulu, kita ngopi dulu. Kayaknya si reza lagi kacau tuh!” imbuh Nasep.


“Hem.” Kean segera melepas seat belt-nya sambil berfikir, apa benar Reza kacau? Bukankah seharusnya ia sedang sangat bahagia?


Kean segera turun, berjalan bersisihan dengan Nasep untuk masuk ke dalam sasana.


“Noh anaknya!” tunjuk Nasep pada seorang laki-laki yang sedang asyik menghajar samsak. Benar saja itu Reza.


“Subuh-subuh tuh anak dateng ke mari. Gedor pintu rumah kayak orang kesurupan.”


“Molor aja kerjanya seharian. Gak mau makan lagi. Eh bangun-bangun malah langsung ngehajar samsak. Aneh banget!” keluh Nasep.


Bisa terlihat wajah Nasep yang bingung bercampur khawatir. Sudah lebih dari 2 jam Reza berolah raga. Ia hanya minum tanpa ada makanan yang masuk.


Kean memperhatikan Reza yang tampak kesal saat menghajar samsaknya. Seperti ia bukan sedang menyalurkan tenaganya, melainkan kemarahannya.


“Pinjem kaos bang!” mungkin ada baiknya Kean ikut bergabung agar ia bisa tahu apa yang terjadi pada sahabatnya.


“Mau sparring lo? Udah KO dia.” Cetus Nasep yang melihat Reza membungkukkan tubuhnya seperti seluruh tenaganya habis.


“Bawel lo!” timpal Kean.


“Ah elah nih bocah. Jangan berantem ya lo pada.” Ia mencoba mengingatkan saat melihat tatapan Kean yang tajam pada Reza.


Kean tidak menimpali. Setelah mendapat baju ganti, ia segera menghampiri Reza.


Tubuh Reza sudah basah berpeluh. Wajahnya yang merah dengan nafas pendek yang menderu. Sepertinya ia sudah kelelahan.


“Masih mau main?” tawar Kean.


Reza hanya menyeringai. Tanpa di sangka, Reza melayangkan tinjunya pada Kean. Tanpa aba-aba tanpa pemanasan ia langsung menyerang Kean.


Pertarungan tidak terelakkan. Baku hantampun terjadi. Reza yang mulai kehilangan fokusnya, beberapa kali harus menerima pukulan dari Kean. Hanya bertahan 10 menit sampai akhirnya Reza terkapar lebih dulu di atas ring.


Reza masih berusaha mengatur nafasnya yang menderu. Hawa tubuhnya panas, wajahnya merah dan tenggorokannya yang kering karena over work out. Tubuhnya sudah sangat lelah tapi jiwa bertarungnya masih sangat menggebu-gebu.


Kean mendudukan tubuhnya di samping Reza. Ia menyodorkan sebotol air pada Reza. Sahabatnya hanya melirik, seperti tidak tertarik. Saling terdiam dengan pikiran masing-masing. Baru sekarang Kean melihat lagi Reza seperti ini. Seperti ada kekecewaan yang coba di tahannya.


Reza pernah mengalami seperti ini, belasan tahun lalu. Saat ia bertengkar dengan kakaknya yang menjadi penerus perusahaan peninggalan mendiang ayahnya. Mungkin kali ini semua berulang dan Reza masih selalu tidak bisa menyelesaikan masalahnya dengan para kakaknya.


“Nyokap lo panik nyariin lo. Lo gak ngabarin dia?” tanya Kean membuka celah berbincang. Sepertinya Reza sudah mulai bisa di ajak berbicara.


Reza tidak menimpali. Ia memilih bangkit lalu terduduk di samping Kean. Diambilnya botol minum yang semula ia tolak.


Haus juga lo! Dengus Kean dalam hati.


Hampir tandas air yang di teguk reza. Hanya menyisakan beberapa mili saja yang tertinggal di lekukan botol.


“Lo kabarin nyokap lo. Dia gak karuan kayaknya seharian gak ada kabar dari lo.” Kean menyodorkan ponselnya pada Reza.


Namun Reza mengabaikannya. Ia hanya tersenyum sinis saat melihat wallpaper di layar ponsel Kean. Sebuah mural buatan Disa.


“Nyokap lo ke gallery tapi katanya pintunya lo kunci. Lampu-lampu juga gak lo nyalain. Lo kemana aja seharian?” mulai cemas karena sepertinya Reza tidak baik-baik saja.


“Kalo lo ada masalah sama kakak-kakak lo, jangan sampe nyokap lo yang jadi korban. Dia kayak mau nangis pas nanyain lo. Bingung ba-,”


“Disa.” Satu kata itu meluncur dari mulut Reza dan memangkas kalimat Kean.


Reza menoleh sahabatnya kemudian tersenyum hambar.


“Disa? Kenapa Disa?” Kean bertanya pada dirinya sendiri tanpa mengalihkan pandangannya dari Reza.


Apa yang mau Reza bicarakan? Lantas apa hubungannya dengan Disa? Apa mungkin Reza tahu kalau ia memeluk pacarnya?


Astaga! Apa iya?


*****