Marry The Heir

Marry The Heir
Tuan muda VS Pecel



“Saya dengar ada yang akan menikah.” Sebuah suara terdengar lantang saat pintu ruang kerja Kean yang terbuka.


Marcel, dengan langkah santai dan senyuman khasnya, mendekat pada Kean.


Kean yang sedang fokus dengan pekerjaannya, menjeda sesaat aktivitasnya, menutup laptopnya dan beralih memandangi laki-laki yang kemudian duduk di hadapannya.


“Sepertinya om suka menonton acara gossip juga.” Ledek Kean, tidak suka saat keadaan yang menyudutkannya ini di jadikan bahan ledekan oleh Marcel.


“Acara gossip? Tentu tidak lah, hahaha…” ia tertawa puas. Lucu sekali keponakannya saat terlihat kalut dan kesal seperti ini.


Melihat reaksi Marcel, Kean jadi sedikit berpikir atas laporan Roy.


Setelah tersebarnya gossip tentang ia dan Disa, Kean memang menyuruh Roy untuk menyelidiki masalah ini. Ia masih berfikir, kalau seorang wartawan melihatnya masuk ke dalam hotel, itu masih mungkin. Tapi, untuk mendapatkan rekaman CCTV mulai dari Kean datang sampai pulang, tentu perlu kekuasaan penuh untuk memaksa pihak hotel mengeluarkan rekaman itu.


Dan yang bisa melakukan hal itu, mungkin hanya laki-laki di hadapannya. Yang mengenal banyak orang dan terkenal suka memaksa.


“Kenapa om melakukannya?” tanya Kean yang mulai mengerucutkan pikirannya.


“Saya? melakukan apa? Kamu aneh-aneh aja.” Marcel beranjak dari tempat duduknya saat melihat mata Kean yang menyelidik.


“Duduk dulu, kita masih perlu bicara.” Titah Kean dengan suara tegas.


“Wah, mana berani saya duduk di sini. Melihat kamu yang seperti ingin menerkam saya, bulu kuduk saya langsung berdiri.” Marcel pura-pura bergidik dan mengusap lengannya, seolah bulu kuduknya meremang.


“Tidak perlu berpura-pura. Ini kerjaan om kan, nyebarin berita ini ke media? Om tau kan akibatnya bagi disa?” seru Kean yang ikut berdiri untuk dengan emosi yang mulai naik.


“Kerjaan apa? Saya tidak melakukan apa-apa.” Marcel kukuh dengan jawabannya dan mulai berhenti cengengesan. Sepertinya keponakannya serius marah.


“Di hotel itu, banyak media yang standby, sesekali mereka meliput kegiatan para finalis buat di jadiin vt saat mereka selesai berkompetisi nanti. Kenapa kamu harus menuduh saya yang melakukan semuanya? Kamu kira saya sebodoh itu membiarkan nama keluarga hardjoyo di jadiin bahan gunjingan lagi?” Marcel beralasan.


Untuk berbicara dengan keponakannya memang harus memberi alasan yang logis agar bisa di terima nalarnya yang masih sering berburuk sangka terhadapnya. Memang tidak salah juga Kean beranggapan seperti ini. Mereka tidak terlalu dekat dan Marcel sering membuat masalah, sangat wajar kalau keponakannya ini menuduhnya.


Kean mengguyar rambutnya kasar, mengusap dagunya kemudian berfikir serius. Ada benarnya juga ucapan Marcel, terlalu banyak mata di hotel itu untuk ia curigai. Pengelola hotel bahkan tidak mau memberi keterangan terkait bocornya rekaman CCTV yang beredar dan berlindung di balik kuasa hukumnya. Buntu!


“Saya juga gak ngerti sama kamu. Kamu datang ke singapura untuk membujuk saya supaya meyakinkan claire, setelah masalah claire selesai, kenapa kamu malah ragu? Kamu gak berniat mempermainkan gadis itu kan?” berganti Marcel yang menyelidik. Ia masih mengingat bagaimana semangatnya Kean hingga datang ke tempatnya bekerja dalam satu hari. Tentu bukan sesuatu yang mudah dan tanpa alasan.


Kean kembali mendudukan tubuhnya, dengan dahi terkerut. Ia memikirkan kalimat Marcel dan rasanya benar. Namun harus ia akui, dalam selang waktu berjuang itu, ada hal yang membuat ia harus memikirkan kembali keinginannya. Dan ini cukup sulit.


“Kamu sudah ada peluang, kenapa harus kebingungan gini? Jadilah orang yang cerdas tidak hanya dalam mengelola perusahaan tapi juga dalam menghadapi masalah pribadi."


"Jangan jadi pengecut seperti papahmu. Jadikan situasi genting ini menjadi peluang untuk hal yang kamu kejar selama ini.” Marcel mencoba memberi petuah, menunjukkan keberadaannya sebagai anggota keluarga yang lebih tua dari Kean.


Kean menatap laki-laki yang saat ini memandanginya dengan segaris senyum. Seperti seorang senior yang sedang mengajarinya cara bertahan hidup dalam kondisi sulit.


Untuk beberapa saat Kean perlu merenung, memikirkan apa yang Marcel katakan. Bisa jadi, kata-katanya memang patut untuk ia pertimbangkan.


*****


Jam 7 malam, Kean sudah menunggu di lobby. Sesuai janji ia akan mengajak Disa untuk makan malam di luar. Entah kemana Kean akan membawanya, ia hanya akan mengikuti saja.


Keluar dari lift, sudah ada Kean yang terduduk di salah satu sudut kursi tunggu. Ia menggunakan pakaian kasual lengkap dengan topi untuk menyamarkan penampilannya. Di tangannya ia sibuk memainkan benda pipih yang menyala terang memberi cahaya bias di wajah tampannya.


Tidak bisa di pungkiri, pesona Kean memang sangat memikat. Sosok tinggi tegap dan tampan itu tetap bisa di kenali walau ia menyamarkan penampilannya.


Disa menghela nafas dalam lalu dihembuskan perlahan, ia harus menenangkan perasaannya sendiri yang bergejolak setiap kali melihat Kean termasuk saat ini.


Gerakan tangan Kean langsung terhenti saat sudut matanya menangkap bayangan kedua kaki yang berjalan ke arahnya dan berhenti tepat di hadapannya. Disa dengan tampilan kasual yang manis mengenakan dress se lutut dan jaket parka yang memiliki hoodie.


Tampilan Disa memang selalu mempesona walau sederhana. Ini salah satu yang Kean sukai saat bertemu Disa, pandai mematut diri hingga terlihat menarik dengan segala kesederhanaannya. Membuat ia merasa menjadi orang special karena berada di samping seseorang yang menampilkan dirinya secara utuh dan apa adanya.


“Selamat malam tuan.” Sapanya dengan segaris senyum. Tidak secerah biasanya namun tetap saja mampu mempesona Kean.


“Malam. Sudah siap?” Seperti biasa, laki-laki kaku ini memang tidak pandai berbasa-basi.


“Sudah.”


Kean berjalan lebih dulu menuju mobilnya yang diikuti Disa. Sesekali ia menoleh untuk memastikan Disa mengikutinya.


Terduduk di balik kemudi dan di susul Disa yang duduk di sampingnya.


“Mamah bilang mungkin kamu bosen dengan makanan hotel, mau makan apa?” tanya Kean membuka pembicaraan. Masih ada jarak yang terasa jauh antara keduanya meski mereka duduk berdampingan dengan jarak beberapa senti saja.


Pertanyaan ini sedikit mengganjal bagi Disa karena seperti halnya Reza, Kean datang bukan atas keinginannya sendiri. Mungkin Arini memaksanya, untuk menunjukkan kalau laki-laki ini bersungguh-sungguh.


Harus Disa akui kalau ia memang sudah mulai bosan dengan menu makanan hotel. Makanan serba mewah, terkadang hanya cukup di nikmati sesekali kali dan lebih cepat membosankan di banding masakan rumahan.


“Pecel ayam.” Disa tidak suka menjawab dengan kata terserah. Toh Kean menawarinya maka lebih baik ia mengatakan apa yang ada dipikirannya.


“Boleh. Ada rekomendasi tempat?” tanya laki-laki di sampingnya seraya memasangkan seat belt melingkari tubuhnya.


Disa jadi termangu sendiri, ia pikir Kean akan menolaknya karena itu bukan tempat yang biasa di datangi oleh seseorang tuan muda, terlebih ia seseorang yang pemilih terhadap makanan. Harus serba bersih, tidak boleh di cicip dan hanya makanan tertentu yang bisa di makannya. Rumit,, seperti pikiran Disa saat ini.


“Em tidak ada tuan.” Jadi bingung sendiri kalau sudah di tanya rekomendasi tempat. Hotel tempatnya tinggal berada di Kawasan elite ibu kota, mungkin cukup sulit untuk menemukan seorang penjual pecel ayam di dekat sini.


“Mungkin tuan ingin memilih tempat lain yang lebih cocok untuk kita.” Disa memelankan sebagian suaranya. Menyebut kata “Kita” terasa begitu asing saat ini.


Perjalanan mereka lalui dengan memperhatikan keberadaan penjual pecel ayam. Beda dari biasanya, nasi padang yang selalu menjadi favorit Disa mendadak terlupakan saat ia membayangkan sambal pecel yang enak.


Kean asyik mengatur kemudinya dengan kecepatan sedang, melihat ke pinggir jalan mencari tulisan pecel ayam. Disa yang duduk di sampingnya mulai memperhatikan laki-laki itu.


“Tuan, mungkin sebaiknya kita cari tempat yang lain, yang lebih nyaman untuk tuan.” Tidak sampai hati membayangkan Kean terpaksa memakan makanan yang asing.


“Saya perlu mencobanya.” Hanya itu sahutan pendek Kean namun penuh keyakinan.


Disa jadi berfikir, Arini mungkin memang bisa memaksa laki-laki ini untuk mengajaknya makan malam namun kesediaannya untuk makan menu pilihan Disa terlihat lebih seperti sebuah jawaban refleks yang menunjukkan laki-laki ini sedang berusaha beradaptasi dengan kesukaan Disa.


Merubah pola dan kebiasaan makan selama bertahun-tahun itu butuh waktu yang lama. Tidak akan bisa di ubah hanya dengan sebuah paksaan dari orang lain. Karena esensinya, makan itu tidak hanya membuat perut kenyang melainkan mereka harus menikmati apa yang masuk ke mulutnya agar benar-benar menjadi sumber tenaga dan memberi kesenangan. Kean melewati hal itu.


Apa laki-laki ini memang sedang mendekat dengan usahanya sendiri bukan karena paksaan? Kenapa jantung Disa jadi berdebar jika apa yang ia pikirkan itu benar?


Di sampingnya, dari spion tengah Kean melirik Disa yang sedang memandanginya dengan wajah bingung. Wajahnya yang polos dengan dahi sedikit mengkerut seperti menyimpan banyak pertanyaan.


“Pecel ayam salah satu makanan favorit orang indonesia kan? Sepertinya rugi kalau saya tidak mencobanya.” Kalimat itu di lontarkan Kean seolah di tujukan untuk menjawab pertanyaan di benak Disa.


Disa hanya tersenyum, alasan Kean bisa ia terima. Terlepas apapun alasan sebenarnya. Kita lihat saja apa Mr picky ini menikmati makanannya atau hanya berpura-pura untuk menyenangkan Disa.


Spanduk bergambar ayam, lele dan bebek sudah terlihat di depan mata. Wangi ayam goreng dan sambal yang di buat penjualnya sudah tercium sejak Disa menurunkan kaca jendelanya.


“Di sini saja?” Kean bertanya, melihat wajah Disa yang mupeng jadi ingin tertawa rasanya.


“Iya tuan.” Sahutnya cepat.


Beberapa hari ini ia terus menerus makan makanan hotel yang serba mewah. Enak memang tapi baginya membuat cepat bosan. Menu dengan cita rasa internasional, tidak terlalu cocok dengan lidahnya. Ia lebih suka makanan yang mengandung lalapan dan sambal seperti pecel ini.


Turun dari mobil, mereka langsung duduk di bangku belakang. Seorang pelayan langsung menghampiri mereka dengan membawa selembar kertas menu yang di laminating dan alat catat.


“Makan sini om?” tanyanya pada Kean.


Kean hanya mendelik, tidak terima di panggil om oleh pelayan cilik yang sebagian rambutnya di cat warna coklat, sangat mencolok saat terkena cahaya lampu. Usianya mungkin masih belasan hingga ia merasa pantas memanggil Kean dengan panggilan Om.


“Pesen apa kak?” karena Kean tidak menimpali, ia berganti bertanya pada Disa. Kali ini Kean menoleh bocah itu dengan kesal. Padanya ia memanggil om sementara pada Disa memanggil kakak. Apa wajahnya setua itu?


“Kamu pikir saya om-om?” Kean menatap tidak suka pada anak tersebut.


Anak itu malah cengengesan, ternyata laki-laki itu masih muda saat wajahnya terlihat jelas.


“Nggak sih, keliatannya kaya bos. Mobilnya aja bagus, kaya di sampul majalah. Tapi kok makan di sini?” pertanyaan yang polos dan membuat Disa menahan senyumnya karena geli.


“Apa ada larangan untuk saya makan di sini?” Kean menanggapinya dengan serius. Akh tuan mudanya memang tidak bisa di ajak bercanda. Selalu ketus, seperti awal pertama ia bertemu dengan Disa.


“Hehehehe.. Ya nggak lah. Kalo di borong malah lebih bagus. Mau tau menu favorit di sini gak?” dengan percaya diri anak itu mendekat.


“Apa?” sedikit menarik tubuhnya menjauh, namun tetap terlihat penasaran.


“Bebek goreng sambal mercon. Di jamin nagih.” Tawarnya dengan penuh percaya diri.


“Ya sudah, bawakan yang menurut kamu menu terbaik.” Mengembalikan kertas menu pada pelayan itu dan di sambut dengan senyuman senang oleh pelayan cilik.


“Siap bos!” anak itu melakukan hormat singkat dan langsung berlalu.


“Meja 8, menu favorit lengkap!” serunya pada temannya.


Temannya yang sedang menggoreng dan membuat sambal, kompak menoleh pada Kean dan Disa.


“SIAP!” sahut mereka dengan semangat.


“Apa harus seheboh itu?” tanya Kean dengan wajah bingung.


Disa hanya tersenyum, sepertinya ia tidak perlu memesan apapun karena Kean sudah memesan menu terbaik.


Benar saja, meja Kean dan Disa langsung di penuhi makanan. Ayam, lele dan bebek semuanya di sajikan, lengkap dengan tahu, tempe goreng, sambal dan lalapan hijau. Nasinya masih panas dan mengepulkan asap, wangi makanan yang semerbak membuat saliva Kean seperti akan menetes.


“Tuan, kita makan sebanyak ini?” tanya Disa tidak percaya. Meja di hadapannya hampir penuh dengan makanan yang di pesan Kean. Biasanya menu favorit hanya satu yang teristimewa tapi sepertinya di warung pecel ini semua menu adalah favorit.


“Saya juga gak tau kalau sebanyak ini. Kamu makan saja yang menurut kamu paling menggoda selera.” Timpal Kean yang sama bingungnya.


Disa hanya menggeleng, tidak percaya dengan apa yang ia lihat dan dengar.


Beberapa saat mereka mulai menikmati makanan di hadapannya. Awalnya Kean mengambil sedikit nasi dan potongan bebek yang ia bagi dua. Rupanya ia masih ragu kalau ia akan menyukai makanan ini. Namun hal berbeda terjadi setelah Kean menambahkan sambal. Mencoleknya sedikit dan lama kemalaan ia menambah nasi. Potongan bebek sisapun berpindah kepiringnya bahkan di tambah dengan seekor lele yang ikut di lahapnya.


Keringatnya bercucuran, sesekali meneguk air teh hangat dengan nikmat untuk melepas dahaga dan mengurangi rasa pedas di mulutnya. Tidak bisa Disa percaya kalau yang sedang makan dihadapannya benar-benar Kean. Laki-laki ini benar-benar berbeda dari biasanya. Makannya sangat lahap, entah benar-benar lapar atau ia baru tahu rasa enaknya pecel bebek dan lele.


Sambil menikmati makan malamnya, Disa memperhatikan Kean. Beberapa kali Disa meminta minum untuk tuan mudanya yang kepedesan.


“Hahhahaa… Lucu. Tuan muda versus pecel.” Gumam Disa.


Benarkan, kalau tidak kita coba, mana kita tahu makanan itu enak.


****