Marry The Heir

Marry The Heir
Psyche?



Mendesain itu perlu konsentrasi yang tinggi. Namun saat inspirasi sudah didapatkan, tangan Disa bisa bergerak dengan sangat cepat untuk mendesain tiga looks sekaligus yang ia buat khusus untuk Clara.


Seperti apa seorang Clara, seperti itulah yang ia gambarkan pada desainnya. Mengingat ucapan Clara tentang desainnya yang kemudian di buat baju oleh Naomi, ia jadi sadar kalau desain seperti itu bukan selera seorang Clara Davina.


Ia harus percaya diri kalau desainnya saat itu tidak buruk, ini hanya masalah selera saja. Toh Clara tidak bisa memberitahukan kekurangan dari desainnya apa, hanya mengatakan kalau desain itu tidak special untuknya. Baiklah, kita buat satu yang special untuk seorang tuan putri Clara Davina. Semoga ia menyukainya.


Secepat pembuatan desain, secepat itu juga waktu pengumpulan karya tiba. Panitia sudah meminta mereka kembali ke panggung dan para juri ke kursi masing-masing.


Atmosfer ruangan yang penuh ternyata tidak lantas mengusir rasa dingin di tubuh Disa. Hawa manusia yang panas tidak bisa mengalahkan ketegangan yang bercampur AC yang menyala dari berbagai penjuru. Tangannya basah dan sedikit gemetaran lantas ia coba meredamnya dengan mentautkan jari kedua tangannya satu sama lain.


Mendapat tantangan sesulit ini, membuat 3 desain dalam waktu yang singkat, membuat satu kontestan sudah kena mental lebih dulu. Wajahnya terlihat tegang melebihi yang lain, terlebih saat ia di panggil untuk mempresentasikan desain yang mereka buat.


“Silakan untuk fuji kamila, mempresentasikan desainnya. Buat model anda dan para juri lainnya memberi nilai yang tinggi untuk desain anda.” Ujar MC seraya memberikan microphone-nya.


Gadis bernama fuji itu, mulai maju ke depan dengan gemetaran. Tampilan Desainnya mulai di tayangkan di layar besar di belakangnya.


Ia menatap karyanya sendiri dan terlihat murung. Tidak ada nyala semangat di matanya.


“Itu desain apaan? Aneh banget.” Celetuk Amel yang masih bisa di dengar oleh gadis itu.


Fuji hanya menoleh, wajahnya semakin pucat membuat Disa ikut merasakan kegugupannya. Ternyata semudah itu menjatuhkan mental seseorang yang tidak merasa percaya diri dan was-was.


“Ish, lo ya kalo ngomong suka gak di filter. Lo mau di keroyok pendukungnya?” sengit Rianti dengan kesal. Melihat antusiasme pendukung Fuji, ternyata tidak membuat gadis ini ikut merasa percaya diri.


“Ya gue kan cuma ngomong apa adanya.” Sahut Amel, ringan tanpa beban.


“Ish elo!” baru tangan Rianti terangkat hendak memukul Amel, Disa segera menahannya.


“Udah jangan ribut, jangan bikin suasana tambah tegang. Mending kita semangati fuji.” Bisik Disa.


“Habis nih anak kalo ngomong,” Rianti menggantung kalimatnya saat tiba-tiba terdengar Fuji yang malah terisak terdengar di microphone.


“Oh maaf, sepertinya terjadi sesuatu.” MC segera mendekat dan menenangkan Fuji.


“Kenapa?” bisiknya.


“Maaf, saya blank. Bisa saya terakhir saja?” lirihnya yang masih tersedu. Mentalnya benar-benar tidak siap menghadapi banyaknya audience dan tatapan para juri yang menuntut.


“Iya, boleh.” Kasian juga melihat dia kehilangan kata-kata karena terlalu tegang. Seperti pikirannya buntu dan ia perlu waktu untuk menenangkan pikirannya sendiri.


“Desainer lo cha?” tanya Clara pada Marisa yang duduk di sampingnya.


Marisa terangguk pelan dengan wajah yang kecewa. Padahal tadi gadis itu baik-baik saja, walau tidak terlalu percaya diri.


“Sejak awal gue gak yakin sama anak itu. Ketemu gue kayak ketemu setan. Gelagapan gak jelas.” Keluh Marisa saat mengingat apa yang terjadi tadi.


Clara dan teman-temannya hanya terkekeh mendengar jawaban Marisa.


“Terus lo mau pake bajunya?” Corry ikut penasaran.


“Kagak lah. Desain bajunya kayak yang sering gue liat di olshop. Pasaran.” Tegasnya.


Lagi, teman-teman Clara tertawa lirih.


Tawa mereka baru terhenti saat tiba-tiba ada seseorang yang masuk dan menduduki kursi di tempat khusus. Adalah Marcel yang terlihat keren dengan tampilan rapinya.


Clara hanya berdecik, kenapa juga laki-laki itu datang dan baru datang. Pasti hanya untuk melihat pelayan itu pikir Clara.


“Marcel tambah hot ya?” bisik Corry. Ia melambaikan tangannya dengan elegan pada Marcel.


Marcel hanya tersenyum, sayangnya bukan pada Corry tapi pada Clara. Namun Clara terlalu malas, hingga akhirnya ia memalingkan wajahnya.


“Nyebelin! Tebar pesona segala.” Dengusnya dalam hati.


“Baik, kita lanjut ke peserta berikutnya, rianti putri. Silakan.”


Giliran Rianti yang maju kedepan.


“Baik, tema karya saya kali ini adalah moza, yang artinya melaju. Saya membuat tiga desain modern untuk model saya. Desain yang simple dan nyaman di pakai. Saya harap, model saya juga juri yang lain menyukainya. Terima kasih.”


Suara tepukan kembali terdengar mengisi ruangan. “Gitu doang? Beneran simple ya sist. Gak ngerti gue nih anak bikin karya apa. Aturan di jelasin biar modelnya paham.” Protes Marisa.


Kekecewaannya bertambah setelah mendengar pemaparan Rianti yang terlalu pendek.


“Tapi desainnya lumayan. Gue suka.” Corry memberi pembelaan.


Sementara Clara hanya menunggu satu orang yang ingin ia lihat desainnya dan sudah bersiap untuk mengomentari habis-habisan karyanya. Ia sudah bertekad untuk membuat gadis itu menghentikan langkah dan berbalik dengan rasa kecewa. Tentu saja, tidak ada yang boleh menyainginya di mata siapapun, termasuk Marcel.


“Baik, kontestan selanjutnya. Silakan paradisa Sandhya.” Giliran nama Disa yang di sebut dan perhatian Clara langsung fokus. Tidak hanya pada Disa, tapi sesekali pada Marcel.


“Selamat siang. Saya mau memperkenalkan desain saya yang saya beri nama psyche.” Ujarnya dengan yakin.


“Dalam bahasa yunani kuno, artinya kupu-kupu.”


“Wow, indah. Pantas desainnya seindah ini.” Puji MC dengan sungguh-sungguh.


“Desainer lo?” bisik Corry.


Clara hanya terangguk dengan tangan tersilang di depan dada. Ia sudah siapa mendengarkan konsep desain Disa.


“Saya lebih penasaran pada konsep desain khususnya. Kalau looks formal dan non formal, kita udah kebayang lah ya, seperti apa kalau seorang Clara Davina memakainya. Tapi untuk desain khususnya?” sang MC lebih berfokus pada desain cantik yang di buat Disa.


“Ya, baik akan saya jelaskan langsung pada desain khusus.”


Fokus Disa sedikit teralih, saat dari pintu masuk terlihat seseorang berjalan menuju kursi penonton. Ada Shafira di sana yang mendorong kursi roda Arini untuk masuk.


Gadis itu melambaikan tangannya pada Disa lantas mengepalkan tangannya memberi semangat. Di kursi depan ia duduk bersama Arini yang mengenakai dress yang ia buat kala itu. Wanita paruh baya itu terlihat cantik, terlebih saat tersenyum.


Ia sudah tidak mengenakan masker, hanya kacamata untuk melindungi matanya dari cahaya lampu yang terlalu terang.


Perasaan macam apa ini, antara senang dan semakin tegang melihat dua orang itu hadir untuk mendukungnya.


“Ya, silakan di lanjutkan.” Sang MC berusaha menyadarkan Disa yang terpaku.


“Oh maaf. Baik saya lanjutkan.” Beruntung konsentrasinya kembali. Perasaannya lebih tenang, saat tahu tidak hanya Damar yang mendukungnya.


“Saya terinspirasi dari model saya sendiri, seorang Clara Davina. Beliau adalah idola saya saat saya memutuskan untuk masuk sekolah desain lebih dari 2 tahun lalu.” Di tatapnya Clara yang tetap dingin menanggapi ucapan Disa.


“Pertama saya melihat mba clara, di sebuah acara amal. Beliau membagikan alat pintal pada anak-anak untuk belajar merajut. Saya masih mengingat bagaimana senangnya anak-anak itu mendapat hadiah dari mba clara. Sejak saat itu, saya mengidolakan mba clara.”


“Berbicara dengan mba clara membuat saya cukup tahu banyak hal dan ini juga yang menjadi isnpirasi saya.”


“Gaun ini saya buat sebagai representasi Psyche. Psyche adalah perempuan yang sangat cantik bahkan menyaingi kecantikan dewi Afrodit. Saya menggambarkan itu pada seorang clara Davina. Cantik dan elegan. Menyukai keindahan dan halus. Sementara untuk desain bagian belakang yang terlihat seperti sayap, itu lah Psyche, konsep terbesar dari desain ini.”


“Model saya seperti kupu-kupu. Cantik dan anggun, bervariasi dan memesona juga tidak mudah didekati. Tapi kupu-kupu membawa kita ke sisi cerah kehidupan. Yang membuat kita berfikir bahwa setiap orang berhak mendapatkan sedikit terang matahari setelah keluar dari kungkungan kepompong yang menjaga kita agar di kemudian hari menjadi sosok yang kuat dan menginspirasi banyak orang.”


“Seperti kupu-kupu yang tidak bisa melihat sayapnya sendiri yang begitu cantik padahal kita semua bisa melihatnya sebagai keindahan yang hakiki, seperti itulah model saya.”


“Bagian sayap ini, saya desain sebagai lukisan, yang mendeskripsikan seorang clara davina.”


“Demikian pemaparan dari saya, terima kasih.” Tutup Disa yang mengangguk takzim.


Saat ini, ia hanya ingin berfokus pada kelebihan seorang Clara Davina yaang menjadi inspirasinya. Clara memang bukan seorang manusia sempurna seperti halnya Disa, namun jikalaupun wanita ini memiliki kekurangan, bukan bagian Disa untuk memikirkan apalagi mengomentarinya.


Ini tentang karya, ini tentang inspirasi dan tidak boleh ada kecacatan di dalamnya.


Seisi ruangan di buat terpukau. Mereka bertepuk tangan dengan riuh di sambung suitan. Orang-orang semakin penasaran seperti apa cantiknya seorang Clara Davina yang digambarkan oleh Disa.


Perasaan Disa semakin lega saat melihat ketiga orang yang hadir di hadapannya ikut bertepuk tangan. Ternyata, tiga orang pendukung tidak jadi masalah saat ia berhasil memukau semua orang.


“Lo mau tukeran desainer sama gue?” bisik Angela yang sengaja mencondongkan tubuhnya demi mendekat pada Clara.


Clara hanya menyunggingkan senyuman sinisnya, seraya memperhatikan Marcel yang seolah ikut terpesona. Entah mengapa ia semakin muak saja melihat wajah laki-laki itu.


“Wow, saya jadi semakin penasaran bagaimana jadinya kalau desain baju ini sudah jadi dan di kenakan oleh seorang clara Davina. Gimana, clara mungkin ada tanggapan?”


Clara menyalakan microphone di hadapannya. Dengan gusar Disa menunggu komentar Clara untuk mengukur apa wanita ini menyukai desainnya atau tidak.


“No comment. Silakan di lanjutkan.” Ujarnya dengan senyum tipis terukir bersanding dengan gayanya yang elegan.


Jantung Disa seperti mau copot mendengar jawaban Clara. Ternyata sekeras apapun ia berusaha menampilkan yang terbaik dari dirinya, yang tidak menyukainya akan tetap tidak menyukainya. Entah apa yang ada di kepala Clara saat ini, Disa tidak bisa membayangkannya.


“Ish, partnernya mba disa kenapa harus kak claire sih tante?”


Protes Shafira di belakang sana. Ia tidak terima karena Clara hanya memberikan komentar pendek itu pada desain Disa. Padahal, andai ia yang dibuatkan desain secantik itu, mungkin ia akan menangis haru.


Arini memilih tidak berkomentar, ia hanya berdo’a dalam hati seraya memperhatikan ekpresi putranya yang melakukan panggilan video sambil memimpin rapat.


Ya, di sebrang sana Kean sedang mengukuhkan kekuasaannya terhadap Hardjoyo group. Ia memimpin rapat direksi untuk memperbaiki semua sistem di perusahaan induk juga anak perusahaan. Beberapa pimpinan yang di anggapnya tidak layak memimpin perusahaan, ia ganti dengan yang menurutnya lebih baik.


Walau di antara mereka, mendapat posisi sebagai pimpinan anak perusahaan karena kedekatannya dengan Sigit. Kean tidak peduli. Ia hanya ingin memperbaiki semuanya.


Mendengar suara Shafira di earphone yang menempel di telinga kirinya, membuat ia harus membagi konsentrasinya. Yang dihadapi Disa bukan orang yang mudah. Seorang Clara Davina yang keras kepala dan menyimpan kekesalan.


Seperti apa Disa akan menghadapi sahabatnya ini? Sungguh, masa depannya di pertaruhkan.


"Bertahanlah sa, hadapi claire dengan berani."


Eh, kok jadi gagal fokus ya?


*****