
Sebuah café bergaya klasik menjadi pilihan Kean dan Reza untuk makan malam. Setelah berolah raga, mereka kembali harus mengisi perutnya yang mulai keroncongan karena tenaganya terkuras habis, berubah menjadi keringat dan uap udara.
Beberapa menu makanan sudah di pilih oleh keduanya, makanan khas eropa yang mereka nikmati saat ini.
“Lo milihnya mie lagi, mie lagi. Ganti yang lain lah.” Protes Reza saat melihat sahabatnya begitu menikmati sepiring spageti carbonara yang tengah ia lilitkan pada garpu yang ia pakai.
Mie dan pasta memang makanan favorit Kean padahal masih banyak makanan lain yang lebih enak dan bergizi tinggi.
“Udah lama gue gag makan mie, sejak mie gue di umpetin sama pelayan di rumah.” Kilah Kean yang memang benar apa adanya.
“Lah, kok bisa mie lo di umpetin?” Reza sungguh penasaran. Selalu ada cerita menarik antara sahabatnya dengan sang pelayan.
Mengendikkan bahunya dengan acuh dan kembali memasukkan pastanya ke mulut yang sudah tanggung ia gulung.
“Katanya biar penyakit lambung gue gag kambuh.” Jawab Kean saat pasta sudah masuk ke mulutnya.
Reza terkekeh sendiri mendengar jawaban sahabatnya. Perlahan, banyak hal yang berubah dari sahabatnya. Bicaranya jadi lebih panjang dan mulai bisa basa-basi serta becanda receh.
Walau sebenarnya Kean tidak bermaksud bercanda, hanya saja pembawaannya yang dingin, cuek nan angkuh di padu kalimatnya yang asal justru kadang membuat Reza ingin tertawa.
“Lo serius tuh pelayan umurnya 20?” Reza Kembali mengingat cerita sahabatnya siang tadi.
“Hem. Dia juga cewek yang bikin badan gue bau telor.”
“Hah? Sumpah lo?!” Reza lebih terkejut lagi hingga tanpa sadar ia menggebrak meja di hadapannya.
Mengangguk dan menelan pastanya dengan cepat. “Lo tau, anaknya beda banget sama waktu ngomelin gue tempo hari. Sekarang lebih kalem, pendiem, ngomongnya kayak guru Bahasa Indonesia atau sejenis customer service lah. Tertata banget jir. Kadang gue sampe bingung bacanya gara-gara kepanjangan.” Ungkap Kean. Satu suapan lagi pasta masuk ke mulutnya dan ludes sudah.
Di tambah minuman ekstrak kiwi yang semakin mengenyangkan perutnya. Memang benar, setelah berolahraga selera makan menjadi lebih besar.
“Terus lo canggung dong, ngobrol sama dia?”
“No! gue nyantai aja. Dia juga bilang kalo dia udah lupain kejadian tempo hari. Dan lo tau, dia doyan banget naik sepeda. Bayangin aja, dari rumah bokap ke rumah gue bolak balik naik sepeda. Gag gede gimana coba betisnya.” Kean Kembali mengingat langkah kaki Disa yang tegas saat berjalan. Jauh dari kaya anggun.
“Hahahaha.. lo sampe merhatiin betisnya segala. Udah mengarah sensual tuh.” Goda Reza yang tidak bisa menahan tawanya.
“Lah bukan merhatiin, emang keliatan.” Masih saja berkilah.
Makan malam kali ini terasa seru dengan cerita Kean yang tidak ada habisnya.
“Apa gue bilang, udah tabrakan kayak gitu biasanya malah makin sering ketemu, saling suka dan,…. Terakhir, lo harus perhatiin kerapihan serta kekuatan ranjang lo.” Reza mengangkat-angkat alisnya pada Kean.
“Kebanyakan nonton drama lo, jadi pikiran lo ngelantur. Mesti buruan nyari cewek, biar hasrat nakal lo tersalurkan. Jangan sampe orang nyangka kalo kita couple lagi.”
Reza terkekeh geli mendengar kalimat sahabatnya.
Saat SMA, mereka berdua memang di sangka gay. Sering jalan berdua, sama-sama ganteng, sama-sama rapi dan bersih, sudah pasti banyak wanita menyangka kalau mereka penyuka sejenis karena tidak pernah terlihat menggandeng seorang wanita terutama Kean.
“Ya udah, tar gue nyari cewek. Lo juga nyari cewek lah, tar di kira gue yang ninggalin lo.”
“Basi lo!”
“Basi kalo lo suka sama cewek yang sama, sama gue.”
“Sejak kapan selera kita sama?” Kean mengernyitkan dahinya.
“Hahahaha.. iya ya. Gag pernah juga kita punya selera yang sama soal cewek. Beda referensi sama beda taste. Gue langsung action, kalo lo nunggu di buru. Aneh gue, gimana bisa ada cowok pasif kayak lo.”
“Gue gag minat.” Selalu hanya itu jawaban Kean.
Selama Reza kenal Kean, Kean memang tidak pernah memperkenalkan seorang perempuan sebagai pacar. Mereka hanya pernah dekat tapi kemudian tidak berujung menjadi sesuatu yang manis. Ia hanya tahu selera Kean terhadap wanita dari wanita-wanita yang mengaku dekat dengannya. Itupun hanya bertahan beberapa bulan.
Sekali waktu Reza tampak memincingkan matanya, melihat seseorang di belakang Kean yang tengah berjalan masuk ke dalam café.
“Kenapa lo?”
Kean ikut menoleh dan terlihat seorang wanita berpakaian rapi dengan rambut terurai tengah berjalan mendekat.
“Akh, betina lagi.” Dengus Kean yang membuang pandangannya acuh.
Selalu kebersamaan mereka terjeda dengan adanya wanita yang menarik pandangan Reza.
“Temen gue bro di kampus, sama-sama dosen.” Terang Reza yang mulai berdiri hendak menyapa.
“Bu ellen ya?” tanya Reza kemudian, saat wanita itu sudah berada di hadapannya.
“Iya?” Wanita cantik itu seperti sedang berusaha mengingat.
“Reza, dosen fakultas seni.” Reza kembali mengingatkan.
“Oh ya.” Mengangguk samar, sepertinya ia mulai ingat.
“Mau gabung dengan saya di sini? Hitung-hitung sebagai pengganti makan malam kemaren, yang ibu tidak bisa datang.” tawar Reza dengan ramah.
“Oh enggak, saya take away aja. Ada yang menunggu di rumah, I’ve been married.” Menunjukkan tangan kanannya di mana sebuah cincin melingkar di jari manisnya.
“Oh bukan seperti itu maksud saya. Saya mengundang anda sebagai teman.” Reza terlihat salah tingkah, karena ternyata Ellen orang yang terlalu serius.
Perbincangan mereka membuat Reza terkesan sedang mendekati wanita cantik di hadapannya.
“Saya tidak secepat itu berteman dengan seseorang. Permisi.” Tandas Ellen kemudian. Ternyata selain apa adanya, Ellen juga wanita yang tegas.
“Oh, ya silakan.” Reza hanya bisa mengalah, membiarkan Ellen lewat dan pergi untuk memesan makanan.
Reza masih memandangi Ellen yang berlalu menuju meja kasir untuk memesan menu makanan. Ekspresi wajahnya ringan, namun ternyata cukup sulit di tebak. Alhasil, Reza kembali duduk dengan perasaan yang tidak menentu.
“Ppppffftttt….” Kean tidak bisa menahan tawanya saat melihat wajah Reza yang berubah muram.
“Sialan lo ngetawain gue.” Dengus Reza sekali lalu meneguk minuman di hadapannya hingga tandas. Ia bahkan lupa dengan sedotan yang tadi di pakainya.
“Wow, seorang Mahreza adji di tolak bro. ‘ I’ve been married ‘, hahaha…” Kean memperagakan apa yang Ellen lakukan pada Reza tadi.
“Berisik lo!” melemparkan sedotannya pada Kean namun tidak membuat Reza memalingkan pandangannya dari wanita yang kini tengah mengikat rambutnya tinggi-tinggi.
“Mungkin barisan melodi dan kata manis lo cuma berlaku buat para adek-adek gemes, bukan wanita matang kayak dia.” Kean ikut menoleh sejenak lalu kembali menatap Reza.
Niatnya sih menghibur tapi sepertinya tidak berhasil.
“Tidak semua wanita menyukai keakraban dengan lawan jenis. Mungkin mereka tipe yang mudah terbawa perasaan jadi harus memasang tebing yang tinggi buat menahan perasaannya.” Kean berujar dengan wajah seriusnya membuat Reza memalingkan wajahnya dan beralih memperhatikan sahabatnya yang tengah memainkan minuman di hadapannya.
“Kayak ngerti cewek aja lo!” mengangkat tangannya pada seorang waitress yang kemudian mendekat.
Kean hanya terdiam mendengar penuturan Reza. Sejujurnya ia memang tidak tahu apa-apa tentang wanita, hanya mengulang sebuah frase dari sebuah buku.
“Ada yang bisa di bantu kak?”
“Kami sudah selesai, minta bill-nya.”
“Baik, tunggu sebentar.” Pelayan wanita itu berlalu setelah menunjukkan senyumnya.
“Kenapa lo?”
Reza ikut memperhatikan pelayan yang tadi menghampiri mereka.
“Kenapa sih mereka harus pake apron berrenda kayak gitu? Kan norak.” Protes Kean tidak jelas.
“Apaan sih? Random banget. Lo inget sama pelayan gemes lo ya?” Reza menatap Kean dengan segaris senyum. Yang di tatap hanya melengos sekali lalu meneguk minumannya untuk ia habiskan.
“Gue nunggu di depan.” Ujarnya seraya beranjak dan berlalu pergi.
“Hem, lamunin sana pelayan gemes lo. Awas lo nanti suka lagi.” Ledek Reza.
Kean tidak menimpali, ia memilih pergi menuju mobilnya dan menunggu Reza menyelesaikan urusannya.
*****
Mobil mulai dilajukan dengan perlahan, saat hampir tiba di rumahnya. Wahyu tampak mengangguk lalu membukakan pintu gerbang untuk Kean.
“Selamat malam tuan.” Sapanya saat Kean menurunkan sedikit kaca pintu mobilnya.
“Malam.” Tumben ia menjawab sapaan petugas keamanan. Biasanya ia acuh saja seolah tidak mendengar.
Mengarahkan mobilnya lurus ke garasi, lalu menginjak rem saat posisi mobilnya sudah tepat pada posisinya. Pintu garasi ia tutup dengan menekan tombol di dekat saklar listrik yang otomatis menyala saat ada pergerakan di dalam garasi.
Turun dari mobilnya, sekilas ia kembali melihat cat mobilnya yang masih mengelupas. Ia memang belum memperbaikinya, menunggu sahabatnya pulang dari luar negri.
Keluar dari garasi, Ia melewati pintu samping yang langsung membawanya ke ruang tengah. Lampu-lampu menyala terang, seperti yang ia sukai selama ini.
Badannya terasa begitu lelah, Kean menjatuhkan tubuhnya di sofa, terbaring dan mengambil satu bantal untuk ia peluk. Lantas ia menyalakan televisi yang tengah menayangkan perburuan macan tutul Africa.
Tanpa sengaja, ia mencium wangi dari bantal yang ia peluk. Ia baru sadar kalau bantal ini memiliki aroma wangi, berbeda dengan beberapa waktu lalu. Hanya ada debu yang beterbangan saat bantal ini ia tepuk. Mungkin Disa sudah mengganti sarung bantalnya.
Matanya menerawang melihat ke langit-langit ruangan. Lampu yang menggantung dengan cahaya putihnya lalu kaca jendela bagian atas yang memperlihatkan sedikit gambaran langit malam.
Tunggu, kaca bagian atas ini tidak sebersih kaca bagian bawah. Mungkin Disa dengan tubuh mungilnya tidak bisa menjangkau tinggi jendela bagian atas.
“Ting!” sebuah notifikasi pesan masuk ke ponselnya, membuyarkan lamunan Kean.
“She does not want to eat, maybe, she missed you sir. (Beliau tidak mau makan, sepertinya beliau merindukan anda tuan.)”
Begitu bunyi pesan yang di terima Kean. Sudah beberapa lama ia memang tidak menghubungi wanita yang tinggal di amerika dan terpaksa ia tinggalkan. Kalau saja bukan karena ancaman Sigit, mungkin Kean tidak akan pulang dan meninggalkan wanita itu.
Dan kalau saja Sigit tidak melarangnya, mungkin Kean akan membawa serta wanita ini untuk pulang.
Keadaan inilah yang membuat Kean semakin marah pada sang ayah.
Tayangan Ensiklopedia tidak semenarik biasanya. Power televisi dimatikan dan Kean beranjak menuju kulkas yang menyimpan air dingin kesukaannya. Ia meneguknya beberapa kali, untuk menghilangkan dahaga yang ia rasakan.
Sekilas melirik meja makan di sampingnya. Di bawah tudung saji, tidak ada makanan apapun. Sepertinya Disa memang tidak kemari, sesuai perintahnya. Bagus, ia cukup menurut.
Menapaki satu per satu anak tangga menuju kamarnya, lalu membuka pintu dan menaruh tas olahraganya di salah satu sudut. Ia harus mandi untuk mengembalikan moodnya.
Menanggalkan satu per satu pakaiannya, lalu masuk ke kamar mandi tanpa sehelai benang pun dan mulai mengguyur tubuhnya dengan air yang keluar dari shower di atas kepalanya.
“Aw shit!” dengusnya saat merasakan air mandinya sangat dingin. Ia lupa menyalakan pemanas.
Hanya beberapa saat ia menghabiskan waktunya untuk mandi, lalu meraih handuk dan mengeringkan tubuhnya sebelum berpakaian tidur. Kaos oblong dan celana boxer, sudah cukup bagi Kean.
Merasa tubuhnya sudah segar, Kean melemparkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Namun tetiba cuping hidungnya menguncup saat merasakan bau sarung bantal yang sudah tidak segar. Ia pun mengendus bau sprei dan gulingnya,
“Huwek! Bau gini sih!” dengusnya sekali lalu melempar guling yang biasa ia peluk.
Baunya sangat kontras dengan aroma wangi di kaos oblong yang baru di cuci dan di setrika Disa. Mungkin ini yang membuatnya sadar kalau guling, bantal dan spreinya sudah tidak wangi.
Ia beralih menuju Walk in closet, mencari satu set sprei baru dan beruntung Disa menempatkannya di tempat yang mudah di cari. Sepertinya gadis ini bisa membaca psikologis atau insting pencari tipe orang seperti Kean. Mudah kesal, tidak suka ribet dan tidak sabaran.
Wanginya enak, walau tidak sama dengan wangi baju yang ia pakai.
Beralih ke kamarnya dan mulai mengganti sprei. Menariknya di tiap sudut hingga terrenggang rapi. Tidak lupa ia mengganti sarung bantal dan gulingnya.
Sprei kotor ia bawa ke keranjang khusus yang di tempatkan Disa bersamaan dengan kaos olahraga dari dalam tasnya.
“Hah, nyaman…” ungkapnya saat ia telentang di atas tempat tidurnya.
Menarik nafasnya dalam-dalam dan aroma wangi mulai masuk ke hidungnya, membuat pikirannyaa lebih rileks. Perlahan matanyaa mulai mengeliling melihat sekitar kamarnya yang masih cukup berantakan. Entah mengapa ia mulai merasa risih dengan segala ketidak teraturan di dalam kamarnya.
Sangat jauh berbeda saat ia melihat segala sesuatu yang rapi, otaknya bisa memikirkan banyak hal, tapi saat melihat segala sesuatu yang semerawut, kepalanya ikut berdenyut pusing. Mungkin ia perlu bantuan.
Pilihan di ambil Kean, ia mengggulung selimutnya, membawa bantal dan guling serta ponselnya, lalu turun ke lantai satu.
Sofa ruang tengah menjadi pilihannya. Ia menaruh semuanya di sana, lalu beranjak menuju dapur mencari sesuatu yang bisa di makan.
Sedikit menyesal karena ia melarang Disa datang, buktinya setelah mandi dan membereskan tempat tidurnya ia merasa lapar.
Mengecek tempat penyimpanan mie instan, namun kosong. Mengecek ruang di sampingnya dan beruntung ada biskuit gandum dan beberapa cemilan lainnya yang sepertinya di siapkan Disa. Ada yang asin dan ada yang manis.
Kean tersenyum lebar, sepertinya Kinar mengirimkan orang yang tepat untuk melayaninya. Ralat, mengurusinya. Kean lebih suka dengan kata itu di banding kata sebelumnya.
Kembali ke sofanya dengan membawa beberapa makanan untuk mengganjal perutnya. Sambil melihat pertandingan tenis, ia menikmati cemilannya. Dan dalam beberapa saat, rasa kantuk pun datang hingga akhirnya ia terlelap. Fix, tempat ini lebih nyaman dari kamarnya yang berantakan.
*****