Marry The Heir

Marry The Heir
Kak reza



“Assalamu ‘alaikum…” sebuah suara besar dan berat mengalihkan perhatian Disa dan Nita yang berada di dalam dapur.


Mereka tengah menyiapkan makan siang saat terdengar suara Reza yang baru datang dan langsung menghampiri mereka.


“Wa’alaikum salam…” sahut keduanya bersamaan.


“Wah pas banget nyampenya, mamah sama paradisa baru selesai masak.” Ungkap Nita yang menghampiri putranya.


Reza salim pada ibunya lalu mengecup kening Nita dengan lembut.


“Wah, masak apa nih? Kayaknya enak banget.” Reza mendekat dan menghampiri Disa yang masih berdiri kokoh di tempatnya.


“Hay, apa kabar?” ia mengulurkan tangannya pada Disa.


Disa tersenyum simpul, dengan perasaan tidak menentu ia menyambut uluran tangan Reza. “Alhamdulillah baik.” Ujarnya perlahan.


Reza membalas senyuman itu membuat jantung Disa berdebar sangat kencang. Sikapnya pun mulai kikuk, ia segera melepaskan genggaman tangan Reza dan entah apa yang harus ia sentuh selanjutnya.


“Saya boleh mencobanya?” mengambil garpu dan menunjuk tumisan yang ada di hadapannya.


“Silakan pak.” Sahut Disa, seraya terangguk.


Reza menusuk brokoli dengan garpunya dan hap, makanan itu masuk ke mulutnya. Mengunyahnya perlahan, mengecap perpaduan rasa yang tengah ia nikmati di mulutnya. Disa menunggu dengan tidak sabar, komentar laki-laki di hadapannya.


“Em, enak.” Ungkap Reza yang membuat mata Disa berbinar dengan cepat.


“Itu paradisa loh yang masak. Mamah juga suka banget sama masakannya. Cobain deh ikan gorengnya.” Puji Nita seraya mendekatkan sepiring ikan goreng pada Reza.


Reza menoleh Disa yang berdiri di sampingnya. Terlihat gadis itu segera mengalihkan pandangannya dengan helaan nafas dalam untuk mengurangi rasa gugupnya.


“Kita langsung makan siang aja gimana? Reza udah laper banget.” Aku Reza yang merasakan air liurnya hampir menetes melihat banyaknya menu makanan tersaji.


“Wah ayo, mamah sama paradisa memang nunggu kamu.” Menarik satu kursi untuk ia duduki.


Reza menarikan satu kursi di sampingnya, “Duduklah.” Ujarnya pada Disa.


“Terima kasih pak.” Mengangguk takzim lantas duduk.


Reza hanya tersenyum lantas ia pun duduk di samping Disa.


“Paradisa, masih aja manggil reza bapak. Memang dia setua itu? Ibu gag rela loh...” Nita yang protes mendengar panggilan Disa pada anaknya.


“Maaf bu, masih kebiasaan.” Disa tertunduk malu. Diam-diam ia melirik Reza yang tersenyum seraya menolehnya.


“Ya udah, mulai sekarang panggil reza abang, mas atau kakak gitu. Anggap dia kakakmu sendiri. Iya kan nak?” mengusap tangan Reza yang ada di atas meja lalu menggenggamnya.


“Iya, panggilan kakak sepertinya lebih baik. Aku merasa lebih muda.” Reza setuju.


Kembali Disa tersipu dengan wajahnya yang memerah.


“Nah deal nih. Ibu gak mau lagi denger kamu manggil reza bapak yaa..." Menatap Disa lalu tersenyum. Disa terangguk sepakat, sepertinya ia memang harus menurut. "Okey paradisa, tolong ambilkan nasi untuk anak kesayangan ibu.”


“Oh, iya bu.” Disa tersadar dengan cepat walau masih kikuk. Dengan cekatan ia mengambil piring dan mengisinya dengan nasi.


“Sudah cukup, jangan terlalu banyak.” Suara Reza yang menghentikan Disa.


"Oh iya." Disa kembali tersenyum saat menoleh Reza ternyata laki-laki tampan itu tengah memandanginya.


Jantung Disa terasa seperti melonjak, berdebar sangat kencang hingga rasanya wajahnya kembali memerah karena pompaan darah yang maksimal ke seluruh tubuhnya.


“Terima kasih.” Suara Reza menghentikan keterpakuan Disa yang masih memegangi piring di tangannya.


Ia mengambil piringnya dari Disa dan di sampingnya, Nita tampak tersenyum melihat dua orang muda di hadapannya.


Terangguk lantas segera mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Ia butuh ruang untuk mengatur nafasnya yang menderu.


Makan siang di mulai, mereka menikmati satu per satu makanan yang tersaji di atas meja.


“Oh iya, mamah udah nunjukkin ruangan rahasia kita sama disa?” Reza bertanya pada Nita.


“Udah dong. Paradisa suka banget, iya kan nak?” Nita yang selalu antusias.


Disa mengangguk lalu menelan makanannya dengan kasar. “Iya kak, sangat suka.” Akunya dengan malu-malu.


“Hem, baguslah. Kamu bisa sering main kemari. Ngelukis di sana, sambil nemenin mamah saya. Dia sering ngomel karena gak ada temen.” Reza sedikit mendekat dan berbisik di telinga Disa membuat Disa cukup kaget dan merinding. Lihat saja matanya yang membulat menatap Reza yang tampak santai saja.


“Enak aja. Mamah sering bete karena kamu masih belum ngenalin calon mantu buat mamah. Padahal mamah kan udah pengen punya cucu.” Nita mengerucutkan bibirnya dengan kesal pada Reza.


“Mah, jangan gitu dong. Kesannya kan aku gag laku.” Reza menimpali, membuat Disa ikut tersenyum.


“Ya makanya, cepetan cari calon istri biar mamah ada temen ngobrol, masak, momong cucu sama jalan-jalan.”


“Oh, jadi mamah pengen punya mantu buat itu doang?”


“Lah ya nggak dong. Lebih dari itu, supaya mamah tenang, kamu udah ada yang ngurus. Iya kan paradisa?”


“Iya?” Disa balik bertanya. Ia masih cukup terkejut mendengar Nita bertanya hal itu padanya.


Reza ikut memandanginya dengan segaris senyum, membuat perasaan Disa semakin tidak menentu.


Sepertinya Nita menyadari kekikukan Disa di tambah wajahnya yang memerah sedari tadi. Ia pun berusaha mengalihkan pembicaraan agar Disa tidak merasa tidak nyaman.


“Za, tante adela minta ketemu paradisa. Tapi dia gak bisa ke sini karena lagi ada tamu. Kamu bisa nganter dia ke butiknya tante adela kan?”


“Boleh, kenapa nggak. Mau kapan?” beralih Reza menoleh Disa.


Disa tergagap tanpa ada suara yang terdengar.


“Setelah makan, kalau kamu tidak keberatan.” Nita yang menjawab.


“Okey!” hanya itu sahutan Reza.


Disa segera memalingkan wajahnya dan tersenyum gemas sendiri. Ia berusaha mengatur nafasnya yang bertambah cepat karena gugup membayangkan ia akan pergi dengan Reza.


“Disa, pastikan jangan berbuat kebodohan.” Pesannya pada dirinya sendiri. Cukup berdebarnya, kita lanjutkan makan siangnya. Butuh tenaga ekstra untuk mengimbangi pompaan jantung yang berdebar kencang.


*****


Jalanan ibu kota memang selalu ramai di weekday seperti ini. Sepertinya tidak ada perbedaan jumlah kendaraan antara pagi, siang, sore dan malam hari. Selalu ramai dengan kendaraan yang berlalu lalang mengisi penuh jalanan dengan arah dan tujuan masing-masing.


“Sejak kapan kamu suka melukis?” tanya Reza memecah keheningan mereka selama perjalanan ini.


“Iya?” Disa menoleh Reza yang tengah menatapnya dengan jari tangan mengetuk di atas setir, menunggu lampu merah berubah hijau.


Dari beberapa kebiasaannya sepertinya Reza orang yang ekspresif dan tidak sabaran.


Hari ini Disa memang banyak gagal fokus karena terlalu banyak melamun dan berbicara dengan dirinya sendiri.


“Sejak kapan kamu suka melukis?” Reza tidak bosan mengulang pertanyaannya dengan segaris senyum yang membuat jantung Disa kembali berdebar kencang.


“Oh, itu.” Ia menyibak helaian rambut yang menutupi wajahnya. Berbicara dengan Reza selalu saja membuatnya kikuk. “Saya, suka melukis sejak kecil.” Akunya kemudian.


“Keluargamu sepertinya memiliki darah seni yang cukup kental.” Terka Reza tanpa mengalihkan pandangannya dari Disa.


“Iya, kebetulan ayah saya juga suka melukis. Beliau di besarkan di kampung pelukis.” Terang Disa.


“Wah, sangat menarik. Apa sampai sekarang beliau masih melukis?”


Reza tampak antusias tapi tidak dengan Disa.


Gadis manis itu menggeleng dengan raut wajah berubah sendu. “Tidak, beliau sudah meninggal saat saya berusia 5 tahun.” Suaranya terdengar getir.


“Tidak apa-apa kak. Saya sudah terbiasa menjawab pertanyaan yang sama dan tidak lagi merasakan sedih yang mendalam seperti dulu.” Disa masih tetap berusaha tersenyum di ujung kalimatnya.


“Kamu wanita yang kuat, orang tuamu pasti sangat bangga.” Kali ini cukup laman Reza menatap Disa. Membuat Disa memalingkan wajahnya dari tatapan Reza.


Ia tidak menyahuti, hanya sebuah senyuman tipis yang ia tunjukkan.


Lampu merah sudah berubah hijau dan Reza kembali melajukan mobilnya menuju butik milik Adela. Dua kali belokan dan mereka sampai di sebuah butik dengan nama “Adela boutique” sesuai nama pemiliknya.


“Mari, kita udah sampe.” Reza memarkirkan mobilnya dengan rapi di depan butik.


Disa segera membuka pintu mobilnya dan turun. Tampak seorang Wanita yang baru selesai menelepon menyambut keduanya.


“Paradisa ya?” sapanya seraya merangkul Disa.


“Iya bu.” Disa terangguk santun, membalas uluran tangan Adela.


“Wah akhirnya saya bisa ketemu langsung. Benar kata mba nita, paradisa itu cantik.” Mengusap lengan Disa dengan akrab.


“Terima kasih bu.” Disa tersipu malu.


“Ya ampun za, kamu tambah ganteng aja. Lama banget kita gag ketemu.” Beralih Reza yang ia rangkul.


“Iya tante. Tante juga tambah muda aja.” Balasnya setelah salim pada Adela.


“Hhahaha.. Bisa aja kamu. Ya udah yuk kita masuk.” Adela menarik tangan Disa yang berjalan di sampingnya. Sementara Reza mengekor di belakang.


Masuk ke dalam sebuah butik dengan ruangan yang didominasi warna silver dan gold untuk setiap ornament yang terpajang. Sepertinya Adela menyukai segala sesuatu yang elegan dan mewah.


“Mau minum apa nih?” tawarnya saat tiba di dalam butik.


“Reza mau ngambil sendiri ya tan, tante ngobrol aja sama disa.” Reza yang menawarkan diri.


“Okey ganteng. Sekalian minta tolong panggilin naomi yaa… Bilang yang dia tunggu udah dateng.”


“Siap tan,..” Reza melakukan hormat singkat sebelum berlalu.


Mereka duduk di salah satu sudut sofa. Pandangan mata Disa masih berkeliling melihat ke sekeliling butik yang tampak apik dan cantik.


“Makasih ya disa udah bersedia dateng. Tante seneng banget.” Masih menggenggam tangan Disa dan memandanginya dengan penuh rasa syukur.


“Sama-sama tan. Hanya saja disa belum yakin, apa mungkin kak naomi suka dengan desain disa.” Ia sedikit sangsi.


Saat di galeri tadi, Nita memang sudah mengatakan kalau keponakannya Naomi akan menghadiri sebuah acara penting dan ia membutuhkan bantuan Disa untuk mendesainkan baju. Disa tidak begitu yakin kalau ia bisa membuatkan desain baju yang bagus untuk Naomi, mengingat ia bahkan belum pernah bertemu dengan gadis tersebut.


“Tante yakin naomi pasti suka dan kamu pasti bisa membuatkan desain yang bagus. Asal kamu tau, desain kamu yang sebelumnya pun naomi suka loh…” Adela berusaha menenangkan.


Disa hanya tersenyum samar, ia bahkan belum terpikirkan akan membuat desain baju seperti apa.


“Okey, ini minumnya…” Reza datang dengan dua gelas minuman yang salah satunya ia sodorkan pada Disa.


“Em makasih kak.”


“Sama-sama. Minumlah, udara di luar sangat panas.” Reza mengambil tempat duduk di sebrang Disa.


Disa meneguk sedikit demi sedikit minumannya, untuk membasahi tenggorokannya.


“Hay, disa ya…” seorang gadis cantik datang dan mengulurkan tangannya.


Dengan segera Disa menaruh gelasnya dan berdiri menyambut uluran tangan gadis tersebut.


“Oh hay, iya saya disa.”


“Naomi.” Mereka saling berjabat tangan. “Senang bisa ketemu kamu. Sepertinya kamu masih sangat muda. Berapa usia mu?”


Naomi memincingkan matanya seperti tengah menyelidik Disa.


“Em, saya 20 tahun.”


Jabatan tangan keduanya terlepas dan dengan isyarat tangannya Naomi mempersilakan Disa duduk.


Nama yang di sandang Naomi memang sangat sesuai. Wanita berwajah khas jepang ini terlihat sangat tinggi di banding Disa dan sedikit tomboy.


“Disa, aku akan menghadiri sebuah undangan dari seorang model terkenal. Aku harap kamu mau bantu aku ya…” Naomi langsung menyampaikan maksudnya dengan wajah yang sedikit memelas.


“Em saya masih belajar desain, mungkin desain yang saya buatkan tidak sesuai dengan selera kak naomi.”


“Cukup panggil naomi, kita cuma selisih 4 tahun. Kak-nya kamu kasih buat kakak reza.” Ujarnya berusaha mencairkan suasana.


Disa tersipu, ia melirik Reza yang ada di sebrangnya dan tampak laki-laki itu tengah tersenyum seraya menatap Disa dan Naomi bergantian.


“Dia lebih suka memanggilku bapak.” Timpal Reza tanpa mengalihkan pandangannya dari Disa.


“Wah kok bapak sih? Ganteng dan muda gini masa di panggil bapak. Tante malah liatnya kalian serasi, tante kira pacaran.” Adela menyenggol Disa perlahan membuat Disa cukup kaget.


“Hah, enggak kok tan.” Dengan cepat Disa menimpali.


“Hahha.. Iya jangan mau disa. Kak reza mantannya banyak, dia sang casanova yang jago nyembunyiin pacarnya selama di amerika. Iya kan?” Naomi ikut menimpali.


“Enak aja! Mantan aku gag banyak ya, itu cuma sebuah proses pencarian seorang laki-laki. Kalo udah nemu yang pas juga nanti berhenti.” Aku Reza dengan terus terang.


“Bisa aja nih ngelesnya.” Sengit Naomi yang di balas kekehan oleh Reza.


“Udah dong sayang, jangan bikir harga pasaran kakak kamu turun.” Adela yang menengahi dan mereka hanya tertawa.


“Okey, back to topic, aku bener-bener butuh bantuan kamu sa. Aku suka desain kamu yang sebelumnya. So, please help me okey?” Naomi Kembali pada bujukannya. Dengan puppy eyes dan senyum imutnya.


“Em akan saya coba, tapi sebelumnya baju seperti apa yang naomi mau?”


“Yes!” seru Naomi. Ia segera berpindah duduk ke samping Disa dan menggeser mamahnya. “Sorry mom.” Ujarnya.


“Dasar kamu ini.” Tetap saja Adela bergeser.


“Jujur aku tomboy dan tidak terlalu cocok memakai gaun. Tapi tema kali ini adalah bergaun. Menyebalkan bukan?” keluhnya di awal permintaan. Disa hanya tersenyum melihat wajah ekspresif Naomi. Dari cara duduknya saja memang gadis ini terlihat sangat tomboy.


“Kira-kira, baju seperti apa yang cocok untukku?” menatap Disa dengan laman, ia menunggu jawaban.


“Em, boleh saya ukur dulu badannya?”


“Tentu!” dengan semangat Naomi berdiri.


Disa ikut berdiri dan mengambil meteran yang sudah disiapkan. Ia mulai mengukur bagian tubuh Naomi yang memang ideal. Menurut informasi dari Nita, Naomi sedang sekolah modeling di luar negeri dan saat ini ia akan menghadiri undangan salah satu model terkenal. Tentu saja tampilannya harus paripurna.


“Mungkin saya akan membuat maxi dress. Apa naomi setuju?” tanya Disa setelah mendapatkan ukuran tubuh Naomi secara keseluruhan.


“Why not, ayo kita coba.”


“Baik.”


Disa mengeluarkan buku skecth. Ia mulai menggoreskan pensil di atas kertas polosnya. Dahinya tampak berkerut dan sesekali memperhatikan Naomi membuat gadis itu refleks berpose dan membuat Disa tersenyum.


Tidak hanya Disa yang serius, Adela dan Reza pun ikut menyimak. Sepertinya Adela sudah tidak sabar seperti apa gaun yang tengah di gambar Disa.


*******