
“HAHAHAHAHA……” suara tawa terdengar dari ruang kerja Marcel. Tawa yang keras namun tidak menyiratan bahwa sang empunya sedang berbahagia.
Di hadapannya ada sebuah artikel berita online yang sedang ia baca. Tidak hanya itu, ia pun melihat beberapa cuplikan video pendek yang merekam kejadian epic di acara penggalangan dana beberapa saat lalu. Gosip memang begitu cepat menyebar, lebih cepat dari jamur yang tumbuh di musim hujan.
Sayangnya, hanya beberapa saat tawa itu mengudara hingga tiba-tiba, “BRAK!!”
Marcel melempar ipad di tangannya hingga porak poranda di lantai. Ia berdiri tegap dengan mata menyalak menunjukkan kemarahannya. Tangannya masih mengepal kuat dengan wajah dingin yang menyeringai sarkas.
“DAMN!!” dengusnya dengan kasar. Ia memukul meja di hadapannya untuk menyalurkan kemarahannya. Rencana yang sudah ia susun dengan apik nyatanya hancur berantakan. Ia belum bisa terima dan mungkin tidak akan bisa terima.
“Maafkan saya tuan.” Suara Farid terdengar lesu melihat kemarahan tuannya. Ia tidak pernah menyangka kalau langkah awal yang berjalan mulus akan berakhir berbalik ironis untuk mereka.
Beberapa saat lalu seorang wartawan menelponnya dan mengabarkan kalau gossip yang ia sebar telah tenggelam oleh sebuah kisah haru antara kakak beradik yang tengah berangkulan. Gosip mereka trending 1 di berbagai berita online dan rupanya orang-orang lebih suka membagikan berita yang terkesan dramatis itu di bandingkan membaca gossip yang mereka buat. Di tambah visual mereka yang sangat menarik, membuat banyak netizen yang jatuh hati pada dua paras rupawan yang sedang di perbincangkan, Kean dan Shafira.
“Bodoh! Bagaimana bisa kejadian ini malah membuat hubungan mereka membaik. Bagaimana bisa hah?!” teriak Marcel tepat di hadapan Farid. Farid hanya terdiam tanpa berani mengangkat wajahnya. Ia tahu, usaha mereka telah menemui kegagalan. Usahanya untuk menjatuhkan reputasi Sigit, tidak pernah bisa terwujud.
Susah payah Marcel membawa Arini pulang demi memuluskan rencananya. Dengan berani juga ia mengorbankan nama keluarga Hardjoyo dengan membuka masalah rumah tangga sang kakak. Namun nyatanya, boomerang yang ia lempar malah balas menyerangnya. Semuanya hancur berantakan dan ia hanya bisa merutuki kegagalannya.
Dan yang sekarang terjadi, Sigit sedang menunggu kedatangannya untuk menjelaskan apa yang telah ia lakukan.
“BRENG SEK! BRENG SEKK!!” Kembali teriakan Marcel menggema di ruangannya dan hanya itu yang bisa ia lakukan.
Di kepalanya mulai kembali mengingat foto yang tersebar di media online. Foto Shafira yang memeluk Kean, sementara di samping keponakannya ada seorang gadis yang sangat di kenalnya.
Dengan emosinya yang meledak-ledak, ia kembali memikirkan sebuah rencana. Ia berusaha menarik benang merah dari kegagalan yang dihadapinya.
“HAHAHAHAHAHA… HAHAHAHHA…” di waktu yang berdekatan Marcel kembali tertawa. Entah apa yang ada di pikirannya saat ini. Yang jelas, ia memiliki rencana baru untuk membuat semuanya semakin berantakan.
Terlanjur, pikirnya. Satu kalimat perintah sudah ia siapkan untuk Farid.
****
Shafira baru keluar dari lingkungan sekolahnya bersama anak-anak padus yang berjumlah 14 orang beserta guru mereka, Andini.
Sesuai janji, Andini akan mengajak mereka pergi ke sebuah tempat untuk merayakan keberhasilan penampilan mereka. Semua tampak bersemangat membayangkan waktu yang akan mereka nikmati bersama.
“Bu, nanti boleh pesen menu apa pun kan? Unlimited gitu..” tanya Diana yang berjalan di samping Shafira seraya melingkarkan tangannya di lengan Shafira. Mungkin gadis ini salah satu yang paling semangat mendapat undangan traktiran dari guru mereka.
“Boleh, tapi harus habis ya. Kalo nggak, nanti kamu kena charge.” timpal Andini dengan senyum tipisnya.
“Ih ibu kayak makan all you can eat aja, kalo gak habis harus bayar." gerutu Diana yang di balas senyuman oleh Andini. "Tapi tenang bu, pasti habis kok. Soalnya kalo kata abi, sisa makanan yang gak habis itu justru yang paling banyak mengandung kebaikan.”beginilah kalau anak abi sudah ikut berbicara.
"Bagus kalo gitu, ibu seneng dengernya."
Beberapa saat kemudian, langkahnya harus terhenti saat tiba-tiba Shafira mematung dengan pandangan yang tertuju pada para tamu undangan yang baru keluar dari aula. Ia celingukan seperti sedang mencari seseorang.
“Nyari siapa fir? Tuh si malvin mah ada di depan.” Goda Diana yang menyenggol lengan Shafira dengan sengaja. Menurutnya siapa lagi yang di cari Shafira kalau bukan Malvin, sang pianis tercinta.
“Em enggak, tadi gue ngeliat..” Shafira menggantung kalimatnya dan memilih berjalan menuju kerumunan orang-orang.
“FIR! Lo mau kemana?” sambil berteriak Diana menyusul Shafira yang berlari tidak tentu arah.
“Fira kenapa bu?” seorang gadis bertanya pada Andini dan Andini hanya menggeleng. Wajahnya terlihat cemas karena melihat Shafira yang tiba-tiba berlari.
“Kalian duluan aja. Ini alamat tempatnya, nanti ibu nyusul.” Andini memberikan selembar kertas pada gadis tersebut lantas menyusul Shafira.
Gadis cantik itu tampak mematung, memperhatikan sekitaran parkiran yang masih ramai. Wajahnya terlihat bingung, masih seperti sedang mencari seseorang.
“Kamu nyari siapa fir?” Andini bertanya dengan terengah.
“Em enggak bu, tadi rasanya saya melihat seseorang.” Shafira masih celingukan tapi bayangan seseorang yang di lihatnya tadi sudah tidak terlihat lagi.
“Mungkin lo salah liat. Udah jangan di pikirin.” Diana berusaha menyadarkan sahabatnya.
“Ya udah yuk!” Diana menarik tangan Shafira yang sesekali masih berusaha mencari. Nihil, sepertinya ia memang salah lihat.
Adalah Liana yang saat ini bersembunyi di belakang sebuah Mobil SUV. Setelah berbaur bersama orang-orang akhirnya ia bisa bersembunyi dari pengejaran Shafira. Ia memakai shawl untuk menutupi kepalanya juga kacamata hitam untuk menyamarkan penampilannya. Meski begitu, sepertinya Shafira masih mengenalinya.
Ya, Liana memang hadir untuk melihat penampilan Shafira.
“Mom,..” panggilan Shafira masih terngiang jelas di telinganya sejak semalam. Gadis muda itu terus mengetuk pintu kamarnya namun tidak ia bukakan. Ia masih tenggelam dalam pikirannya dan belum menemukan cara yang tepat untuk menjelaskan masalah di keluarga ini pada Shafira.
“Mom, besok fira tampil. Fira nyanyiin sebuah lagu juga bacain puisi yang fira bikin sendiri. Bisa gak mamih luangin waktu sebentar buat liat penampilan fira? Paling cuma sekitar 10 menit aja.” Permintaan itu yang di dengar Liana kemudian. Sebuah permintaan yang sederhana namun sulit untuk di kabulkan.
Mendengar permintaan shafira, rasa sesalnya semakin besar. Sudah 17 tahun ia menjadi ibu dari Shafira namun tidak pernah sekalipun ia memiliki keberanian untuk menunjukkan dirinya sebagai istri dari Sigit Hardjoyo ataupun ibu dari putri kecilnya.
Mengapa begitu sulit untuk mendapat kesempatan mengaku sebagai istri dari pengusaha besar Sigit Hardjoyo dan ibu dari seorang gadis bersuara indah tersebut? Mengapa tuhan seolah menempatkannya di dimensi lain yang hanya ada dirinya dengan satu keinginan kecil yang bahkan tidak pernah bisa ia wujudkan.
Semua bermula dari sebuah kesalahan. Kesalahan karena ia telah jatuh cinta pada seorang laki-laki beristri dan memiliki putra.
21 tahun lalu, Liana adalah sekretaris dari seorang pengusaha sukses Sigit Hardjoyo. Pengusaha muda dengan kharisma yang kuat dan di segani banyak orang. Karirnya yang sukses, dikenal sebagai pengusaha sekaligus suami dari seorang wanita multi talenta yang memiliki perusahaan di bidang property.
Sejak bekerja di perusahaan keluarga Hardjoyo, Hari-hari di habiskan Liana dengan penuh rasa bahagia. Melihat Sigit dari jarak yang sangat dekat, mengetahui apa yang ia sukai dan tidak sukai dan selalu ada saat laki-laki itu membutuhkan bantuannya. Ia begitu mengenali Sigit hingga dari cara laki-laki itu menghembuskan nafasnya pun ia bisa langsung memahami apa keinginan Sigit.
Ia begitu mencintai pekerjaannya terutama semua yang berhubungan dengan Sigit. Dengan mengurus semua kebutuhan Sigit di kantor membuat kedekatan mereka semakin instens.
Ia jatuh cinta. Ya jatuh cinta pada seseorang yang tidak seharusnya.
Waktu bergulir dengan cepat. Semakin lama ia semakin mengenal sosok Sigit dan semakin lama perasaannya semakin tumbuh. Hingga suatu hari tanpa sengaja, ia mendengar sebuah keributan yang membuatnya bisa tersenyum bahagia.
“Kita tau arini, kita tidak pernah saling mencintai. Pernikahan kita hanya sebuah transaksi kewajiban. Kamu memiliki kewajiban untuk memenuhi permintaan ayahmu dan aku memiliki kewajiban untuk menjaga amanat yang diberikan oleh ayahmu, karena jasanya. Hanya itu saja bukan?”
Kalimat itu di dengar Liana saat Sigit dan Arini sedang bertengkar hebat. Satu kenyataan yang entah harus Liana syukuri atau ikut merasakan kesedihan Arini. Arini yang mandiri, cerdas dan kaya, ternyata bukanlah wanita yang Sigit cintai. Dan sejak itu, dorongan dalam diri Liana semakin menjadi. Keinginan untuk memiliki laki-laki yang ia cintai semakin kuat. Hingga 3 tahun setelah itu, mereka membuat sebuah kesalahan yang indah bagi Liana.
Jika mengenang masa-masa itu, Sigit yang rapuh dan kesepian bertemu dengan Liana yang selalu ada dan memberinya rasa nyaman sebagai seorang wanita. Ia bisa memberikan apapun yang di butuhkan Sigit termasuk tubuhnya. Sayangnya, Sigit hanya hadir untuk singgah bukan untuk sungguh. Mungkin ia hanya menjadi pelampiasan bagi seorang laki-laki yang kesepian.
Sigit seperti tersadar, kalau Liana tidak bisa menggantikan Arini dan tidak layak untuk ia perkenalkan sebagai seorang istri.
Transaksi kewajiban itu berlanjut. Sigit memang menikahinya tapi sayangnya tidak pernah membiarkan ia sebagai istri yang di kenal orang-orang. Hanya Arini yang ia perkenalkan sebagai istrinya. Meski ada pernikahan yang terjadi, sayangnya itu pun hanya berupa kewajiban atas kesalahannya karena telah merusak seorang wanita. Tidak pernah ada cinta, semuanya hanya nafsu sesaat.
Yang di cintai Sigit hanya satu, mempertahankan citranya di puncak karir tanpa memikirkan hal lain termasuk keluarganya.
Dan hari itu Arini kembali. Keadaan yang di takutkan Liana benar-benar terjadi. Perasaannya berkecambuk antara malu, sedih, marah dan kecewa. Ia sadar, perlahan posisinya pasti akan tergeser. Namun hatinya sudah yakin, kalau Sigit memang tidak pernah bisa memberikan hatinya, maka ia akan mengikat laki-laki itu dengan kewajibannya untuk selamanya.
"Aku mencintai mas sigit." hanya itu alasan yang ia punya.
“Kamu sangat menjaga nama baik kamu mas. Dan aku akan selalu mendukung. Tapi kalau kamu mengusikku, aku tidak akan hancur sendirian.” dengan berani ia membuat sebuah ancaman pada Sigit agar tidak pernah meninggalkannya.
Sepertinya trik yang ia lakukan berhasil. Walau jelas Sigit memperlihatkan kemarahannya tapi laki-laki itu tidak bisa menolak kehadiran Liana. Matanya yang menyalak tapi tidak mengatakan sepatah katapun tapi mungkin dalam hatinya ia tengah mengutuk wanita yang ia nikahi selama 17 tahun ini.
Dalam hati Liana ia sudah bersumpah, kalau ia tidak akan mundur. Ia akan berjuang sampai Sigit mengakuinya. Hingga tanpa sadar, keegoisannya telah membuat putrinya terluka. Ia bahkan tidak bisa menjelaskan apa yang terjadi. Ia terlalu takut, jika mungkin putrinya akan semakin kecewa saat tahu bahwa ia memang terlahir karena sebuah kesalahan.
Hari ini hatinya terasa sakit saat ia melihat Shafira terisak di atas panggung. Ia merasakan kegetiran terlebih saat yang di peluk Shafira bukan dirinya. Ia hanya bisa bersembunyi tanpa bisa memberikan pelukan hangat untuk menenangkan putrinya.
Seperti saat ini, ia bahkan tidak berani uuntuk menunjukkan wajahnya di hadapan Shafira dan teman-temannya. Hanya bisa bersembunyi dan entah sampai kapan.
“Maafin mamih fira karena mamih tidak pernah bisa hadir dan menemanimu sebagai seorang ibu yang seharusnya melindungi mu dari ketidak adilan dunia ini.” Batin Liana seraya terisak.
Rasa sedihnya semakin menjadi saat ia melihat kembali video rekaman penampilan Shafira. Mengapa semuanya menjadi begitu sulit untuknya dan untuk putrinya?
*****