
Di kurung berhari-hari ternyata sangat membosankan bagi Shafira. Ia sangat ingin keluar rumah agar bisa melihat hal lain selain tembok kamarnya yang berwarna pink atau kondisi rumah yang sepi senyap.
Seperti hampir gila dalam kegabutannya sendiri, Shafira mengacak rambutnya kasar lalu meniup helaian rambut yang jatuh di wajahnya.
Selama berada di rumah, hanya saat makanlah ia merasa memiliki keluarganya, sisanya semua dilalui masing-masing. Sigit yang sibuk dengan pekerjaannya. Liana yang sibuk dengan perawatan dan jalan-jalan ke luar negri sementara Shafira yang sudah terlalu terbiasa di tinggalkan sendirian.
Akhirnya ia memutuskan untuk turun dan menemui Kinar.
Wanita paruh baya itu tengah berada di ruang tamu, menerima berkas yang dikirimkan oleh seorang kurir. Belakangan ini kalau Shafira perhatikan, Kinar sering berinteraksi dengan orang asing. Menerima amplop berwarna coklat lalu masuk ke kamarnya, seperti hari ini.
“Apa yang kamu sembunyikan?” suara Shafira membuat Kinar tersentak di tempatnya.
Sebelum berbalik, dengan cepat Kinar menyembunyikan amplop tersebut di balik badannya. Ternyata wanita yang terlihat sangat loyal pada keluarga ini pun memiliki rahasia yang masih ia sembunyikan.
“Selamat siang nona muda.” Hanya jawaban itu yang di terima Shafira.
Shafira memiringkan tubuhnya, berusaha mengintip apa yang Kinar sembunyikan di balik badannya.
“Apa ada yang anda perlukan nona?” kali ini Kinar bertanya tapi masih terlihat gugup walau sudah berusaha tenang.
“Sepertinya, tidak ada orang lain yang boleh tahu apa yang sedang kamu pegang. Apa termasuk dady dan mamih?” begitu pancing gadis cantik itu.
“Em, tidak nona. Ini hanya paket belanja online saja.”
Mulut Shafira membulat lalu berjinjit berusaha mengintip. “Oh ya, apa paket belanja online sekarang di kirim dalam amplop coklat? Apa isinya, masker, oil atau.....” selidik Shafira yang semakin mendekat.
Kinar tampak semakin gugup melihat Shafira mendekat.
“I know you lie.” Bisik Shafira dengan nada mengintimidasi seperti yang sering dilakukan dady-nya.
Kinar menelan salivanya kasar-kasar, sepertinya tebakan Shafira benar.
“Izinkan aku pergi jalan-jalan sebentar, lalu aku akan tutup mulut.” Gadis cantik ini mencoba membuat kesepakatan.
“Maaf nona, tuan besar tidak mengizinkan anda pergi kemanapun.”
“Oh ya? Bukannya kamu bisa saja mengizinkanku pergi tanpa harus melaporkannya sama dady. Hem?”
Shafira menatap tajam mata Kinar yang tidak lebih tinggi darinya. Bibirnya tersenyum namun tatapannya begitu dingin, seperti Sigit Junior. Mungkin ini salah satu ciri khas yang di wariskan Sigit pada kedua anaknya.
“Ba-baik. Tapi anda harus di temani.”
“Ya tentu, minta mba disa menemaniku.”
“Tapi nona, disa harus ke tempat tuan muda sore nanti.”
“Aku tidak sedang ingin berdebat. Kamu atur saja.”
Shafira memilih mengakhiri perbincangannya lalu berbalik meninggalkan Kinar yang masih berfikir keras. Ia Kembali menatap amplop coklat di tangannya, lalu Kembali menyembunyikannya di balik badan. Sepertinya ia tidak memiliki pilihan lain selain membiarkan Shafira pergi.
"Setengah jam lagi aku turun." seru Shafira tanpa berbalik melihat Kinar. Langkahnya begitu yakin menapaki satu per satu anak tangga menuju kamarnya.
Kinar hanya menggeleng. Ya, ia kalah.
*****
“Ganti bajumu, jangan pakai baju pelayan. Aku bosan melihatnya.” Ujar Shafira, beberapa saat sebelum Disa naik ke mobil.
“Saya, harus ganti baju nona?” Disa berusaha mengklarifikasi perintah nona mudanya.
“Hem. Pakai pakaian seperti kamu akan pergi main. Kamu suka memakai sneaker bukan?” Shafira memberi perintah tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel di tangannya. Sepertinya ia tengah memilih tempat yang akan mereka datangi.
“Baik nona, mohon tunggu sebentar.” Disa mengangguk sopan sebelum pergi dan mengganti bajunya.
Sangat membingungkan, saat tadi tiba-tiba Kinar menyuruhnya menemani Shafira pergi tapi tidak boleh terlambat menyiapkan makan malam untuk tuan mudanya. Dan kali ini, ia diminta untuk berganti pakaian, padahal lebih baik memakai seragam pelayan karena ia tidak harus bingung memilih baju mana yang akan ia kenakan.
Ada apa dengan hari ini?
Mematung di depan lemarinya, mencoba memilih baju yang akan ia kenakan. Hanya ada 4 stel baju di dalam lemarinya dan pilih asal saja, toh ia tidak harus menyaingi penampilan nona mudanya.
Seperti biasa ia memilih celana jeans yang tidak terlalu belel, kaos putih polos dan jaket kebesaran. Tidak lupa sneaker untuk membalut kakinya. Ia pun membawa teman setianya, tote bag, untuk menyimpan ponsel dan dompet serta seragam pelayan untuk ia berganti baju nanti.
“Maaf sudah membuat nona muda menunggu.” Kembali menunduk setibanya di hadapan Shafira. Nafasnya masih terengah karena berlari khawatir mood nona mudanya keburu berubah.
“Naik lah.” Shafira sedikit menggeser tubuhnya memberi tempat pada Disa.
“Terima kasih nona.” Duduk bersisihan dengan nona muda yang menggunakan parfum wangi yang sangat lembut. Sangat sesuai dengan kepribadiannya.
“Jalan.” Begitu perintah Shafira pada pak Daan.
Mobil melaju menuju tempat yang ingin di kunjungi Shafira. Dia bilang, sebuah mall yang akan mereka sambangi sekarang, karena nona mudanya sangat ingin berbelanja dan memanjakan diri sebagai bentuk balas dendam karena telah di kurung selama 5 hari di dalam rumah.
“Kamu masih memakainya?” Shafira menunjuk kepala bagian belakang Shafira.
“Oh ini? Iya nona, supaya tidak gerah.” Memegang jepit sarang yang masih menyanggul rambutnya. Jujur ia hanya beralasan karena sebenarnya ia tidak melepaskannya karena lupa, tapi sepertinya tidak masalah.
“Hem, gimana bang' ke?”
“Gimana nona?” Disa menatap nona mudanya dengan penuh tanya.
“Maksud saya, kean. Abangku. Aku biasa memanggilnya begitu, karena dia tidak pernah bersuara atau berekspresi padaku. Tapi aku tau, dia sangat membenciku.” Terang Shafira dengan raut wajah yang mulai tampak murung.
“Oh maaf nona, saya tidak tau kalau itu panggilan tuan muda.” Sedikit ingin tersenyum, karena panggilan Shafira pada abangnya cukup lucu.
“Seperti apa rumahnya?” tanya Shafira kemudian. Ia tidak aneh kalau Disa akan berfikir macam-macam tentangnya dan sang kakak, karena memang hubungan mereka sangat aneh.
Mendengar pertanyaan Shafira, sepertinya benar informasi dari Tina, kalau keluarga ini tidak bisa di tebak. Mereka tidak mengenal satu sama lain, sibuk mengurusi dirinya masing-masing. Mengurai hubungan mereka seperti mengurai benang kusut yang hanya akan membuang waktu. Tidak bertemu ujungnya namun menguras sebagian besar tenaga dan pikiran.
Mungkin itu alasan Tina mengingatkan Disa agar tidak terlibat secara emosional dengan keluarga ini.
“Aesthetic. Seperti itu rumah tuan muda.” Disa hanya menggambarkan garis besarnya saja.
“Seperti apa dia bersikap? Apa dia sangat galak dan menyebalkan seperti dady?”
Disa sedikit tercekat mendengar pertanyaan Shafira berikutnya, sepertinya sang adik sedang mencari tahu sosok sang kakak dari dirinya.
“Disa, jangan patahkan hatinya. Buat mereka memiliki kesan baik satu sama lain, agar mereka mau saling mengenal.” Begitu bisik malaikat di samping Disa. Ya, ia harus bijak menjawab pertanyaan nona mudanya.
“Setauku, dia sangat tidak suka ada orang asing di sekitarnya. Termasuk aku dan kedua orang tuaku. Sepertinya kami hanya sekelompok orang yang harus dia hindari.” Tatapan Shafira terlihat nanar. Ia menoleh Disa tanpa perubahan ekspresi apapun.
Ia menunggu Disa mengiyakan.
“Tuan muda pribadi yang baik. Hanya itu yang saya tau, nona.” Defensif lebih baik bagi Disa.
“Oh ya? Apa hobinya?”
Pertanyaan Shafira menempatkan Disa seolah lebih tahu darinya.
“Mungkin olahraga, karena tuan muda memiliki alat olahraga yang lengkap.”
“Ya, beberapa kali. Namun tidak banyak.”
Disa menjawab seadanya. Memang hanya beberapa kali mereka bertemu dan sudah beberapa hari ini, Disa tidak pernah melihat tuan mudanya. Tepatnya setelah hari minggu pagi dan sang tuan muda melarangnya untuk menyiapkan makan malam.
“Aku sedikit iri sama kamu mba. Kalian bisa saling berbicara, tapi kami, bahkan tidak pernah saling menyapa dan bertanya kabar. Kadang aku bingung, apa kami benar-benar saudara, kenapa sangat asing.” Ungkap Shafira.
Ternyata nona muda yang terkesan cuek ini, jauh dalam hatinya ia sangat ingin mengenal keluarganya, hanya saja tidak ada kesempatan. Atau mungkin mereka tidak mau menciptakan kesempatan untuk mengenal satu sama lain.
Tapi tanpa mereka sadari, Shafira mulai merubah panggilannya sendiri. Saya berubah menjadi aku. Lebih dari itu mereka mulai berbagi moment, mungkin ia mulai merasa nyaman berada di dekat Disa.
Sepanjang perjalanan, hanya sepi yang ada di antara mereka. Disa tentang memikirkan jawaban jika nona mudanya kembali bertanya, Sementara Shafira, entahlah, ia asyik membuka media sosialnya namun tatapannya kosong.
*****
Sampai di mall besar, kalimat Shafira adalah yang terakhir menjadi penutup percakapan selama dalam perjalanan. Pak Daan menurunkan Disa dan Shafira di lobby, sementara ia mencari tempat parkir.
“Okey, ayo kita bersenang-senang.” Seru Shafira dengan semangat.
Ia meloncat-loncat kecil dengan riang, layaknya seekor kuda yang baru lepas dari istalnya. Di balik sikapnya yang berusaha terlihat dewasa, nona mudanya tetaplah seorang gadis remaja yang sedang berusaha menikmati masa-masa indahya.
“Ayo mba!” teriak Shafira memanggil Disa yang cukup jauh tertinggal.
Lihatlah, ia tersenyum membuat Disa ikut tersenyum. Wajahnya sangat ceria. Berbeda dengan saat berada di dalam mobil.
Disa memperlebar langkahnya untuk mengejar nona mudanya.
Naik escalator menuju lantai 4, tempat yang ingin di sambangi Shafira. Dari tempatnya berdiri saat ini, Mereka bisa melihat orang-orang di bawah sana yang berlalu lalang dengan kesibukan masing-masing. Cahaya lampu di bawah sana juga tampak indah dan di tata dengan apik.
Salon, adalah tempat pertama yang Shafira tuju. Ingin meringankan kepalanya yang terasa berat, begitu akunya.
“Mba, kamu mau nyalon sekalian?” tawar Shafira saat sudah membuat reservasi dengan pemilik salon.
“Tidak non fira, saya akan menunggu di sini.” Disa masih tahu malu untuk tidak maruk mendapat perlakuan baik dari non mudanya.
“Ya udah, kamu keliling dulu aja kalo bosen, beli apa yang kamu kau. Nih pake debit card aku.”
Menyodorkan salah satu kartu debitnya dari antara jejeran kartu debit lainnya. Nona mudanya memang tidak perlu takut kehabisan uang. Mungkin seisi mall ini bisa ia beli, kalau ia mau. Tapi lagi, kecukupan material tidak selalu berbanding lurus dengan kebahagiaan.
“Tidak nona, saya tidak berniat membeli apapun. Mungkin saya hanya akan berkeliling saja.” Timpal Disa kemudian.
“Ya sudah, kalo ada apa-apa telpon aku.” Menelpon ponsel Disa agar Disa tahu nomor ponselnya. "Itu nomorku." imbuhnya.
“Oh baik nona.” Dengan segera Disa menyimpan nomor ponsel nona mudanya.
“Yuk ce!” ajak Shafira pada seorang pegawai salon. Sepertinya mereka sudah saling mengenal.
Shafira memulai treatmentnya. Memang sangat iseng kalau hanya duduk di sini dan menunggu Shafira menyelesaikan rangkaian treatment nya.
Akhirnya Disa memilih keluar salon. Langkahnya pelan saja, agar bisa melihat toko-toko sekeliling walau pun ia tidak berniat membeli.
“Tandai aja dulu, siapa tau nanti punya rejekinya.” Gumam Disa dalam hatinya.
Dari tempatnya berdiri, ia melihat sebuah toko baju pria dan wanita. Sebagian adalah baju formal yang pastinya dengan harga fantastis. Sebuah gaun hitam, bersanding dengan sebuah stelan jas, sepertinya itu couple. Hal ini menambah inspirasi untuk Disa, mengingat ia tidak pernah mendesign pakaian couple.
Mencoba mendekat dan memperhatikan baju tersebut lebih seksama.
“Silakan,..” sapa seorang pelayan toko yang membungkuk sopan saat Disa masuk ke dalam tokonya.
Disa hanya tersenyum lalu masuk. Tujuannya langsung pada baju yang tadi dilihatnya.
Menyentuh kain jas yang membalut tubuh manekin laki-laki dan rasanya sangat lembut. Ia mencoba mengintip harganya, gila satu stel jas ini hampir 4 jutaan. Ia tidak bisa membayangkan harga baju-baju tuan mudanya yang berderet di lemari. Mungkin setara dengan biaya makannya seumur hidup.
Beralih pada gaun hitam di sampingnya. Disa mengusap bahannya, sangat lembut dan adem.
“Kami memiliki yang tergantung di hanger, kalau kakak mau coba.” Begitu suara pelayan toko yang berada di belakangnya.
Disa terangguk, ia memang ingin mencobanya. Coba saja dulu, masih gratis ini, Pikirnya.
Gaun yang tergantung di hanger itu di sodorkan oleh sang pelayan. Disa memperhatikan dengan seksama bahan yang pegangnya hingga ke detail penjahitan dan modelnya.
“Selamat datang tuan,..” sapa seorang pelayan di belakang sana.
Dari pantulan cermin yang ada di hadapan Disa, terlihat seorang laki-laki berpakain rapi masuk ke toko dan semua pelayan langsung berbaris rapi.
“Saya tinggal sebentar kak.” Ujar pelayan di belakang Disa.
Sepertinya ia tahu mana calon pembeli sungguhan dan mana yang hanya ingin mencoba. Sudahlah, toh ia memang tidak berniat membeli, hanya ingin tahu saja. Tidak perlu diikuti seperti calon pembeli dengan dompet tebal.
Disa tidak ambil pusing, ia lebih memilih mengukurkan baju itu ke tubuhnya. Terlihat sangat pas dan bahannya sangat nyaman saat menyentuh kulitnya. Ia pun mengintip price tag yang menempel pada brand di bagian leher.
3 juta lebih. Pantas bahannya sangat bagus.
Dulu saat Disa bercita-cita menjadi seorang pelukis, om nya, Sugih, sangat melarangnya. Menurutnya menjadi pelukis tidak bisa menjamin masa depannya. Kalau ia suka menggambar, ia menyarankan Disa untuk menjadi seorang designer.
Ternyata benar, dengan design yang bagus, memiliki brand terkenal dan material yang baik, secarik kain ini bisa berharga fantastis. Namun sayangnya ia tidak bisa sampai pada titik itu. Tidak menjadi seorang pelukis apalagi sebagai designer.
Tempatnya di sini, sebagai pelayan yang hanya bisa menuruti perintah majikannya.
“Kamu bisa memilikinya kalau kamu suka.” Sebuah suara menyadarkan Disa dari lamunannya.
Disa terhenyak, laki-laki tadi ternyata ada di belakangnya dan memperhatikan Disa dari pantulan cermin.
“Tidak, terima kasih.” Disa segera mengembalikan baju itu pada pelayan toko, ia terlalu lama memegangnya hingga di sangka akan membelinya.
“Ambil lah, saya yang akan membayarnya.” Laki-laki tersebut seperti tengah memaksa.
Disa memperhatikan laki-laki di hadapannya. Stelan baju yang branded, mungkin lebih mahal dari baju-baju yang terpajang. Jam tangan merek terkenal dan sepatu yang sangat mengkilap. Dia bukan orang sembarangan.
“Kenapa saya harus menerimanya?” Disa bertanya dengan serius. Tatapan laki-laki ini begitu menyebalkan, memperhatikannya dengan detail dan bibirnya tersenyum dengan ekspresi seperti tengah menggoda.
“Karena saya menyukainya.” Timpal laki-laki tersebut dengan yakin.
“Oh ya?”
Laki-laki itu mengangguk dengan yakin dan melangkah satu langkah lebih dekat pada Disa.
“Anda bisa membeli apa yang anda suka, tapi saya bukan salah satu yang bisa anda beli.” Tegas Disa dengan ekspresi dingin.
Ia merasa laki-laki ini tengah merendahkannya.
Tanpa menunggu respon laki-laki tersebut, Disa segera pergi setelah mengucap kata “Permisi” dengan tegas. Sepertinya ini bukan tempat dimana ia harus berlama-lama.
“Terima kasih, silakan datang kembali.” Ujar sang pelayan saat membukakan pintu untuk Disa.
“Tidak, aku tidak akan pernah kembali.” Gerutu Disa dalam hatinya.
******