
Menikmati makan malam sambil curi-curi pandang menjadi kebiasaan baru yang dilakukan Kean. Duduk berhadapan sambil menikmati menu makan malam buatan Disa, selalu menjadi moment yang menyenangkan bagi Kean. Dari cara makannya, Kean mulai banyak mengetahui hal-hal baru tentang Disa.
Gadis di hadapannya tidak suka mencampur makanan. Nasi, lauk utama, tumisan dan pelengkap lainnya di buat teratur di atas piring. Katanya setiap makanan memiliki rasa sendiri, ada yang enak di campur ada yang enak di nikmati masing-masing. Tertata sekali.
Bisa di lihat, Disa pun seseorang yang apik. Makannya rapi dan mengambil porsi yang pas untuk mengisi perutnya. Katanya tidak baik membuang-buang makanan.
Jika biasanya Disa yang memperhatikan Kean, mulai dari apa yang dia suka, yang ia tidak suka hingga kebiasaan kecil lainnya, kali ini Kean yang mencoba mengenali Disa. Banyak hal unik yang Kean tahu dan membuatnya semakin betah untuk mengenali Disa.
“Bagaimana persiapanmu dengan lomba desain?” setelah memperhatikan hal remeh-temeh, kali ini ia ingin melihat pikiran Disa yang lebih jauh.
“Em, lancar tuan. Saya sedang belajar membuat pola yang lebih mudah di eksekusi kalau nanti di minta desain langsung di tempat.”
“Oh ya? Seperti apa misalnya?” Kean menaruh sendoknya dan berganti memperhatikan Disa. Menyimak pembicaraan Disa jauh lebih menarik dari hal apapun.
“Em, misalnya.” Makanan di mulutnya ia telan lebih dulu agar bisa bebas berbicara. Sepertinya sesi makan akan berakhir berganti sesi “Story telling” dengan abang Kean.
“Saya belajar membuat pola berdasarkan postur tubuh. Semisal, seorang wanita dengan bentuk tubuh pisang, mereka cocok baju dengan model off shoulder atau penambahan aksesoris ikat pinggang. Jadi saya membuat pola, untuk baju-baju tersebut.”
Tidak terlalu mengerti tapi Kean tetap serius menyimak. Perhatiannya masih seratus persen untuk Disa seperti yang biasa Disa lakukan saat menyimak pembicaraannya.
“Wanita dengan bentuk tubuh pir, cocok kalau memakai pakaian yang pada bagian ujungnya memiliki lebar yang sama dengan pinggul.”
“Ya, hal-hal seperti itu kurang lebih.” Pikiran Disa jadi terdestraksi melihat Kean yang serius memandanginya dengan senyum terkembang. Apa yang di pikirkan laki-laki ini? Bikin salah tingkah saja.
“Apa harus selalu di gambarkan dengan buah-buahan?”
“Bagaimana dengan laki-laki? Laki-laki kan tidak punya tonjolan-tonjolan seperti perempuan.” pertanyaan Kean mulai absurd.
Disa ingin tertawa sendiri mendengar pertanyaan tuan mudanya. Entah tonjolan apa yang di maksud laki-laki di hadapannya.
“Membuat pola, bukan tentang mengubah tonjolan seperti yang tuan katakan.” Sungguh ia ingin tertawa.
“Lalu?” tuan mudanya malah semakin serius. Seperti anak SD yang siap menerima pelajaran baru dari gurunya.
“Em, tapi tentang menampilkan tampilan terbaik dari postur seseorang.” Jawaban Disa terdengar tegas.
“Seseorang terkadang ingin menutupi kekurangan di tubuhnya dan itu tidak salah. Hanya saja, saking fokusnya menutupi kekurangan di tubuhnya, terkadang kita lupa kalau kita pun punya sisi menarik atau kelebihan yang bisa di tampilkan.”
“Gambaran mudahnya begini, tuhan sudah menciptakan kita dengan segala kesempurnaannya. Selebihnya hanya bagaimana cara kita menampilkan apa yang terbaik dari diri kita tanpa harus merasa buruk dengan kekurangan yang kita punya.” Disa berujar dengan santai.
"Dari ilmu desain yang saya pelajari, membuat desain itu bukan tentang mendandani wanita cantik dengan tubuh langsing, kulit putih dan wajah yang cantik sesuai standar kecantikan wanita."
"Tapi, memberi sentuhan magic pada setiap orang tanpa terbatas warna kulit dan postur tubuh. Setiap orang berhak untuk merasa dirinya cantik dan memiliki kelebihan alih-alih merasa insecure dengan kecantikan orang lain."
Kean jadi termangu. Tidak hanya karena isi pembicaraan Disa melainkan karena bagaimana cara gadis itu menyampaikannya. Ekspresinya, gerak bibirnya. Ya gerak bibirnya. Kenapa ini mulai menjadi hal yang menarik untuknya?
“Saya sepakat. Manusia lebih harus menghargai apa yang menjadi kelebihannya di banding merutuki kekurangannya.”
“Tepat sekali tuan!” saking semangatnya Disa sampai menjentikkan jari.
Ini yang Kean sukai, spontanitas Disa yang menurutnya menarik.
“Bisa buatkan saya segelas teh?” piringnya sudah kosong dan rasanya ia ingin pencuci mulut sekaligus berbincang dengan lebih santai.
“Baik tuan, saya siapkan segera.” Disa memang selalu sigap, membuat kean merasa kalau ia selalu berada di puncak prioritas pikiran Disa.
“Tidak, selesaikan saja dulu makanmu. Saya tunggu di atas.”
“Baik tuan.”
Kean beranjak lebih dulu. Sesekali ia masih menoleh melihat Disa yang masih menikmati sedikit lagi makanannya. Makannya jadi lebih cepat, kasian juga dia jadi terburu-buru.
******
Malam selalu memberi keindahan tersendiri, meski gelap tapi tidak selalu menakutkan. Di langit gelap itu masih ada bintang-bintang yang bersinar, berkedip saling memberi isyarat satu sama lain membuat suasana malam yang sepi menjadi ramai cahaya.
Berdiri di hadapan balkon selalu menjadi hal yang menyenangkan bagi Kean karena selain ia bisa melihat bebas ke depan tanpa ada yang menghalangi, ia pun bisa menghela nafasnya dengan lega, menukar udara dengan yang lebih segar sekaligus menghapus segala kegudahan yang ia rasakan seharian.
“Teh anda tuan.” Seperti ada melodi yang ikut terbawa bersamaan dengan terdengarnya suara Disa. Mungkin itu tanda lain dari jatuh cinta, segala sesuatu selalu terlihat dan terdengar indah.
Ia menoleh gadis yang membawakannya segelas teh lengkap dengan kudapannya. Tanpa di minta, Disa sudah sangat paham dengan kudapan yang biasa Kean nikmati. Ada asin ada manis dan terkadang di tambah buah-buahan segar.
“Kemarilah.” Kean memberi isyarat untuk mendekat.
Disa tersenyum samar, walau ragu ia mendekat pada Kean. Semakin bertambahnya waktu, semakin banyak jarak yang Disa kikis dan saat ini ia seperti berdiri di ujung jurang. Siap melombat ke dasar danau demi melihat sesuatu yang indah bersama Kean walau belum tentu ia akan menemukannya. Tapi percaya saja lah karena perasaan ini terlalu indah untuk di tolak.
Batas yang ia buat, sedikit demi sedikit mulai ia langgar sendiri. Ucapan Kinar mulai terasa seperti angin lalu. Rasa sakit bekas tamparan perlahan memudar berganti kebahagiaan saat ia berada di samping Kean. Salahkah jika ia ingin mengharapkan kebahagiaan yang lebih?
Disa terus bertanya pada hatinya, salahkah apa yang ia lakukan sekarang? Malaikat di sampingnya seolah mengingatkan, kalau sebaiknya ia menghindar. Perasaan yang tidak seharusnya ini akan membawa ia ke sudut yang akan membuatnya terpojok dan terjerat. Sementara perasaan di hatinya tidak bisa ia pungkiri. Ia bahagia dengan keadaannya sekarang. Berada di dekat Kean, berbagi cerita yang kadang tidak penting dan hal lainnya. Ia hanya berharap, apa yang ia takutkan selama ini tidak akan pernah terjadi.
“Apa yang akan kamu lakukan kalau kamu menang lomba desain nanti?” tiba-tiba saja Kean menanyakan hal itu. Awal mulai perbincangan tentang desain membuat Kean memikirkan kemungkinan itu.
Perkataan Marcel beberapa waktu lalu mulai masuk ke pikirannya. Bukan tanpa alasan, ini karena ia percaya dengan kemampuan Disa dan kesempatannya terbuka lebar untuk kemungkinan itu.
Bersandar pada pinggiran balkon dengan pikiran menerawang jauh ke depan sana. “Saya belum berani membayangkannya tuan. Masih terlalu jauh.” lirih Disa. Baginya cukup ia menikmati perjalanannya dan hasilnya tidak perlu ia pusingkan.
Terdengar helaan nafas dalam saat Disa menoleh Kean. Seperti laki-laki di hadapannya tengah sangat menunggu jawabannya. Padahal apa pentingnya mendengar rencana dari sebuah kemungkinan yang kecil.
“Saya hanya ingin menikmati masa-masa ini tuan. Tanpa memikirkan apa yang akan terjadi di masa depan yang mungkin hanya sebuah mimpi.”
“Saya tidak mau terbangun dalam rasa kecewa.”
Baginya sudah cukup mimpinya hanya berada di dekat Kean, ia tidak siap bertaruh untuk kekecewaan yang lebih banyak.
Kean mendekat pada Disa. Menempatkan tangannya di atas tangan Disa yang berpegang pada pinggiran balkon. Di tatapnya laman mata gadis yang selalu terlihat teduh. Ada keraguan di sana.
“Perlombaan itu tidak ubahnya sebagai ajang pembuktian diri. Membuat mereka yakin, kalau kita mampu melakukan apa yang sedang kita lakukan.”
“Kita memang tidak bisa menentukan hasilnya tapi sebelum meyakinkan mereka, kita harus meyakinkan diri kita sendiri. Kamu ingat kan bagaimana saat kamu berusaha meyakinkan saya kalau saya bisa menghadapi rasa takut yang saya hadapi tanpa sebuah manupilasi?”
Disa terangguk. Ia masih mengingat bagaimana usahanya membantu Kean keluar dari rasa takutnya.
“Bukan suatu kebetulan ketika tiba-tiba saya berani untuk menghadapi rasa takut. Hal itu muncul karena kamu menaruh keyakinan pada diri saya dan meyakini saya kalau saya bisa melewatinya.”
Kalimat Kean benar adanya, Disa mengakui hal itu. Tapi keyakinan itu butuh alasan yang jelas. Butuh dasar yang jelas agar Disa bisa mempertahankannya.
“Apa saya bisa tuan?” tanya Disa kemudian. Ia menatap Kean dengan gamang dan Kean seperti bersiap memberikan banyak keyakinan untuknya.
“Tentu! Tidak ada yang tidak bisa kamu lakukan. Jadi, percayalah kamu pasti mampu.” Kean mencoba meyakinkan.
Tanpa sadar, tangannya terangkat untuk menyentuh bahu Disa dan mengusapnya. Gadis itu tersenyum samar, ia bisa merasakan besarnya kepercayaan Kean terhadapnya. Ini untuk pertama kalinya ia mendapat dukungan semangat sebesar ini. Dari seorang teman dan lebih dari itu dari seseorang yang selalu menggetarkan hatinya.
Disa terangguk pelan, keyakinan Kean mulai tertanam di alam bawah sadarnya.
Laki-laki tampan itu kini berdiri tepat di hadapannya, menatapnya dengan hangat membuat Disa tidak bisa menolak gemuruh perasaan yang saat ini bersarang di dadanya.
Tangan Kean terangkat untuk mengusap rambutnya, membelai pipinya lantas keduanya semakin mendekat. Ada gejolak yang tidak bisa di tahan keduanya sampai akhirnya wajah mereka sangat dekat hingga nyaris membuat hidung keduanya bersinggungan.
“Kring….” Sebuah deringan telpon membuat Disa terperanjat. Begitu pun dengan Kean.
Mereka segera mengalihkan pandangannya masing-masing dengan wajah yang memerah. Apa yang baru saja hampir terjadi? Jika saja tanpa deringan telpon, apa yang akan mereka hadapi kemudian?
“Ponselmu?” tanya Kean, menunjuk saku kanan Disa.
“Hah?” Disa masih gelagapan, merogoh sakunya dan benar, ponselnya yang berdering. “Maaf taun.” Ujarnya dengan sesal.
“Jawablah.” Sahutnya sekali lalu menggigit bibirnya sendiri menahan tawa.
Ada-ada saja pikirnya.
“Bibi?” gumam Disa saat melihat nama yang tampil di layar ponselnya. Ia terlihat ragu dan kaget di waktu yang bersamaan.
“Jawablah, saya tidak akan menguping.” Kean menutup kedua telinganya dengan kedua tangan, pura-pura tidak mendengar.
“Sebentar tuan.” Tanpa menjauh dari Kean, Disa menjawab telponnya. Baginya tidak ada lagi yang harus ia sembunyikan dari tuan mudanya.
Kean memperhatikan Disa yang bertelpon. Tanpa mengucapkan sepatah katapun tiba-tiba saja wajah gadis itu berubah muram. Matanya yang bulat, menitikkan air mata.
“Ada apa sa?” Kean segera mendekat.
Bahu Disa melorot begitu saja, “Iya bi.” Hanya itu jawabnya dengan suara bergetar menahan tangis.
“Hey, ada apa?” Kean memegangi kedua pundak Disa yang melorot. Gadis itu hanya mematung. “Disa, katakan sesuatu. Apa ada yang terjadi?” Kean mulai panik melihat Disa yang hanya terdiam.
Bibir Disa tampak bergetar, seperti akan mengatakan sesuatu yang berat.
“Nenek saya, jatuh di kamar mandi tuan. Sekarang beliau belum sadarkan diri.” Ujar Disa dengan lemas. Wajahnya yang ceria berubah muram.
“Hey, tenanglah..” Kean segera membawa Disa ke pelukannya. Mengusap punggung Disa, mencoba untuk menenangkannya.
“Apa tidak sebaiknya kamu pulang?” bisik Kean. Melihat Disa yang terpaku, seperti satu pertahanan gadis ini telah runtuh. Pikirannya pasti sedang kalut hingga ia tidak bisa mengatakan apapun.
“Apa boleh tuan?” lirih Disa dengan tangis tertahan.
“Bodoh! Tentu saja boleh. Bersiaplah. Bawa barang yang penting saja.” Titanya kemudian.
Disa segera menarik tubuhnya dari Kean, melepaskan pelukan Kean dan berjalan cepat menuju kamarnya meninggalkan Kean seorang diri. Tapi tiba-tiba saja ia menghentikan langkahnya. Berbalik menatap Kean dan kembali menghampirinya.
“Terima kasih tuan.” Ujarnya seraya memeluk Kean dengan erat. Tangannya melingkar di pinggang Kean membuat laki-laki itu terperanjat dan tidak bisa menolak.
“I-iya. Sama-sama. Bergegaslah, temui nenekmu.” Jantungnya masih berdebar kencang, seperti gelombang yang sambung menyambung memberi deburan di rongga dadanya.
Disa mengangguk dengan yakin dan kembali berlari menuju kamarnya. Sementara Kean masih terpaku, kaget dengan pelukan Disa yang tiba-tiba.
Kenapa gadis ini selalu saja berhasil memberinya kejutan yang manis?
*****