
Fix, Disa memang belum bisa pulang ke rumah utama. Ia coba menyalakan ponselnya yang mati tapi tidak berhasil. Baterainya memang benar-benar habis. Di rumah ini tidak ada charger tempo dulu yang biasa ia pakai untuk mengisi ulang daya ponselnya.
Melemparkan kembali ponselnya ke atas tempat tidur dan duduk sebentar di atas ranjang seraya memandangi pantulan wajahnya di cermin.
“Disa, kamu mau ngapain di sini seharian?” tanyanya pada bayangan yang tengah ia pandangi.
Seharusnya kemarin ia pulang saja karena mungkin peer pekerjaan di rumah utama pasti sangat banyak menunggunya. Harusnya ia tidak setakut itu untuk pulang dan mencari taksi agar pekerjaannya yang terbengkalai tidak menjadi masalah untuknya dan orang-orang yang menunggu hasil pekerjaannya.
Terlebih semalam ia tidak bisa tidur. Bolak-balik miring kiri dan kanan dan sekali lalu memilih keluar kamar untuk melakukan pekerjaan apa saja untuk mengundang rasa kantuknya.
Namun nihil, jam 3 dini hari ia baru merasakan kantuk dan kembali terbangun 2 jam kemudian. Kamarnya di rumah utama ternyata lebih membuatnya betah di banding kamar di rumah Kean yang tentu saja lebih besar dan lebih nyaman. Lagi, nyaman bukan masalah fasilitas tapi bagaimana perasaannya merasa tenang.
Jujur, semalam ia memang tidak merasa tenang. Menginap di rumah yang hanya di tempati ia dan tuan mudanya. Adat ketimurannya masih cukup kental, walau ia memposisikan dirinya sebagai seorang pelayan namun bayangan jika tiba-tiba orang-orang datang ke rumah ini dan mendapati ia tinggal berdua di rumah ini bersama Kean, tentu akan menjadi hal yang mengerikan.
Ia percaya pada dirinya sendiri dan tuan mudanya bahwa tidak akan pernah ada yang terjadi namun tidak begitu dengan pikiran orang lain bukan?
Hah, inilah salah satu siksaan bagi seorang overthinking seperti Disa.
“Iihhhh,,, makanya jangan jadi penakut disa,,,” gerutunya mengomeli dirinya sendiri. Ia mengusap wajahnya dengan kedua tangan dan berusaha kembali memfokuskan pikirannya.
Untuk beberapa saat ia terdiam melamun, menunggu jam berputar hingga menuju jam 10 terasa begitu lama. Belum lagi ia menunggu jam makan siang dan baru bisa kembali ke rumah utama setelah menyelesaikan pekerjaannya hingga menyiapkan makan malam dan keperluan Kean lainnya.
Ia benar-benar seharian di rumah ini. Bagaimana kalau nyonya besarnya mencari baju yang ingin ia pakai? Bagaimana kalau tuan besarnya mencari kaos golf yang biasa ia kenakan dan bagaimana kalau nona mudanya mencarinya untuk menemaninya mengerjakan peer?
Aarrgghh, Disa pusing sendiri. Bekerja di dua rumah yang berbeda ternyata sangat membingungkan.
Sekali waktu, pandangan Disa teralih pada sprei yang tengah ia duduki. Ia baru terpikir kalau ia harus mencucinya agar saat ada tamu semuanya kembali bersih dan wangi. Mungkin ini salah satu cara untuk mengusir kegabutannya. Mengerjakan apa yang bisa ia kerjakan.
Okey, kita mulai.
Melucuti satu per satu sarung bantal, guling, sprei dan selimut. Ia pun mengambil handuk bekas ia pakai dan tentu saja baju tuan mudanya.
Kean memang menyuruhnya untuk membuang baju itu tapi terlalu sayang kalau di buang. Kaos berwarna abu muda dan celana hijau lumut itu pasti berharga mahal, anggap saja sebagai rasa terima kasih ia akan menyimpannya setelah ia cuci.
Okey, mulai bekerja.
Disa keluar dari kamarnya dengan membawa banyak bahan cucian. Tidak lupa ia mampir ke lantai atas untuk mengecek keranjang cucian dan ternyata hanya ada beberapa potong baju yang harus ia cuci.
Tunggu, ia tidak melihat bayangan Kean, suaranyapun tidak terdengar, mungkin ia kembali beristirahat atau melanjutkan pekerjaannya seperti biasa.
“Tuan, semoga saja anda bisa beristirahat di hari libur seperti ini. Jangan hanya duduk di depan laptop dengan dahi berkerut.” Gumam Disa seraya memandangi pintu ruang baca yang tertutup rapat.
Namun apalah daya, ia hanya bisa bergumam dan menyimpan kata-katanya sendiri.
Kembali ke lantai satu dan mulai mencuci. Ia memilah baju dan kain yang akan ia cuci lalu memasukkannya ke dalam mesin cuci. Memberinya detergen dan pekerjaan di mulai. Melihat mesin cuci mulai berputar dengan suara yang tidak terlalu nyaring. Sambil menunggu, Disa mengambil sapu dan kain pel. Menyapu lantai dan mengepelnya, membersihkan dari noda jejak sepatu Kean tadi.
Ruginya bekerja dengan cepat adalah, semuanya terlalu cepat selesai. Disa mencari pekerjaan lain, okey ia akan membuat cemilan.
Berbekal bahan-bahan seadanya, Disa membuat pie buah dan risol mayo untuk cemilan jam 10 nanti. Sebenarnya ada biscuit di dalam lemari tapi untuk menghabiskan waktunya ia lebih memilih membuat sendiri makanannya.
Kalau ada yang lama, kenapa harus nyari yang cepat? 😉
Waktu memang berjalan dengan cepat saat kita merasa sangat sibuk. Cucian sudah selesai tinggal di jemur dan cemilan pun sudah siap.
Lima menit sebelum jam 10 Disa sudah menata makanan dan minuman untuk Kean di atas nampan. Membawanya ke lantai 2 dan langkahnya terhenti sejenak di depan ruang baca Kean.
Pintunya sedikit terbuka dan terlihat Kean sedang berbicara lewat telpon. Saat menoleh, ia menjentiknya jarinya agar Disa masuk.
“Ya, buatkan perjanjian kerjasama yang baru. Kalau mereka tidak setuju sama kontrak kita, kamu kontak buyer yang baru dan buat kontrak perjanjian sesuai bahasan kita kemarin.” Ujar Kean di ujung telponnya.
Disa masih di tempatnya, meletakkan satu per satu cemilan dan minuman untuk tuan mudanya. Benar saja, saat libur pun Kean masih bekerja keras. Selintas Disa melirik ekspresi wajah Kean yang duduk di kursinya, membuat ia kembali mengingat ucapan Roy kalau kondisi perusahaan sedang tidak baik-baik saja.
Mengingat ucapan itu rasanya hati Disa ikut mencelos. Bukan hanya ekspresi Kean yang menggangunya melainkan nasib ribuan pekerja yang menggantungkan hidupnya, jika sesuatu hal buruk terjadi pada perusahaan yang dipimpin Kean.
Mungkin di antara mereka ada orang kecil seperti Disa yang bersedia bekerja keras demi memenuhi kebutuhannya.
“Letakkan di situ!” Kean menunjuk cangkir kopi yang masih di pegang Disa.
“Baik tuan," menaruh cangkir di hadapan Kean." Saya permisi.” imbuhnya setelah pekerjaannya di rasa selesai.
Melamun lagi, jadinya kaget sendiri.
Setelah selesai dengan tugasnya Disa keluar dari ruangan Kean dan menutup pintunya perlahan.
Rasanya, waktu mulai berjalan cepat.
******
POV Kean
Posisiku sebagai pucuk pimpinan sebuah perusahaan membuatku tidak bisa menikmati waktuku walau di hari libur sekalipun. Semuanya hanya tentang pekerjaan dan pekerjaan yang sangat tidak aku sukai. Rasanya aku ingin menghilang sejenak, pergi berlibur ke pantai atau naik pesawat dan berkunjung ke Amerika, menemui dia yang selalu aku rindukan.
Waktuku tersita banyak untuk mengurusi pekerjaan yang tidak pernah ada ujungnya. Aku merasa begitu tersiksa karena melakukan apa yang tidak aku sukai. Rasanya aku ingin berkata “I’M DONE!” lalu pergi begitu saja meninggalkan semuanya.
Sayangnya, aku hanya bisa tetap bertahan seperti ini. Merangkak di atas jebakan kubangan pekerjaan yang papah ciptakan untukku. Andai saja ancaman papah bukan tentang “Dia” aku pasti sudah berontak. Tapi lagi, aku lemah. Aku bahkan belum bisa berdiri di atas kakiku sendiri apalagi menentang semua perintah papah.
Aku hanya bisa merengek, seperti anak kecil dan menuruti apa yang papah inginkan dan perintahkan.
Payah, ya aku memang sangat payah.
Aku menghela nafas dalam seraya mengusap keningku yang belakangan ini selalu berkerut. Kulihat ada makanan yang tadi dibawakan oleh Disa sebagai cemilanku. Yang menggundang seleraku adalah risolnya, karena aku lebih suka makanan asin di banding makanan manis.
Aku mengambil satu risol dan mulai ku gigit. Aku mengecap rasanya dan seperti ada daging dan telur di dalamnya. Lihat, mayonnaisenya sangat banyak saat aku gigit hingga jatuh ke bajuku.
Hah, sepertinya pekerjaanmu bertambah Disa, mencuci bajuku.
Selintas aku melihat tampilan monitor CCTV. Dia tidak ada di ruangan manapun. Dan perhatianku malah tertuju pada kompor yang sedang menyala dengan air yang mendidih membuat nyala apinya memerah.
Astaga! Kamu kemana Disa?!
Aku segera menaruh makananku yang belum selesai aku lahap. Aku turun secepat yang aku bisa untuk memadamkan api di kompor.
“DISA!” teriakku saat sudah berdiri di depan kompor. Ingin mematikannyaa tapi sangat takut.
Dan kenapa dia tidak menyahuti? Kemana perginya anak ini?
Aku berusaha mendekat dan mematikan kompor tapi nyaliku menciut saat air mendidih itu kembali meluap, tumpah membuat nyala api semakin besar dan kemerahan.
Aku mengambil satu gelas air dan berniat mematikan api dengan menyiramnya tapi malah membuat apinya semakin besar.
"Prank!" gelas terlepas dari tanganku dan hancur berkeping-keping.
Dadaku mulai terasa sesak, aku tidak bisa menggerakkan kakiku yang tiba-tiba terasa berat. Dan “BRUG!” aku terjatuh. Seperti seluruh tulang penyangga tubuhku melunak begitu saja.
Bersandar pada dinding seraya memegangi dadaku yang terasa semakin sesak. Nafasku tersengau-sengau, seperti ada bongkahan besar yang menyumbat kerongkonganku untuk bersuara lebih keras atau bernafas lebih bebas.
“Disa,” hanya lirihan suara itu yang bisa aku katakan. Badanku terasa lemas seperti tanpa tulang, rasanya seperti seluruh ruangan ini berisi api dan aku terkepung, berada di dalamnya.
Asap dimana-mana dan nafasku mulai tercekat. Aku ingin berteriak tapi suaraku tidak keluar. Semakin lama, rasanya ruangan semakin mengecil dan mungkin aku akan mati di sini.
Aku putus asa tanpa bisa meronta. Seseorang, tolonglah aku.
“Astaga! Tuan!” suara Disa yang aku dengar.
Aku melihat wajahnya tampak terkejut dan seperti ingin menangis. Samar-samar aku lihat ia mengambil lap yang ia basahi lalu menutupkannya pada api yang masih menyala dan merambat kesana kemari. Selain itu, ia menekan tombol power kompor yang selalu aku hindari.
“Disa,” lirihku dan Disa segera mendekat.
Dia kembali menghampiriku dengan wajah cemasnya. Aku sangat takut, sungguh.
“Anda baik-baik saja tuan?” Dia terlihat panik walau berusaha tenang. Meraih tubuhku untuk ia tegakkan.
Mungkin dia melihat aku yang tampak sangat ketakutan dengan wajah piasku, keringat dingin dan tentu saja lemas. Air mataku pun ikut menetes membawaku pada ingatan yang sangat menakutkan beberapa tahun silam.
“Tuan,.” Dia memelukku, bahkan terisak.
Aku ingin berbicara tapi lidahku kelu. Ia mengatakan sesuatu tapi semakin lama suaranya semakin tidak terdengar dan semua mulai gelap hingga, aku tidak tahu apa yang terjadi di detik berikutnya.
*****