
Disa masih diliputi kecemasan saat ingat beberapa saat lalu ia melihat Kean yang terkulai di depan kompor seraya bersandar pada dinding ruang cuci. Wajahnya sangat pucat dan ketakutan. Keringat dingin dan air mata menjadi bagian tidak terpisahkan dari pemandangan yang membuat jantung Disa berdesir ngilu.
Api di atas kompor masih menyala dan di sekitarnya basah membuat nyala api menjadi-jadi. Entah tumpahan dari panci yang ia pakai untuk merebus kerang atau air dari tempat lain yang membuat nyala api biru itu berubah menjadi kemerahan dan menyala-nyala. Ada pecahan kaca juga terserak di lantai dan nyaris terinjak oleh Disa.
Disa masih tidak bisa berfikir apa yang terjadi pada tuan mudanya. Ia segera memadamkan api dengan kain basah saat nyala api sudah mulai menjalar dan melelehkan beberapa benda d sekitarnya. Beruntung nyala api itu tidak sampai melahap kitchen set atau sampai ke stop kontak. Jika itu terjadi, sungguh Disa tidak bisa membayangkannya. Dan ia lah yaang harus di persalahkan.
Sudah hampir setengah jam Kean masih belum sadarkan diri dan Disa hanya bisa memandanginya dengan perasaan tidak menentu. Hanya Rahmat yang bisa ia mintai bantuan untuk membawa tuan mudanya ke atas sofa dan membaringkannya di sana.
Waktu berjalan amat lambat dan perasaan Disa benar-benar tidak menentu.
“Apa tuan muda kena serangan jantung mba? Kok gag bangun-bangun ya?” suara Rahmat terdengar saat ia menoleh Disa yang tengah memandangi Kean seraya mengigiti kuku jarinya sendiri. Ciri khas kalau ia sangat gundah.
Disa tidak menjawab, ia memilih menghampiri Kean lalu meletakkan kepalanya di atas dada Kean untuk mendengar detak jantungnya. Terdengar beraturan dan tidak cepat seperti tadi. Nafasnya pun mulai tenang.
Disa menghela nafas dalam dengan sedikit kelegaan di dalamnya. Sepertinya tuan mudanya hanya shock saja. Beruntung dulu ia ikut ekstrakulikuler palang merah remaja, sehingga sedikit banyak ia tahu tentang medis. Tapi tetap saja, itu semua tidak lantas membuat ia sepenuhnya merasa tenang.
“Bisa tolong telpon bu kinar pak, handphone saya mati.” Pintanya masih dengan raut wajah yang belum berubah, cemas.
“Nanti saya ngomong apa mba?” Rahmat tampak ragu.
Ia tahu benar apa yang akan terjadi jika ia melakukan kesalahan terlebih pada tuan mudanya. Mungkin ini juga yang membuat Rahmat ragu menghubungi Kinar.
“Saya yang akan bicara pak.” Sahut Disa dengan yakin.
Rahmat mengangguk paham, ia mengambil benda pipih dari dalam sakunya dan mulai mencari nama Kinar untuk ia hubungi.
“Selamat pagi, saya rahmat bu. Mba disa ingin bicara.” Menyodorkan ponselnya dengan segera pada Disa.
Tanpa ragu, Disa segera menerimanya. Ia menghela nafas dalam untuk mengumpulkan keberaniannya berbicara dengan Kinar.
“Selamat pagi bu,” Disa memulai kalimatnya.
“Ada apa disa?” tanya Kinar dengan cepat. Tidak biasanya Disa menghubunginya saat bekerja.
“Anu bu, tuan muda pingsan.” Disa memejamkan matanya, setelah mengucap kalimat pertamanya.
“Bagaimana bisa?” sepertinya Kinar sangat terkejut, membuat tonasi suaranya menjadi lebih keras dan menyentak jantung Disa hingga berdebar kencang.
“Tadi, “ Disa menoleh Kean yang masih belum terbangun. “Saat saya selesai menjemur pakaian, tiba-tiba tuan muda terduduk di lantai dan terlihat sangat ketakutan. Kompor di rumah juga basah hingga ke lantai, entah air dari mana. Mungkin juga dari air rebusan kerang yang meluap bu. Saya,”
“Bagaimana kondisi tuan muda sekarang?” Kinar menjeda kalimat Disa dan memilih bertanya hal yang lebih penting.
“Masih belum sadarkan diri.” Disa tertunduk lesu dengan banyak rasa bersalah di hatinya.
Terdengar hembusan nafas kasar dari mulut Kinar, membuat Disa merinding takut. “Maafkan saya bu. Saya sangat ceroboh.” Lagi Disa tertunduk di tempatnya seraya mengigiti bibirnya sendiri dengan rasa bersalah yang semakin besar.
“Sudah berapa lama pingsannya?”
“Hampir setengah jam.”
“Saya akan menyuruh dokter keluarga untuk datang. Kamu,”
“Maaf sebentar bu, tuan muda bangun.” Suara Disa berubah ceria saat ia melihat Kean mengerjapkan matanya beberapa kali.
Ia segera menyerahkan ponselnya pada Rahmat dan memilih menghampiri Kean.
“Jangan tutup telponnya.” Suara Kinar terdengar lagi saat Rahmat mendekatkan ponselnya ke telinga. Lantas ia mengarahkan ponselnya pada Disa dan Kean agar Kinar masih mendengar suara keduanya.
“Tuan, apa yang anda rasakan?” Disa segera menghampiri dan bersimpuh di hadapan Kean.
Kean terlihat berusaha bangun dan dengan cepat Disa membantunya dengan memegangi tangannya.
“Anda mau minum tuan?” tawarnya saat pertanyaan pertamanya tidak di jawab.
“Hem.” Hanya itu sahutan Kean dan sudah cukup membuat Disa senang.
Ia tampak menggelengkan kepalanya mengusir rasa pening seraya mengerjapkan matanya dan menekan sudut matanya untuk mengumpulkan kesadaran.
Dengan segera Disa mengambilkan segelas air minum yang ada di atas meja sofa. “Silakan tuan.” Ia membantu Kean untuk minum.
Pandangannya begitu fokus menatap Kean hingga Kean terbatuk saat melihat wajah Disa yang cukup dekat dengannya.
“UHUK!!!”
“Anda baik-baik saja tuan?” Disa segera menaruh gelasnya dan beralih mengusap punggungnya dengan lembut.
Di sebrang sana, Kinar menghela nafas lega saat sudah bisa mendengar suara Kean walau singkat. Ia mengakhiri panggilannya dan mencoba kembali mempercayai Disa untuk menjaga tuan mudanya.
“Anda mau kemana tuan?” melihat Kean yang hendak beranjak dari tempatnya.
“Ke kamarku.”
“Saya bantu tuan.” Disa memegangi lengan Kean yang kemudian ia lingkarkan pada punggungnya. Tubuh Disa yang lebih pendek darinya membuat tinggi mereka sangat jomplang. Tapi cukup menolong untuk di jadikan tumpuan.
“Saya bantu tuan.” Rahmat ikut menghampiri namun dengan segera Kean mengangkat tangannya, sebagai isyarat agar Rahmat tidak mendekat.
Kontan Rahmat berhenti di tempatnya dan membuat Disa menoleh.
“Terima kasih pak rahmat, saya bisa membantu tuan muda ke kamarnya. Bapak bisa kembali ke depan untuk berjaga.” Disa yang mengucapkan kalimat itu.
“Baik mba disa. Saya permisi tuan,” mengangguk patuh pada Kean.
Kean tidak menyahuti namun itu cukup untuk membuat Rahmat berlalu.
“Hati-hati tuan, anak tangganya cukup tinggi.” Ujar Disa saat satu kaki Kean mulai memijak satu anak tangga paling bawah.
Tangan kanannya mencengkram baju di pinggang Kean agar ia bisa menahan jika Kean terjatuh karena masih lemas.
Mereka berjalan bersisihan, menapaki satu per satu anak tangga bersamaan hingga akhirnya mereka tiba di tangga teratas.
Kean menoleh Disa yang berada di sampingnya. Gadis ini tampak berkeringat di dahinya namun bibirnya menghembuskan nafas lega dengan segaris senyum samar.
Di depan pintu kamar, Disa segera membuka pintu namun langkahnya berhenti sejenak. “Saya izin masuk tuan.” Lirihnya seraya menengadah, memandang wajah Kean yang lebih tinggi darinya.
Hanya isyarat anggukan yang menjadi respon Kean. “Terima kasih tuan.” Timpalnya dengan segaris senyum.
Disa tahu, kamar adalah area privacy tuan mudanya, sehingga ia harus meminta izin agar tidak di anggap lancang.
Membaringkan Kean di atas tempat tidur lalu menyelimuti hingga ke batas dada.
“Tolong buka jendelanya dan jangan tutup pintunya.” Titah Kean dengan pelan.
Disa menganggguk paham lalu menghampiri jendela dan menggeser panel untuk membukanya lebar-lebar, membiarkan udara masuk agar tidak terasa pengap. Tidak hanya Kean yang membutuhkan udara segar, ia pun memerlukan hal yang sama setelah kepanikan tadi untuk menenangkan pikiran dan perasaannya.
“Tuan, apa ada yang tuan perlukan atau anda akan istirahat dulu?” tanya Disa dengan hati-hati.
Berdiri memandangi Kean yang tengah menatap langit-langit kamarnya. Tidak ada jawaban, sepertinya Kean memang memerlukan waktu.
Melihat Kean yang terdiam, Disa hanya membungkuk pamit. Mungkin Kean perlu waktu untuk sendirian. Namun saat ia berbalik,
“Bisakah kamu tetap di sini sebentar saja?” suara Kean yang terdengar.
Menghentikan langkahnya lantas ia berbalik dan sejenak menatap laki-laki yang saat ini terlihat begitu lemah.
“Bisa tuan.” Sahutnya dengan segaris senyum.
Walau cukup terkejut, Disa tetap menghampiri seraya mengambil kursi dan menempatkannya di samping tempat tidur Kean. Mungkin tuan mudanya masih ketakutan dan ingin di temani. Ia membantu Kean untuk duduk bersandar pada headboard tempat tidurnya.
Terdengar helaan nafas dari sela bibir seksi milik Kean. Pandangannya tertuju pada luar jendela yang menunjukkan area kehijauan ujung dedaunan di bawah langit yang tidak terlalu biru.
“Saya sangat lemah bukan?” pertanyaan itu ia lontarkan pada Disa.
Disa hanya terpaku, entah seperti apa ia harus menjawabnya.
“Semua terjadi 20 tahun lalu saat usia saya 9 tahun tapi semuanya masih terasa seperti kemarin.” Sepertinya Kean akan memulai ceritanya.
Ia seperti tengah mengingat sebuah peristiwa yang sangat menakutkan baginya. Wajahnya masih pias dengan sorot mata penuh ketakutan.
“Saat itu malam tahun baru dan kami sekeluarga mengikuti pesta di rumah mendiang kakek hardjoyo." Menghela nafas tanpa menoleh pada Disa. "Semua terjadi begitu cepat saat tiba-tiba sebuah lampu gantung terjatuh di ruang keluarga dan menimbulkan percikan api dimana-mana.”
“Seketika, semua lampu mati, hanya ada nyala api yang semakin lama semakin besar. Semua orang berteriak, berusaha menyelamatkan diri mereka dan aku terjebak sendirian di kamar kakek yang berada di lantai 2.” Tangannya meremas selimut yang membalut tubuhnya, seperti ia tengah mengekspresikan ketakutannya.
“Aku berteriak meminta tolong tapi tidak ada satu orang pun yang datang. Semua aku lewati sendirian, dengan asap yang semakin hitam, lidah api yang menyala-nyala hendak menyentuhku dan semakin lama dadaku terasa semakin sesak. Aku ketakutan, rasanya sia-sia aku berteriak karena tidak ada satupun orang yang datang.”
“Andai saat itu ibuku tidak menyadari bahwa aku menghilang, mungkin sekarang aku tidak akan berada di sini. Andai saja saat itu nyala api itu tidak mengenai kami, mungkin…”
Kean tertunduk lemah lalu tersedu, ia bahkan tidak dapat melanjutkan kalimatnya.
“Tuan,…” Disa segera mendekat, beralih pindah duduk ke tempat di samping Kean.
Refleks ia memeluk Kean yang tersedu di hadapannya dan tanpa ragu Kean mengeratkan pelukannya dan terisak di bahu Disa.
Semua ingatannya malam itu seperti berputar kembali di kepalanya. Api yang melahap habis rumah keluarga Hardjoyo dan bayangan menakutkan lainnya yang membuat ia selalu merasa ketakutan saat melihat nyala api terlebih berada di dalam ruang yang sempit dan gelap.
“Aku takut disa, aku sangat takut.” Lirihnya yang membuat bulu kuduk Disa ikut meremang membayangkan peristiwa menakutkan yang membekas di pikiran Kean hingga membuatnya trauma.
Disa hanya bisa mengusap punggung Kean perlahan, mencoba menguatkannya dan menemaninya mengadapi rasa takut. Ia tidak pernah menyangka kalau tuan mudanya pernah mengalami peristiwa yang begitu menakutkan.
Cukup lama mereka saling berpelukan. Kean yang menumpahkan rasa takutnya dan Disa yang setia menemani Kean menghadapi rasa takutnya. Pelukan keduanya berakhir saat mereka mulai sadar dan tidak lagi terbawa oleh keadaan.
****
“Aku akan ke ruang baca.” Kean beranjak dari tempat duduknya setelah makan siang terlambatnya selesai.
Suasana berubah canggung setelah peristiwa tadi. Mereka sama-sama menikmati makan siangnya dengan perasaan tidak nyaman.
“Baik tuan. Apa anda ingin kopi atau teh?”
“Tidak, terima kasih.” Ucapnya tanpa menoleh Disa sedikitpun.
Ia pergi menuju ruang kerjanya dengan pikiran dan perasaan yang tidak berarah.
Sepeninggal Kean, Disa segera merapikan meja makan. Siang ini mereka makan siang berdua dalam keheningan. Hanya saling tertunduk, berusaha sibuk dengan makanan masing-masing tapi sebenarnya pikiran mereka tidak di sana.
Disa mencium bau tubuhnya sendiri dan rasanya wangi baju Kean masih menempel di bajunya yang katanya tercium bau amis.
Entah harus seperti apa ekspresinya saat mengingat kejadian tadi. Saat Kean tersedu dalam pelukannya dan saat mereka berpelukan sangat erat, seolah Disa hadir untuk menemaninya.
“Tring!” suara sendok terjatuh menyadarkan Disa dari rasa terkejutnya.
“Astaga, kenapa aku melamun lagi?” gerutu Disa seraya berjongkok mengambil sendok, dan
“ASTAGA!” ia tersentak saat tiba-tiba Kean ada di hadapannya. Ia bahkan tidak mendengar suara langkah kaki tuan mudanya saat mendekat.
“A-Ada yang bisa saya bantu tuan?” tanyanya setelah menelan salivanya kasar-kasar, meredam rasa terkejutnya.
“Buatkan saya kopi,” ucapnya seraya menatap Disa.
“Ba-baik tuan.” Disa segera menunduk saat ia sadar sudah terlalu lama mereka saling bertatapan.
Tanpa berkata-kata lagi, Kean kembali ke atas.
Disa masih memperhatikan langkah kaki Kean, kali ini cukup terdengar. Mungkin karena tadi ia melamun sehingga tidak menyadari kehadiran Kean.
“Kerjakan disa.” Disa mengingatkan dirinya sendiri.
Ia segera merapikan meja makan lalu membuat kopi untuk Kean. Setelah itu ia pergi ke atas untuk mengantarkan kopi yang ia buat.
Hari ini ia terlalu banyak senam jantung hingga rasanya permukaan dadanya ikut bergetar merasakan debaran jantung yang berpacu cepat.
Tiba di depan ruang baca Kean, terlihat Kean sudah kembali anteng bekerja. Entah rasa takutnya yang sudah hilang atau ia tengah mengalihkan perhatiannya agar tidak terus mengingat kejadian hari ini.
“Silakan kopinya tuan.” Menaruh secangkir kopi hitam di hadapan Kean yang tengah menatap layar laptopnya dengan wajah serius.
“Hem,” seperti biasa, begitu Kean menyahuti.
Fix sepertinya perhatiannya mulai beralih dan kejadian tadi, Disa pun harus melupakannya.
“Maaf tuan, boleh saya bicara sebentar?” Disa terlihat ragu. Ia memegangi nampan di tangannya dengan erat.
“Tidak ada yang melarang.” Sahut Kean ringan.
Disa menghela nafasnya perlahan, ia memang harus menyampaikan apa yang ingin ia katakan. “Besok saya libur. Teman saya akan menggantikan saya di sini. Apa ada yang tuan inginkan untuk sarapan, makan siang dan makan malam besok?”
“Apa saya harus berfikir sebanyak itu?” kali ini Kean menoleh bahkan menatap Disa.
“Ti-tidak tuan. Maafkan kelancangan saya.” Dengan cepat Disa menunduk. Tidak terdengar lagi suara Kean, hanya jemarinya yang bergerak menjalin kalimat di atas keyboard laptopnya. “Saya akan kembali ke rumah utama setelah selesai memasak makan malam. Selamat siang tuan.” Izin dan pamit ia lakukan dalam satu waktu yang bersamaan.
Kean tidak menyahuti. Ia kembali ke mode dingin dan angkuhnya. Syukurlah, Disa bisa menghela nafas lega karena itu berarti Kean sudah baik-baik saja. Semoga.
*****