
Paris, 4 tahun kemudian
Di salah satu kursi di Castle cafe, terlihat seorang wanita yang sedang terduduk sambil menyeruput coklat hangat dari cangkirnya. Menara eifel yang hanya berjarak beberapa ratus meter saja menjadi pemandangan yang bisa ia nikmati saat ini. Di hadapannya ada sebuah buku sketsa yang sedang ia corat-coret, mewakili apa yang ada di benaknya saat ini.
Wanita cantik dengan sebuah stroler di sisi kanannya dimana seorang balita kecil sedang terlelap dengan nyaman.
Tanpa terasa Disa sudah menghabiskan waktunya lebih dari 2 tahun berada di kota ini untuk mengejar mimpinya menjadi seorang desainer.
“Perempuan yang berjuang untuk cita-citanya bukan lagi tentang mengejar sebuah ambisi tapi karena menuntut ilmu adalah sebuah kewajiban untuk menambah kualitas hidupnya sebagai seorang wanita, istri dan tentu saja seorang ibu.”
Penggalan kalimat itu yang membuat Disa berani mengambil keputusan untuk menuntut ilmu di kota pusat mode dunia, Paris dengan ditemani bayi kecilnya, Bayanaka Adkesa Malik Hardjoyo.
Rasanya baru kemarin saat ia memutuskan untuk mengambil beasiswanya setelah satu tahun ia tunda karena kehamilannya. Saat itu usia putranya baru berusia satu tahun ketika Disa memutuskan untuk berangkat ke Paris melanjutkan study-nya.
Masih teringat jelas bagaimana hari-hari yang harus ia lewati dengan belajar desain dan mengurus Naka kecilnya. Di bantu seorang nanny paruh waktu yang menjaga Naka saat Disa belajar sementara sisanya ia sendiri yang mengurus Naka. Beruntung Naka anak yang pintar,ia seperti mengerti kesulitan ibunya dan tidak pernah rewel.
Tinggal jauh dari suami tidak membuatnya merasa sepi karena bayi kecil ini seolah menjadi penyemangat dan pelipur lara penghapus lelah saat ia menghadapi banyaknya ujian sebagai seorang siswa desain. Jika mengingat bagaimana ia menaklukan waktu yang sulit selama dua tahun itu, patut rasanya jika ia merasa bangga akan capaian yang ia dapatkan saat ini.
Dan hari ini, ia mengenang kembali pengalamannya selama lebih dari 2 tahun ini. Pahit manisnya, senang sedihnya tersimpan dalam sebuah gambar yang di buatnya di atas buku sketsa. Gambar tentang ia, Kean dan tentu saja putranya, Naka.
Di tatapnya balita yang sedang terlelap itu lantas ia usap kepalanya dan mengecup pucuk kepalanya dengan sayang.
“Terima kasih sudah menjadi nakanya mamah yang pintar .” Lirih Disa dengan senyum terkembang.
Hadirnya Naka seperti memberi Disa hidup yang baru. Ia yang lemah saat kehamilan namun menjadi wanita yang jauh lebih kuat setelah Naka lahir. Ya, itulah ajaibnya seorang ibu. Banyak hal yang tidak terduga dan tidak pernah disangka kalau ia bisa menjadi seseorang yang lebih kuat setelah memiliki anak.
Dari kejauhan, terlihat seorang wanita bertubuh tinggi berjalan mendekat. Clara, wanita yang selalu berhasil menarik perhatian banyak orang terhadapnya. Ia melangkah dengan elegan, melepas kacamatanya lantas menaruhnya di atas kepala. Tidak lupa ia mengibaskan rambutnya yang di buat berwarna coklat, cocok dengan warna kulitnya yang putih.
“Kean sama marcel udah dalam perjalanan ke sini, katanya mereka baru selesai ngurus bagasi kita.” Ujar Clara yang sepertinya baru selesai bertelepon dengan Marcel.
“Udah di kirim ke bandara barangnya?” tanya Disa seraya menyodorkan satu minuman pesanan Clara beberapa menit lalu.
“Udah, tinggal nunggu jam flight kita siang ini.” terduduk di hadapan Disa, ikut menghangatkan telapak tangannya dengan dinding cangkir yang panas.
Angin di musim gugur memang selalu terasa lebih dingin di kota Paris. Minuman panas pun cepat sekali dingin.
“Jam berapa ini, naka masih belum bangun juga.” Clara memandangi balita berusia 3 tahun yang tertidur di atas stroller. Gemas sekali melihat anak yang memiliki wajah dominan mirip Kean ini.
“Dia tidurnya malem banget. Becanda semalaman sama papahnya, kangen kayaknya.” Disa ikut memandangi putranya, lantas mengusap kepalanya dengan lembut.
“Gimana gak kangen ketemunya hampir sebulan sekali, untung dia gak lupa sama bapaknya.” Cetus Clara sambil terkekeh di ujung kalimatnya.
Disa tersenyum samar. Kalau mengingat waktu yang mereka habiskan di paris selama hampir 3 tahun ini, memang cukup membuat hatinya mencelos. Pergi di saat usia Naka baru sekitar satu tahun dan sebulan sekali Kean datang mengunjungi mereka.
Walau saat datang Kean bisa stay selama seminggu tapi tetap saja, Naka selalu mencari papahnya saat mereka hanya berdua. Sungguh, Disa merasa sangat beruntung saat semua kesulitan itu terasa begitu mudah dan manis untuk dilewati saat orang-orang terkasih mendukung pilihannya.
Tapi hari ini, semua rasa rindu itu akan terobati. Disa akan pulang dan Kean sengaja menjemputnya untuk memastikan semuanya lancar dan aman saat pulang.
“Udah gak usah lo pikirin, toh kita mau pulang ini. Apa lo masih betah di sini?” Clara mencoba mengalihkan pembicaraan. Mengingatkan Disa tentang LDR nya pasti membuat wanita ini merasa bersalah terhadap keluarganya.
“Nggak Claire, aku mau pulang. Aku mau berkumpul lagi dengan keluargaku.” Disa menggenggam tangan Naka yang terkepal lantas menciumnya.
“Bisa gue bayangin, tante rini pasti seneng banget. Tapi kalo sampe kalian ketemu bokap gue, gue yang bakalan repot nanti.”
“Kalo gak mau repot, makanya cepet nyusul. Bukannya waktu kamu udah habis buat ngejar semuanya?” Disa mengingatkan janji clara yang katanya hanya akan menghabiskan waktu 3 tahun saja untuk mengejar karirnya, setelah itu ia akan menikah. Dan ini sudah tahun keempat.
“Hem, sabtu ini marcel berencana nemuin bokap gue. Gue juga gak mau lama-lama di gantung kayak gini. Gue tambah tuan anjir, udah gak sekenceng dulu. Mulai ada kerutan nih di muka gue.” menyentuh sudut matanya yang terasa mulai memiliki kerutan samar.
“Hahhahaa…” Clara dan Disa tertawa bersamaan.
“Ya tapi om marcel cinta mati sama kamu, mau kamu peot atau ubanan juga buat dia mah tetep aja yang paling cantik itu kamu.” Puji Disa membesarkan hati Clara.
“Bisa aja lo!” Clara menyibak rambutnya dengan anggun. Ini gayanya saat sedang jumawa atas kecantikannya.
“Ngomong-ngomong, gue mau lo bikinin baju buat nikahan gue. Ya anggap aja ini kontrak terakhir sebelum lo bebas kerjasama sama siapapun.” Pinta Clara tiba-tiba.
Selama lebih dari 3 tahun bekerjasama dengan Disa, sudah banyak hal yang Clara raih. Soal popularitas sudah jangan di tanya, wajahnya semakin sering di pampang di billboard iklan dan menghiasi cover majalah mode dalam dan luar negeri. Waktu 3 tahun itu benar-benar membawa Clara ke puncak kesuksesan.
“Boleh, nanti aku bikinin desainnya, kamu liat apa ada yang kurang atau nggak.” Disa menyanggupi. Bertahun-tahun membuatkan baju untuk sang model, tentu ia sudah tahu seperti apa selera Clara.
"Tapi lo udah siap kan sama rencana fashion show undangan mareta?" Clara mengingatkan janji Disa untuk ikut dalam pagelaran busana yang diadakan oleh yayasan milik Mareta.
"Udah. Aku bikin 18 baju buat nanti." tegasnya.
"Bagus. Ini awal yang bagus buat lo ngasih liat baju buatan lo di dalam negeri. Gue yakin banyak yang suka, terlebih udah banyak orang yang tau sama karya lo."
"Aamiin,, semoga saja." Disa kembali meneguk minumannya sebelum terlanjur dingin. Clara benar, ini awal baru hidupnya sebagai seorang desainer. Walau ia masih perlu banyak belajar tapi merasa bangga dengan menunjukkan kualitas desain yang ia punya saat ini rasanya tidak ada salahnya.
“Papa..” suara Naka kecil terdengar serak, rupanya bayi laki-laki itu sudah terbangun.
“Hey baby, mau auty gendong? Papah mu belum dateng.” Dengan cekatan Clara mendekat dan mengulurkan tangannya hendak menggendong Naka.
“No!” Naka mengulat dengan bibir yang menipis seperti akan menangis.
"Papa,.." rengeknya.
Benar bukan, yang dia cari pertama kali pasti ayahnya.
“Sini sayang, sama mamah dulu. Bentar lagi papah dateng.” Disa menggendong Naka dan memeluknya.
“Ganteng banget sih anak mamah bangun tidur gini.” Ia menghadiahi Naka dengan banyak kecupan gemas. Naka kecil tertawa karena geli, membuat Disa semakin semangat menciumi putranya.
Clara jadi terpaku dengan tangan menopang dagu, memandangi Disa yang asyik menciumi wangi putranya. Kenapa pemandangan seperti ini selalu terlihat indah dan membuatnya iri?
“Kapan gue bisa kayak gini ya?” Gumam Clara dalam hatinya.
Tidak lama terdengar suara langkah kaki mendekat, “Hey, kok ngelamun!” suara Marcel yang terdengar lantas ia mencium kepala Clara.
“Wah cepet juga. Kean mana?”
“Tuh!” menunjuk Kean yang ada di belakangnya, membawa sebuah goody bag di tangannya.
“Tuh papah sayang, ayo panggil.” Ujar Disa.
Naka langsung menggeliat minta turun. “Papah!” serunya.
Disa membiarkan putranya turun dan berlari menghampiri Kean. Melihat Kean yang berjongkok dan merentangkan tangannya, langkah kaki kecilnya semakin cepat saja.
“Anak lo nempel banget sama bapaknya.” Clara jadi ikut memandangi Naka yang berlari ke arah Kean.
“Mukanya aja mirip banget, sifatnya juga gak jauh beda.” Timpal Disa, tersenyum memandangi anak dan suaminya yang asyik saling memeluk.
"Ngekos doang dia di perut lo!" ledek Clara yang tertawa geli membuat Disa ikut tertawa. Benar, semua yang ada di diri Naka sangat mirip dengan papahnya. Hanya rengekannya yang mirip Disa.
Terlihat Kean mengeluarkan sesuatu dari dalam goody bag yang ia bawa, mobil-mobilan dan bola. Naka melonjak girang dan langsung duduk di tanah memainkan mobil-mobilannya.
“Hem.” Dengan senang hati Clara mengikuti tanpa melepaskan dirinya dari rangkulan Marcel di sampingnya.
“Aku pengen kayak gitu yang.” Rengek Clara melihat interaksi keluarga kecil Kean.
“Coming soon.” Timpal Marcel seraya mengecup pucuk kepala Clara.
Di salah satu sudut taman Menara eifel saat ini mereka berada. Naka bebas berlarian mengejar bola yang dimainkan oleh Kean dan Marcel sementara Disa duduk-duduk di bangku taman dengan Clara. Mereka ikut memandangi keseruan ayah, anak dan kakek muda yang asyik bermain bola. Sampai kemudian suara deringan telpon menjeda pikiran Disa.
Sebuah panggilan video dari Shafira rupanya. “Assalamu’alaikum fir,” sapa Disa saat wajah Shafira tampak.
“Wa’alaikum salam…” suara Shafira terdengar riuh di antara suara musik.
“Kamu lagi dimana fir, kok kayaknya rame banget?” hampir setiap hari adik iparnya ini melakukan panggilan video hanya untuk sekedar bertanya kabar dan melihat Naka, keponakan kesayangannya.
“Aku lagi latian buat perform nanti siang. Tuh ada kak reza juga.” Shafira mengarahkan ponselnya pada Reza yang sedang memainkan pianonya.
“Tuh anak mainnya sama piano mulu, gak nyari cewek dia?” sinis Clara.
“Hahahaha…” Shafira malah tertawa. Ia berjalan menghampiri Reza dan mengarahkan ponselnya pada wajah Reza.
“Kak di tanyain kak clara nih.” Ujar Shafira.
“Hay Claire! Lagi dimana?” sapa Reza. Ia duduk di samping Shafira.
“Lagi di paris, jemput disa sama naka. Lo masih betah aja di inggris? Kagak niat pulang lo?” cerocos Clara pada sahabatnya.
“Pulang kok gue sama fira. Flight kapan kita dek?” bertanya pada Shafira.
“Kami pulang abis perform siang ini. Jadi tahan kangennya yaa…” sahut shafira yang tersenyum senang.
Disa hanya tersenyum melihat tingkah Shafira yang menjulurkan lidahnya, meledek.
“Hay sa, kamu pulang hari ini juga?” Reza bertanya pada Disa.
Sejak Reza dan Shafira ke Inggris, mereka memang lebih sering berkomunikasi. Tepatnya karena Shafira yang berusaha agar tidak ada lagi kecanggungan antara Disa dan Reza.
“Iya kak. O iya, katanya tante nita udah nyiapin perayaan buat kak reza kalo pulang.” Mengingat pesan yang di kirimkan Nita semalam.
“Hahahhaa.. Iyaa.. Mamah ngajak kita barbeque-an di gallery. Ide anak ini sih.” Reza menyikut lengan Shafira dengan sengaja.
“Dih, nyalahin aku lagi. Kan kak reza yang mau deketin tante nita sama bu dosen. Aku sih ngasih ide doang.” Timpal Shafira tidak terima.
“Heh, bu dosen mana? Kok gue kagak tau?!” Clara langsung mengambil alih ponsel Disa, menatap tajam pada Reza.
“Itu loh kak Claire, bu dosen cantik. *Sh*e said, aku menunggumu di hari batas rindu, di mana saat kita bertemu semua sedu akan terhapus membuat kita tidak ragu untuk menyatu. Eaaaaa!!!!” ledek Shafira saat mengingat penggalan pesan yang di kirim Ellen pada Reza.
“Berisik kamu!” Reza mempiting leher Shafira dengan lengannya yang kokoh.
“Issh kak rezaa.. uhuk! Uhuk!” Shafira memukul-mukul tangan Reza agar melepaskannya.
“Lo punya cewek? Yang mana sih?!” Clara semakin penasaran. Sementara Disa hanya tersenyum, ternyata Ellen masih satu-satunya untuk Reza.
“Nanti aku kenalin, hahaha… Eh bentar, ada telpon, kak reza dulu yang ngomong.” Shafira memberikan ponselnya pada Reza dan langsung pergi untuk menjawab panggilan di ponsel satunya.
“Za, kok lo gak cerita apa-apa sih sama gue? Bu dosen yang mana?” Clara masih dengan rasa penasarannya.
“Nanti juga lo kenal.” Reza seperti ragu untuk menjelaskan. Ia menatap Disa yang hanya tersenyum tipis.
“Kenapa gak sekarang? Lo gak enak sama disa? Dia mah udah kawin, udah punya anak, lah elo?!” Mulailah Clara membahas masa lalu.
“Claire!” dengan cepat Disa menyikut clara.
Selama ini Clara memang menjadi teman dekat Disa selain sebagai rekanan bisnisnya. Tidak ada yang menduga, Disa dan Clara yang sebelumnya seperti air dan api malah bisa bersahabat kental layaknya adik kakak. Clara juga yang banyak membantu Disa selama di Paris. Sering sekali ia tiba-tiba datang ke Paris saat tidak ada pekerjaan hanya untuk membantu Disa menjaga Naka.
Dan saat ini, walau Shafira selalu berusaha membuat Disa dan Reza bersikap biasa-biasa saja, ternyata keduanya tidak bisa bersikap biasa seperti dulu. Selalu ada yang mengganjal, mungkin karena Reza pergi dengan rasa kecewanya karena Disa menolaknya untuk ke sekian kali. Jika kali ini Reza kembali pada Ellen, mungkin sejak dulu memang Ellen lah wanita yang cocok mendampingi Reza.
“Nanti gue kenalin, repot amat lo!” Hanya itu sahutan Reza.
“Ya udah, awas kalo lo bohong!” ancam Clara.
“Mama!!!” teriak Naka memanggil Disa.
“Ya sayang!!” Disa segera berbalik.
“Play with me.” Teriaknya.
Disa tersenyum seraya menunjukkan lambang ok pada putranya. “Aku tinggal dulu ya kak, silakan lanjut sama Claire.” Pamit Disa pada Reza.
“Iya sa, salam buat naka.” Timpalnya.
Disa mengacungkan jempolnya dan segera berlari menghampiri putra dan suaminya.
“Ada yang mau minum?” Disa menunjukkan sebotol minuman pada Naka.
“AKU!” seru Naka yang segera berlari menghampiri Disa.
“Okey, just calm baby…” dibukakannya botol minuman itu dan langsung di teguk oleh Naka.
Kean iku mendekat, terduduk di samping Disa. Nafasnya masih terengah setelah menemani Naka bermain.
“Nih minum aa.” Disa memberikan satu botol minum untuk Kean.
“Makasih sayang.” Dengan segera Kean meneguk minumannya untuk menghapus dahaga.
Disa jadi memandangi suaminya yang berkeringat. Jakunnya yang bergerak naik turun saat meneguk minuman berbalut keringat yang membasahi lehernya, selalu membuat Disa merasa beruntung melihat mahluk setampan ini di depan matanya. Tidak ingin yang lain melihat, ia mengeluarkan selembar tissue untuk mengusap keringat Kean.
“Naka tenaganya kayak nggak habis-habis sa. Aku sampe kewalahan.” Memperhatikan putranya yang sudah kembali mengambil bola dan ia tendang-tendang sendiri. Sementara Marcel sudah KO dan duduk di pinggir taman sambil menikmati minuman yang di bawakan Clara.
“Iya a, dia lagi aktif-aktifnya. Semua mau dia Cobain. Manekin yang ada di rumah aja dia ajakin berantem, katanya ‘Kage Bunshin no Jutsu’ hahaha…” Disa jadi ingat saat Naka memperagakan salah satu jurus tokoh kartu favoritnya, Naruto.
“Gak apa-apa, biar dia nyobain semua, asal tidak berbahaya buat dia dan masih dalam pengawasan kita. Jangan sampe nanti dia di larang-larang jadinya malah kayak aku.”
“Iya, aku setuju. Cuma pengawasan kita harus ekstra, dia terlalu aktif dan kreatif sampe kadang aku bingung masa dia udah bisa kayak gitu terus kok cepet banget gedenya.”
“Iya lah, dia anak kita. Adkesa, anak dari kean dan disa, gak salah kalo dia pinter dan kreatif. hahaha…” tertawa bangga, ia mengutip satu kata pada nama panjang Naka.
“Iya, dia anak kita.” Disa jadi menyandarkan kepalanya ke bahu Kean sambil memandangi Naka yang asyik bermain.
Seperti ini saja sudah cukup. Melihat Naka yang sehat, tumbuh dengan baik dan tentu saja dengan suami yang selalu ada di sampingnya.
Cukup bagi Disa untuk sangat bersyukur dengan apa yang ia punya sekarang.
*****