
Perasaan bahagia sepertinya hanya menjadi milik Marcel saat ini. Satu per satu rencananyaa berjalan sesuai yang di harapkan dan pekerjaan pun berjalan dengan lancar. Siang ini ia bekerja dengan semangat, membaca beberapa laporan perusahaan dan menyetujui beberapa berkas. Semua ia kerjakan dengan cepat tanpa ada yang terlewat.
“Permisi tuan," suara Farid menjeda sejenak pekerjaannya.
"Hem." Sahutnya seraya mengarahkan pandangannya pada Farid.
"Semalam saya menerima email dari calon rekanan kita. Mereka meminta perbedaan perhitungan keuntungan yang tuan janjikan sebelumnya.” Farid mendekat pada Marcel dan menunjukkan email pada laman tab-nya.
Hanya beberapa saat Marcel membacanya sampai kemudian ia mengatakan, “18%. Itu sudah cukup besar di banding sebelumnya.” Ujarnya santai.
“Tapi maaf tuan, anak perusahaan lain menawarkan keuntungan 23%. Saya khawatir mereka akan lebih memilih melanjutkan kontrak dengan perusahaan yang di pimpin tuan kean.” Terang Farid.
Tidak ada yang berubah dari wajah Marcel. Ia memainkan bola tenis di tangannya seraya menatap Farid. Sudah tertebak kalau Farid akan mengatakan kalimat penuh kecemasan ini. “Kamu tidak perlu khawatir. Toh pada akhirnya perusahaan itu pun akan menjadi milik saya.” Tandasnya tegas. “Hanya beberapa saat lagi sampai mas sigit menyerah. Lagi pula, ada seseorang yang sedang ingin membalas jasa pada saya.” imbuhnya dengan penuh keyakinan.
Di bibirnya terkembang senyum penuh optimisme. Masih memainkan bola tenis di tangannya, pandangan Marcel tertuju pada foto ia bersama Sigit dan mendiang ayahnya.
Farid mengangguk patuh dan ikut pada petunjuk bosnya. Sepertinya Marcel yakin kalau ia sudah memiliki banyak rencana yang di susun dengan rapi. Ia hanya perlu menunggu perintah berikutnya.
“Tring!” sebuah pesan masuk dan membunyikan ponsel Marcel.
Ia segera mengeceknya dan pengirimnya adalah seorang wanita berwajah cantik.
“Mas, bisa kita bertemu sebentar? Ada yang harus aku bicarakan.” Begitu bunyi pesan yang di terima Marcel.
Marcel tersenyum simpul, ia bergegas membalas pesannya. “Baru semalam kita bertemu, bisa kah kamu menunggu sebentar? Pekerjaanku sedang cukup banyak.” Balasnya.
“Tapi ini penting mas, mendesak. Bisa kita ketemu saat makan siang?”
Marcel tidak langsung membalas pesannya. Terlebih dahulu ia menoleh Farid. “Jam berapa orang dari dinas perdagangan akan datang?”
“Sekitar jam 11 tuan, menjelang makan siang.” Timpal Farid seraya melihat jam di tangannya.
Marcel Kembali melihat layar ponselnya sebelum kemudian memberi isyarat pada Farid untuk pergi.
Alih-alih membalas pesan, ia lebih memilih menelpon wanita tersebut.
“Mas tahu, yang semalam sangat menyenangkan. Tapi, bisakah kamu tidak memintanya di siang hari?” begitu kalimat pertama yang di ucapkan Marcel. Ia melonggarkan dasinya yang terasa mencekik lehernya. Wajahnya masih terlihat begitu bahagia.
“Mas, aku serius. Kita harus ketemu.” Timpal suara wanita di sebrang sana.
“Ya, kita akan ketemu. Tapi tidak siang ini. Mas masih harus bertemu dengan orang. Mungkin malam baru bisa ke apartemen kamu.”
“Mas! Ini penting!” gertak suara di sebrang sana.
Marcel mengusap wajahnya kasar, ia masih berusaha tenang. “Sayang, kamu tau kan kalau yang aku lakukan sekarang juga penting. Ini demi masa depan kita. Jadi tolong kamu bersabar. Aku benar-benar meminta pengertian kamu sekali lagi. Aku mohon.” Suara Marcel terdengar memelas.
Tidak ada jawaban dari sebrang sana yang terdengar hanya suara pangggilan yang terputus. “Halo! Sayang!” seru Marcel.
“Shit!” dengus Marcel seraya melempar ponselnya ke atas maja. Diguyarnya rambutnya dengan kasar, ia sangat kesal. Ternyata begitu sulit untuk berbicara dengan seorang wanita. Perasaannya mulai tidak nyaman namun ia kembali mengingat rencananya dan ia memilih untuk mengabaikan hal lainnya untuk beberapa saat dan fokus pada tujuannya. Bagaimanapun ini salah satu jalan agar ia terlihat layak di mata banyak orang.
******
Selalu ada yang berubah pada setiap perputaran waktu. Entah itu orang-orang, lingkungan atau keadaan yang dihadapi. Semua berubah dengan cepat tanpa pernah menunggu kita siap atau tidak.
Perubahan itu pula yang dirasakan Arini. Siang itu, setelah meminum obatnya, Arini memilih untuk beristirahat di kamarnya. Dengan kursi rodanya ia berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain.
Mata bulatnya masih memperhatikan sekeliling kamar yang sudah lama tidak ia tempati.
Tidak ada yang berubah. Warna dan wanginya masih tetap sama. Para pelayan bahkan masih memasangkan sprei warna gold dengan kelambu putih yang menutupi tempat tidurnya.
Di depan cermin meja riasnya ia terdiam. Memandangi wajahnya yang ia usap perlahan. Masih ada banyak sisa luka yang berwarna putih karena pigmen kulitnya yang memang menghilang bersama kulit yang mengering dan mengelupas.
Sebagian wajahnya tetap menyisakan bekas luka bakar walau ia sudah beberapa kali melakukan operasi.
Melihat wajahnya yang tidak secantik dulu terkadang ia merasa sangat sedih. Karena perubahan pada fisiknya inilah membuat orang-orang perlahan pergi dan melupakannya. Bahkan mungkin beberapa di antara mereka sudah menganggapnya tidak ada.
Dulu ia sangat membanggakan dirinya. Wanita yang di kenal cantik, cerdas dan tentu saja kaya raya. Ia mewarisi peninggalan orrangtuanya berupa bisnis property yang cukup besar.
Namun setelah kejadian itu, satu per satu usahanya hancur. Hanya Sebagian kecil asset yang ia miliki dan akhirnya di kelola oleh anak perusahaan milik suaminya. Biaya pengobatan dan hidup yang tinggi selama tinggal di amerika, mau tidak mau harus mengikis sisa kekayaan yang perlahan habis.
Semudah membalik telapak tangan dan semudah itu pula keadaan berubah. Arini tidak bisa lagi berdiri di atas kakinya sendiri. Namun bukan hal itu yang harus membuatnya merasakan kesedihan, melainkan rasa peduli orang-orang di sekitarnya yang ikut terkikis bersamaan dengan habisnya harta kekayaan yang dulu melimpah.
Tidak ada lagi yang bertanya kabar melalui pesan atau telpon selain putranya dan tentu saja Kinar.
“Kean tidak masalah kalau harus memulai semuanya dari nol. Tapi, kean tidak bisa membiarkan mamah menjadi korban dari keegoisan kean dan papah.”
Sepenggal kalimat itu yang selalu terngiang di telinga Arini saat Kean memutuskan untuk pulang dan menuruti keinginan Sigit.
“Tunggu sebentar lagi, kean janji suatu hari kean yang akan membawa mamah pulang.” Kalimat itu seolah menjadi pelengkap agar Arini tidak ikut egois dengan menahan putranya agar tetap berada di sisinya. Sulit memang namun ia tetap harus merelakan Kean pergi.
Andai saja, kemalangan 20 tahun lalu tidak pernah terjadi, maka keadaannya tidak akan seperti ini. Sayangnya, ia tidak bisa memutar waktu dan memperbaiki apa yang ingin ia perbaiki. Ia hanya bisa menjalani sisa harinya yang sering kali terasa berat.
Suara pintu yang berderet menyadarkan Arini dari lamunannya. Tidak lama terlihat pantulan wajah seorang laki-laki dari cermin yang ada di hadapannya.
Adalah Sigit yang berjalan menghampirinya lantas duduk di sofa menghadap Arini.
Arini tersenyum samar pada pantulan wajah suaminya yang terlihat dingin saat memandanginya. “Akhirnya kamu mau menemuiku mas.” Lirih Arini seraya menatap wajah Sigit.
Sigit memalingkan wajahnya dari Arini, membuat wanita itu segera mengenakan masker untuk menyamarkan beberapa bekas lukanya. Mungkin suaminya merasa risih melihat wajahnya yang tidak secantik dulu.
Ralat, dulu pun Sigit tidak pernah menatapnya dengan hangat.
“Apa perjanjian yang kamu sepakati dengan marcel?” tanya Sigit dengan suara tegasnya. Ia bukan laki-laki yang bisa berbasa-basi.
Arini terpaku mendengar pertanyaan suaminya. Bibirnya yang kaku refleks menyunggingkan senyum sarkas.
“Aku tahu sejak dulu kamu tidak pernah mencintaiku. Tapi, berpura-pura lah sedikit dengan menanyakan kabarku walau aku tahu itu hanya sebuah pertanyaan normatif.” Timpal Arini dengan suaranya yang serak.
Sigit mengalihkan pandangannya menatap Arini dari pantulan kaca. Terdengar helaan nafas dalam dari sela bibir Sigit.
“Bagaimana kabarmu?” pertanyaan pendek itu yang kemudian di dengar Arini.
Arini menggeleng, lantas melepas maskernya. “Apa aku terlihat seperti baik-baik saja?” ia memutar kursi rodanya untuk berhadapan dengan Sigit. Sigit hanya terpaku dengan wajahnya yang selalu dingin.
“20 tahun aku di amerika. Selama 20 tahun itu pun kamu tidak pernah menemuiku. Apa kamu begitu membenciku hingga kamu tidak pernah ingin mengingat keberadaanku?”
“Aku tidak pernah membencimu arini.” Sela Sigit seraya berdiri. Terlihat jelas tatapannya yang tajam pada Arini.
“Ya, mungkin!” timpal Arini dengan cepat. “Kamu tidak membenciku tapi kamu tidak pernah mengharapkan aku ada." Arini tertunduk lesu, rasa sesak didadanya perlahan mulai menyeruak.
"Sejak kamu mengirimku ke amerika, saat itu kamu benar-benar membuangku dan anakku dari hidup kamu bukan? Kamu gak pernah peduli sama aku dan kean sampai pada akhirnya kamu tau, tidak ada yang bisa kamu andalkan selain putra kita. Ironis bukan?”
Air mata mulai menetes di kedua mata Arini. Tangannya yang gemetar mengusapnya perlahan.
“Kalau kamu pikir aku tidak peduli, tidak mungkin aku memberikan kamu pengobatan yang paling baik dan paling mahal. Tidak mungkin aku,”
“YA! TERIMA KASIH!” seru Arini. Ia tidak membiarkan Sigit meneruskan kalimatnya.
“Kamu memberikan aku pengobatan mahal, mengantarku dengan jet pribadi tapi kamu tau, bukan itu yang sebenarnya aku butuhkan.” Tantang Arini dengan mata menyalak.
“Tidak ada orang yang ingin mendapat kemalangan sepertiku. Tidak ada pula orang yang ingin mati meninggalkan satu-satunya anak yang harus ia lindungi. Tapi jika pilihan kamu adalah memperpanjang umurku dengan mengirimku jauh ke eropa sana, harusnya kamu tau kalau aku lebih memilih mati di sini. Mati di antara orang-orang yang dulu masih sangat peduli terhadapku.”
“Uang yang kamu berikan, membuat tubuhku membaik. Tapi di saat yang bersamaan, uang yang kamu berikan membuat hatiku semakin luka mas. Dan kamu tau, hal itu menunjukkan kalau kamu tidak pernah benar-benar peduli.” Tandas Arini.
Ia terisak. Tangannya yang lemah menangkup wajahnya dengan rapat. Tangisnya benar-benar dalam. Baru kali ini ia bisa menumpahkan semua kemarahannya pada Sigit.
Dulu, ia berfikir dengan sakitnya, Sigit akan mulai peduli padanya. Nyatanya hari berganti, Sigit hanya mengasihaninya. Tidak ada perhatian lebih yang bisa ia berikan. Tidak ada satupun hal yang menunjukkan kalau Sigit mencintainya. Mungkin karena semuanya hanya sebuah keterpaksaan saja.
Melihat Arini yang terisak, Sigit mematung di tempatnya. Entah seperti apa ia harus bersikap. Perlahan tangannya mengepal, ia berusaha memikirkan bagaimana perasaannya saat ini.
Tanpa ia sadar, terkadang perasaan tidak perlu dipikirkan. Mereka dua hal yang berbeda yang akan menunjukkan, seseorang memiliki hati atau tidak.
******