
POV Kean
Berjalan di belakang Disa dengan tubuh basah kuyup setelah insiden tercebur danau tadi, membuat otak nakalku berpikir banyak. Aku memang sengaja berjalan di belakang Disa karena khawatir mata laki-laki lain memandangi tubuh istriku yang terlihat seksi saat basah.
Hah gila, harusnya tadi aku tidak menyuruh Disa memakai celana jeans yang body fit dan kaos polo berkerah milikku apalagi harus di masukkan ke dalam celana, karena hasilnya terlalu menggodaku.
Niatku sih agar dia lebih leluasa bergerak terlebih aku akan mengajaknya berkuda. Tapi sepertinya itu pilihan yang salah, karena ternyata hal itu malah membuatnya terlihat semakin menarik di mata laki-laki. Lihat saja lekukan tubuhnya yang terlihat jelas saat basah, aaargghhh itu benar-benar membuat mataku enggan berpaling.
Kemana saja aku selama ini. Aku kira tubuh Disa biasa saja, tidak semenarik ini. Badannya yang memiliki tinggi sekitar 160an dan berat badannya yang sepertinya proporsional, menjadi daya tarik tersendiri untuk para laki-laki. Pantas saja saat berjalan di samping Disa banyak mata yang meliriknya dan aku baru sadar sekarang.
Sebelumnya, aku tidak pernah memperhatikan bentuk tubuh Disa. Aku lebih suka melihat matanya. Karena dari matanya aku bisa merasakan ketenangan dan kehangatan di waktu yang bersamaan dan perlahan menghanyutkanku. Bening, seperti tidak ada noda di hatinya hingga aku bisa menyelam sampai ke lubuk hatinya yang terdalam walau belum tentu bisa aku selami sepenuhnya.
Tapi kali ini, semakin banyak saja hal menarik yang aku sukai dari Disa. Lalu selama ini, bagaimana cara dia menyembunyikan tubuhnya agar tidak terlihat menggoda? Bukankah sebagian besar wanita suka memamerkannya? Atau aku saja yang tidak memperhatikannya?
**!* !! Pikiranku mulai travelling kemana-mana. Sisa air yang mentes dari ujung rambut lantas membasahi lehernya membuatku iri dan ingin mengusapnya. Rasanya aku ingin membuka kepangan rambutnya agar aku tidak terus memperhatikan lehernya yang yang putih dan tercium wangi saat aku dekati. Dan ya, baru tadi aku menyadarinya. Saat berada di dalam air.
Lihat cara dia berjalan, tidak ada anggun-anggunnya. Jangan berharap dia akan berjalan melenggok di depanku, dia tidak punya keinginan sama sekali untuk menggodaku dengan cara berjalannya. Jalannya sangat cepat, untuk seukuran wanita bertubuh mungil mirip bola bekel dan sangat menggemaskan untukku. Apalagi dia yang kedinginan, sesekali bergidik dengan kedua tangan yang memeluk tubuhnya sendiri. Aaarrgghh membuat kepalaku pusing saja.
Inilah alasanku berjalan di belakang Disa. Aku ingin melindunginya dari mata laki-laki yang mungkin melihat bagian belakang tubuh Disa yang sangat menarik. Tidak, aku bahkan tidak bisa membayangkan kalau laki-laki lain menatap istriku. Pada bagian tubuh manapun.
Baru tadi dia agak jahil padaku dan membuatku terpancing hingga kami melakukan sesuatu yang menyenangkan di dalam air, hehehe... Seperti mendapat vitamin K yang disuntikan langsung ke pembuluh darahku dan membuat darahku bergolak.
Jadi ingat lagi saat Roy yang senyum-senyum sendiri di ruangannya setelah melihat foto Disa di salah satu akun media sosialnya. Sejak saat itu, aku melarang Roy memiliki akun media sosial apalagi stalking media sosial Disa. Lihat saja kalau dia masih berani, aku mengancamnya dengan pemecatan karena membangkan perintah bos. Yaa.. kalian boleh bilang aku over protective atau apalah, aku akan terima.
Lalu para security rumah yang sering curi-curi pandang pada Disa, maka aku melarang mereka untuk menemui Disa apalagi meminta makanan yang di masak oleh Disa. Aku lebih memilih menaikan gaji mereka dan menyuruh mereka beli makanan di luar saja daripada aku mendengar celoteh penuh kekaguman dari mulut mereka tentang Disa dan masakannya.
Lalu Reza, akh sudah jangan di bahas. Aku masih merasa tidak rela kalau mengingat kedekatan mereka. Dan baru baru ini bang Nasep,
“Bini lo cakep. Body-nya juga, beuh! Bini gue kalah padahal tiap hari dia diet dan senam macem-macem. Beruntung banget lo!”
Seorang Nasep yang tidak pernah melirik wanita lain selain istrinya, saat itu memberi komentar pada Disa. Kalau saja bukan kawan lama, mungkin aku sudah menghajarnya.
Dan baru-baru ini Kemal. Saat menjemput kami, aku tahu dia memperhatikan istriku. Untung saja aku meminta mobil yang berbeda dengannya jadi dia tidak memiliki kesempatan untuk berbincang Disa. Aku juga melarangnya datang ke rumah di peternakan, cukup ibunya saja yang menemui Disa.
Di pikir-pikir, kenapa aku mulai was-was? Aku seperti tidak ingin berbagi sedikitpun kesempatan untuk mereka mendekat apalagi berbagi siluete Disa dengan pikiran laki-laki lain.
Siluete, ada satu siluete yang paling aku benci. Kalian pasti ingat, siluete buatan anak gondrong itu. Lihat saja kalau sampai dia berani memikirkan yang tidak-tidak tentang Disa, aku botaki rambutnya sampai tidak bisa tumbuh lagi.
Coba masih ada lagi tidak laki-laki yang berani memandangi istriku, biar aku catat dan beri peringatan.
“A, mobilnya yang ini?”
Eh istriku yang cantik bertanya. Sampai kaget. Untung dia tidak bisa membaca pikiranku jadi dia tidak tahu kalau aku sedang menggerutu tentangnya.
“Iya.” Sahutku pendek. Segera ku bukakan pintu untuk Disa agar ia masuk. Aku tidak mau ia terlalu lama terekspose di luar seperti ini.
Aku memang sengaja pulang dengan mobil off road karena lagi, aku tidak suka saat co-pilot tadi SKSD pada Disa. Pake bilang nona manis segala lagi, mengesalkan!
Duduk di samping Disa dengan perasaan tidak nyaman. Ya aku sangat tidak nyaman sampai aku memutuskan untuk melepas bajuku dan hanya mengenakan kaos singlet.
“A, kenapa buka baju? Nanti masuk angin lo.” Disa langsung protes. Perhatian sekali.
“Gak enak bajunya basah.” Aku beralasan tidak masuk akal. Padahal baju ini aku lepas hanya untuk menutupi “adikku” yang sedari tadi bangun. Entah karena aku kedinginan atau karena aku memikirkan yang tidak-tidak tentang Disa.
“Duh kita gak bawa baju ganti ya? Harusnya tadi aku gak narik aa ke air, jadi basah deh. Maaf ya a…” lihat matanya yang puppy eyes. Astaga aku ingin mengigitnya.
“Gak apa-apa. Lagian aku suka kok tadi masuk ke air.” Aku memelankan suara di ujung kalimatku sambil memperhatikan ekspresi Disa.
Wajahnya langsung memerah, ingin rasanya aku cubit pipinya. Sepertinya dia pun mengingat apa yang kami lakukan tadi.
“Kamu kedinginan gak?” kali ini aku memperhatikan bagian depan tubuh Disa. Tunggu, kenapa sama-sama menarik? Ukurannya terlihat besar, baru terlihat saat bajunya basah.
“Nggak, aku baik-baik aja.” Aku tahu di bohong.
“Okey. Perjalanan kita cuma 15 menitan kok, nanti kita mandi air hangat.” Loh, kenapa aku mengatakan apa yang ada di pikiranku? Aaarrghh otakku mulai tidak beres.
“Iya a.” mengiyakan tapi langsung melengos. Aku yakin, dia malu.
Sudahlah, aku harus segera melajukan mobil kami menuju rumah. Angin yang sepoi-sepoi membuatku bergidik walau tidak terlalu ketara. Aku perhatikan Disa yang duduk di sampingku sambil memperhatikan jalanan yang kami lewati.
“A ini danaunya asli apa buatan?” bagus, dia berusaha mengalihkan perhatian kami. Ini baik untuk kesehatan jantungku yang sedari tadi berdebar tidak menentu.
“Ini danau buatan.”
“Dulu kakekku adalah seorang architect. Dia bermimpi ingin punya tempat seperti ini dan mamah mewujudkannya.”
“Bisa di bilang saat mamah muda, mamah sering tinggal di sini terutama saat kuliah.”
“Oh mamah dulu kuliah di jogja?”
“Hem. Sampe pasca sarjana.”
“Waw…” aku bisa melihat kekaguman di mata Disa terhadap mamah. Aku pun merasakan hal yang sama. Mamah selalu brilian dalam pikiranku. Dia wanita yang cerdas, tangguh dan kuat.
“Aku juga dulu pengen kuliah di jogja. Di sini kan banyak seniman jadi aku pikir aku bisa lebih banyak belajar tentang melukis.”
“Tapi gak kesampaian.” Disa tersenyum samar. Aku tahu itu salah satu hal yang tidak menyenangkan untuknya.
“Tapi sekarang kan kamu punya kesempatan untuk belajar. Di luar negeri lagi.” Aku jadi mengingatkannya pada kesempatan untuk belajar dengan beasiswa dari Yayasan.
“Em, iya sih.” Dia terlihat ragu.
“Bu mareta menghubungiku, katanya bulan depan aku sudah mulai bisa bersiap-siap. Menurut aa gimana?” dia balik bertanya padaku.
Aku sedikit menolehnya sebelum kembali fokus pada jalanan berbatu di hadapanku. Mungkin dia sedang meminta pertimbanganku.
“Itu kesempatan yang bagus. 2 tahun gak akan lama. Anggap saja itu kesempatan yang baik sebagai ganti waktu-waktu yang tidak menyenangkan yang selama ini kamu lewati.”
Aku berbicara dengan diplomatis tapi dia seperti berfikir.
“Aa mengizinkanku pergi?” aku mendengar keraguan dari kalimatnya.
Terangguk pelan, ya terangguk saja dulu sambil memikirkan kata-kata motivasi untuknya.
“Tentu saja. Kamu mencapai posisi ini dengan tidak mudah. Kenapa aku harus tidak mengizinkan?”
“Toh kamu juga gak selamanya ada di sana kan?”
“Akan ada libur di mana kamu bisa pulang, nengok nenek kamu dan keluarga di sini. Atau, aku sama mamah ke sana, mamah pasti seneng.”
Aku membuatnya terdengar lebih mudah. Walau aku tahu saat dijalani nanti tidak mungkin semudah itu.
“Jangan merasa terbebani sa, jalani aja. Aku dukung kamu sepenuhnya kok.”
Dia hanya menatapku tanpa mengatakan apapun. Apa mungkin dia merasa berat meninggalkanku?
Hahaha.. Jangan bilang aku terlalu percaya diri.
*****
POV Author
“A, bajunya aku taroh di atas tempat tidur yaa…” suara Disa terdengar jelas dari balik pintu kamar mandi.
“Hem.” Sahutan Kean di antara suara gemericik air.
Sepulang berkeliling, Kean langsung masuk kamar mandi. Ia ingin membersihkan tubuhnya dengan air hangat. Sementara Disa memilih mandi di kamar mandi satunya di luar kamar.
Beberapa menit mereka menikmati waktu untuk memanjakan tubuhnya. Membilas sisa tanah di kaki juga dari rasa lengket air danau.
Selesai membilas tubuhnya, Kean langsung keluar. Hanya mengenakan handuk yang melingkar di pinggangnya sambil membalurkan cologne ke wajah dan lehernya. Wangi mint ini akan sangat segar kalau dipakai setelah mandi.
“A, aku bikin teh hangat, di minum yaaa.” Disa membawakan dua cangkir teh yang ia buat, lengkap dengan cemilannya.
Ini memang cocok di nikmati untuk mengusir rasa dingin di tubuhnya.
Namun perhatian Kean bukan pada teh yang di bawa Disa. Melainkan pada penampilan Disa yang hanya mengenakan kimono mandi lengkap dengan rambutnya yang masih basah.
Salah, harusnya Kean tidak berharap Disa melepas kepangannya tadi, karena ternyata saat rambutnya di gerai dan basah, itu lebih menarik perhatiannya. Badannya sampai melilit mengikuti arah gerak Disa sejak dari pintu sampai meja kamar. Seperti ia tidak ingin melewatkan sedikitpun pemandangan indah di hadapannya.
“Tadi mbok mina nanyain, katanya aa jadi gak mau di bikinin gudeg?"
"Aku bilang aja jadi. Mungkin dia takut aa mau makan di luar.” Ujar Disa yang beralih mengambil handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya. Sedikit ia acak hingga membuatnya sedikit berantakan.
Tanpa ia sadari Kean sedari tadi terus memperhatikannya.
“Mamah juga nelpon, katanya hari ini papah dapet terapi lagi dari dokter dan kondisinya semakin baik.”
Terus Disa berbicara sambil memunggungi Kean sementara Kean mulai mendekat.
Diambilnya satu cangkir yang ada di hadapannya kemudian ia teguk perlahan tanpa mengalihkan pandangannya dari Disa.
Tidak mendengar sahutan dari Kean, Disa pun menoleh. Terlihat suaminya sedang meneguk tehnya perlahan. Tapi setelahnya ekspresinya seperti tidak senang.
“Manis gak a?” kemungkinan itu yang di tebak Disa. Mengingat ia memang hanya menambahkan sedikit gula pada teh hijaunya.
“Kurang manis.” Sahut Kean.
“Oh ya?” Disa segera mendekat. Mengambil teh miliknya dan meneguknya pelan.
“Ini manis kok?” kilahnya, menatap Kean bingung.
“Apa punya aa yang kurang manis? Mau tukeran?” tawarnya
“Aku nyicip aja.” Lirih Kean.
Di raihnya cangkir Disa lantas ia cium wangi teh hijau yang menenangkan itu. Tidak sedikitpun yang ia teguk, melainkan di taruhnya kembali teh itu di atas meja.
“Aku mau nyicipnya dari sini.” Kean mengangkat tangannya untuk menyentuh pipi Disa lantas mengusap lembut bibir Disa.
Disa hanya terpaku, balas menatap Kean yang menatapnya dengan penuh perasaan.
Sedetik kemudian, Kean benar-benar mencicip rasa teh yang tertinggal di bibir Disa. Menyesapnya dengan kuat membuat Disa hampir kelimpungan mendapati serang tiba-tiba dari Kean. Rakus sekali saat Kean mellumat bibirnya.
“Manis.” Lirihnya saat melepaskan pagutan yang membuat Disa hampir kehabisan nafas.
Disa masih terengah di tempatnya dan Kean hanya tersenyum memandangi dengan penuh perasaan. Di angkatnya tubuh Disa dan ia dudukkan di atas meja. Di gesernya baki yang menghalangi mereka.
“Apa aku bisa meminta teh ku lagi?” bisik Kean di telinga Disa.
Disa hanya mengangguk seraya memejamkan mata, merasakan sapuan lembut dari hidung Kean yang menelusur kulit wajahnya.
Tidak menunggu lama, Kean melanjutkan kembali apa yang sudah ia mulai. Mencium Disa dengan rakus, bertukar saliva saat lidahnya berhasil menerobos dan mengabsen seisi rongga mulut Disa dengan penuh gairah. Satu tangannya bergerak melepas tali piyama Disa hingga terlepas.
Perlahan, piyama yang tersampir di bahu Disapun melorot. Memperlihatkan putihnya bahu Disa yang sangat halus di usap Kean. Bulu kuduk Disa meremang sejadinya. Ia nyaris kewalahan menghadapi serangan Kean yang seperti tidak kenal ampun.
Memberi Disa sedikit ruang untuk bernafas, Kean beralih mengecupi pipi Disa, ke leher lantas ke bahu. Mengecupnya dengan penuh perasaan, menyesap wanginya yang melekat di ingatannya dan perlahan keindahan tubuh atas istrinya mulai terlihat.
Ia terdiam, seperti sedang berpikir.
“A,” Disa melihat kegelisahan yang kemudian tampak dari wajah Kean.
“Kenapa?” lirih Disa saat serangan itu tiba-tiba terhenti.
“Sa, aku gak bisa.” Suara Kean terdengar tercekat.
“SHIT!” dengusnya seraya berbalik memunggungi Disa. Ia mengguyar rambutnya dengan kasar lantas mengusap wajahnya dengan rasa marah di dalam hati.
Disa segera turun dari meja. Di hampirinya Kean setelah menalikan kembali tali piyamanya.
“A,” ia meraih lengan Kean dan mengusapnya.
“Aku minta maaf sa, tapi aku gak bisa.” lirih Kean dengan penuh sesal.
Seperti ada hantaman kecil yang membuat Disa meringis saat salah satu sudut hatinya merasakan kegetiran dari ucapan Kean. Tidak bisa memberinya keturunan, apakah berarti pula Kean yang tidak bisa menyentuhnya?
Apa ini kelemahan Kean yang diakui laki-laki ini sebelum mereka menikah?
Beberapa saat Disa berdebat dengan hatinya. Jika kali ini ia kecewa, mungkin perasaan Kean lebih dari itu. Ia bisa melihat kilatan gairah Kean yang memuncak namun tiba-tiba saja terhenti. Tidak bisa ia pastikan seperti apa perasaan Kean saat ini tapi ia yakini ada rasa bersalah yang di berkumpul di dada Kean.
“A, aku..”
“Maaf sa, aku gak bisa.” Sela Kean kemudian tanpa menoleh sedikitpun.
Ia segera mengenakan kaos polonya lantas mengambil kunci mobil yang tergeletak di atas Kasur.
Kean pergi. Meninggalkan Disa yang terduduk bingung di tepian tempat tidur. Apa ini ujian pernikahan yang harus ia hadapi? Kenapa memberinya rasa sakit? Bukankah ia sudah bersiap menerimanya?
******