
Suatu kejutan saat tiba-tiba Kean datang ke butik di sore hari seperti ini. Ia masih ragu untuk turun, hanya memperhatikan dari kejauhan, Disa yang sedang mengantar tamunya pulang. Disa terlihat akrab dengan wanita itu dan saat Kean perhatikan ternyata itu adalah Adela, adik Nita. Pantas saja mereka cukup akrab.
Lambaian tangan menjadi akhir pertemuan Disa dengan Adela. Mobil Adela pun pergi meninggalkan Disa yang masih tersenyum ke arah berlalunya Adela.
Semanis itu wanita yang Kean nikahi dan sejahat ini sekarang ia memperlakukannya. Kean tertunduk lesu di tempatnya, ada banyak sesal yang tidak bisa ia urai, terlebih setelah tahu kenyataan yang membuat mereka terpaksa bersama.
“Tuan, maafkan saya. Saya hanya mengikuti apa yang nyonya besar perintahkan. Saya mohon, maafkan saya.” kalimat itu masih terus terngiang di telinga Kean. Kalimat Roy saat mengakui kalau ia melakukan semuanya atas perintah Arini.
Sejauh itu Arini melangkah tanpa mempertimbangkan jurang yang mungkin di hadapi putranya.
Dan Disa?
Disa yang mengenali mobil suaminya berjalan mendekat menghampiri. Ia sedikit membungkuk lalu mengetuk kaca mobil suaminya.
Kean yang sedang melamun, segera tersadar. Ia menurunkan kaca mobilnya dan berusaha tersenyum pada sang istri.
“Aa, kok gak turun?” tanyanya lirih.
Melihat Netra bening itu menatapnya hangat, membuat Kean semakin merasa bersalah. Ia segera memalingkan wajahnya, pura-pura sibuk melepas seatbelt yang melingkari tubuhnya.
“Aku akan turun.” Suaranya terdengar rendah. Seperti sisa tenaganya sudah habis.
Disa menunggu dengan sabar, saat suaminya membuka pintu hingga turun dan berdiri di hadapannya.
“Aku kangen aa.” Ia langsung memeluk Kean, tanpa takut orang-orang melihat mereka.
Padahal biasanya Disa sangat malu-malu hanya sekedar untuk menggenggam tangannya di tempat umum.
Kean tidak menimpali, ia mengusap pucuk kepala Disa lantas mengecupnya. Disa menyesap kuat-kuat wangi tubuh suaminya yang sangat ia sukai. Entah sejak kapan persisnya Kean sering memakai parfum, ia tidak ingat benar. Hanya saja, wangi ini seperti magnet yang membuatnya betah berlama-lama di dekat Kean.
“Aku juga.” Hanya itu sahutan Kean. Tumben tidak gombal, sepertinya ia telah kembali menjadi Kean yang sebelumnya.
Disa melepaskan pelukannya, sedikit menengadah saat ingin menatap wajah suaminya dengan segaris senyum.
“Suamiku ganteng banget.” Lirihnya tersenyum nakal.
Kean mengusap wajah Disa dengan telapak tangannya yang besar, seraya menghela nafasnya dalam berusaha menetralisir perasaannya yang tidak karuan.
“Ih aa, muka aku ketutup semua.” Disa terkekeh geli, meraih tangan Kean dari wajahnya.
Menaruh tangannya yang lebih kecil di atas telapak tangan Kean, lantas mentautkan jari mereka dan mencengkramnya dengan kuat.
“Kita masuk yuk! Aa mau jemput aku kan? Aku ambil tas dulu.” ujarnya seraya menarik tangan Kean.
Kean mengikuti saja kemana arah langkah Disa. Disa yang berjalan di depannya, sesekali berbalik dan tersenyum dengan gemas pada suaminya. Dan Kean hanya bisa terpaku, bibirnya bahkan terlalu sulit untuk menarik garis senyum satu senti saja.
Di meja kerjanya, Mila masih sibuk dengan beberapa berkas yang tertumpuk. Seharian ini, memang banyak sekali yang di urusnya, hingga ia jarang beranjak dari tempat duduknya. Tidak terbayang kalau Disa masih sendirian mengurus semuanya, mungkin ia akan kurus kering di tempat ini.
“Tuk tuk tuk.” Disa mengetuk meja Mila perlahan. Karena terlalu fokus, ia sampai tidak sadar akan kedatangan Disa dan Kean.
“Udah jam 5, kita pulang yuk!” ajak Disa.
“Eh, tuan. Maaf saya tidak sadar kalau ada tuan.” Ucapnya yang gelagapan.
Kean tidak menimpali, bahkan dengan segaris senyumpun tidak. Baginya, semua kepercayaannya sudah hilang, baik pada Arini, Roy atau orang pilihan Roy sekalipun.
“Ambil tas mu, kita pulang.” Ujar Kean pada Disa.
“Iya a. Aa tunggu bentar ya.” Menepuk lengan suaminya pelan. Sikap Kean memang sudah biasa seperti ini pada orang lain. Baik Disa ataupun Mila, sepertinya sudah harus sangat terbiasa.
“Kak, ayok kita pulang. Besok lagi kerjanya.” Disa pun mengingatkan Mila.
“Iya dek.” Takut-takut ia melihat ke arah Kean yang terduduk di sofa tamu sambil memainkan ponselnya.
Pria itu seperti tidak melihat keberadaan Mila yang bertubuh tambun di hadapannya. Apa memang seperti itu tuan mudanya?
Perjalanan pulang di penuhi oleh suara Disa yang asyik bercerita tentang kegiatannya hari ini. Bukan tanpa alasan ia asyik bercerita sendiri, karena saat macet dan tidak ada suara itu tidak menyenangkan. Waktu jadi lamban berjalan dan kesal rasanya ikut mengantri dijalanan dalam waktu yang tidak bisa di tentukan.
“Aku sama Claire udah sepakat, kalau untuk beberapa event, aku akan ikut hadir tapi untuk event kecil, aku hanya perlu menyiapkan kebutuhannya saja, sisanya assistant-nya yang akan mengurus.”
“Terus tadi siang juga om marcel bilang, mungkin pertengahan bulan ini ia ada kontrak iklan dan dia menjadi brand ambasador-nya. Nah untuk acara peresmiannya, dia mau aku buatin bajunya. Duh jujur, aku belum pernah bikinin baju buat laki-laki selain buat aa sama damong.”
Kalimat itu meluncur bebas dari mulut Disa yang asyik bercerita. Sementara Kean masih terpaku di tempatnya, dengan banyak pikiran di kepalanya. Entah ia menangkap atau tidak isi pembicaraan Disa.
Disa menghela nafas dalam, mencoba mengerti kalau suaminya sedang banyak pikiran. Ya, mencoba mengerti adalah satu-satunya hal yang selalu bisa Disa lakukan.
“A,” Disa meraih satu tangan Kean yang tidak memegangi stir. Ia menyatukan tangannya dengan tangan Kean.
“Aku sayang aa..” ujarnya lirih. Ini penegasan kalau ia masih memberi Kean kesempatan untuk mengalihkan fokusnya.
Akhirnya Kean menoleh, mengecup tangan Disa dengan penuh perasaan.
“Kita pulang ke town house ya…” ajaknya tiba-tiba.
“Oh ya? Kenapa? Aku udah janji mau bikin kue malam ini sama mamah.” Disa mengingat benar janjinya pada Arini siang tadi.
“Kamu beli aja, delivery ke rumah. Atau minta kinar yang buat. Jangan merepotkan diri sendiri.” Kalimat Kean mengandung banyak kekesalan.
“A, aa kenapa? Lagi marahan sama mamah?” Disa menatap lekat wajah suaminya yang gundah.
Kean berusaha tersenyum, walau tidak menghilangkan perasaannya yang tidak nyaman.
“Aku lagi pengen tidur di town house." kalimat Kean seperti tidak memberi celah untuk di bantah.
"Dan kamu, untuk malam ini saja, coba untuk tidak memikirkan aku, mamah ataupun papah. Malam ini aja.”
“Jangan juga buat rencana untuk besok, nikmati malam ini untuk memikirkan diri kamu sendiri.” Kalimat Kean penuh pesan tersirat, bagi Disa tidak sulit untuk memahaminya.
“A, apapun masalahnya, jangan marah sama orang tua. Terkadang mereka memikirkan kita terlalu jauh, karena mereka merasa pernah berada pada kondisi seperti kita. Dan mereka merasa kita tidak akan memahami apa yang mereka lakukan, karena kita belum pernah berada di posisi mereka.” Satu kalimat panjang itu yang diucapkan Disa.
Kean merasa kalau ia memiliki banyak luka hingga ia tidak pernah bisa mengenali seperti apa dirinya. Tanpa ia sadari, yang duduk di sampingnya mungkin menyimpan lebih banyak luka. Karena, seseorang yang bisa menasihati dengan bijak bisa jadi ia lebih dulu merasakan banyak rasa sakit.
Hening yang kemudian mengambil alih keadaan. Hanya suara mesin yang kemudian terdengar di sela-sela suara klakson yang saling bersahutan. Kestabilan emosi benar-benar di uji dan Kean sudah kalah lebih dulu. Ia sudah tidak punya tenaga untuk marah, tenaganya terkuras habis siang tadi.
Town house, mungkin akan menjadi tempat yang lebih baik untuk ia menenangkan dirinya.
****
POV Kean
Disa,
Gadis yang aku cintai dan sangat aku hormati menjadi seseorang yang paling aku sakiti sekarang.
Aku dan Disa seperti berada dalam dimensi yang berbeda. Aku hanya bisa melihatnya, memandanginya dengan berjuta perasaan yang tidak pernah bisa aku ungkapkan. Sementara Disa bebas menyentuhku tanpa rasa ragu.
Jujur, aku sangat suka saat ia menyentuhku dengan penuh perasaan tapi di akhir rasa suka dan bahagia itu, aku menemukan rasa sesak saat tersadar kalau aku malah semakin dalam menyakitinya.
Hanya seperti ini yang bisa aku lakukan, menyentuh layar monitor dan mengusap sosok Disa yang aku lihat. Aku berharap rasa sayangku sampai kepadanya tapi jangan rasa bersalahku.
Siang ini, aku kembali mendapati kenyataan yang tidak pernah aku duga sebelumnya. Mamah, wanita yang paling aku cintai, wanita yang membuatku rela menahan sakit dari pedihnya sikap papah, menjadi satu-satunya orang yang berhasil menghujamkan pedang di punggungku.
Merasa di tipu atau dikelabui atau hal lainnya yang membuatku merasa sebagai manusia paling bodoh. Itu yang dia lakukan.
Berada pada kenyataan dimana aku harus menikahi Disa karena issue yang menyeruak bahwa aku tidur sekamar dengan Disa. Aku pikir, itu memang karena kecerobohanku dan aku harus bertanggung jawab dengan menikahinya agar wanitaku tetap terhormat.
Tapi saat ini aku baru sadar, kalau mamah lah yang merencanakan semuanya. Ia membuatku terpaksa harus menikahi Disa.
Ya, aku bilang saat itu aku terpaksa, karena memang walau sangat ingin tapi tidak seharusnya aku menikahi Disa.
Aku laki-laki sakit. Bukan secara fisik, tapi secara mental dan psikologis. Terlalu banyak orang yang melukaiku hingga aku tidak bisa membedakan mana itu rasa perih karena hujaman dan mana rasa perih karena penyesalan telah membawa orang lain masuk ke dalam hidupku yang penuh rasa sakit.
Disa tidak seharusnya ada di posisi sekarang. Aku mencintainya dan tidak seharusnya ia ikut menanggung rasa sakit yang aku punya. Seharusnya, saat ia pergi, aku memang tidak pernah menemuinya lagi. Aku biarkan dia mememui laki-laki lain yang bisa membuat hidupnya lebih bahagia.
Tapi lagi, mamah membuatku terpaksa mengurung Disa dalam sangkar emas. Aku sadar, Disa pasti merasa kalau aku adalah laki-laki egois yang perlu banyak pemakluman.
Dia salah. Aku adalah laki-laki jahat yang tidak seharusnya dia dekati. Aku bahkan tidak bisa memberinya kehormatan sebagai istriku padahal aku sangat menghormatinya.
Tentang anak, ya ini tentang anak yang aku maksudkan. Fisikku bisa memberikannya tapi psikologisku menahannya. Itu semua karena sumpah yang secara sadar aku katakan pada papah kalau aku tidak akan memberinya keturunan. Aku tidak akan membiarkan ada generasi lain setelah ku yang merasakan sakit yang sama yang aku rasakan karena sikap papah.
Tapi nyatanya sumpahku telah melukai wanitaku. Bukankah aku sangat jahat?
Akui saja, kalian pasti merasa kalau aku sangat jahat.
Aku mengatakan Roy brengsek, padahal aku lebih dari itu.
Aku bilang Reza bajingan padahal aku lebih dari itu.
Aku bilang papah jahat padahal aku lebih dari itu.
Dan aku bilang mamah tega padahal aku lebih dari itu.
Membiarkan Disa ada di dekatku tidak hanya siksaan baginya tapi bagi diriku sendiri. Kalian tidak akan tahu bagaimana sulitnya menekan perasaan yang normal aku miliki demi membuat Disa tidak semakin tersiksa. Ini menyesakkan dan nyaris tidak bisa membuatku bernafas.
Akhirnya, aku hanya bisa menangis, menangis seperti orang bodoh yang buntu, tidak bisa menemukan satupun jalan keluar.
“Tok-tok-tok.”
“A,” suara lirih itu aku kenali sebagai suara istriku. Suara yang selalu memanggilku dengan teramat lembut namun justru membuatku ngilu, perih.
Aku segera mengusap air mataku. Aku tidak ingin Disa melihatnya.
“Ehm!” aku mencoba berdehem untuk menetralisir suaraku.
“Masuk.” Sahutku sambil membelakanginya.
“A, aku udah masak. Kita makan malam yuk.”
Dengar suaranya.
Astaga kenapa aku semakin sedih? Aku tidak bisa menahan air mataku. Aku tidak punya keberanian untuk menatap wajahnya.
Ku hela nafasku dalam-dalam, berusaha agar suaraku tidak ikut goyah seperti pendirianku.
“Kamu duluan, aku akan menyusul.” Sahutku. Aku pandangi sosoknya dari pantulan kaca yang gelap karena aku sengaja tidak menyalakan lampu.
“Iya. Aku tunggu di bawah ya… Jangan lama-lama.”
Bisa aku bayangkan, dia sambil tersenyum mengatakannya. Disa, maafkan aku.
Ku tekan sudut mataku agar air mata ini berhenti mengalir. Ya tuhan, sulit sekali.
“Hem.” Beruntung aku punya sahutan andalan yang langsung di mengerti Disa.
Mendengar langkah kakinya menuruni anak tangga, aku segera pergi ke kamar. Ku basuh dulu wajah bodohku ini, agar tidak terlihat menyisakan air mata. Mukaku sedikit sembab. Jangan bertanya bagaimana bisa terpuruk, laki-laki pun bisa mengalami seperti yang dialami para wanita, contohnya aku.
Ku tatap sebentar wajahku yang kuyu. Ku tepuk-tepuk agar tidak terlalu menyebalkan. Tapi semakin lama aku semakin ingin menamparnya.
“Sh!t!!” dengusku kesal.
“A,,,” lagi aku mendengar suara Disa memanggilku. Aku tahu, dia tidak akan berhenti sebelum aku turun.
Aku segera mengalihkan pandanganku dari kaca dan segera turun menyusul Disa. Sedikit menekan hidungku yang merah, pura-pura flu.
“Loh, aa sakit?” aku yakin dia melihat mataku yang sedikit merah dan hidungku yang persis orang flu.
“Gak apa-apa, cuma agak gereges aja.” Aku beralasan. Apa dia akan menertawakanku kalau aku bilang aku menangisinya?
“Mau aku pijat-pijat gak nanti? Atau aku bikinin minuman hangat dulu ya?” Dia langsung gelagapan.
“Tidak.” Aku menarik tangannya dan mengajaknya untuk duduk.
“Kita makan aja.” Aku mambawanya duduk di sampingku, tidak di hadapanku. Aku tidak mau terus melihatnya dengan perasaan bersalah.
“Ya udah, tapi aa beneran gak apa-apa kan?” dia masih memperhatikan wajahku.
“Hem.”
“Bisa tolong ambilkan nasinya?” aku langsung mengalihkan pembicaraan.
“Oh ya ampun, bentar.”
Diambilnya satu piring yang ia isi dengan nasi lalu lauknya. Dia memasak semua masakan kesukaanku. Harusnya aku terharu bukan? Tapi kenapa malah sedih ya?
“Silakan a, selamat makan. Jangan lupa berdo’a.” ucapnya, seperti aku adalah anak kecil. Aku suka cara ia memanjakanku, tapi apakah akan selamanya?
“Kamu juga makan yang banyak.” Aku menyahuti tanpa menolehnya.
Kami makan dalam suasana hening. Sesekali aku meliriknya, memperhatikannya, seperti makan adalah ungkapan paling menyenangkan untuknya.
Disa, tetaplah seperti ini. Apapun yang terjadi, tolong jangan beranjak dari sisiku. Aku akan berusaha memperbaiki semuanya. Apa aku bisa sekali ini saja untuk egois?
****