
Beberapa hari berlalu sejak kejadian itu dan kini kondisi Kean sudah mulai membaik. Jahitan sudah di lepaskan dan berarti tugas Disa untuk menjaga tuan mudanya sudah selesai. Hari ini Kean kembali ke kantornya. Setelah 5 hari absen, ternyata banyak juga pekerjaan yang harus ia selesaikan.
Berkas-berkas penting menumpuk di atas mejanya, menunggu untuk ia periksa dan setujui. Beruntung ia memiliki asisten yang cerdas dan cekatan hingga bisa membantunya meng-handle beberapa pekerjaan.
“Tuan, buyer dari india ingin menambah jumlah pasokan kain dari kita. Sepertinya kita harus segera mengadakan rapat dengan direktur produksi.” Roy menunjukkan tablet di tangannya pada Kean.
“Permintaannya hampir setengah kali lipat dari biasanya.” Ujar Kean dengan dahi terkerut.
Perasaannya antara senang dan takut saat melihat permintaan mereka yang kerap bertambah dari waktu ke waktu. Senang, karena berarti pendapatan perusahaan akan meningkat dan takut jika mungkin ia gagal untuk mencapai targetnya.
“Benar tuan. Kalau kita bisa memenuhi permintaan mereka, ini akan menjadi sejarah pencapaian nilai kontrak tertinggi di perusahaan ini.” Roy terlihat sangat antusias. Sepertinya laki-laki di sampingnya tidak pernah merasa takut. Tentu saja, ia tidak ada beban lain jika sesuatu terjadi pada perusahaan ini.
Kean sedikit termenung, memikirkan permintaan rekanannya. Banyak hal yang harus ia pertimbangkan, tidak hanya melulu masalah keuntungan.
“Ya, siapkan rapat dengan direktur produksi, kita akan melihat sejauh mana kemampuan kita memenuhi permintaan mereka.”
“Baik tuan.” Roy langsung sigap. Sepertinya semangatnya tidak berkurang walau sudah di beri beban pekerjaan yang cukup banyak selama Kean tidak masuk kerja.
“Roy,” panggil Kean kemudian.
“Ya tuan.” Roy segera menghentikan langkahnya dan berbalik.
“Terima kasih.” Ungkap Kean dengan penuh kesungguhan.
Entah sejak kapan kata itu begitu mudah ia ucapkan . Seperti ada beban yang terbawa pergi setelah ia mengucapkan kata tersebut. Padahal biasanya dua kata tersebut menjadi kata yang mahal, yang keluar dari mulutnya.
“Dengan senang hati tuan.” Roy mengangguk hormat. Memang sangat loyal laki-laki bertubuh tegap ini. “Saya permisi tuan.” Imbuhnya.
Kean hanya terangguk dan membiarkan Roy melanjutkan tugasnya.
Kembali dengan pekerjaannya di atas meja. Berkas-berkas yang bertumpuk satu per satu ia periksa. Dahinya tampak berkerut saat ia berfikir serius dengan bibir bergumam membaca ajuan kerjasama dari beberapa importir asing yang ingin bekerja sama dengan perusahaannya.
Sedikit menekan sudut matanya yang terasa pening, makan siang terlalu kenyang ternyata membuat ia sedikit mengantuk. Kean merenggangkan otot-otot tubuhnya dan memiringkan kepalanya ke kiri dan kanan. Tidak terasa waktu dua jam sudah ia lewati dengan setumpuk berkas yang hampir selesai ia periksa.
Iseng, ia membuka ipadnya dan melihat rekaman CCTV rumahnya. Memundurkannya ke waktu beberapa jam lalu dan melihat apa yang terjadi di rumah. Terlihat Disa yang tengah menyiapkan makan siang sambil mencuci piring. Kean tersenyum sendiri, saat melihat wajah ceria Disa. Air mukanya tidak pernah murung apalagi berkerut padahal pekerjaan yang dilakukannya mungkin sangat membosankan.
Kembali memajukan waktu rekamannya ke saat ini, dan kali ini ia tidak melihat apa pun. Tidak ada Disa di rumahnya padahal biasanya jam segini Disa pasti sedang mencuci bajunya atau mengepel lantai.
“Kemana perginya gadis ini?” gumam Kean yang tampak serius memaju mundurkan waktu rekaman CCTV-nya.
Rasa penasarannya tidak bisa ia abaikan begitu saja. Ia mengambil ponsel dari dalam sakunya lalu menghubungi seseorang.
“Ya bro!” sahut suara Reza di sebrang sana.
Suaranya terdengar ceria seperti biasanya. Bukan tanpa alasan ia menghubungi Reza. Belakangan ini, sahabatnya sering main ke rumah hanya untuk bertemu dengan Disa. Mungkin saja saat ini pun Disa sedang Bersama Reza sehingga tidak ada di rumah.
Hah, Kean kembali harus mengelus dadanya kasar saat arus balik dari jantungnya kembali membawa kesesakan.
“Lo lagi dimana bro?” tanya Kean dengan malas.
“Lagi di luar. Eh bentar, “ sedikit menjauhkan ponselnya dari telinga sepertinya ia tengah berbicara dengan orang lain. “Kamu beliin kak reza sama mamah yang itu aja. Dia gak terlalu suka makanan asin, nanti darah tingginya kambuh.” Ujar Reza yang masih bisa di dengar oleh Kean.
Kean tersenyum samar, mendengar percakapan Reza sepertinya tebakannya benar kalau sahabatnya sedang bersama Disa. Baginya saat ini, cara mudah mengetahui keberadaan Disa adalah dengan menelpon Reza, sehingga ia bisa tahu Disa dimana tanpa perlu menurunkan egonya yang masih menyembunyikan kepeduliannya.
“Sorry bro, gimana?” lanjut Reza.
“Kayaknya lo lagi sibuk. Sorry ganggu, lo terusin aja urusan lo.”
“Oh ya udah. Nanti sampe galeri, lo gue telpon balik.”
“Gak usah za, gue ada meeting bentar lagi. Have fun.” Tandas Kean yang kemudian mengakhiri panggilannya tanpa mendengar jawaban Reza.
Lagi, ia mengepalkan tangannya saat membayangkan Reza sedang berduaan dengan Disa. Kembali mengusap dadanya yang terasa sesak tapi ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Sepertinya ia harus check up ke dokter untuk memeriksakan keadaan jantung dan paru-parunya. Hah sungguh, ini membuatnya tidak nyaman.
*****
Disa yang kembali dengan rutinitas di rumah utama, dimulai dari memilah baju berdasarkan jenis kain, lalu memasukkannya ke dalam keranjang dan mencucinya. Semua Disa lakukan dan tanpa terasa ia merindukan kebiasaan ini. Mengurus kebutuhan sandang keluarga kaya ini selalu menyenangkan karena rasanya bahan-bahan kain dan model baju yang disentuhnya telah memberinya semangat dan inspirasi.
Sambil menunggu mesin cuci menyelesaikan tugasnya, Disa mulai menjahit kain yang ia dapatkan dari butik Adela beberapa waktu lalu. Menggambar pola lalu mengukurnya pada kain dan mesin jahit pun mulai terdengar berbunyi.
“Bikin apa sa?” suara Nina yang terdengar dari arah pintu ruang linen.
“Eh ini na, punya kain dikit mau di jahit.” Sahut Disa yang tetap asyik melanjutkan pekerjaannya.
“Kamu bisa jahit juga? Wah ini sih kain mahal…” berdiri di samping Disa lantas memperhatikan pekerjaan Disa yang sepertinya menyenangkan.
Rasanya baru kemarin ia belajar membuat pola, menyalakan mesin jahit dan menggerakkan hambalan bawah agar mesin jahit berputar dan mulai merajut memberikan jejak benangnya.
Berbeda dengan sekarang, mesin jahitnya lebih mudah di gunakan. Hanya cukup fokus saja mengatur lajur jahit agar tetap berada pada pola yang akan di jahit.
“Gimana kalo kita juga jahit seragam baru? Sekalian kamu bikin modelnya. Siapa tau bisa kita pake pas ulang tahun tuan besar nanti.” Ide Nina memang ada-ada saja. Tapi tunggu, rasanya itu cukup masuk akal untuk dicoba.
“Boleh. Tapi kita harus izin bu kinar dulu.”
Senyum Nina langsung mengembang. “Kalo dapet izin, kamu beneran mau bikin?” tanyanya tidak percaya.
“Hem, kenapa nggak.” Mengangguk dengan yakin.
“Waaahhh asyiiikk… Nanti kita ngobrol sama yang lain dulu. Udah gitu, baru minta izin sama bu kinar.”
“Boleh.”
“Makasih sa,…” merangkul Disa dengan erat. Sepertinya ia sangat senang kalau bisa berganti seragam dengan warna lain selain dres hitam dan apron putih.
“Sama-sama na.” rasanya ikut senang kalau bisa membuat orang di sekitar kita merasa senang.
“Mba disa, mba…” terdengar suara Shafira yang memanggilnya dari kejauhan.
“I-Iya non fira.” Dengan cepat Disa mengambil kain dari atas mesin jahit dan menyembunyikannya. “Bentar ya na.” Pamitnya pada Nina. Yang dipamiti hanya ngangguk. “Saya di sini non.” Keluar dari ruang linen dan menghampiri Shafira.
“Lagi ngapain mba?” sedikit menyelidik Disa karena Wanita yang berdiri di hadapannya terlihat terkejut melihat kedatangannya.
“Em biasa non, nyuci.” Akunya seraya mengusap tengkuknya canggung.
“Ish, kamu gag jago bohong. Sini duduk.” Menepuk kursi di samping tempatnya. Ia sedikit tidak percaya dengan jawaban Disa yang terlihat ragu.
“Hehehhe…” hanya bisa nyengir kuda karena tebakan Shafira memang benar.
Menghampiri Shafira dan duduk di sampingnya. Gadis itu menunjukkan layar ponselnya pada Disa.
“Sesuai janji, aku udah daftarin mba disa buat lomba desain itu. Mba disa tinggal ngirimin 3 contoh desain untuk baju casual, formal dan pesta.” Ujarnya seraya mengetuk layar di ponselnya lalu tampilan halaman konfirmasi pendaftaran itu tampil.
“Hah, tapi non saya,”
“Tuh kan, udah pasti nolak. Udah aku bilang, mba disa mesti coba ikutan. Siapa tau menang.” Shafira masih bersikukuh dengan dukungannya.
Setelah banyaknya pekerjaan, ia nyaris lupa kalau ada lomba yang memang rencananya akan ia ikuti. Tapi hingga saat ini ia belum sempat berbicara dengan Kinar perihal izin yang mungkin harus ia minta.
“Tapi saya belum izin sama bu kinar non.” Memelankan Sebagian suaranya agar tidak terdengar seperti sedang mengadu.
“Hahahah.. Tenang aja. Aku udah maintain izin sama bu kinar. Dan dia bolehin kok. Ya walo pun keliatan agak dikit bete.” Mata Shafira mengerling kesal mengingat ekspresi Kinar saat ia meminta izin untuk Disa.
“Tapi intinya, dia ngizinin.” Kembali fokus pada kalimatnya agar Disa yakin kalau ia sudah mendapatkan izin.
“Terima kasih non fira. Terima kasih banyak. Saya tidak tau harus seperti apa membalas kebaikan non fira.” Ya akhirnya Disa hanya bisa berterima kasih. Gadis di hadapannya begitu gigih menyemangatinya, tentu ini suatu keruntungan untuknya.
“Kalau mau berterima kasih sama aku, berjanjilah satu hal.” Mengacungkan jarinya seraya menatap lekat Disa. Bibirnya tampak tersenyum tapi sepertinya ini sedikit serius.
“Berjanji apa non?” cukup penasaran juga rupanya.
“Berjanji kalo mba disa gak bakal ninggalin aku. Mau nemenin aku dan sayang sama aku.” Ujarnya dengan sedikit parau.
Melihat sorot mata Shafira yang redup, entah mengapa salah satu sudut hati Disa merasakan ngilu. Gadis cantik di hadapannya terlihat sangat kesepian. Ia sampai setengah memohon agar tidak di tinggalkan dan di abaikan. Entah seberapa dalam rasa sepi dalam hatinya yang jelas ia sangat ingin di temani.
“Tentu, saya akan selalu menemani non fira.” Kalimat itu yang menjadi jawaban Disa.
Baginya, ia dan Shafira sama-sama orang yang kesepian. Tidak ada tempat berbagi atau pun bercerita. Jika ada kesempatan yang baik untuk mendapatkan seorang teman yang baik, kenapa harus disia-siakan?
Terbit senyuman di bibir Shafira. Mendekati Disa kemudian merangkulnya. “Terima kasih mba disa. Tolong jangan tinggalkan aku dalam kondisi apa pun.” Tuturnya seraya membenamkan wajahnya di bahu Disa.
Disa terangguk pelan seraya mengusap punggung Shafira. Ada rasa sesak yang ikut ia rasakan saat mendengar kalimat Shafira barusan.
*****