Marry The Heir

Marry The Heir
Berbau



Waktu begitu cepat bergulir. Dari siang hingga matahari terbenam, waktu yang mereka lalui benar-benar tidak terasa. Seharian mereka habiskan di luar hingga akhirnya malam menjelang dan mereka sudah harus pulang.


Selesai makan malam, Kean langsung mengantar Disa ke rumah utama. Mobil Kean berhenti di depan gerbang  dan sepertinya ia tidak memiliki niatan untuk masuk apalagi menyapa menghuni rumah besar itu. Sejenak, mereka saling terpaku dengan pikiran masing-masing.


“Apa anda akan ikut turun tuan?”


Disa memberanikan diri untuk bertanya. Sedari tadi Kean hanya terdiam tanpa mau melihat ke arah rumah utama. Tangannya terlihat mencengkram stir dengan kuat dengan wajah yang terlihat dingin. Keengganannya terlalu ketara untuk sekedar masuk dan menyapa penghuni rumah.


“Masuklah.” Ujarnya tanpa menoleh pada Disa.


Untuk beberapa saat Disa menatap rumah besar yang di terangi cahaya lampu. Walau memiliki segala fasilitas mewah sepertinya Kean tidak merasa kalau itu adalah rumahnya. Harus selalu ada alasan yang jelas untuk ia masuk ke rumah tersebut. Memaksanya tentu bukan cara yang baik.


“Baik tuan. Terima kasih untuk hari ini. Selamat malam.” Akhirnya Disa pamit. Ia melepas seat belt dan Kean masih di tempatnya tanpa berreaksi apa pun.


Hingga akhirnya Disa turun dan tanpa menunggu lama mobil Kean melaju meninggalkan Disa.


Hanya bisa menghela nafas gusar. Entah apa masalah yang di hadapi keluarga ini hingga Kean begitu malas bahkan hanya untuk sekedar bertanya kabar mereka. Namun ia sadar, bukan bagiannya untuk terlibat lebih jauh. Cukup ikuti apa yang Kean katakan beberapa hari lalu, “Lakukan saja kewajibanmu dan jangan terlibat terlalu jauh.”


Ya, mungkin memang seharusnya itu yang ia lakukan saat ini.


Suasana sudah sepi saat Disa masuk ke rumah utama melalui pintu belakang dan sudah tidak ada seorang pun di dapur. Jika melihat jam, sepertinya penghuni rumah sudah masuk ke kamar masing-masing dan pekerjaan para pelayan sudah selesai.


Disa masuk ke kamarnya, melepas sepatu lalu duduk di kursi meja riasnya. Memandangi sosok dirinya di cermin dan, “Astaga!” serunya saat ia baru sadar kalau ia masih mengenakan jaket milik Kean.


Tadi, saat di perjalanan pulang Kean memang meminjamkan jaketnya pada Disa. Selama perjalanan Kean membuka atap mobilnya dan hembusan udara malam cukup menusuk hingga ke tulang. Melihat Disa yang bergidik kedinginan, laki-laki itu meminjamkan jaketnya pada Disa. Dan hingga pulang, ia lupa untuk mengembalikannya. Kean memang cukup gentle.


Disa mengusap dadanya yang terbungkus jaket Kean. Bibirnya tampak melengkungkan senyum. Ia mencium wangi jaket Kean yang sedikit bercampur dengan aroma tubuh Kean. Rupanya aroma tubuhnya melekat dengan kuat di jaket ini hingga terasa seperti Kean selalu ada di sampingnya lengkap dengan ekspresi wajah dan tatapan matanya.


Jika dipikirkan, ia memang masih belum bisa menebak seperti apa pikiran tuan mudanya. Perubahan ekspresinya bisa sangat cepat dan dalam hitungan detik saja mood-nya bisa berubah. Dalam pandangan Disa, Kean bukan tipikal orang yang dengan mudah mengutarakan isi pikiran dan perasaannya. Terkadang apa yang dia ucapkan justru tidak sesuai dengan sikap yang ia tunjukkan.Terkadang hal itu membuat Disa resah. Semua yang Kean lakukan dan katakan, terlalu mudah membekas di ingatannya dan sulit untuk ia lupakan.


Hah, apa yang sebenarnya terjadi?


Disa menangkup wajahnya dengan kedua tangan. Mengusapnya dengan kasar dan ia sadar kalau malam semakin larut. Ia melepaskan jaket yang ia kenakan lalu menggantungnya di hanger. Untuk beberapa saat masih ia pandangi dengan pikiran yang tidak menentu.


“Saya akan segera mengembalikannya tuan.” Gumamnya seraya mengusap jaket yang kini tergantung di dinding.


Memiringkan kepalanya ke kiri dan kanan saat merasakan lehernya yang pegal lantas mengikat rambutnya tinggi-tinggi. Lehernya ia pijat beberapa kali untuk mengurangi pegal. Mungkin mandi air hangat bisa merilekskan kembali otot-otot tubuhnya.


Di tempat lain, Kean baru tiba di rumahnya. Melempar kunci mobilnya ke atas meja lantas ia menjatuhkan tubuhnya ke sofa. Terduduk di sana dengan kaki terangkat ke atas meja. Ia memijat pelipisnya, cukup melelahkan hari ini namun sangat menyenangkan.


Ya, semuanya sangat menyenangkan sampai akhirnya ia harus mengantar Disa pulang dan kembali melihat rumah itu.


Setiap kali melihat rumah yang didominasi warna putih dan gold itu, hati Kean selalu berdenyut ngilu. Terlalu banyak rasa sakit saat ia membayangkan apa yang terjadi beberapa tahun silam di rumah itu. Mungkin kejadiannya sudah sangat lama dan ia masih kecil saat itu. Tapi kenangannya begitu membekas hingga rasanya begitu sulit melupakan rasa sakit dari terabaikan dan terbuang.


Akhirnya, ia memilih membaringkan tubuhnya di sofa. Pikirannya menerawang jauh, menatap langit-langit rumahnya yang berwarna putih. Banyak bayangan wajah yang muncul di benaknya, semakin lama semakin jelas dan mengingatkannya pada rasa sakit dan marah.


Kean menghela nafasnya dalam. Berusaha menekan semua ingatan itu agar kembali masuk ke alam bawah sadarnya. Perlahan ia memejamkan matanya, mengatur helaan nafasnya dan sedikit demi sedikit bayangan yang muncul di benaknya kembali pudar.


"Sudah, lupakan." gumamnya, mensugesti dirinya sendiri.


Kalau saja Reza tidak memintanya untuk menjaga Disa, mungkin ia tidak harus sampai mengantar Disa pulang ke rumahnya. Ia bisa memesan taksi dan pasti Disa sampai dengan selamat. Tapi, mengingat wajah Disa seharian ini, ia mulai ragu, apa benar Ia mengantar Disa hanya karena permintaan Reza? Bukankah ia bisa menolaknya?


“Tring!” sebuah pesan masuk ke ponselnya yang terasa bergetar di saku celananya.


Dengan malas Kean mengeceknya dan secepat itu pula senyumnya terbit.


“Selamat malam tuan, apa anda sudah sampai di rumah?” begitu isi baris pesan yang di kirim Disa.


“Hem, beberapa menit lalu.” Balasnya. Ia menaruh ponselnya di atas dada dan menunggu balasan pesan dari Disa. Ia membayangkan Disa memakai ponsel barunya dengan wajah yang masih sedikit bingung seperti siang tadi.


“Syukurlah. O iya, saya lupa mengembalikan jaket tuan. Saya cuci dulu ya tuan.” Kean kembali tersenyum membaca pesan Disa. Ia pun sampai lupa meminta kembali jaketnya yang ia pinjamkan.


“Tentu saja. Pastikan tidak ada baumu yang masih menempel di jaket saya.”


“Memangnya saya bau?” cepat sekali ia membalas. Pasti sedikit kesal.


Kean terkekeh membaca pesan balasan Disa. Bisa ia bayangkan saat ini Disa dengan mengendus bau tubuhnya sendiri dengan wajah tidak yakin yang kerap membuatnya ingin tertawa.


Benar, Disa memang sedang mencium bau tubuhnya sendiri. Ia sudah selesai mandi, masih mengenakan kimono mandinya dengan rambut yang tergulung di dalam handuk. Ia mengendus bau tubuhnya, kiri dan kanan. Rasanya tidak ada yang bau. Tapi kalimat Kean justru membuatnya ragu. Hah, semudah itu membuat Disa insecure.


“Menurutmu?” balas Kean yang membuat Disa mengernyitkan dahinya.


“Rasanya tidak tuan. Saya terbiasa mandi dua kali sehari dan mulai mengganti baju setiap habis dari luar. Jadi pasti tidak berbau.” Balasnya dengan yakin.


Kean semakin terkekeh membayangkan ekspresi wajah Disa yang kesal karena di anggap bau. Pikirannya mulai teralihkan. Ia tidak lagi memikirkan hal-hal yang menyebalkan. Mengganggu Disa ternyata cukup membuat moodnya naik.


Di sebrang sana, Disa masih memandangi layar ponselnya dan menunggu pesan balasan dari Kean. Sayang, beberapa menit berlalu Kean tidak kunjung membalas pesannya.


“Issh! Tuan muda kemana sih? Apa dia beneran mikir kalo aku bau?” rasanya Disa semakin insecure.


Daripada terus memikirkan perkataan Kean, akhirnya ia memilih menyalakan ipadnya. Mulai mendesain baju untuk ia kirimkan dalam perlombaan. Semoga saja, usahanya membuahkan hasil dan membuat masa depannya lebih baik.


Ya, semoga saja.


*****


“Selamat pagi tuan.” Sapa Disa pagi itu.


Ia berniat untuk membangunkan Kean tapi siapa sangka Kean lebih dulu turun dan sudah mengenakan pakaian olah raga lengkap.


“Pagi.” Sahutnya. Seraya menuruni anak tangga, ia sedikit memperhatikan Disa. Rasanya pagi ini Disa sedikit berbeda. Rambutnya lebih rapi, wajahnya mungkin sedikit di rias dan ini, Kean menguncupkan hidungnya saat ia berada tepat di hadapan Disa.


Ada wangi yang cukup menyengat dan mengganggu menurutnya.


“Silakan tuan.” Disa menyodorkan segelas air putih namun dengan cepat Kean menahannya.


“Di situ saja.” Tunjuknya pada meja ruang tengah. Sepertinya ia tidak ingin Disa mendekat.


“Oh baik tuan.” Sahut Disa yang segera beranjak menuju meja dan menaruh segelas air lengkap dengan air dalam tumbler untuk di bawa Kean menuju gym.


Sebelum Disa kembali ke tempatnya, Kean masih terpaku di tempatnya. Ia baru mengambil air minumnya saat Disa sudah kembali ke dapur dan melanjutkan pekerjaannya.


Satu kali tegukan air minum dalam gelas tandas sudah.


Dari tempatnya, Disa merasa kalau Kean sedang menjaga jarak dengannya. Ia mencoba mengendus bau tubuhnya sendiri tapi yang tercium adalah wangi parfum Wati yang pagi tadi dimintanya.


Sejak menerima pesan dari Kean semalam, Disa memang sedikit tidak percaya diri. Sebelum berangkat ia menemui teman-temannya dan menceritakan beberapa obrolan singkatnya dengan Kean.


“Em, kamu gak bau kok. Cuma gak wangi aja.” Ujar Tina seraya mengendus bau tubuh Disa.


“Yang bener kak? Apa bau tubuhku cukup mengganggu?” Disa semakin tidak percaya diri.


“Nggak, maksudku kamu gak tercium parfum. Itu aja. Iya kan ti?” beralih ia bertanya pada Wati yang menyimak dengan wajah yang masih mengantuk.


“Iyaa.. Hwaaaa..” ia masih menguap. Ini memang terlalu pagi untuk meminta pendapat mereka. “Kamu pake aja parfumku. Terus pake lipstick dikit. Jangan kayak orang sakit, pucet gitu.” Tutur Wati yang beranjak untuk mengambil make up-nya.


Disa membalik tubuhnya, memandangi wajahnya sendiri di cermin yang ada di dapur. Ia memang terlihat sedikit pucat karena tidak terlalu suka memakai riasan.


“Iya sih, aku agak pucet.” Menyentuh wajahnya sendiri lalu mengigit bibitnya yang berwarna pink alami.


"Sstttt." Tiba-tiba Wati menyemprotkan parfumnya pada Disa.


“Astaga ti, gak kebanyakan ini?” seru Disa yang masih memejamkan mata, mendapat semprotan parfum dari Wati.


“Nggak lah. Ini tuh wangi-wangi cewek korea gitu. Tuan muda pasti suka.” Tutur Wati. Tidak hanya itu, ia pun memoles bibir Disa dengan sedikit lipstiknya. “Udah, udah mendingan tuh.” Imbuhnya kemudian.


Disa kembali memandangi wajahnya di cermin dan memang tidak terlalu pucat kalau bibirnya sedikit berwarna.


Dan beginilah ia sekarang. Beraroma parfum dan bergincu sedikit merah. Ia kembali mencium aroma parfumnya dan sedikit berfikir, “Apa parfumnya terlalu banyak ya?” gumamnya. Ia semakin ragu dengan tampilannya.


Tapi di banding memikirkan parfumnya, ia teringat sesuatu untuk ia sampaikan pada Kean.


“Maaf tuan, tadi pak wahyu bilang, pengelola town house memberitahukan kalau saluran air sedang dalam perbaikan. Jadi mungkin seharian ini tidak akan ada air untuk mandi.” Terang Disa dari tempatnya.


“Lalu, apa sekarang tidak ada air sama sekali? Gimana kamu masak?” sahut Kean yang tengah mengenakan sepatu olahraganya.


“Untuk memasak saya bisa menggunakan air gallon, hanya saja mungkin tidak bisa mencuci piring dan alat makan yang kotor.” Terang Disa.


Kean terdiam sejenak. Ia mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi seseorang.


“Kirim beberapa gallon air minum untuk persediaan di rumah, saluran air di sini sedang mati.” Titahnya lewat telpon. Ia tampak terdiam sejenak menyimak suara di sebrang sana. “Ya boleh. Jangan terlalu siang.” Lanjutnya sekali lalu ia mengakhiri panggilannya.


“Bu kinar akan mengirim mobil pengangkut air. Jadi kamu tidak perlu khawatir.” Ujarnya kemudian.


“Baik tuan.” Disa mengangguk patuh. Semudah itu masalah domestik di atasi oleh Kean. Tentu saja berkat Kinar.


Tidak lama Kean berangkat berolah raga dengan berlari kecil. Waktunya cukup luang untuk menggerakkan tubuhnya dan mencari keringat. Sementara Disa kembali dengan tugas memasaknya sambil memikirkan parfum yang di pakainya.


*****