Marry The Heir

Marry The Heir
Perasaan yang masih sama



“Hah!” seru Kean saat selesai meneguk air teh hangat yang terakhir. “Blurp.”


“Sorry.” Ia bahkan bersendawa. Meski di tahannya, suaranya tetap terdengar.


Disa hanya tersenyum melihat cara Kean makan. Mirip orang yang tidak makan berbulan-bulan, sangat kalap. Ini baru pecel, apa kabar kalau di ajak makan nasi padang. Aih, nasi padang lagi.


“Astaga perut saya.” Kean mengusap perutnya yang kencang karena kekenyangan.


Baru kali ini ia makan sebanyak ini. Ia tidak memperdulikan keberadaan sendok, garpu dan pisau makan. Tangannya langsung yang bekerja, mencampur nasi dan lauk serta sambal di hadapannya lalu lolos masuk kemulutnya hingga mengisi perutnya sampai penuh.


Belakangan ia memang tidak berselera makan. Ia lebih banyak minum jus. Bukan tanpa alasan, hatinya selalu merasa kesepian saat ia duduk sendirian di meja makan tanpa ada Disa yang menemaninya. Dan malam ini, seperti ia balas dendam untuk setiap sesi makan yang tidak pernah ia nikmati.


“Mau air jeruk hangat tuan, supaya tidak mual?” tawar Disa yang memperhatikan Kean duduk bersandar pada kursi dengan topi yang sudah di balik ke belakang. Ternyata seperti ini sisi lain tuan mudanya yang baru ia tahu.


Salah, Kean sudah bukan tuan mudanya tapi ia masih belum terbiasa menganggap Kean bukan sebagai tuan mudanya.


“Nggak sa, perut saya sudah sangat penuh. Tidak bisa makan atau minum apapun.” Akunya dengan nafas pendek.


Disa memandangi tuan mudanya dengan dagu tertopang kedua tangan. Lucu melihat Kean seperti ini. Keringat yang bercucuran dan bibirnya yang kemerahan, terlihat sangat menarik baginya. Tidak terlihat lagi laki-laki tampan yang selalu tampil sempurna dengan rambut klimis dan wangi. Tidak ia pungkiri, Kean yang seperti ini ternyata lebih menarik.


“Makan kamu sedikit?” Pandangan Kean teralih pada piring Disa. Hanya ada sedikit tulang belulang ayam yang tertinggal di piringnya tidak seperti piring miliknya.


“Saya makan cukup kok tuan.” Akunya. Harus ia akui, ia memang lebih banyak memperhatikan Kean alih-alih makan. Melihat Kean yang makan lahap saja sudah membuatnya kenyang dan itu lebih dari cukup.


“Kita jalan ya, saya mulai mengantuk.” Mata Kean terasa begitu berat. Setelah makanan sebanyak itu masuk ke perutnya, beban mulai naik ke matanya. Dan berjalan-jalan mungkin bisa menghilangkan rasa kantuknya.


“Baik tuan.” Disa mengangkat tangannya untuk memanggil pelayan.


“Gimana kak? Nambah?” tanya anak tadi dengan wajah sumeringah melihat makanan di atas meja hampir tandas seluruhnya.


“Nggak, saya udah kekenyangan. Minta bill-nya.” Setelah kenyangpun ternyata Kean masih sinis pada orang lain.


“Di kata café pake bill, nih saya tulis di sini.” Anak itu menyodorkan selembar kertas nasi yang berisi rincian harga dari makanan yang di santap Kean.


Terlalu murah bagi Kean untuk makanan yang membuatnya kekenyangan. Ternyata tidak harus makanan berharga mahal yang bisa membuat ia bisa menikmati makanannya.


Diambilnya beberapa lembar uang berwarna merah yang kemudian ia taruh di atas kertas nasi.


“Wah ini sih kebanyakan om.” Seru anak itu, masih saja memanggil om.


“Ambil kembaliannya sebagai tips.” Kean langsung beranjak, sudah tidak tahan dengan rasa kantuknya.


“Ini beneran?” seru anak itu.


Disa yang mengiyakan. “Makasih ya, makanannya enak. Semoga jualannya laris terus.” Ucap Disa mewakili Kean.


“Iya kak sama-sama. Semoga rejekinya tambah banyak.” Sampai terbungkuk-bungkuk anak itu mengucapkan terima kasih.


“Heheheh.. Iya sama-sama.” Padahal bukan ia yang memberikan uang, tapi rasanya sangat menyenangkan melihat ekspresi semacam ini. Jadi ingat pada ekspresinya sendiri saat mendapat uang tips dari pengunjung taman hiburan. Mungkin tidak jauh beda dari anak ini.


Disa berlari kecil mengejar Kean yang sudah berada di dalam mobil. “Maaf menunggu tuan.” Langkah kakinya yang lebih pendek membuat Disa tertinggal.


“Tidak masalah. Kamu mau kemana sekarang? Belum ngantuk kan?” eh tumben pertanyaannya santai? Apa karena kenyang, mood-nya jadi bagus?


“Belum tuan.” Disa menggeleng.


Kean tersenyum tipis, lantas mulai menyalakan mesin mobil. Kemana arah tujunya, kita lihat saja nanti.


“Lain kali, kita kembali ke tempat ini.” Ujarnya seraya memberi klakson tanda pamit.


“Baik tuan.” Sahut Disa sepakat.


Mulai melajukan kembali mobilnya ke jalanan. Melihat suasana jalanan yang tidak terlalu ramai, membuat Kean berfikir untuk pergi ke suatu tempat. Beruntung ia percaya dengan Disa masalah tempat makan hingga ia bisa menikmati sensasi makanan yang berbeda yang belum pernah ia temukan sebelumnya.


Menikmati malam yang hangat, Kean memutuskan untuk pergi ke tempat yang pasti akan membuat Disa senang. Benar saja, Disa langsung terlonjak girang saat mengenali tempat yang mereka datangi.


“Astaga! Kita ke sini?” serunya saat Kean menepikan mobilnya di halaman parkir sebuah pantai.


“Hem, turunlah.” Sahut Kean.


Disa segera turun, dan berlarian di sekitar tempat parkir seperti anak kecil yang kegirangan. Ia melepas sandalnya dan lebih memilih menentengnya agar bisa merasakan lembutnya pasir yang ia pijak.


Kean yang mengikuti di belakangnya, jadi tersenyum sendiri melihat Disa yang begitu senang. Sesekali Disa jalan jinjit, memberi jejak yang lebih dalam di atas hamparan pasir, sesekali juga ia berputar seraya merentangkan tangan menikmati wangi angin yang berhembus membelai wajahnya. Sudah cukup lama ia tidak datang ke sini dan rasanya sangat rindu.


Melewati jembatan kayu yang di terangi cahaya lampu, Kean dan Disa berjalan bersisihan. Bibirnya tidak henti tersenyum melihat bintang-bintang yang saling berkedip menyemarakkan deburan ombak laut. Ombak yang berkejaran dan sesekali pecah di bibir pantai, membuat suasana hati Disa semakin membaik.


Beberapa hari ini ia mengurung diri di kamarnya. Mewujudkan desainnya yang baru berjalan 80% dan hanya di temani music jazz yang sesekali ia perdengarkan. Baru kali ini ia merasa terlepas dari sesuatu yang mengungkungnya walau masih bisa ia nikmati. Tapi berada di alam bebas, membuat jiwanya terasa semakin hidup. Banyak inspirasi yang kerap mampir di pikirannya.


Kean masih berdiri mematung memandangi deburan ombak. Sementara Disa sudah terduduk di bangku favoritnya. Ia memperhatikan Kean yang sedang mengatur nafasnya untuk mengusir kantuk. Wajahnya yang tenang dan senang memberinya rasa hangat yang membuat Disa enggan untuk mengedipkan matanya.


Kean dan laut, dua hal yang membuat jiwanya terasa hidup.


“Sudah tidak ngantuk tuan?” tanya Disa saat Kean duduk di sampingnya.


“Em, nggak.” Sahutnya, tanpa melepaskan pandangannya dari pantai. “Rasanya saya mulai paham kenapa kamu suka datang ke tempat ini.” Kali ini Kean menoleh Disa dan menatapnya cukup laman.


Seperti ada kejutan kecil di jantungnya yang membuat rongga dada Disa berbedar dengan cepat.


“Setiap orang memiliki perasaan tersendiri saat melihat pantai. Tapi satu hal yang pasti sama, yaitu ketenangan.” Aku Disa.


Sejenak ia menatap Kean dengan senyum tipisnya, mengusap rambutnya yang terbang menutupi sebagian wajahnya lantas kembali menujukan pandangan ke laut lepas.


Kean jadi tersenyum sendiri melihat wajah cantik yang berada di bawah terang bulan.


“Kamu sudah memikirkannya?” tanya Kean kemudian.


Sebenarnya Disa masih ingin menikmati masa dimana ia tidak perlu memikirkan apapun, hanya menikmati apa yang terjadi di hadapannya. Tapi Kean sepertinya sudah tidak sabar mencari tahu apa yang Disa pikirkan.


“Saya, tidak bisa membayangkan seperti apa perasaan kamu saat ini. Saya juga minta maaf kalau cara mamah saat ini terasa seperti menjebak dan memaksa kamu.” Kean berusaha menetralisir suasana yang canggung.


“Saya cukup mengenal mamah, seseorang yang tidak mudah menaruh kepercayaan dan rasa sayangnya pada orang lain, tidak jauh berbeda dari saya.” Kean tersenyum di ujung kalimatnya.


“Tapi bisa saya pastikan, kalau kasih sayang mamah terhadap kamu itu tulus tanpa alasan apapun.”


Satu penegasan yang membuat Disa beralih untuk menatap tuan mudanya. Laki-laki itu sedang memandanginya dengan hangat, membuat perasaan Disa sama bergemuruhnya dengan deburan ombak.


“Belakangan ini mungkin mamah sedikit berlebihan memperlakukan orang-orang di sekitar kamu tapi percayalah, mamah tidak pernah bermaksud merendahkan atau mengasihani siapapun.”


Kali ini tentu tentang langkah Arini yang tiba-tiba mengirimi keluarga Disa banyak barang. Kean sudah melarangnya karena mungkin Disa dan keluarganya akan tersinggung. Tapi Arini tidak bisa di bantah. Ia sangat percaya kalau pikiran Disa tidak sesempit itu.


“Jangan merasa terbebani dengan apa yang mamah lakukan. Mamah tidak bermaksud membuat kamu merasa berhutang budi atau semacamnya hingga memaksa kamu untuk mengiyakan permintaan mamah. Kamu masih tetap bebas memilih sa.”


“Kalaupun pilihan kamu adalah tidak, saya akan tetap berusaha memperbaiki semuanya. Kamu bisa tetap pergi ke paris untuk belajar desain, tanpa harus terpengaruh oleh hasil kompetisi ini.”


“Ya, saya tahu, ini tidak cukup untuk memperbaiki kesalahan yang saya buat, dengan mempertaruhkan nama baik kamu dan kehormatan kamu di hadapan banyak orang.”


“Tapi, saya lebih menghormati pilihan kamu. Saya tidak mau membuat kamu merasa di jebak, apalagi membuat kamu merasa harus menanggung kesalahan yang saya buat. Saya menjaga itu.” tutur Kean dengan penuh kesungguhan.


Pada titik ini, Disa merasa Kean melakukan ini bukan karena permintaan Arini. Mungkin ini yang berbeda dari keraguannya terhadap Reza dulu. Cara Kean memikirkan perasaannya, menghormatinya dan memperlakukannya dengan cara yang istimewa, Disa Yakini tidak akan pernah ia dapatkan dari laki-laki manapun. Padahal dengan kekuatan dan kekayaan yang ia punya, bisa saja Kean melakukan hal yang sebaliknya.


Tanpa sadar, ia jadi memperbandingkan dua perhatian laki-laki yang sempat membuat jantungnya berdebar kencang. Salah kah ini?


“Tuan,” masih ada yang mengganjal perasaannya dan harus ia tanya.


“Hem,.” Kean masih menatapnya laman. Hangat dan penuh perasaan.


“Saat dulu tuan meminta saya menunggu, apa itu hanya sebuah permainan untuk membuat saya senang padahal tuan tidak pernah berfikir untuk adanya sebuah pernikahan?” pertanyaan itu lolos dengan sulit dari mulut Disa.


Kean menghela nafasnya dalam lantas menggelengkan kepalanya.


“Tidak sa. Saya tidak pernah bermaksud mempermainkan kamu."


"Saya bersungguh-sungguh saat meminta kamu menunggu. Tapi dalam perjalanannya, saya sadar kalau kamu tidak berkewajiban menanggung kekurangan saya.” terdengar tulus Kean mengucapkannya.


“Apa tentang tidak bisa memberi saya keturunan?” Disa mengunci pertanyaan dan pandangannya pada Kean.


Kean terangguk lemah, lantas menunduk. Tidak tega melihat sorot mata lekat itu.


Disa terangguk paham. Ia jadi teringat kejadian saat pertama kali ia bertemu Kean. Ia menyumpahi laki-laki itu dengan penuh kemarahan. Apa saat itu tuhan mendengarnya? Atau malaikat mencatatnya?


Disa menengadahkan wajahnya menatap langit malam yang di penuhi bintang. Pikirannya masih berkecambuk. Ia tidak mau menerima Kean hanya karena rasa bersalah atas ucapannya. Ia harus memikirkan konsekuensinya di masa depan. Mungkin seorang anak bisa ia dapatkan dengan adobsi atau semacamnya tapi, apa rasanya akan sama? Bisakah ia bertahan dengan tidak mengatakan kalau anak itu bukan anak yang lahir dari rahimnya?


Terlalu jauh, ya pikirannya memang terlalu jauh. Tapi ini harus ia pikirkan. Karena sebuah pernikahan itu tidak hanya tentang kesenangan berada di samping orang yang kita cintai. Tapi tentang menjaga komitmen untuk bertahan dalam kondisi tersulit sekalipun.


Hingga kembali ke hotel, Disa belum memberikan jawaban apapun. Keduanya masih terdiam, asyik dengan pikiran masing-masing.


Sesekali Kean memandangi wajah wanita yang berjalan di sampingnya. Serius dan berfikir dalam. Ia tahu, ini pilihan yang sulit bagi Disa.


Masih teringat jelas saat bibi dan neneknya mewanti-wanti Disa agar memiliki anak yang banyak sehingga tidak merasa kesepian di masa tuanya nanti. Akh, Kean jadi benar-benar menyesal telah melakukan hal itu beberapa hari lalu. Harusnya tidak berakhir seperti ini bukan?


Tiba di depan pintu kamar Disa, keduanya saling membisu. Mereka saling berpandangan seperti banyak yang ingin diutarakan namun entah harus memulainya dari mana. Disa memberinya senyuman tipis yang membuat Kean refleks membalasnya.


“Terima kasih untuk hari ini tuan.” Lirih Disa sebelum berpamitan. Rasa lelah yang ia rasakan beberapa hari ini mendadak hilang. Seperti sebagian bebannya telah pergi.


“Hem, terima kasih kembali.” Sahut Kean. Rasanya berat beranjak pergi dari hadapaan Disa.


Hal tidak di duga terjadi, saat tiba-tiba Disa berjinjit dan mengecup pipi Kean. Hanya sekian detik namun mampu membuat Kean terpaku untuk beberapa lama.


“Selamat malam tuan.” Ujarnya dengan wajah merah padam, menahan malu.


Ia menggigit bibirnya sendiri seraya menutup matanya rapat untuk beberapa saat. Entah dorongan apa yang membuatnya melakukan hal itu pada Kean. Bukankah harusnya ia tidak membuat satu sama lain semakin bingung?


“Disa,” Kean menahan tangan Disa saat gadis itu akan berlalu.


“Ya saya.”


Susah payah sahutan itu Disa ucapkan. Ia mengeratkan genggaman tangannya, berusaha menahan hatinya yang semakin bergejolak karena Kean memegang tangannya.


“Akhiri ini disa, jika kamu ragu.” Bisik sesuatu dalam pikirannya. Seperti rencananya, ia harus tegas.


Sayangnya, hatinya berkebalikan dengan pikirannya. Perasaannya semakin kukuh dan yakin.


Kean memegangi bahu Disa lantas membalik tubuh Disa menghadapnya. Memakaikan hoodie hingga menutup kepalanya dan hanya terlihat wajah Disa di hadapannya.


Dalam beberapa detik, ia mendekatkan tubuhnya pada Disa, sedikit membungkuk membuat jarak yang sangat dekat antara keduanya. Tidak membuang waktu, hingga ia mengecup bibir Disa lembut.


Satu kecupan hangat membuat tubuh Disa menegang, pikirannya kosong dan bodohnya ia tidak menolak. Kean melepaskannya sejenak, menatap wajah Disa yang memerah dan sangat ia sukai. Kean kembali mendekat, mengecup untuk kedua kalinya.


Disa sadar apa yang terjadi di antara mereka, namun ia tidak menolak karena memang tidak ingin menolaknya.


Kecupan Kean berubah menjadi pagutan yang menyesap setiap sudut bibir Disa dengan penuh gairah. Sedikit berbalas untuk beberapa saat sampai Disa terengah kepayahan membuat Kean harus menyudahi apa yang ia mulai.


Menempatkan dahinya di dahi Disa, ia berusaha mengatur nafasnya yang memburu. Di tatapnya mata Disa yang bening dengan jarak yang sangat dekat hingga bulu mata keduanya nyaris bertautan.


“Apa ini artinya ya?” bisik Kean yang membuat bulu kuduk Disa meremang nyaman.


Disa tidak menimpali, ia hanya mengangguk pelan mengiyakan pertanyaan Kean. Ya, ini pilihanya dan ia sangat yakin dengan pilihannya. Bukan karena gairah sesaat tapi karena perasaannya masih sama untuk Kean. Ia sudah berjalan sejauh ini, berusaha melepaskan Kean seutuhnya namun nyatanya keadaan membuat mereka di hadapkan pada pilihan untuk bertahan. Mungkin ia memang harus mengambil resiko, agar kelak tidak menyesal, menghentikan langkah di tempat seharusnya ia terus berjalan dan bertahan.


Maka, inilah pilihannya. Bertahan dengan Kean.


Kean tersenyum senang. Di peluknya Disa dengan erat. Ia tidak lagi memperdulikan jika CCTV menangkap apa yang mereka lakukan.


“Terserah!” pikirnya.


Ia hanya ingin menikmati masa ini, masa dimana mereka bisa memiliki satu sama lain sebagai kekasih yang saling mencintai, tanpa ada rasa sesal di kemudian hari karena melepaskan seseorang yang seharusnya mereka pertahankan.


“Terima kasih sa, terima kasih.”


*****