Become A Human In Another World

Become A Human In Another World
ACT 2: EPILOG



"Ren! Ren!" Aku mendengar sebuah suara yang terus menerus memanggilku.


Selain itu, aku juga merasakan dingin di kakiku, tapi juga hangat yang menyelimuti wajahku. Aku masih belum bisa menguasai tubuhku, tapi aku sudah bisa membuka mata, melihat ke sekeliling.


("Ahh, matahari kah? Aku tidak bisa tidur hingga matahari terbit. Aku harus segera latihan.") aku merasa seperti sangat lama tidak melihat matahari.


Dan hanya dengan melihat matahari hari ini, aku merasa tenang.


"Ren!!" aku merasakan badanku yang dipeluk oleh seseorang, dan aku tahu itu siapa.


"Syukurlah kau bisa kembali dengan selamat!" kak Edna, tersenyum sambil menangis, memeluk perutku. aku hanya bisa melihat ke langit, yang mulai membiru.


"Begitu kah? Jadi ini semua? Sudah berakhir?" aku hanya menggumam perlahan.


Aku mulai ingat semuanya. Ingat apa yang terjadi, dan keadaan yang menimpa kami sekarang. Selain itu, aku juga sudah ingat dan menerima kenyataan yang ada sekarang.


"Yosh yosh! Sudah cukup, jangan menangis lagi!" kataku sambil mengelus kepala kak Edna yang masih ada di perutku.


"Hummm!!! Aku bukan anak kecil!" teriak ha marahz menggembungkan pipinya.


Aku hanya tertawa kecil, mengingat aku bisa melakukan hal seperti ini lagi.


Aku berusaha bangun, untuk mendudukkan diriku. Badanku masih terasa sakit di beberapa bagian, tapi sepertinya itu bukanlah luka. Itu seperti efek samping dari "sesuatu" yang aku gunakan tadi.


"Ren, rambutmu?" kak Edna memegabg rambutku sedikit, mungkin menyadari sesuatu.


Aku juga tak urung penasaran dengan apa yang terjadi dengan rambutku, aku membuat es yang dapat memantulkan cahaya seperti kaca, membuatnya menjadi cermin untukku.


"Ohh, rambutku menjadi hitam secara acak." Aku menutup mata pelan, menyadari sesuatu. Rambut putihku kini menjadi hitam di banyak tempat, membuat warna hitam adalah dominan, dengan beberapa tempat yang masih tetap putih.


"Selain itu, Ren. Di mata kananmu warnanya aneh." tanggap Edna.


"Ya. Pupil mata kananku yang dulunya merah, kini berubah menjadi hitam. Itu lebih baik daripada seluruh mataku menjadi hitam. Jujur, itu mengerikan!" aku hanya bisa bergidik membayangkan diriku dengan warna mata hitam.


Tapi tidak ada masalah dalam penglihatan untuk mataku, yang kini menjadi berbeda warna mirip penderita heterochromia.


Kak Edna tertawa mendengar itu, lalu menyingkir dari atas perutku.


"Kalau kau sudah kembali, itu lebih baik." dia tersenyum senang.


***


Aku mengetahui keadaan nya sekarang. Ketika aku mulai berubah menggunakan [Armor the God of Darkness]. Lewat kak Edna, aku juga tahu bahwa aku yang menghabisi semua monster saat aku berubah. Aku cukup penasaran apakah aku naik level.


Sementara itu, aku berusaha untuk mengaktifkan [Sanctuary]. Tapi sayang, berusaha berkali kali pun aku tidak berhasil mengaktifkannya.


Selain itu, aku juga merasakan sesuatu yang aneh dalam diriku. Sudah kuduga, aku harus menggunakan status.


"Sebentar, kak Edna. Ada yang aneh dalam diriku. Aku ingin menggunakan status." aku berdiri, menahan kak Edna untuk pergi.


"Status!"


...Nama: Ren Larvest...


...Level: 35...


...Ras: Human...


...Job: Dark Hero...


...Title: "Analyzer" "Imposter" "One who become one with nature" "Shadow Hero" "Dragon Killer" "Who Can be so Sadistic" "The Prince of Demon" "Dark Magic Controller" "Dark Hero" (Dapat dipilih 2)...


...HP: 6.780 MP: 231.590...


...Strength: 96 Agility: 134...


...Deffence: 190...


...Skill: [Transmutation], [Evaluator], [Trap], [Fake], [Search], [Sharp Hearing], [Sharp eyesight], [Observer (Mimic)], [Seduce], [Interogate], [Fehl Channeling], [Magic Damage Absorber], [Critical Perception], [All Map Exploration], [Change], [Replacement], [Sacred Weapon Authority], [Dragon Intimidate], [I am the Sadistic], [Armor the God of Darkness], [Duality], [Dark Magic Control]...


Uhh, aku hampir kehilangan kekuatanku kembali. Aku hanya bisa sempoyongan, dan mulai terjatuh.


"Ren? Ren?! Kamu baik baik saja?" Ibu jelas khawatir padaku, segera memapah ku.


"Tidak. Ini benar benar tidak baik. Ini sangat buruk! Ini sangat buruk!" aku ingin teriak, kenapa ini terjadi padaku!!


Kami semua saling berpandangan, dan sepertinya mereka ingin penjelasan dariku.


"Aku kehilangan kemampuan untuk menggunakan Light Magic!" aku hanya bisa menunduk sedih.


Yahh memang kemampuanku juga meningkat pesat dengan adanya Armor tadi, tapi aku juga memiliki beberapa kekurangan, seperti tidak bisa menggunakan Light magic. Dan jika aku teliti lagi, salah satu skill [Healing Field (Small)] juga menghilang! Selain itu, aku juga mendapat title aneh seperti "The Prince of Demon"!!


Tapi sepertinya yang lain tidak paham apa yang terjadi, jadi aku tidak akan menjelaskan lebih lanjut.


"Yahh, untuk saat ini, mari kita bereskan ini terlebih dahulu. Mereka layak mendapat tempat yang terbaik." aku berdiri lagi, membawa Ayah, kak Ruly, dan Syila yang sudah meninggal. Tak lupa, aku kembali ke tempat paman Childe berada, dan ikut membawanya.


Itu sedikit mudah karena menggunakan sihir.


Ada satu tempat yang aku tahu sempurna. Di puncak bukit, dibawah pohon, tempat banyak kenangan berada. Aku yang mengurus semua pemakaman mereka, karena jelas tidak mungkin aku menyerahkan ini pada ibu atau kak Edna.


Suasana pemakaman menjadi mengharukan, ketika ibu dan kak Edna mulai menangis.


Aku juga sedih, tapi sepertinya air mataku sudah kering, tidak bisa lagi keluar. Aku juga masih merasa sakit dan membenci diriku sendiri yang tidak bisa menyelamatkan mereka. Tapi aku tahu, itu adalah takdir.


Takdir adalah sesuatu yang kejam.


Aku ingin Ibu dan kak Edna menunggu, sambil menenangkan diri.


Sementara itu, aku akan melakukan beberapa hal yang ada di duniaku yang dulu, seperti memberi bunga, dan memberi salam penghormatan.


Aku menyatukan kedua tangan, membungkuk sedalam mungkin. Aku memberikan penghormatan terakhirku pada mereka, dan juga-


"Selamat tinggal." aku mengangguk dalam diam, lalu pergi menyusul ibu dan kak Edna.


Sepertinya mereka berdua sudah tenang, tapi tergambar jelas kesedihan di wajah mereka.


"Baiklah, ayo kita pergi." aku mengajak mereka. Tunggu! Aku bahkan belum mengatakan rencananya, dan apa yang akan kami lakukan kedepannya.


"Apa kamu sudah memiliki ide, Ren?" sudah kuduga kak Edna akan bertanya.


"Yahh, kau tahu aku sudah mendapat petunjuk- siapa pelaku yang melakukan ini semua. Jujur saja, aku ingin balas dendam." aku mengingat orang dengan title "Apostle" itu.


"Tapi, jelas kalian adalah orang yang aku utamakan sekarang. Masalah tadi, akan aku kesampingkan."


"Dan akan berbahaya jika kita terus disini, selain itu akan berbahaya juga untuk kita memunculkan muka ke masyarakat." jelasku.


"Uhh, kau benar Ren. Ibu pikir pelaku pasti akan menutup mulut semua saksi yang ada." Ibu kini mulai angkat bicara.


Ya. Situasinya cukup sulit sekarang. Kami tidak bisa bergerak sebagai warga Eldergale. Benar benar akan sulit untuk melewati pemeriksaan sekarang.


"Ya. Jadi, kita kemungkinan akan pergi ke tempat kelahiran ibu." aku membuka peta dari dalam inventory, lalu menunjuk lokasinya.


Kota Weinien, yang merupakan kota kecil dekat Pelabuhan Droyn.


Kota itu sebagian besar berisi Manusia dan Half, yang membuat kota itu tidak ada diskriminasi besar. Selain itu, akan mudah bagi ibu untuk hidup tenang di sana.


"Tapi, kita harus menuju Furyuun dulu. Aku tahu, ini sangat jauh, tapi kita harus melakukannya. Karena di sana ada Suzu, yang harus tahu keadaan kita sekarang. Tapi sayang, kita tidak akan bisa menetap di Furyuun." aku sedikit menyayangkan.


Selain itu, aku meninggalkan Aina disana. Padahal dia bisa menjadi pion penting jika aku ingin melawan "Rasul" itu.


"Baiklah, Ren. Kami akan mengikuti mu. Dan juga kami akan berusaha untuk tidak menghambatmu." jawab kak Edna.


Aku hanya bisa tersenyum, ketika aku memiliki keluarga dan beberapa rencana yang baik.


Aku pasti akan memburu orang itu. Temannya, keluarganya, kenalannya, jika mereka berhubungan dengan kejadian ini, aku tidak akan ragu.


Aku akan membunuhnya.