
Kami pergi dari desa Conia segera setelah aku sadar kembali. Aku ingat bahwa aku baru saja bertemu dengan orang orang dari Kultus. Aku juga ingat perempuan membawa sabit besar yang mengerikan.
Tapi aku juga benar benar kehilangan emosiku disini.
Yang terpenting, kami bertiga segera pergi ke ibukota secepatnya. Penyakit ibu adalah hal yang utama disini.
Selain itu, aku juga mendengar cerita dari kak Edna, bahwa dia benar benar melupakan siapa aku saat itu, dan ibu yang mengingatkannya. Aku awalnya tidak percaya, tapi ibu menambahinya.
"Edna bilang dia siapa" begitu kata ibu. Ini sedikit aneh, karena bahkan aku juga sempat lupa siapa diriku saat bangun.
Hanya ibu yang menyadarinya, apakah ini adalah ikatan ibu dan anak? Itu luar biasa.
Aku tetap menyembunyikan tentang balas dendam ku pada Gordo malam itu terhadap kak Edna ataupun ibuku. Aku tidak ingin membuat mereka khawatir.
Tapi ada satu hal yang aku tutup rapat rapat.
Aku bertemu dengan orang yang ada di Furyuun dulu, orang dengan tombak hijau yang misterius.
Dan sudah kuduga, dia bersama dengan High Priest disana. Dan aku juga yakin, High Priest itulah yang membangkitkanku.
"Ren Larvest!" aku sedikit terkejut saat itu, ketika nama asliku dipanggil dengan keras.
Aku sedang berlatih sihir di pinggir sungai saat itu, jadi aku tidak bersiap apapun. Tapi orang ini benar benar mengerikan. Dia tidak terdeteksi olehku sama sekali. Itu menunjukkan level kekuatan yang jauh berbeda denganku.
"Siapa Anda?!" aku tidak menurunkan belati dan pedangku, berjaga jaga.
"Yahh, sebut saja aku Kei. Aku adalah orang yang sama sepertimu, jadi turunkan senjatamu. Itu benar benar membuatku tidak nyaman." kata orang itu sambil tertawa.
Dia melayang perlahan, turun dan akhirnya berdiri di hadapanku.
Memang benar, dia tidak memiliki niat membunuh atau kebencian apapun, tapi bahkan aku juga bisa menghilangkannya seperti ini. Ups! Aku mulai sulit mempercayai orang. Tapi apa boleh buat, dia sudah menyelamatkan ku dulu.
"Pertama tama, saya mengucapkan terima kasih banyak karena telah menyelamatkan saya dan Furyuun saat itu. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi jika anda sekalian tidak ada di sana saat itu." aku menundukkan badanku, memberi hormat.
Dia terlihat sedikit bingung. Jangan bilang dia sudah melupakannya? Tidak, bukan?
"Ahh, itu. Baiklah. Itu tidak penting. Aku tidak suka basa basi dan bahasa formal. Jadi jangan gunakan itu lagi, dan aku juga akan langsung menuju intinya." katanya sambil mulai duduk.
Wajahnya benar benar serius. Apa ini tentang aku yang membunuh Gordo setelah itu? Apa itu membuatnya tidak senang? Aku harus menjaga sikap!
"Jangan gunakan skill yang berhubungan dengan Wrath lagi." katanya singkat.
Eh? Dia mengatakan "Wrath"? Kenapa dia bisa tahu? Itu adalah skill yang kuat, tapi menggunakannya akan memberikan kutukan besar padaku.
Orang ini, apa dia tahu sesuatu?
"Aku bisa tahu dari wajahmu, kau bertanya tanya bukan? Aku tahu kamu menggunakan skill itu kemarin, dari badanmu yang tertutup perban. Itu pasti Air Suci, yang kamu taruh ke seluruh tubuhmu, bukan?"
"Aku juga tahu bahwa kamu membunuh seseorang bernama Gordo, dan lari dari wanita pembawa Schyte. Jadi secara teknis aku tahu apa yang kau lakukan." katanya tenang.
Ugh, aku tidak bisa menyangkal kata katanya. Yang bisa aku lakukan sekarang hanyalah diam.
"Kamu pasti bertanya, kenapa aku bisa tahu? Itu karena saat itu kamu menggunakan skill yang berhubungan dengan "Wrath". Itu terhubung langsung denganku, jadi aku bisa tahu apapun yang kamu lakukan jika kamu menggunakan skill itu." dia tersenyum kecut.
Apa itu? Bukankah tidak ada privasi disini? Tapi biarlah. Sepertinya dia mendapat dampak buruk disana, terlihat dia tidak terlalu menyukai itu.
"Aku tahu semua yang berhubungan dengan amarahmu, jadi aku membiarkanmu saat ini membalaskan dendam pada Kultus. Aku juga tidak akan ikut campur."
"Tapi kekuatan yang besar, pasti ada bayarannya, kau tahu? Kamu mungkin hanya berpikir itu cuma terjadi di tubuhmu yang terkena kutukan. Tapi kenyataannya bukan begitu." katanya sambil melempar lemparkan pisau kecil di tangannya
Sepertinya orang ini tahu banyak, aku akan memutuskan setelah mendengar ceritanya. Juga lebih aman untukku seperti itu.
"Itu tidak hanya memberikan kutukan. Itu juga mengambil ingatan orang yang menggunakannya." dia melepaskan pisau itu, dan menerbangkan nya lurus, memecah sebuah batu.
Ingatan? Sepertinya aku tahu ini. Aku sedikit lupa yang terjadi malam itu, jadi ini sebabnya?
"Tidak hanya itu, keberadaan orang yang memakainya juga akan dihapus, sama seperti ingatan orang orang terhadapnya. Dengan kata lain, keberadaan mu, Ren Larvest akan dihilangkan dari dunia ini. Semua orang tidak akan tahu siapa itu Ren Larvest." jelasnya panjang lebar.
I-itu, itu benar benar sesuatu yang mengerikan. Aku tidak pernah tahu bahwa ada efek samping seperti itu. Itu menjelaskan semua kejadian aneh yang kemarin.
Hening mewarnai tempat itu. Dia sepertinya sudah selesai bercerita.
"Kamu menceritakan ini seperti benar benar pernah mengalaminya. Aku adalah orang yang tidak percaya sebelum melihat sesuatu, kau tahu?" aku mencoba mendesaknya.
"Ya. Karena aku memang pernah mengalaminya." katanya cepat.
Ugh, dia pernah mengalaminya?
"H-hei! Berarti kamu juga punya-" kata kataku terhenti oleh tatapan tajamnya.
"Kau tidak perlu tahu lebih lanjut. Aku juga tidak akan menghalangi apa yang ingin kau lakukan. Tapi aku harus memperingatkan mu." dia mendekat, menatapku jauh ke dalam mataku.
"Jangan terlalu banyak berurusan dengan Kultus atau Gereja." bisiknya di telingaku.
Setelah itu, dia menghilang seperti debu yang tertiup angin.
***
"Diary ini lama lama menjadi novel." aku menutup buku tulisku dan menaruhnya ke dalam inventory.
Kami sudah sampai di Ronia. Dan kondisiku sudah agak membaii. Setidaknya, kami tidak bertemu dengan bahaya apapun lagi di jalan.
Aku juga penasaran dengan keadaan Aina dan yang lainnya di kota Furyuun.
Jujur saja, kata orang kemarin membuatku sedikit khawatir.
Karena memang, tujuanku selanjutnya adalah ke gereja untuk bertemu dengan orang yang katanya bisa menyembuhkan ibu.
Andaikan aku bisa mengendalikan gejala kerasukan itu dengan dark magic ku, aku pasti melakukannya! Dan juga, aku mengajarkan kak Edna agar bisa menggunakan [Sanctuary], tapi seperti yang aku duga, itu tidak akan berjalan dengan mudah.
Berbeda dengan di desa Conia, aku bergerak di siang hari. Aku ingin pergi ke Guild, hanya saja aku tidak ada urusan di sana.
Dan aku dengar, Adventurer di kota ini sedikit mengerikan, kata penjaga gerbang.
Mungkin aku bisa masuk ke Guild jika aku menggunakan bentuk "Nier si Adventurer". Tapi aku ingin mengurangi keterlibatan identitas palsu ku dengan "Ren Larvest". Bisa jadi ada orang yang memperhatikan, bahwa dimana ada Ren, disitu ada Nier atau Shinigami. Itu akan merepotkan.
BRUKKK!!!
Seorang perempuan bertopi lebar dan berambut pirang menabrak ku. Padahal aku sudah sedikit menghindarinya. Apa ini adalah teknik penipuan yang baru?
Tidak tidak. Dari penampilannya, dia adalah orang berada, bukan? Selain itu, dia juga membawa beberapa barang mirip alkimia.
"A-a-ahh! Ma-maafkan aku! A-aku harus segera pergi!" katanya sambil mengemas barang barangnya.
Aku tidak bisa hanya berdiam diri, jadi aku ikut membantu membereskannya. Dia sepertinya sedikit terburu buru, jadi dia memasukkan barang nya secara asal asalan.
"Hei! Apa kalian melihat putri?"
"Oi oi! Aki tahu kalian penjaga, tapi jangan obrak abrik tokoku!" aku mendengar sedikit keributan disana.
Itu membuat perempuan yang ada di depanku panik, dan segera pergi. Tapi karena dia terlalu panik topi besarnya yang menutupi sebagian besar wajahnya terjatuh. Dia tidak memikirkannya dan hanya berlari.
Keributan masih terus terjadi ketika orang orang dengan pakaian tentara itu masuk satu persatu ke beberapa toko.
"Ahh, ini pasti itu, bukan?" aku meyakinkan dalam hatiku.
Ini pasti adalah event untuk membantu wanita tadi bukan? Biasanya, ini adalah sesuatu yang akan berhubungan dengan hal besar.
Dengan begitu, aku segera mengambil topi lebar yang dia jatuhkan tadi, lalu mencoba mencarinya.
Setidaknya, jika dia berada dalam hal yang sulit baru aku akan datang.
"Ahh, jangan ke kanan!! Uhh, apalagi kesana! Ahh!! Hufft untung saja!" aku ribut sendiri ketika melihatnya berjalan melewati para penjaga dari atap rumah. Ini benar benar menegangkan, tahu!
Ups! Aku terlalu sibuk sendiri, jadi sekarang aku harus membantunya.
Di sekelilingnya kini sudah penuh dengan penjaga, jadi hampir mustahil baginya untuk bisa keluar dari situasi ini.
"Eh?!" dia sedikit terkejut ketika aku turun di sampingnya dan memakaikan topi lebar ke kepalanya.
"Sayang, kemana kita setelah ini? Aku akan mengantarmu kemanapun. Apa kamu tidak memiliki keinginan khusus?" aku menyentuh punggunya setelah memakaikan topi. Walaupun ini hanya akting, aku tidak berani merangkulnya tahu!
"Sa-sa-sa-sayang?!!! Si-Siapa kamu?! Jangan jangan, kamu adalah penjahat?!" katanya setengah berteriak.
"Ahahaha! Kamu suka sekali bercanda ya!" aku tertawa.
"Sudahlah cepat jika kau tidak ingin tertangkap, katakan tujuanmu dan kita pergi dari sini. Maaf, tapi sementara ini adalah penyamaran kita! Dan juga, bersikaplah takut dan bersembunyi di belakangku jika bertemu penjaga. Usahakan berlebihan." bisikku ketika menyelaraskan wajahku dengannya. Tentu wajahnya di sampingku.
Dia hanya mengangguk, lalu mengatakan tujuannya. Hutan Kino, hutan yang ada di selatan Ibukota. Eh tunggu! Itu terlalu jauh, bukan? Kita sekarang ada di distrik 6, yang itu ada di timur kota!
Yahh, sudahlah. Setidaknya, mari kita keluar kota terlebih dahulu. Walaupun lebih jauh, setidaknya lebih aman untuk seperti itu.
"Hei nak! Apa kau pernah melihat put- orang ini?!" seorang prajurit datang mendekatiku.
Dan lagian! Kau barusan hampi menyebutkan putri, bukan? Dan kau segera menggantinya dengan orang ini, kan?!!
Tapi wanita di sebelahku segera bersembunyi di belakangku, dan sedikit mengintip dengan kaki yang sedikit bergetar. Akting yang luar biasa. Sepertinya dia berbakat!
"Ahh, maafkan aku, paman prajurit! Sepertinya aku belum pernah melihatnya. Dan orang secantik dia, pasti cepat bagiku mengenalinya!" kataku menggaruk kepala.
Prajurit itu mengangguk, lalu sedikit menoleh ke wanita di belakangku.
"Eh, wanita ini kenapa?! Apa dia-"
"Maaf, paman. Istriku memiliki sedikit trauma dengan prajurit, jadi dia benar benar tidak bisa berhadapan dengan prajurit. Dia selalu pingsan jika berhadapan dengan kalian."
"Karena itulah saya ingin membawanya keluar kota selagi para prajurit sedang banyak disini. Sekali lagi, saya minta maaf." aku menundukkan kepalaku.
Wajah prajurit itu sedikit bermasalah mendengarnya, lalu mundur mengurungkan niatnya.
"Yahh, semua orang punya masalah sendiri sendiri. Selain itu, apa tidak apa untuk mengatakan bahwa ada orang yang cantik di depan istrimu? Apakah tidak akan terjadi perang nanti malam?" kata prajurit itu sedikit menggodaku.
Aku melirik kebelakang, aku sudah melihat wajah nya yang memerah dan dia tempelkan di punggungku. Sepertinya dia sudah tidak kuat.
"Aku punya berbagai cara. Jika dia menolak melakukannya, aku bisa mendorongnya saja langsung ke ranjang dan melakukannya. Besoknya aku bisa bilang: "maaf aku kelewatan" begitu!" kataku berbisik di telinga prajurit itu dan menunjukkan jempolku.
Aku yakin yang dia belakangku juga sedikit mendengarnya, jadi dia benar benar semerah tomat sekarang.
"Ha ha ha! Kau benar! Baiklah! Aku sepertinya menghalangi, jadi silakan." dia mempersilakan ku lewat. Hufft benar benar beruntung!
Kami segera melewatinya sebelum dia menyadari sesuatu.
"Tunggu!" dia berteriak. A-acha!! Apakah barusan aku mengatakan flag akhirnya dia kembali?