
"Seharusnya sebentar lagi mereka sampai." aku hanya duduk diam sambil melempar lempar kantung uang berisi 55 koin Platina.
Ugh, membawa uang sebanyak ini benar benar menyenangkan. Aku akan ketagihan nanti!
Aku sudah menyeduh teh tadi, dan harusnya tidak menjadi dingin sampai mereka semua datang.
Ngomong ngomong, titik pertemuan kami adalah gorong gorong, karena menurutku ini adalah tempat pertemuan yang paling tersembunyi.
Aku merasa sedikit bersalah untuk meninggalkan ibu sendirian untuk waktu yang lama, tapi mau bagaimana lagi.
"Yang pertama, paman Kurls kah? Sepertinya dia berhasil." aku bersiap, membuka pintu.
"Selamat datang, paman Kurls. Sepertinya paman berhasil tanpa ada kekurangan satu apapun, ya? Aku masih ingat paman mengatakan ini sulit." aku tersenyum, lalu memperhatikan anak yang ada di gendongannya.
Ada rasa sedikit senang aku tidak melihat karung di sini.
"Yahh, itu berkat informasi yang anda berikan, tuan Ren. Saya bisa menyusup dan keluar dengan mudah." jawabnya sambil menidurkan Thui di tempat yang nyaman.
"Duduklah dulu, paman Kurls. Aku sudah membuatkan beberapa teh." aku menyodorkan teh yang barusan aku buat.
"Terima kasih, Ren. Dan juga, saya akan menceritakan sedikit tentang apa yang terjadi. Tentu anda ingin mendengar itu, bukan?" paman langsung menebak jalan pikiran ku.
"Seperti yang diharapkan dari paman Kurls!"
"Jadi, memang berkat informasi anda, saya bisa terhindar dari jebakan jebakan yang ada. Tapi jelas ada banyak-" yahh intinya seperti itu.
Kami mengobrol cukup banyak, sampai akhirnya yang lain sampai.
Ini sudah mulai gelap, tapi aku tidak tahu kenapa mereka terlambat.
"Selamat datang. Aku sudah memanaskan kembali teh untuk kalian. Jadi, silakan istirahatlah." aku menyiapkan tempat duduk untuk kak Edna dan Aina yang terlihat kelelahan.
Apa mereka belum menyadari keberadaan Thui? Tidak tidak! Itu mustahil, bukan?
"Whoa! Siapa ini?! Apa jangan jangan, ini anak yang kau suruh paman Kurls culik, Ren?" aku tarik kata kataku.
"Ya. Dia adalah Thui Ravinder. Seharus-" aku mendengar rengkuhan perlahan.
Uwahh, betapa tepatnya momen yang muncul, karena sepertinya Thui sudah mulai bangun!
Aku segera mengubah penampilanku menjadi "Shinigami", dan mulai maju mendekatinya.
"Baiklah teman teman. Disini biar aku ambil alih. Aku akan jelaskan kenapa kita sangat membutuhkan ini!" aku mulai mendekati Thui.
"Uwahh penampilanmu benar benar mengerikan, Ren." aku hanya diam membiarkan kak Edna menanggapi.
Dia menatapku bingung, lalu menatap paman Kurls.
"Kenapa, kenapa kamu menculik daku?" dia hanya bertanya datar. Aku tidak tahu kenapa yang membuatnya sangat tenang disini, tapi biarlah.
"Baiklah. Maafkan aku membuat anda takut untuk sementara. Perkenalkan, nama saya Shin. Pertama-tama, akan lebih baik bagi saya untuk menjelaskan akar masalahnya." aku menunduk sopan.
"Tidak mau. Kamu orang jahat." dia menjawab cepat.
"Eh?" aku tidak bisa menahan untuk mengeluarkan suara bodoh seperti ini.
"Ya. Orang yang menculik daku, dan orang yang berbohong soal namanya bukanlah orang baik! Mana bisa daku percaya dengan orang yang bahkan tidak mau menyebutkan nama aslinya?" dia berteriak sambil memalingkan muka.
"Permisi?"
Anak ini, bagaimana dia bisa tahu? Selian itu, dia sangat pandai! Apa ini yang menyebabkan ketenangannya? Ada kemungkinan rencana ini diketahui!
Selain itu, apa apaan dengan penyebutan nama "Daku" itu? Mengerikan!
"Ahh, jangan berpura pura bodoh, emm Shin! Salah, bukan itu namamu. Umm Shinigami! Bukan. Petualang Nier! Eh bukan! Ren! Ya! Ren!" dia berteriak berkacak pinggang, sambil menunjuk ke arahku.
Tunggu! Bagaimana dia bisa tahu semua itu? Dia bahkan menyebutkan hampir semua nama samaran ku!
Aku bahkan tidak pernah menceritakan itu pada siapapun!
"Hufft. Berapa banyak nama samaran yang kamu punya? Dan lagi, daku bingung ras apa kamu. Ini benar benar membingungkan." dia berjalan turun dari sofa, dan berjalan seperti orang dewasa.
"Tu-tu-tunggu Ren! Kau kenal dengan dia?" Suzu berteriak setengah tidak percaya.
"Seharusnya aku dan dia tidak ada hubungan sama sekali, bahkan tidak pernah bertemu ataupun dalam tempat yang sama dalam bentuk Shinigami ini." aku menjelaskan.
"Memang benar! Tapi daku pernah bertemu dengan mbak Edna, dan satu lagi bernama Nina! Dan tentu saja, denganmu, Adventurer Nier!" dia kembali menunjukku.
Gaya macam apa itu? Apa kau sedang bermain drama detektif?!
"Baiklah. Saatnya memperkenalkan diri. Nama daku adalah-"
"Humm Aina. Tolong ceritakan masalahmu padanya. Aku yakin dia pasti akan membantu. Aku sudah mulai lelah." aku segera memotongnya ketika dia mulai menutup sebelah matanya dan melantunkan suara suara chuunibyou.
"Baik!" Aina hanya menghormat.
"Tu-tunggu! Daku belum selesai!" dia mulai mengejar ku.
Ahh, berurusan dengan orang orang seperti itu benar benar membuatku mengingat masa lalu, dan itu membuatku pusing!
Kutinggalkam tempat itu, dengan beberapa teriakan di dalam sana. Yahh, aku hanya bisa berdoa semoga yang lain baik baik saja.
"Baiklah. Ini sudah malam, mungkin saatnya aku ke Guild, kah?" aku berjalan pelan, tetap dalam bentuk Shinigami.
Aku belum banyak berbicara dengan kelompok Aina karena masalah Thui tadi.
"Hufft. Appaun itu, kami sudah mendapatkan Thui disini. Dan langkah selanjutnya hanya aku yang harus bergerak, dan dengan beberapa dorongan dari Aina ini akan berhasil." aku kembali memikirkan rencana.
"Baiklah. Saatnya ini masuk ke tahap selanjutnya, kah?"