
"Shinigami? Orang itu? Dia bisa melakukan ini semua?!" terjadi kepanikan di sekelilingku.
Yahh, wajar saja. Karena sihir ini merupakan sihir yang luar biasa. Jujur saja mereka semua yang masih normal pasti panik.
Aku yakin di luar di kota juga pasti sama paniknya.
Weiss menatapku tajam, mengucapkan beberapa sumpah serapah untukku.
"Baiklah. Perkenalkan, saya adalah Shinigami. Dan seperti yang kalian tahu-" aku membuka topeng setan yang ada di wajahku.
"Aku adalah manusia!" aku berteriak keras mengumumkan itu semua.
Diena yang sudah tahu hanya mengangguk diam, sambil sedikit menelan ludah.
Kasak kusuk mulai terjadi, dan tentu, sebagian besar dari itu adalah rasa tidak terima. Huh! Apapun itu, aku tidak akan takut!
"Baiklah. Akan saya mulai permasalahan utama hari ini-" seseorang melemparku dengan pisau.
"Turun kau manusia! Aku tidak akan menerima misi ini jika pemintanya manusia sepertimu! Aku membenci ini! Sial aku ditipu! Semua! Jangan percaya dia!" orang itu terus mengoceh.
Aku senang ada yang mengutarakan keinginannya. Dengan begini, akan mudah aku memberikan contoh untuk membungkam orang orang seperti itu.
"Hei botak! Jangan menghasut orang lain! Biarkan mereka mendengarkan dan memutuskan sendiri! Kalau tidak-"
"Kalau tidak apa? Apa yang akan kau lakukan padaku?!" dia justru menantang ku.
Kesalahan besar.
"Aku akan membunuhmu loh!" aku tersenyum sambil melempar balik pisau itu dengan cepat.
"Huh! Seperti kau bisa melakuka- Arghhh!!!" dia sempat tersenyum mengejek, sebelum akhirnya menggeliat kepanasan.
Sudah kuduga, pisau itu beracun. Seberapa suka dunia ini dengan racun?!
"Ba-bagaimana bisa?! I-itu racunku!" dia bisa menyembuhkan dirinya dengan cepat. Seperti yang aku duga dari ras Priest! Sayapnya memang tidak terlihat, tapi kemampuan penyembuhan milik orang botak itu memang luar biasa.
"Kau tidak menyadari pipimu?" dia meraba pipinyabyang sobek mengucurkan darah sambil terbelalak.
"Yahh, aku tidak suka basa basi. Jadi jika kau masih melakukan hal yang sama, selanjutnya aku akan menargetkan mata kananmu. Selanjutnya yang kiri, dan kemudian lenganmu sampai kau mau mendengarkanku." aku mengeluarkan banyak pisau yang cukup di setiap sela sela jariku.
"Whoa! Hentikan, Shinigami. Kami mengerti. Kami akan mendengarkan. Jadi tolong jangan lakukan itu." Diena dengan cepat menghentikan ku.
"Hufft. Karena aku menghormati Guildmaster, aku akan menghentikan itu." aku memasukkan lagi pisau itu.
Diena terlihat menarik nafas lega dengan itu. Apa Adventurer itu sebegitu kuat hingga Diena tidak ingin dia mati? Entahlah.
"Baiklah aku akan kembali menjelaskan acara Pengadilan Malaikat Kematian ini!"
"Kalian semua pasti sudah tahu, banyak perdagangan anak anak yang dijadikan budak oleh orang orang yang tidak bertanggung jawab."
"Mereka yang masih belia, masih memiliki mimpi, masih memiliki masa depan!"
"Dan semua itu hilang! Karena orang orang ini! Orang orang yang memperbudak mereka! Bukan membimbing mereka ke arah yang baik. Dan yang lebih parah, ada orang yang mempermainkan kesucian mereka! Itu adalah tindakan bejat yang sangat jahat!" aku mengepalkan tangan, menahan amarah.
Banyak orang yang juga terlihat sama, memalingkan muka karena mereka sudah melihat itu semua benar adanya.
"Dan disini. Aku, Shinigami menuduh Weiss, seorang Kepala Akademi Furyuun adalah orang yang melakukan prostitusi itu! Bajingan tua itu sudah melakukan hal tidak senonoh pada anak anak ini selama beberapa tahun! Betapa brengseknya dia!" aku menunjuk Weiss.
Weiss terbelalak. Dia tidak menyangka bahwa dosanya akan dibuka di depan umum seperti ini.
"Tidak! Tidak ada bukti!" Weiss masih berteriak menyangkal walaupun semua bukti sudah ada di depan matanya.
"Hei hei. Menuduh Kepala Akademi bukankah itu keterlaluan? Kepala Akademi adalah orang yang baik loh!"
"Benar! Jangan asal tuduh!"
"Ya! Saya benar! Dia hanyalah penipu yang asal main tuduh!" Weiss mulai merasa menang karena banyak yang mendukungnya.
Aku juga merasakan penduduk di kota berpihak pada Weiss.
"Baiklah jika itu mau kalian. Silakan, para saksi. Kami membutuhkan keterangan anda sekalian!" aku memberi tanda, dan kak Edna serta Thui masuk untuk membawa anak anak tadi.
Semua orang disana terkejut, termasuk Weiss. Jelas dia tidak akan menyangka bahwa mereka dibawa kemari, bukan?
"Lihatlah mereka! Mereka adalah korban Weiss! Lihatlah mereka! Walau diluar tampak cantik, tapi aku tahu mereka sedang berteriak, meminta pertolongan!" aku kembali mencoba memprovokasi.
Kasak kusuk orang mulai terjadi, sementara itu, pengunjung theater menjadi lebih banyak.
Diena juga mengangguk, mungkin dia sudah tahu akar masalahnya.
"Itu, oh ya! Mungkin itu semua adalah budakmu! Bukankah kau bisa melakukan itu dan mengatakan bahwa mereka semua milikku? Mana mungkin?!" Weiss masih berusaha berkelit.
Dengan pernyataan tadi, Weiss justru semakin kuat disini. Orang orang juga mulai bersorak sorai untuknya.
Sudah aku duga ini akan sulit, tapi tidak aku duga dia memiliki kepercayaan dari rakyat sebesar ini. Kekuatan kepercayaan, ini mengerikan.
"Dia adalah pedagang budak yang menjual budak budak itu padanya. Selain itu, kami juga memiliki bukti bukti pembelian yang didapat oleh party Guild! Silakan!" aku mengundang Diena untuk naik.
Aku mengatakan pada Diena saat dia akan naik, tolong yakinkan mereka semua.
Diena juga sepertinya mendukungku, dan membacakan semua bukti pembayaran dan bukti bukti lain. Itu seharusnya cukup untuk membuat semua orang sadar.
"Tapi bagaimana jika kau membayar mereka? Kau membayar pedagang budak itu, dan menuliskan bukti palsu?" Weiss mulai mengarang.
Dan orang orang mengangguk setuju dengan itu. Aku bingung, mereka sebodoh apa sampai mempercayai Weiss begitu saja?
Selain itu, sebesar itukah pengaruh Weiss pada kota Furyuun?
"Hei hei! Kau manusia bodoh! Berani beraninya kau menghina saya? Dan juga, kau member tuduhan palsu! Hei Rice, kau pasti melihat ini. Dan juga semua warga Furyuun! Jangan percaya pada penjahat ini!" Weiss mulai tersenyum.
"Diam, Weiss." Rice muncul disana, memendam amarahnya.
Ya. Memang benar orang orang yang ada di sini saja mulai percaya pada Weiss. Apalagi yang berada di luar sana?
Seperti yang pernah kubilang, ucapan seseorang yang benar akan kalah dengan kekuasaan.
Bahkan aku bisa melihat kak Edna dan yang lain mengepalkan tangan, geram dengan Weiss. Tapi mau bagaimana lagi, kita kekurangan kekuasaan disini.
"Nah Rice! Beruntung kau ada di sini! Lihat mereka! Lihat manusia sialan itu dan Guild! Mereka ingin menghasut warga Furyuun!"
"Mereka menggunakan nama saya, untuk mengacaukan kota ini. Kau sebagai wali kota harus mencegah ini! Rice! Perintahkan penghilangan Guild!" Weiss memulai kebohongannya lagi.
Rice terdiam. Dia menggerakkan giginya.
"Ups, maaf menginterupsi anda, Tuan Rice. Kemarahan anda terlalu tinggi untuk orang rendahan sepertinya. Biar saya yang melakukannya, dan anda cukup menyaksikannya saja." aku tersenyum sambil memasang penghalang kecil untuk melindungi ku dari sampah sampah yang dilemparkan orang.
Mereka terlanjur termakan kata kata Weiss, dan menghujat ku sedemikian rupa. Sialan.
"Hei, Weiss. Mungkin kau merasa menang, tapi maaf saja. Aku sudah memperkirakan semuanya." aku tersenyum sambil berbisik di telinga Weiss.
Dia hanya terkekeh, sepertinya mengejekku. Yahh terserahlah. Toh jika kulepas skill [I am the Sadistic] dia akan mati.
"Baiklah, Thui. Saatnya mengungkapkan kebenaran." aku menunjuk ke arah anak anak yang masuk.
Ya! Di kerumunan anak anak itu, aku menyelipkan Thui yang menggunakan tudung di sana.
Thui adalah senjata utamaku. Dia memiliki kekuasaan yang cukup untuk menghancurkan Weiss. Karena itu, aku memintanya untuk memberi kesaksian palsu.
Lalu kenapa aku mengumpulkan bukti sebanyak itu? Jelas aku ingin memperburuk Weiss!
Aku tahu pasti Weiss akan menyangkal semua tuduhan dan memutar balikkannya. Jadi aku mengumpulkan semua itu. Setelah semua orang tahu kebenarannya, mereka akan semakin emosi karena dibohongi oleh Weiss.
Dengan kata lain, aku akan menghancurkan namanya lebih dahulu, mempermalukannya!
"Saya, Thui Ravinder disini untuk bersaksi. Aku sudah hampir diculik dua kali. Yang pertama oleh para bandit, lalu yang kedua oleh suruhan orang itu." Thui mulai maju sambil memulai ceritanya.
"A-apa?!!" Weiss mendelik kaget. Tentu dia tidak menyangka akan seperti ini, bukan?
Selain itu, orang orang mulai menghentikan lemparannya ke arahku. Sebagai gantinya, mereka juga sama terkejutnya dan mulai saling berbisik.
"Ya. Aku berhasil diculik oleh para bandit, yang setelah ditelusuri dia adalah suruhan Weiss. Tapi aku berhasil diselamatkan oleh party petualang yang bernama Nier. Aku berhutang budi padanya." Thui memulai aktingnya.
"Lalu, setelah petualang Nier ini pergi, aku kembali diculik, bahkan saat di rumahku sendiri."
"Tapi kelompok petualang tadi tahu dan membuntutinya dan kemudian membebaskan ku. Mereka tahu akan berbahaya jika aku sendirian di luar, jadi mereka menampungku untuk sementara." Thui bercerita panjang lebar.
Nahh, Weiss! Sekarang, apa yang akan kau lakukan?!
Orang orang kini tidak bisa berkata apa apa. Mereka hanya terdiam sambil memandang rendah Weiss.
Ya! Pandangan itu! Pandangan jijik yang diarahkan kepada Weiss, aku sangat menyukainya. Dengan begini, nama baik yang selama ini ada, pasti sudah hancur tak bersisa, bukan?
Selain itu, Thui sangat pintar berakting! Itu semua terdengar nyata! Bahkan jika aku tidak mengetahui kebenarannya, aku akan mengira itu semua benar benar terjadi.
"Thui, kasihan sekali kamu." Diena dengan mata berkaca kaca berpendapat. Sepertinya dia ingin melompat naik dan memeluknya, jika bisa.
Suasana menjadi ribut, penuh dengan caci maki untuk Weiss.
"Sialan kau! Kau gunakan cara ini?!" Weiss menggeram lemah. Aku hanya tertawa mendengar itu.
"Aku akan melakukan cara apapun untuk melawanmu, walau dengan menggunakan cara kotor seperti ini!" aku berbisik kecil di telinganya.
Ya. Aku akan selalu bermain dengan sesuatu yang bisa aku menangkan.
Aku akan berfikir lebih banyak jika kemungkinan menang ku hanya 50%.
Ini sudah berakhir.