
Soeye manyambar Ren dan membawanya dalam gendongannya. Ren terlihat menyedihkan, cukup bisa dikatakan babak belur.
("Ahhh! Kenapa aku melakukan ini? Umm, mungkin karena naluri? Atau apapun itu?") Soeye berteriak dalam hatinya.
Sedangkan Ren, terlihat membuat wajah sulit, dia memikirkan banyak hal tentang dunia ini. Dia juga sadar betapa kerasnya dunia ini terhadap manusia biasa sepertinya.
Soeye sampai di suatu tempat, mungkin adalah persembunyiannya. Itu terletak cukup masuk ke dalam hutan, tapi sangat tersembunyi karena berada di dekat air terjun.
Suara air terjun yang menenangkan terus menerus menderu bagaikan musik, mengiringi kedatangan Ren.
Soeye meletakkan Ren perlahan, mengambil beberapa kotak peralatan. Mungkin untuk mengobati Ren.
Ren tidak merasakan hal hal yang berbahaya dengan tubuhnya, tapi dia hanya menurut dengan itu.
Dia juga sudah menganalisis apa yang terjadi pada tubuhnya, dan memperkirakan berapa waktu untuk menyembuhkannya.
Seperti biasa, dia menakutkan.
"Kenapa kamu bisa berada dalam kerumunan itu? Oh ya! Apa kau mengerti yang aku katakan?" Soeye sedikit khawatir tentang Ren, sambil tetap merawat Ren secara perlahan.
Ren juga tahu, dia tidak boleh menampakkan wujudnya sebagai "Shinigami" di depan Soeye. Jadi setidaknya, dia mencoba mengubah cara bicaranya.
"Ah, sudahlah. Aku tidak apa. Terima kasih sudah menolongku tadi." Ren mencoba menjadi karakter lain.
"Tapi, apa tujuanmu?" Ren tetap berpura pura curiga.
("Aku harus berusaha menjadi orang yang berbeda ketika di fepan Soeye ya?") Ren termenung sesaat, ketika harus bercakap cakap dengan Soeye.
Ren memalingkan wajah, ketika suasana menjadi hening. Sedangkan Soeye tetap secara perlahan merawat Ren. Terlihat ketulusan, dan sedikit rasa hormat dalam diri Soeye, mungkin mengingat "Shinigami" dalam bayangannya.
"Kenapa?" Ren berbicara pelan.
"Kenapa kau menolongku?" Ren bertanya, dengan nada halus. Kini dia memainkan akting dengan berpura pura melunak.
Ren adalah orang yang benar benar berbahaya.
"Eh?" Soeye terududuk diam.
"Alasanku? Alasanku, ya?" Soeye menutup matanya mencoba mengingat.
"Mungkin, karena aku berubah."
"Aku diselamatkan oleh orang asing, dan itu benar benar membekas dalam diriku. Aku sedikitnya ingin menjadi orang seperti itu." Soeye tersenyum sambil mengingat kata kata Ren.
("Andaikan saja aku bisa bertemu lagi dengannya.") Soeye tersenyum.
Jujur saja, Ren tahu siapa itu. Tapi pada dasarnya dia adalah penipu handal, mudah baginya untuk menyembunyikan itu.
"Orang itu," Ren menunduk.
"Dimana dia sekarang?" Ren sebenarnya ingin mengorek informasi tentang keberadaan dirinya. Dia berpikir, kemungkinan akan ada orang yang tahu, bahwa Ren adalah "Shinigami" itu.
Karena secara tidak langsung, Soeye adalah orang yang dapat mengumpulkan informasi.
"Hanya saja, dia adalah orang yang sangat muda. Lebih muda dariku. Dan dia sangat kuat. Gerakannya cepat dan kuat."
"Bahkan dia adalah orang yang tidak ragu, walau harus melihat hal hal mengerikan di depan matanya." Soeye kini melihat tangannya sendiri, mengingat Ren yang bertarung maju sambil melindunginya.
"Bukankah itu mengerikan? Dia tidak berpikir untuk mengayunkan senjatanya. Dan juga, jika dia terlalu ringan untuk menggerakkan tangannya, bukankah dia adalah orang yang berbahaya?" Ren menarik benang bahaya.
Ini pertanyaan yang berbahaya baginya, karena ini berada pada daerah abu abu, yang mungkin membuat dirinya ketahuan.
"Yahh, apapun itu, dia adalah orang yang kuat. Aku juga pasti akan berpikir sama sepertinya kalau memiliki lawan seperti itu. Dan yang bisa aku lakukan hanya meringkuk di bawah bayang bayangnya." Soeye berjalan, menaruh lagi kotak peralatannya.
"Aku ingin menjadi lebih kuat! Aku akan mengejarnya, dan mungkin kami bisa bertemu lagi. Aku akan pulang ke rumah kakekku mungkin?" Dia mengacungkan tangannya yakin, tersenyum pada Ren.
("Hmm, ada baiknya aku akan menemuinya dalam bentuk itu ketika kami bertemu lagi. Walau seperti ini, aku tidak ingin menghianati keinginannya!") Ren mengangguk dalam hati.
"Ahh, sepertinya aku mengerti. Aku juga memiliki orang yang ingin aku kejar untuk itu." Ren tersenyum senang.
"Dengan begini, selesai!" Soeye berkata senang sambil mengangkat tangannya dari kaki Ren yang terluka.
Banyak luka di tubuh Ren, tapi sebagian besar bukanlah luka yang terbuka, atau yang mengeluarkan darah. Sebagian besar lukanya adalah memar, banyak bagian di tangan, kaki, bahkan wajahnya yang menghitam.
Soeye sedikit heran melihat Ren yang bisa menahan itu semua setelah diperlakukan sebegitu parahnya.
"Ah, um. Terima kasih. Sebenarnya, mengeluarkanku dari kerumunan itu saja sudah cukup. Kau tidak perlu sampai seperti ini untukku."
Walau Ren terlihat berwajah datar, tapi dia tertawa dalam hatinya.
"Kau tidak perlu terlibat lagi denganku, tapi aku tidak akan melupakan kebaikanmu. Aku akan membalasnya, ketika aku kuat nanti." Ren membuat wajah penuh tekad.
("Wahh, aku menjadi karakter yang seperti protagonis manga Shounen! Kau tahu? Ini adalah rute Zero to Hero!")
"Ahahaha! Kau tak perlu sok kuat, bocah!" Soeye tertawa, sambil menepuk keras punggung Ren.
"Aduh!"
("Sial! Ini benar benar sakit tahu! Aku butuh sihir penyembuhan!") Ren berteriak dalam hatinya.
Ren sedikit mengelus punggungnya, sambil sedikit menggerutu.
"Apa perlu aku antar kau ke rumahmu?" Soeye tersenyum lembut.
"Tidak, ada yang harus aku lakukan." Ren tersenyum tenang.
Ini adalah senyumnya yang sebenarnya, tidak menggunakan skill [Poker face].
Soeye tersentak dengan itu, mengingatkannya pada Ren yang menolongnya dengan menyamar sebagai [Shinigami]. Karena memang pada dasarnya dia orang yang sama.
"Oh ya! Sepertinya ada yang lupa." Ren berbalik.
"Siapa namamu, kak?" Kini Ren memanggil Soeye.
"Namaku Soeye! Ingat itu jika kau ingin membalas jasaku, ya!" Jawab Soeye sambil bercanda.