
Kami keluar dari Dungeon, dan segera menjual apa yang kami dapat hari itu. Benda mirip Rotan, batu sihir, dan beberapa lainnya, mendapat harga total 20 perak! Cukup beruntung.
Kami juga harus segera kembali ke penampilan awal kami.
Dengan begitu, aku segera kembali mengunjungi Paman Kurls dan Aina, untuk sekalian mengembalikan ini ke kereta (penyamaran) dan mengajak Aina pergi.
Ini adalah ide Suzu untuk mengajak Aina untuk berkeliling hari ini.
Sepertinya dia sangat menyukai Aina setelah semua. Aina, aku tidak tahu apa yang dia lakukan, tapi kau melakukannya dengan sangat baik!
"Selamat datang kembali, kalian berdua!!" Aina berlari, menyambut kami berdua.
Seketika, Suzu langsung memeluk Aina, dan menggosok gosok kan pipinya ke rambut dan wajah Aina. Sudah kubilang, rambut Aina memang luar biasa!
"Uhm! Aku akan langsung berganti, dan juga Aina, kamu juga bersiap siap. Kita akan mengelilingi kota hari ini, berhubung kita sudah mendapat pemandu wisata kota Furyuun. Dan yang terpenting, itu gratis!" aku tertawa sambil masuk ke kereta. Yahh, itu hanya beberapa detik karena aku punya skill [Fast Dressed].
"Ohh! Itu akan bagus! Aina sudah siap seperti ini saja!" Aina tersenyum senang.
Yang Aina pakai sekarang adalah pakaian one piece, warna putih dengan pita di bagian dada dan beberapa renda di bagian bawah.
Dia terlihat sangat cocok dengan rambut perak nya itu.
Sementara, Suzu hanya melepas jubah dan tongkat yang dia pegang, dan sekarang kembali menggunakan seragam Akademi.
"Paman Kurls, kami akan pergi. Atau mungkin, paman ingin ikut bersama kami?" dia awalnya tersenyum, tapi seketika memasang wajah keberatan.
"A-Ahh, saya kalau bisa tidak perlu untuk ikut dengan kalian." katanya bermasalah.
Ohh, sepertinya aku tahu apa yang dia pikirkan.
Pada dasarnya dia adalah seorang bartender. Dia pasti akan menuju bar untuk mencari alkohol yang enak. Aku pernah dengar bahwa sebuah kesenangan pribadi bagi bartender untuk bisa mencicipi alkohol yang enak.
Yahh, aku tidak terpengaruh dengan alkohol, bahkan aku bisa meminum sebanyak apapun tanpa mabuk.
Tapi tentu kami tidak bisa berkata:"Tur wisata kita kali ini adalah mencari alkohol yang enak!!" begitu di depan Aina dan Suzu, bukan?
"Hei, paman Kurls!" aku menepuk pundaknya, lalu mulai berbisik.
"Tolong carikan aku alkohol yang enak. Kalau bisa, aku ingin meminumnya nanti malam. Ohh, kalau boleh, kita bisa bertanding?" aku membisikkannya pada paman Kurls.
Jujur, ini adalah percakapan yang sudah melampaui batas umurku, tapi karena hari ini bisa dibilang adalah hari libur, mungkin tidak apa.
"Ohh, baik lah Ren. Serahkan pada saya. Saya pasti akan menemukannya!" katanya bersemangat sambil memberikan jempol padaku.
"Hei Ren! Apa yang kau lakukan? Ayolah cepat! Kami menunggumu!" Suzu melambaikan tangan. Sepertinya dia yang paling tidak sabar dengan ini.
"Baiklah!" aku berjalan menyusul mereka berdua yang sekarang bergandengan.
Tunggu. Aku tahu kalian akrab, tapi sejak kapan kalian bisa menjadi se akrab ini? Aku benar-benar tidak paham!
Dan akhirnya, aku hanya mengikuti di belakang mereka.
"Hey Suzu, apa kamu ada saran? Seperti, toko apa yang ramai belakangan ini, atau mungkin tempat menarik untuk dikunjungi?" aku berjalan sambil menyamakan kakiku dengan milik Suzu.
Suzu tampak berpikir keras. Ahh, apa jangan jangan dia juga tidak tahu tren apa yang ada di kota ini?!
"Oh ya! Ada satu toko yang membawa camilan yang renyah dan manis. Kalau tidak salah, namanya... Umm, namanya adalah.." sudah kuduga dia tidak tahu ini.
"Crepes, bukan?" aku menggeleng ketika dia lupa nama sesuatu yang aka dia sarankan.
"Ah ya! Benar! Kau luar biasa, Ren!! Bagaimana kau bisa tahu, bahwa itu adalah crepes? Apa kau adalah penerawang?" tanyanya. Uhh, entah keberapa kalinya aku dipanggil "penerawang" oleh orang lain.
Tapi crepes, kah? Oh ya, aku ingat aku sudah berjanji akan memakan crepes ini bersama Syila saat pulang. Apakah tidak apa untukku makan terlebih dahulu?
Yahh, setidaknya aku bisa membayangkan bagaimana wajah marahnya ketika aku menceritakan rasa crepes yang dia inginkan!
Khu Khu! Ini akan menarik.
"Oi Ren! Tolong mengantre dan belikan kami crepes!" suara Suzu memecah lamunanku.
"Heh? Kenapa aku yang harus mengantre?" aku sedikit keberatan, jelas.
"Yahh, karena kau laki laki bukan? Tidak mungkin kau akan membiarkan wanita bersusah payah untukmu, sedangkan kau hanya duduk berdiam dan menikmati hasilnya!" teriaknya.
Uhh, jangan katakan itu sambil berteriak, bodoh! Aku merasa tidak enak disini. Tapi, baiklah.
"Hufft. Oke. Tunggulah sebentar, aku akan segera kembali." aku melesat ke dalam kerumunan orang yang seperti pasukan perang itu.
***
"Selamat datang kembali, eh?" aku kembali dengan dua? di tangan. Aku memberikan masing masingnya untuk Suzu dan Aina.
"Kenapa cuma dua? Bagaimana dengan bagianmu, kak Ren?" Aina tampak sedih.
"Atau jangan jangan, kamu kekurangan uang? Kalau begitu, katakan dari awal, biar aku yang membayarnya!" teriak Suzu sambil melihatku dengan tatapan memprihatinkan.
Oi oi! Jangan lihat aku seperti itu! Itu membuat ku menjadi seperti orang yang kekurangan uang, tahu!
"Jangan bodoh! Aku punya banyak uang, tapi aku alergi dengan salah satu bahan yang ada di dalam makanan crepes ini." jawabku sambil mencoba mengelak.
Sebenarnya, kenapa aku tidak membelinya? Karena aku sudah berjanji pada Syila kemarin. Jadi aku rasa agak curang untukku memakannya sekarang.
Tapi tentu saja aku tidak bisa mengatakan itu!!
"Bukan! Uhh, lupakan itu. Mari kita pergi ke alun alun untuk makan ini!" aku berusaha untuk mengalihkan perhatian.
"Baiklah Suzu bagaima-" aku ingin mengajak Suzu dan Aina ke alun-alun, tapi sesuatu di saku ku bergetar. Bersamaan dengan itu, sebuah lonceng di Guild petualang berbunyi.
"Ada apa ini?" Suzu mungkin lebih mengerti tentang ini semua.
Selain itu, aku bsrus mengecek sesuatu bergetar di saku ku.
"Biasanya ada tanda bahaya jika lonceng dibunyikan sesering ini!" Raut muka Suzu beeubah menjadi khawatir. Aina sepertinya juga paham, dia menggandeng ku dan Suzu. Dia juga menarikku ke Guild sedangkan aku masih mencari benda bergetar yang ada di sakuku.
Guild kota Furyuun mulai terlihat, dan aku juga mulai melihat Guildmaster kota ini, Diena sedang berdiri disana.
"Pengumuman bagi seluruh Adventurer! Dibutuhkan Adventurer rank A sekarang!" Aku samar samar mendengar suara Diena disana.
Aku juga akhirnya menemukan benda yang sedari tadi bergetar di saku ku. Itu adalah kartu Adventurer Guild ku.
Kartu itu bersinar sedikit, dan aku ada tulisan besar yang berkedip di belakangnya.
Sepertinya itu adalah Quest.
"Quest darurat. Sebuah kota diserang dengan tingkat serangan kelas S atas. Adventurer yang ada di sana tidak lagi dapat menanganinya..." Aku membacanya perlahan.
"Kota itu," aku mendengar Diena menghentikan pidatonya sesaat.
"Kota itu."
"Adalah Eldergale."
Sebuah petir seperti menyambar pikiranku seketika. Aku menjadi linglung, tidak tahu apa pun sekarang.
Aku benar benar tidak bisa berpikir jernih, karena suatu hal. Dan aku lupa apa itu. Kenapa? Kenapa aku? Apakah terjadi sesuatu? Tapi hatiku serasa tidak ingin mengetahuinya!
Aku bingung, dimana ini? Siapa yang ada di sebelahku? Kenapa suasananya menyedihkan?
Aku semakin sensitif dengan suara. Bahwa aku bisa mendengar suara detak jantungku sendiri. Selain itu, pandangan ku sedikit menggelap karena ini. Apa aku terkena serangan darah rendah?
"Oi! Ini bercanda kan?!!" Aku hanya bisa mendengar suara samar di sampingku yang berteriak marah.
Suara itu, aku sepertinya kenal.
"Tidak. Ini benar. Itu diumumkan langsung oleh orang yang tersisa di sana." Orang lain menjawabnya dengan pasti.
Aku tidak bisa lagi mendengar dengan jelas, ataupun melihat dengan baik. Kepalaku pusing, mataku buyar. Aku serasa tidak mampu berdiri.
Bukan hanya aku, seseorang yang berteriak di sebelahku tadi juga berlutut jatuh, seakan tidka menerimanya. Sesuatu di tangannya jatuh, mulai hancur.
Orang lain di belakangku sepertinya tahu, memegangi bajuku dengan tangan bergetar.
("Heh? Kenapa ini?") Aku tidak bisa menenangkan detak jantungku. Tapi nafasku terasa sesak.
"Ren!" Suara teriakan terdengar di telingaku.
"Ren!!" Suara itu semakin lemah. Itu berasal dari orang yang berlutut di sampingku. Aku merasa mengenalnya, tapi aku juga merasa kehilangan sesuatu.
Gawat! Kepalaku mulai sakit! Bayangan bayangan ketika aku masih belum bereinkarnasi, bayangan ketika aku bermain dengan Shina dan Shino.
Bayangan ketika kami tertawa bersama.
Tapi tiba tiba itu semua terhapus, seperti terbakar dan berubah menjadi abu.
("Kapan kamu akan berlajar menjadi seorang, teman?") Aku kembali mendengar suara yang familiar di telingaku.
"Shino? Itukah kau, Shino? Itukah-" aku muali mengetahui semuanya.
"Tidak!!" Aku berhasil mengendalikan tubuhku lagi. Di sekitarku terdiri beberapa orang yang menunduk, dan Suzu dan Aina yang meringkuk dan menangis di tanah lapang itu.
Sesaat itu, keadaan menjadi hening, diiringi matahari yang mulai tenggelam dalam kesedihan.
("Apakah, aku akan kehilangan lagi?") Suara dalam diriku menghancurkan ku, seperti menguburku dengan kesedihan.
("Apakah aku akan gagal melindungi?") Hatiku bergetar, gigiku sudah tidak bisa berhenti bergemertak. Sebagian bibirku berdarah karena tergigit, tapi aku tidak merasakan sakit lagi dengan itu.
("Apakah perasaan itu, akan ada yang merasakannya lagi?!) aku benar benar tidak bisa menahan amarahku lagi. Sepertinya sekelilingku juga mulai terkena dampak sihir yang berkumpul pada tubuhku yang mulai menjadi tidak stabil.
("Aku mengatakan pada Suzu kekuatanku ada untuk melindungi. Melindungi mereka!") aku takut. Aku sangat takut.
Aku sudah memantapkan tekad.
"Suzu. Aku akan kembali ke sana. Aku tidak bisa menahan lagi emosiku. Aku titip Aina bersama mu, ya!" aku berteriak ketika meninggalkan mereka.
"Ren! Apa yang kau katakan?!" Suzu berteriak mungkin ingin menghentikan ku.
"Kak Ren! Jangan gegabah!!" Aina juga ingin melompat menahanku.
Tapi itu tidak akan menghentikan ku.
Aku mencari tempat lapang, dan segera melompat ke langit. Aku gunakan angin untuk terus mendorongku. Aku tidak peduli bagaimana orang orang memandangku heran, atau mungkin bagaimana tempat aku lepas landas tadi.
"Aku tidak peduli jika sampai aku kering atas MP, atau apapun itu!" Aku tidak bisa lagi berpikir apapun.
"Kali aku harus bisa menyelamatkan mereka semua, dan membuat kami bisa tertawa bersama!"