
Aku akhirnya mengatakan kepada yang lainnya kecurigaanku tentang kutukan yang ada pada ibu. Dan aku sudah mendapat petunjuk untuk menyembuhkannya .
Setelah berhasil berbincang dengan Diena, aku tahu bahwa itu bukan kutukan biasa, tapi sering disebut gejala kerasukan. Aku tidak tahu apa itu, tapi sepertinya itu adalah penyakit yang terkenal.
Dan setelah menganalisa kerasukan milik Tinki, Diena menyimpulkan bahwa penyakit itu bisa disembuhkan oleh seseorang di Gereja. Orang itu ada di Gereja pusat, yang berada di tengah kota Ronia, ibu kota kerajaan Kin.
Berarti tujuan perjalananku setelah ini adalah ibukota.
Sementara itu, aku sekarang tahu apa kegunaan asli dari sacred water, yaitu menghilangkan kutukan. Khususnya kutukan yang menempel di tubuhku setelah aku menggunakan skill aneh itu. Sepertinya aku harus sedia banyak untuk itu.
Dan skill aneh kemarin, itu adalah kemampuan yang sangat kuat, tapi bayarannya mahal. Aku harus tersiksa dengan status yang menurun jauh, hingga 10% status asli dan sakit di seluruh tubuh untuk itu.
Dan karena itu, status HP ku sangat rendah. Mungkin aku akan mati jika jatuh tersandung di tangga? Mari berdoa agar tidak terjadi hal seperti itu!
"Sepi ya?" kak Edna tiba tiba muncul ketika aku sedang berpikir sendiri di balkon.
"Ahh, kak Edna. Maafkan aku karena aku jadi menghambat waktu perjalanan, karena aku membutuhkan penyembuhan." aku meminta maaf padanya karena kita tertahan di Furyuun sampai aku pulih.
Ini sudah hari ke 10, tapi belum menunjukkan tanda tanda membaik.
"Tidak tidak! Kau tahu?! Kamu itu kuat! Dan siapa yang akan melindungi kami jika kamu tidak lebih kuat? Bukankah itu akan berbahaya?" tanyanya sambil tertawa. Aku ikut tertawa bersamanya, hanya sebentar.
Aku tahu, itu bukan tawa yang tulus. Itu semua adalah topeng.
Ini persis seperti kejadian dengan Rumia, yang mana aku bisa menggunakan skill [Observer(Mimic)] padanya. Itu yang membuatku tahu tawa kak Edna hanya tawa palsu belaka.
Jujur saja, aku agak kesal dengan itu.
"Hufft. Kak Edna. Bagaimana dengan Suzu? Lalu, apakah Aina melakukan pelatihan dengan baik bersama paman Kurls? Apakah ada hal khusus tentang mereka?" aku masih mencoba untuk mengalihkan pikiranku dari ekspresi kak Edna.
Angin bertiup pelan, menerbangkan rambut rambutku.
"Hohh! Beruntung kau bertanya! Semua baik baik saja! Berkatmu, Akademi cepat dibangun kembali. Selain itu, sepertinya Aina sangat menyukai pelajaran dengan paman Kurls. Kita beruntung memilikinya." kak Edna masih tertawa dengan membentuk pose otot.
Uhh, aku tidak suka ini.
Aku sudah menahannya sejak kami berangkat dari Eldergale, tapi aku tidak bisa benar benar membiarkannya begitu saja.
"Kak Edna." aku berbalik, dan menarik tangannya, menyudutkan ke tembok.
"Bukankah seharusnya kakak berhenti?" aku menggebrak tembok di samping kepalanya, menatapnya tajam.
"A-a-apa yang kau lakukan, Ren?!" dia sedikit tergagap dan wajahnya merah, mungkin karena marah.
Yahh, aku tidak peduli jika dia marah, tapi aku benar-benar tidak tahan lagi.
"Hentikan senyumanmu, kak. Itu memuakkan!"
"Heh? Apa maksudmu?" mata kak Edna membesar, terkejut.
"Kau adalah Edna. Bukan Ruly. Kau tidak akan pernah bisa menjadi kak Ruly. Aku sudah merelakannya pergi, jadi bisakah kamu juga merelakannya? Tidak terus berada di bawah bayang bayangnya?" ahh, aku mengatakannya.
"Apa! Apa maksudmu?!" kini kak Edna sedikit berteriak. Aku bisa melihat air mata yang mulai turun di matanya.
"Walaupun tidak ada yang mengetahuinya, tapi aku jelas bisa tahu. Ini bukan dirimu. Kamu hanya berperilaku seperti kak Ruly."
"Kau menirukannya, karena benar benar tidak bisa melepaskannya." aku terus menatapnya tajam.
"Kamu juga membuat ku sebagai pengganti sosok ayah, yang harus kamu hormati. Padahal sebelumnya tidak pernah, tapi kenapa itu semua berubah sekarang?" aku menjelaskan padanya pandanganku.
Itu membuatnya semakin banyak mengalirkan air mata, tapi aku tidak peduli.
"Aku juga kehilangan. Aku juga sedih, sama sepertimu. Tapi tolong, tolong kak." aku memegang kedua pundaknya.
"Tolong lupakan mereka. Relakan mereka. Mereka juga pasti sedih melihat kakak seperti ini." kataku.
Dia menangis, berlutut di depanku. Dia menangis cukup lama, tapi aku membiarkannya memiliki waktu sebanyak mungkin. Toh tidak ada orang lain di sekitar sini.
"Apa salahnya?" dia menggumam pelan dalam tangisnya.
"Apa salahnya aku berbuat seperti ini? Aku hanya ingin mereka tetap ada! Aku tidak ingin melupakan mereka!" teriak kak Edna, menangis.
Aku hanya tertawa kecil mendengar itu.
Huh! Betapa bodohnya!
"Dan kau katakan tidak ingin melupakan mereka? Jangan bohong! Kau hanya lari dari kenyataan! Kalau kamu ingin terus mengingat mereka, jangan menjadi mereka. Jadilah dirimu sendiri dan ingat mereka dengan caramu sendiri." aku tertawa mengejek.
"Jika kau terus menerus menjadi orang lain-" aku mendekatkan mulutku ke telinganya membisikkan sebuah kata.
Satu kalimat yang penuh arti, itu bisa membuatnya membelalakkan mata. Aku pun berlalu, meninggalkan kak Edna yang masih terduduk, diam dan tidak melakukan apapun.
Ya. Dia mirip seperti diriku yang dulu. Dengan sombong menganggap diriku bisa melakukan semuanya, bisa tetap menjaga apa yang seharusnya ada, dan menutupi semua dengan kebohongan.
"Maka kau tidak akan pernah bisa kembali lagi ke jati dirimu, kah?" aku menggumam pelan ketika meninggalkan kak Edna.
***
Di sebuah tempat yang tidak diketahui....
"Dasar bodoh kau! Apa kau tidak tahu? Apa yang kau lakukan sudah diketahui seluruh dunia! Dasar bodoh! Bajingan ini!!" seseorang berteriak, dengan nada berat pada orang yang membungkuk.
Itu adalah ruangan mirip arena yang tidak terlalu terang, dengan bentuk melingkar. Hanya ada sedikit orang disana, bahkan bisa dihitung dengan jari.
Dan terdapat orang yang sedang membungkuk di tengah arena, orang yang menggunakan jubah hitam yang terlihat dibuat dari dark magic.
Dia semakin ketakutan dengan kata kata orang yang berada di atasnya, menunduk.
"Maafkan saya, pemimpin. Saya mengambil keputusan itu karena boneka yang saya kirim ke kota itu menghilang. Jadi saya-" kata katanya terputus, ketika tiba tiba pemuda berjubah itu kehilangan tangannya.
"Hiii?!" orang itu berteriak sambil memegangi tangannya yang buntung di dekat bahu.
"Berani sekali kau menjawab?" seseorang yang tadinya sedang duduk di atas arena, tiba tiba muncul di belakang pemuda itu.
Suasana tiba tiba menjadi mencekam. Orang lain yang menonton itu hanya diam, tahu akan bahaya.
"Kelancangan pun ada batasnya, bodoh!" orang itu mengangkat tangannya, lalu petir tiba tiba terbentuk di tangannya. Itu berwarna kuning terang, yang membuat pemuda berjubah yang satu mundur ketakutan. Dia merasa ini adalah akhir untuknya!
"Tunggu!" suara seorang perempuan terdengar, memecah keributan itu.
"Dela? Ada apa?" orang yang sedang mengangkat tangannya menghilangkan petir yang ada di tangannya, dan menurunkannya.
"Aku mendapatkan informasi baru, bahwa kita berhasil memanggil Demon Lord di Furyuun." jelas wanita itu sambil mengangkat alisnya.
Tiba tiba, raut muka laki laki yang di tengah berubah senang. Pemuda berjubah kini diam, mengerti nyawanya selamat untuk sementara, dan beruntung sekarang dia diabaikan.
"Ohh! Berarti bibit yang kuberikan pada orang tua cabul sudah digunakannya! Dan bagaimana? Sampai mana dia mengamuk?" dia berputar sambil mengangkat tangannya, tertawa puas.
"I-itu, tidak ada kerusakan berarti, bahkan separuh kota Furyuun tidak hilang." jawab Dela.
Tarian kecil pria itu berhenti, dengan mata terbelalak yang mengerikan.
"Bagaimana mungkin?! Bagaimana mungkin?! Itu adalah bibit yang sudah aku kembangkan sendiri, dan itu tidak perlu tumbal anak anak bodoh! Aku sudah merancangnya seperti itu! Tapi! Tapi! Itu tidak mungkin!!" dia berteriak, mencakar wajahnya sendiri dengan tangannya.
Itu terlihat mengerikan, dimana dia mulai melukai wajahnya sendiri.
"Siapa?! Siapa yang menggagalkan peristiwa yang akan menjadi syair baruku? Siapa?!" pria itu mendekati Dela, dengan mata marah dan wajah yang terluka.
"Itu adalah Shinigami. Dia berhasil menghadapi Demon Lord sendirian."
"Ada kabarnya 7 True Demon Lords juga ikut ambil bagian dari gagalnya serangan itu, tapi itu masih belum pasti." kata Dela sambil memutar tubuhnya.
"Tapi yang pasti, Shinigami adalah orang yang sama dengan orang yang menggagalkan rencana di Eldergale. Aku bisa menjamin itu. Dan secara teknis, benar keputusan Gordo untuk menghancurkan seluruh kota agar tidak ada bukti ataupun saksi mata lagi, tapi tidak disangka bahwa kemampuan Shinigami sebesar ini." lanjut Dela panjang lebar.
Dia sepertinya memberikan pembelaan pada Gordo yang sudah meringkuk di pojok sana.
"Humm. Shinigami? Aku tidak pernah mendengar nama itu. Persetan dengan itu. Dela! Peringkatmu akan naik ke peringkat 3 jika kau berhasil dalam tugas ini!"
"Cari orang itu sampai ketemu, dan bunuh dia! Bawa sampah yang ada di pojok itu bersamamu! Gunakan sebagai umpan pun aku tidak peduli! Yang penting, bawa kepala Shinigami ke sini!" teriak pria itu sambil tertawa.
Dela hanya menunduk, lalu membawa Gordo dan menyeretnya pergi.
Suasana kembali tenang setelah mereka berdua pergi, dan yang lain juga menarik nafas lega. Hanya tersisa kemarahan pria tadi yang kini melompat pergi, dengan wajah yang sudah baik, tanpa bekas apapun.
"Baiklah, Shinigami. Mari kita dengar teriakan teriakan indah darimu! Kau sudah menyudutkan anak kucingku yang manis, maka akan aku buat kau menyanyi!" Dela terlihat tersenyum manis, walau semua orang tahu bahwa itu adalah senyum yang mematikan.
"Aku akan membuatmu menyanyi teriakan putus asa, dan aku akan mengulanginya, lagi, lagi, dan lagi sampai kau tidak mampu bernyanyi lagi!" Dela tertawa puas, sambil masih menyeret Gordo dari sana.