Become A Human In Another World

Become A Human In Another World
ACT 2: Bab 18 - Racun yang Manis



("Dia? Yang namanya Syila, ya? Sepertinya aku pernah mengenalnya.") Aku membatin dalam diam.


Ahh! Dia adalah salah satu anak yang aku selamatkan langsung. Dia ada di bagian akhir penyelamatan. Maksudku, dia adalah orang yang pernah secara langsung aku selamatkan.


Kalau tidak salah, dia adalah anak yang aku lupa untuk meminggirkannya saat bertarung.


Bisa dibilang, waktu itu aku mengabaikannya!


Uhh!! Maafkan aku!! Aku hanya bisa mengatupkan kedua tangan, meminta maaf dalam hati.


Aku lihat lagi, dia benar benar anak dari paman Childe. Rambutnya yang indah, serta bentuk wajahnya. Dia benar benar cantik.


Ahh, dunia ini benar benar dipenuhi oleh wanita wanita cantik! Sial! Aku tidak akan bisa memilih jika begini.


"Ah, um. Sepertinya aku harus memeriksa bagian sana." Kak Ruly tersenyum aneh sambil menutupi mulutnya, berlari pergi dari tempat itu.


Aku ingat! Itu adalah senyum penuh kelicikan! Entah apa lagi yang dia rencanakan sekarang.


"Ah, kak! T-tunggu!" Aku hanya bisa pasrah ketika kakakku berlari menjauh.


"Umm, maafkan kakakku yang sering bertingkah aneh. Dan juga, maafkan aku karena menghilang di saat saat seperti ini." Aku menundukkan kepala, meminta maaf.


"Ah. Tidak. Tolong angkat kepalamu. Aku sudah tidak apa. Jangan pikirkan tentang itu." Dia mengibaskan kedua tangannya, mulai salah tingkah.


Aku mengangguk, lalu tersenyum senang. Sepertinya aku mendapat waktu luang bersamanya. Mau bagaimana lagi, mari kita lakukan ini.


Walau aku jarang bersosialisasinya, tapi aku sering bermain game.


Diantaranya RPG, MOBA, sesuatu yang disebut galge, bahkan sampai otome game. Memang terdengar mengerikan, tapi aku pernah memainkannya!


Dan aku selalu serius dalam permainan itu. Tidak, aku selalu serius dalam apapun dulu.


Bahkan aku sampai mencari buku tentang hal hak untuk meningkatkan parameter rasa suka, dan buku buku tentang percintaan, yang membuatku bisa mendapatkan beberapa good ending dalam game tadi.


Dan mungkin inilah saatnya aku mempraktekkan ilmu yang kupunya. Target penangkapan, Syila!


"Oh, ya. Aku belum memperkenalkan diri dengan benar. Nama saya Ren Larvest. Putra ke 4 dari keluarga Larvest. Saat ini, aku tidak bisa masuk sekolah, hanya saja aku masih belajar sendiri dengan bimbingan kakak sesekali." Aku menundukkan badanku dengan tangan di depan.


Itu bukanlah salam yang biasa di dunia ini, tapi itu gerakan yang sering digunakan pangeran yang ada dalam game. Itu merupakan cara formal menyapa wanita bangsawan.


Dan benar! Dampak itu langsung terlihat pada Syila.


Tapi, setelah itu hanya hening yang menunggu dalam percakapan kami. Uhh, aku kehabisan bahan pembicaraan!


"Oh, ya! Semoga kita bisa akrab, ya!" Dia sepertinya juga tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Tapi jika begini, ini adalah tanda bahwa percakapan akan berakhir!


Kalau begini, tidak ada cara lain!


"Oh ya! Bisa tolong ikuti aku?" Aku menawarkan tanganku untuk memandunya.


"Eh?! Bisa saja, sih. Tapi kemana?" Dia tampak tidak yakin.


"Ikut saja dulu!" Aku segera menariknya, karena dia sudah mengatakan ya. Sebelum dia berubah pikiran, aku harus menariknya!


Kami berlari kecil dari tempat awal, menyelinap perlahan melewati celah celah. Mengendap endap berusaha untuk tidak ada yang menemukan kami.


Aku segera melompat mundur ketika menemukan ayah yang sedang berjalan, membuat Syila sedikit terkejut.


"Sebentar lagi. Setelah keluar dari tempat ini, semua akan mudah." Aku membungkam mulut Syila pelan sambil berbisik.


Syila hanya mengangguk tanda mengerti. Aku terus memperhatikan ayahku yang berjalan pelan dengan syasana tidak mengenakkan.


"Awas saja Ren, ketika kau pulang, akan kuberi kau pelajaran jika kau tidak mengenal Syila!" ayahku berkata dengan penuh amarah.


Uhh, sepertinya aku akan menjadi sate saat pulang nanti. Membayangkannya saja sudah membuatku ngeri!!


"Ayo!" Aku menggoyang tangan Syila, memberi sinyal untuk berjalan maju.


"Yosh! Kita bebas! Aku berteriak pelan ketika sudah berjalan di atas rumput hijau yang lembut. Aku kini memperlambat jalanku, karena aku masih memegang tangan Syila.


Tak terdengar jawaban apapun, aku menoleh ke arahnya dan menemukan dia yang mengangkat tangan kanannya, meminta berhenti.


Wajahnya terlihat berbahaya, keringat juga berbcucuran di dahinya.


"Ada apa, Syila?!" Aku berteriak panik.


"K-kamu. Kenapa... kamu ... baik baik saja?" Katanya terpotong potong dengan nafasnya.


"Eh? Aku hanya berjalan cepat biasa kok!" Aku memiringkan kepala bingung.


"Oy jangan jangan?" Aku tersenyum pelan sambil menatap Syila.


"Kamu jarang olahraga ya?!"


"Heh? Kok tahu?!" Syila spontan berteriak ketika aku meneriakkan pikiranku untuk mengejutkannya.


Dia memerah seketika, dan menggeleng gelengkan kepalanya dengan cepat. Rambut pendeknya juga berkibar tidak teratur.


"Bu-bukan seperti itu! Tidak! Aku salah bicara. Tolong lupakan itu!" Dia berteriak sambil menutup matanya. Itu imut.


"Ahahaha." aku tertawa.


"Tidak akan kulupakan lho!" Aku mendekatkan wajahku ke telinganya, membisikkan kata kata itu dengan tajam.


Dia menjerit keras seketika.


"Jangan lakukan itu! Telingaku sensitif." Aku merasa malu tentang itu.


Uhh, dia imut saat tersipu. Dia adalah racun. Ya! Bukan aku yang salah! Dia adalah racun mematikan!


Selain itu, aku tahu bagian sensitif bagi Syila. Hehehe.


Ups! Pikiranku mulai melayang layang entah kemana!


"Selain itu, ini semua karena kamu menarik tanganku. Aku jadi tidak ada waktu istirahat." Katanya mengangkat tangan kananku yang masih menggenggam tangan kirinya.


Aku paham apa yang dia maksud.


"Ah, tidak. Maafkan aku. Aku tidak bermaksud begitu."


"Kita bisa lepaskan sekarang." Aku melepas tangannya perlahan sambil menggaruk kepala dengan tangan kiri ku.


"Umm, bukan itu maksudku." Dia terlihat gelisah. Ada apa?


"Aku pikir kalau kamu berjalan perlahan kita bisa melakukannya." Dia mengambil tanganku, lalu menggenggamnya.


Untuk sesaat, aku merasakan kehangatan dan kelembutan tangan dari seorang wanita, yang mana belum pernah aku rasakan sebelumnya.


Tidak, bukannya aku tidak pernah merasakannya, hanya saja aku yang tidak pernah sadar untuk merasakannya! Aku merasa bodoh, karena tidak memanfaatkan waktu lebih lama.


("Sial! Untuk sementara, aku sudah terhipnotis hanya dengan tangannya. Selain itu, pose itu! Ya! Sedikit cemberut ditambah wajahnya yang nge blush! Ahh, dia sangat imut! Dia benar benar racun! Ya! Syila adalah racun! Betapa mengerikannya kekuatan Syila!") Aku hanya bisa berteriak dalam hati.


"Huuuu. Kenapa justru diam disini! Bukankah kamu akan menunjukkan suatu tempat?" Dia menarik tanganku, menyembunyikan wajahnya.


"Ah, um. Baiklah." Aku hanya mengangguk.


Begitulah, aku berjalan sambil memalingkan wajah. Ahh, aku tidak bisa melakukan ini. Aku harus bisa memegang kendali atas tubuhku!


"Baiklah. Kita sudah sampai!" Aku berteriak senang ketika melihat pohon besar di sana.


Seketika aku menjatuhkan diri ke atas rumput, di bawah pohon yang aku maksud tadi.