Become A Human In Another World

Become A Human In Another World
ACT 2: Bab 9 - Tempat aneh



"Ahh, cukup melelahkan, tapi juga menyenangkan!" Aku mendesah perlahan ketika merasakan angin yang mengalir di pipiku ketika aku berbaring di atas rumput hijau.


Ini adalah hari Minggu, dan sepertinya sore nanti, aku akan dipertemukan dengan Syila, cewek yang entah bagaimana bisa dijadwalkan bertunangan denganku 2 tahun yang akan datang.


Tapi inti dari semua ini adalah Childe.


Dia memang berniat baik untuk melindungi ku, dan juga mengawasiku. Aku tidak tahu apa dia memiliki beberapa niat buruk, tapi sebaiknya aku tidak memikirkan itu.


"Tapi, sudah 1 bulan ya?" Aku menggumam pelan, mengingat hal hak yang terjadi akhir akhir ini. Tepatnya, sudah satu bulan sejak insiden itu, dan juga aku mengajari kak Edna dalam sihirnya.


Dia kini semakin mahir dalam mengendalikan light magic nya. Walau dia masih membutuhkan rapalan, tapi chant yang dia keluarkan tetap lebih cepat daripada yang lainnya.


Walau aku bisa mengeluarkan sihir dengan jeda 0,1 detik, tapi kak Edna yang bisa mengeluarkan nya dalam jeda 2 detik sudah tergolong sangat bagus.


Dia bisa menggunakan attack magic dari Light elemennya, dan bahkan sudah mulai belajar untuk membuat dinding pertahanan dari Ice elemen nya. Itu merupakan kemajuan yang luar biasa.


Dan lebih luar biasanya, dia bisa menguasainya dalam waktu satu bulan.


"Mengesampingkan hal itu, semua informasi yang diberikan Childe semua samar." Aku kembali mengingat pertemuan kami beberapa kali terakhir.


Dia secara teratur mengunjungiku 1 Minggu sekali, untuk memberikan infromasi, mendiskusikan pikirannya, atau bahkan hanya mampir untuk minum teh saja.


Sepertinya dia benar benar menyukai teh ku.


Yahh, walau kuakui kemampuan membuat teh ku meningkat karena ini, tapi dia agak menyebalkan.


Dia sering menggodaku, apapun itu topiknya. Dan akhirnya, aku menjadi sangat dekat dengan Childe. Walaupun tidak sedekat ayahku, tapi bisa dibilang sangat dekat jika untuk ukuran orang asing.


Dan dia juga membicarakan pertunanganku dengan Syila. Ugh! Sangat menyebalkan mengingat itu...


Suzu juga sudah bisa berkomunikasi, dan bermain bersama kami seperti biasa sekarang. Bisa dibilang, ini adalah kedamaian yang sempurna.


Walaupun begitu, aku tidak bisa terlena dengan ini. Otak insiden bulan lalu belum tertangkap. Ini membuatku khawatir. Aku tidak mungkin bisa melepaskannya begitu saja.


Selain itu, ada sesuatu yang aneh dengan Suzu.


Aku pernah mendengar sesuatu seperti "Mereka berkembang lebih cepat dariku" atau seperti "Hanya ada satu pilihan untuk menerimanya." Yang aku dengar dari kamarnya.


Bukan berarti aku menguping, aku hanya kebetulan melewati kamarnya dan mendengarnya! Itu saja! Ya! Camkan itu!


Tapi setelah itu, ada berita mengatakan bahwa Suzu akan dipindahkan untuk menjalani pendidikan private untuk mengasah kemampuannya. Aku juga berpikir itu akan membantunya sedikit.


Tapi, siapapun yang memikirkan ini terdengar cukup aneh. Coba pikirkan. Mereka mengirim Suuz ke guru yang baik, tapi tidak mengundangnya kemari? Bukankah itu cukup aneh?


"Entahlah. Aku hanya bisa mengurusi masalahku sendiri. Karena sejujurnya aku punya banyak masalah disini. Terutama untuk persenjataan." Aku menganggukkan kepala ketika mengingat hal itu.


Aku sudah sering begadang untuk membuat rancangan senjata api, tapi aku belum memiliki bahan bahan yang cocok untuk itu.


Seperti aku membentuknya dari batu, tapi ketika aku tembakkan, itu meledak sekalian pistolnya.


Sangat disayangkan untuk menghancurkannya dalam sekali tembak.


Lalu memang terdengar bodoh, tapi aku membuatnya dari kayu. Bukan kayu biasa, tapi aku mengalirkan Fehl ku ke kayu itu.


Ini mengejutkan, tapi itu hampir menahannya, tapi mulut senapan menjadi melebar setelah satu kali tembak. Dengan kata lain, ini juga gagal.


Aku sudah mencoba mendesainnya menggunakan batu biasa, tapi seperti yang kuduga, kekuatannya masih sangat kurang. Aku membutuhkan benda yang lebih kuat lagi sekarang.


Dan lagi, aku membutuhkan semacam bubuk peledak untuk pendorong peluru supaya bisa melompat dengan cepat.


Aku sering berpikir bahwa ada kemungkinan ada orang yang bergerak sangat cepat, seperti peluru. Karena itu, aku ingin membuat senjata yang berkecepatan lebih dari suara. Hehe, itu akan menyenangkan hatiku.


"Sepertinya, aku harus mencari cari lagi, ya?" Aku pernah membaca memang ada beberapa hal yang mirip dengan apa yang aku inginkan.


Batu azantium, batu yang paling keras yang ada di dunia ini. Itu merupakan material yang langka, bahkan tidka bisa dibentuk dengan apapun.


Aku jadi penasaran kenapa harga material itu mahal. Padahal itu tidak bisa dihancurkan. Lalu bagaimana cara membentuknya?


Ciri ciri batu azantium adalah, batu itu berwarna perak, dengan sedikit sinar jika terkena matahari. Itu tidak akan bisa ditumbuhi lumut atau apapun, karena permukaannya padat. Bahkan itu tidak akan hancur tergerus air.


Aku sepertinya pernah mendengar ciri ciri batu seperti itu. Tapi aku agak lupa. Baiklah. Ke material kedua, aku membutuhkan batu mesofit, sebagai pengganti bubuk mesiu.


Warnanya merah, mudah meledak jika ditabrak dengan kecepatan tinggi, tapi tidak mudah terbakar dan lembut. Agak aneh memang, tapi ini adalah dunia lain. Semua bisa terjadi.


Tapi karena berbahaya, penggunaan batu itu cukup dilarang. Selain itu, tidak ada teknologi yang cukup untuk mengolahnya.


Dengan kata lain, itu cocok untukku.


"Tapi, dimana aku bisa menemukan batu azantium?" Aku kembali menggumam perlahan memikirkannya.


Ah! Aku ingat! Ada sebuah batu dengan deskripsi yang mirip di air terjun tempat aku berlatih, bukan? Batu itu tidak berlumut, bahkan tidak hancur tergerus air. Tidak salah lagi. Pasti itu batu yang aku cari!


Dengan tergesa, aku segera menuju air terjun tempat aku berlatih dulu. Aku bisa memastikan batu itu dengan segera.


"Sudah kuduga!" Aku hanya berteriak kegirangan ketika menemukannya.


Itu adalah batu yang kumaksud! Dan lagi, jumlahnya tidak sedikit, tapi sangat banyak disini. Ini seperti surga azantium!


Aku mendekati batu batu itu perlahan, sambil mengubahnya menjadi kotak kotak kecil yang pas untuk kuubah menjadi kubus kecil kecil yang berukuran tepat untuk percobaan ku membuat senjata.


"Aku heran, berapa banyak aku bisa mendapatkan ini?" Aku terus melakukannya sambil menaruh kubus kubus itu di pinggir sungai secara perlahan.


Sudah 40 butir kubus yang berhasil kubuat. Sebenarnya kubus itu tidak terlalu besar. Hanya seukuran 10×10 cm. Dan itu hanya seberat 1 kg saja. Itu adalah berat yang sangat pas untuk dibuat senjata!


"Hmm, baiklah kita sudah mendapat 60 buah dan ini belum berakhir. Apakah, whoaa!!" Aku berusaha melompat masuk, tapi justru kehilangan keseimbangan dan menabrak tanah di depanku.


Sialnya, tanah itu ambruk dan membawaku jatuh ke suatu tempat dengan kedalaman sekitar 2 meter dari sana!


"Ugh. Itu menyakitkan. Sangat!" Aku berteriak ketika berusaha merangkak keluar dari batu batu yang menimbunku.


Aku melihat tanah tanah merah menguburku, yang berhamburan hancur karena kutabrak.


Aku mendongak, melihat cahaya dari celah celah sambil memeriksa jalan masukku. Kulihat cahaya perak berasal dari azantium, dan beberapa mengalir dari sana.


"Ahh, cukup dalam, tapi aku seharusnya bisa memanjatnya." Aku mengangguk pelan, dan memeriksa sekeliling.


Aku tidak bisa berkata apa apa sekarang.


"Tempat apa ini?!"