
"Kita lihat saja, dasar naga bodoh!" Rem berteriak dengan cepat menyayat sisik naga itu secara membabi buta, meninggalkan keheranan dan rasa kesakitan di naga yang dengan cepat menyingkir itu.
Karena pada awalnya, naga itu meremehkan Ren karena pedangnya. Jadi dia tidak memasang pertahanan apapun.
("Pedang apa itu?! Bagaimana mungkin itu bisa melukaiku?!") Naga itu beeteriak keheranan, ketika Ren melihat dengan pandangan memburu.
Dia mengepakkan sayapnya, melompat mundur untuk berhati hati pada musuhnya.
"Kenapa? Kau mundur sangat jauh! Apa kau takut denganku?" Ren berteriak sambil mengayun ayunkan pedangnya.
("Cih! Ada banyak hal yang aneh darinya. Aku tidak bisa menang jika terus bermain main!") Naga itu kini tahu, ada sebuah keberadaan yang tidak boleh diremehkan, hanya karena kelihatannya bukanlah sesuatu yang kuat.
Sang naga berteriak, mengeluarkan aura membunuhnya. Dia jadi diam, Fokus pada musuh di depannya.
Dia melemparkan serangan sihir berbentuk bola bola api dari kedua sayapnya yang menghasilkan sebuah sihir.
"Begitu! Apapun yang terjadi, aku akan membunuhmu!" Ren berteriak senang, sambil melesat maju dengan cepat, membawa kedua pedangnya dejajar dengan kedua tangannya. Mudah baginya untuk menghindari sihir sihir itu.
Kecepatan Ren masih normal di mata petualang biasa, maupun yang lain. Tapi sekarang berbeda.
("Kenapa ini? Dia bisa bertambah secepat ini?!") Naga itu tercengang, melihat perubahan kecepatan Ren yang menjadi gila.
Kenapa? Jawabannya hanya satu. Ren menguatkan tubuhnya menggunakan sihir.
Biasanya langkah ini akan berbahaya untuk tubuhnya, dan dia sangat menghindari penggunaannya. Tapi begitu mendapat keuntungan seperti ini, Ren dengan cepat menyalurkan seperempat total MP nya ke dalam penguatan tubuh.
Hasilnya? Statistik Ren ada yang menguat hingga 5 kali lipat. Dan walaupun Agility nya tidak berkembang sejauh itu, tapi tetap saja, statistik agility lebih dari 100 merupakan hal yang gila di dunia ini.
Ren bisa menebas sesuka hati, ke kanan dan kiri, memaksimalkan serangan oedangnya. Dia berputar, tidak memberikan lawannya celah sedikitpun.
Kalaupun ada celah, sudah pasti Ren segera menutupnya tanpa ampun.
Naga itu merasakan ketakutan yang belum pernah dia alami sebelumnya. Dimana seluruh tubuhnya digempur hanya oleh satu orang bocah. Dan dia bahkan tidka bisa membalasnya.
Tapi kemampuan Ren memiliki kelemahan. Stamina. Dia tidak bisa terus terusan bergerak seperti orang gila menyayat naga itu, dan naga itu terus menunggu celah se sedikit apapun.
Ren berlari menelan menuju sisi kiri, terus menebas sisiknya, mengikis lapisan keras pada tubuhnya, lalu berpindah ke muka, berusaha melukai kepala sang naga.
Naga itu memang terpojok, tapi memiliki refleks yang baik, ketika seketika stamina Ren habis, dan Naga itu tahu.
Sang naga mengacungkan cakarnya, mencoba menebas ke arah Ren dengan sekuat tenaga.
"Ini gawat!" Ren berbisik dengan mata melebar mencoba menahan cakar yang datang dengan pedangnya, yang bertabrakan secara tidak sejajar.
Cakar naga, merupakan material paling kuat dan tajam di dunia ini. Bahkan Azantium material yang sangat kuat bisa dipotongnya seperti bukan masalah!
Salah satu pedang Ren terbelah dua, dengan Ren yang terlempar ke belakang, bersama pedang Azantium di tangan kirinya dan sebuah pedang buntung di tangan kanannya.
"Ahahaha! Aku tidak tahu apa trikmu. Tapi aku tetap yang akan menang!" Kata Naga sambil menghadap Ren, dengan lingkaran lingkaran sihir yang terbentuk puluhan dengan ukuran lingkarang berdiameter 5 meter.
"Apa kau sudah mulai menyerah, hah?!" Naga itu berteriak remeh.
?!
("Aku merasakan aura yang berbeda darinya.) Naga itu sedikit berhati hati sekarang.
"Aku akan mencoba dampaknya padamu. Ren mencabut pedangnya, dan tiba tiba melesat maju untuk menghancurkan perut naga itu.
Bahkan Naga itu terperangah karena kecepatan Ren yang meningkat. Jelas saja, perut naga merupakan tempat yang mudah untuk ditembus.
Beberapa darah keluar dari sana, membuat naga itu segera fokus melindungi perutnya sambil memelototi Ren yang sekarang menghilang.
("Dari atas?!") Kini naga itu bisa tahu, membuat masalah dengannya adalah hal yang bodoh.
"Heryahh!!" Ren bergerak cepat ketika melihat naga yang membuat celah lebar.
Sebenarnya sejak awal Ren sudah mengincar ini. Karena itu, dia menipiskan lapisan sisik Admantium di bagian atasnya.
"Dengan ini, akan kuakhiri kau!!" Ren berteriak sambil memutar pedangnya menghujamkannya ke punggung naga itu. Dia membuat luka yang lebar dan juga dalam disana.
Dan di tangan kirinya, terlihat gumpalan bolah hitam, [Storm Firebolt] yang pernah dia keluarkan dulu, dan kini lebih terkonsentrasi.
("Aku merasakan bahaya dari itu!") Naga itu berlari terbang, menghempaskan Ren dari tubuhnya.
"Whoaa!! Dasar naga siallll!" sihir di tangan kiri Ren menjadi lepas kembali, membuatnya terbang ke langit-langit gua. Itu menyebabkan ledakan di gunung, dengan naga itu menembus terbang, keatas sambil membawa Ren di punggungnya.
Ren bergelantungan di beberapa sisik naga itu, sementara si naga berhenti. Ren tampak melakukan sesuatu, tapi tetap diam, menunggu.
("Aku harus melakukan itu.") Naga coklat itu memutar tubuhnya, mementalkan Ren ke bawah tempat awal mereka bertempur.
"Haha! Keadaan berbalik, bodoh!" Sang naga itu berteriak marah, kemudian memandang rendah Ren. Tapi dia tidak ingin ceroboh kali ini. Dia menyiapkan sejumlah sihir terbesarnya, sekaligus nafas terkuatnya.
Dia melaksanakan serangan terbaik yang pernah dia punya sekarang, memastikan musuhnya benar benar mati.
Ren yang baru saja jatuh tidak bisa menghindar, terkena telak serangan itu.
Lahan menjadi hangus. Tanah kini tidak berwarna coklat lagi. Batu batu mineral juga menghitam karena serangan tadi.
Walaupun sebenarnya daya ledaknya tidak bisa dibandingkan dengan [Storm Firebolt] milik Ren, tapi itu merupakan daya serang yang besar.
Setidaknya, makhluk tanpa perlindungan disana pasti mati, entah itu Human, Elf, atau bahkan Priest.
Sang naga yang mengeluarkan itu turun dengan cepat, mendarat di tanah yang membara oleh panas, hingga tak mampu ditinggali lagi. Dia mencari lawannya yang sudah tidak terlihat, bahkan sisa debunya.
Lolongan kemenangan mengakhiri rentetan peristiwa itu.