Become A Human In Another World

Become A Human In Another World
ACT 2: Bab 2 - Pembicaraan Dalam Acara Minum Teh



"Ba-bagaimana bi-bisa?" Kini Ren sudah bisa menguasai tubuhnya lagi.


"Kau tahu? Aku memiliki skill khusus, [Time for Truth] yang bisa menggunakan sihir waktu. Aku bisa menyombongkannya karena yang dapat memakai skill ini hanya dapat dihitung jari tangan di seluruh dunia ini." Childe tertawa, menunjukkan statusnya.


Ren melihat lagi, dan menemukan skill yang dimaksud. Dia sempat tidak menghiraukannya, karena saking banyaknya skill Childe, dan dia melewatkan bagian itu.


("Sihir waktu, bukankah itu mengerikan? Kalau aku bisa memilikinya, aku bisa saja kembali ke bumi, bukan? Bukankah itu seharusnya terlarang?!") Ren kembali berteriak dalam batinnya.


"Kau berpikir aku bisa mengendalikan waktu? Tidak! Aku hanya bisa melihat kenangan pada seseorang untuk beberapa waktu." seperti menebak pikiran Ren, Childe tertawa kecil.


"Ini bukanlah skill yang luar biasa, karena memang kegunaannya hanya untuk memeriksa kebenaran." Childe menambah teh ke gelasnya.


("Kalau memang begitu, dia pasti melihat kenangan Soeye,") Ren yang sudah mulai paham situasinya, kini mulai tenang.


"Seperti yang kau pikirkan, aku melihat kenangan anak itu, dan melihat "Shinigami" itu." Jelas Childe.


"Tapi, kenapa kau tahu itu aku?" Tanya Ren bingung. Memang benar, bisa saja Childe tidak mengetahuinya. Walaupun wajah mereka sama, tapi warna rambut yang berbeda adalah hal yang penting.


Di dunia ini, warna rambut masih belum bisa diubah sesuka hati.


"Sudah kubilang, aku mengetahui semuanya. Termasuk dia yang menanyakan nama aslimu. Dan apa jawabanmu?" Childe bertanya tenang.


"Aku tidak menjawabnya. Tapi," Ren menggumam perlahan, tapi dia kini mengerti.


Saat itu, Ren hanya bisa terdiam terkejut menatap Childe.


"Kau menjelaskan bahwa kau adalah manusia! Satu satunya manusia yang ada di sekitar sini hanyalah kau, Ren. Mungkin tidak ada yang mengetahui itu, tapi kami anggota guild tahu itu. Mungkin ada saatnya anak itu juga akan mengetahuinya." Jelas Childe tertawa.


Dan Ren, dia jelas tidak bisa membantah saat ini.


"Aahgg!" Ren berteriak frustasi ketika rahasianya terbuka sebegitu mudahnya.


"Ahahaha! Kau benar benar anak yang menarik! Aku semakin penasaran denganmu!" Childe tertawa sambil menepuk kan kedua tangannya.


Ren hanya bingung, lalu kembali menjaga sikapnya pada orang yang ada di depannya.


"Ah, maafkan saya." Ren menjadi sopan.


"Jadi, apa yang anda ingin lakukan dari saya?" Ren duduk, bernafas sedikit keras dengan cukup kesal.


"Tidak. Bisakah kau tidak mengubah cara bicaramu? Aku merasa tidak nyaman, dan juga kau adalah penyelamat anakku." Childe tersenyum lembut.


"Baiklah. Aku anggap paman Childe sudah pernah melihatku seperti ini, bukan? [Change]!" Ren mengubah rambutnya kembali menjadi hitam.


("Uhh, kenapa ini semua bisa terjadi? Tapi sepertinya, dia cukup bisa dimanfaatkan. Tergantung aku bagaimana menanggapinya.") Ren masih mencoba mencari velah.


Ren kembali berfikir, bagaimana dia memanfaatkan hal yang tidak menguntungkan baginya ini.


"Wahh! Benar! Ini benar kau! Sudah kuduga!" Childe berteriak kegirangan ketika Ren mengganti warna rambutnya.


Ren tersenyum melihat itu, tapi tetap dengan wajah yang bermasalah.


"Apa apaan wajah itu? Aku tidak akan membeberkan ini pada siapapun, bahkan Roy sendiri!" Childe berusaha menghibur Ren.


Ren yang sengaja membuat wajah sedih itu tersenyum.


("Berhasil, ya?") Ren tersenyum senang.


"Yahh, itu memang seharusnya. Sejujurnya, aku juga tidak tahu, apa yang aku lakukan ini benar, tapi aku hanya mengikuti kata hatiku." Jawab Ren sambil meminum teh nya.


"Ahahaha! Memang benar! Aku kini benar benar menyukaimu!" Kata Childe terbahak bahak.


Suasana hening sesaat.


"Ngomong ngomong, bisakah kamu mengajariku sihir yang kau lakukan kemarin? Itu bahkan terlihat dari kota! Aku jadi penasaran, sihir apa itu. Itu tidak pernah dituliskan dalam buku." wajahnya antusias.


"Atau mungkin, kau membuatnya sendiri?" Childe memegang dagunya, kini memasang wajah berpikir.


"A-ah, yahh, bisa dibilang aku membuatnya sendiri. Tapi aku tidak bisa membuat sihir itu lagi. Pertama dan terakhir aku mengeluarkannya, adalah saat itu, setidaknya untuk saat ini." Jelas Ren tertunduk.


"Apa maksudmu?" Kening Childe mengerut.


"Yahh, kalau aku mengeluarkan Fehl secara besar besaran, kebocoran itu akan membunuhku, menghancurkan tubuhku. Mungkin aku hanya bisa bertahan kurang dari 5 menit." Kata Ren tenang sambil memeras lemon ke teh nya.


"Jadi, sebesar itu Fehl yang dibutuhkan hingga itu menghancurkan dirimu sendiri, ya?" Childe dengan cepat paham.


"Beri aku satu!" Childe mendorong cangkir teh nya ke Ren, yang memeras lemon. Ren dengan segera memberinya, memeraskannya untuk Childe.


Childe meniru Ren yang mengaduknya terlebih dahulu, lalu meminumnya. Dan itu membuatnya kembali terkagum.


"Ini benar benar menenangkan. Aku jadi merasa ringan dan mudah bicara!" Komentar Childe pada teh yang di


"Haha! Itu benar! Aku ingin paman Childe mudah bicara, untuk mengatakan apa maksud dan tujuan utama paman. Dengan kata lain, ini adalah sogokan." Ren menikmati aroma teh, sebelum meminumnya.


"Humm, kau benar benar jujur, ya? Kalau begitu," Childe menaruh cangkir teh nya.


"Aku akui, kau sangat luar biasa untuk bisa menyelamatkan mereka, terutama putriku. Kau bisa berani menyusup masuk sendirian, dan berhasil melakukannya dengan cepat, tidak membuat mereka kekurangan sedikit apapun." Childe memulai penjelasannya.


"Kau terlalu memujiku, paman! Aku yakin paman Childe pun bisa menghabisi mereka sendirian. Mereka hanya keroco yang setara dengan orang orang berlevel belasan!" Ucap Ren sedikit merendah, atau menyindir.


"Khu Khu. Kau benar. Tapi aku tidak bisa datang tepat waktu. Mungkin jika itu aku, aku tidak akan sempat untuk menyelamatkan mereka, dan hanya menyaksikan mereka menjadi korban untuk Demon King." Childe menarik nafas.


"Jadi, dengan kata lain, nyawa mereka sepenuhnya adalah milikmu. Kau memegang nyawa mereka." Lanjut Childe.


("Apa yang dia pikirkan? Jujur saja aku tidak bisa membaca pikirannya. Dia terlalu sulit ditebak!") Ren membatin.


("Apa aku perlu mengetesnya?") dia mulai tersenyum.


"Eh? Jadi, kau mengatakan bahwa mereka semua hanyalah wadah atas jiwa jiwa yang aku selamatkan? Dengan kata lain, mereka semua milikku?" Tanya Ren sedikit ekstrim, berusaha memancing Childe.


"Ah, kau memancingku?"


"Cih!" Ren mendecak perlahan.


"Ya. Kalau diucapkan secara langsung, kau benar. Jadi aku memikirkan sebuah cara." Childe menyatukan kedua tangannya, dengan jari jari yang saling bersentuhan membentuk sebuah Piramida.


"Aku memikirkan untukmu menjadi tunangan Syila. Bagaimana?" Tanya Childe tenang.


"UHUK!!!"


"Apa itu? K-kau menyerahkan p-putrimu sendiri? Ap-apa k-kau sudah gila?!" Ren berteriak keras sambil berdiri, meletakkan cangkir tehnya dengan keras. Sebuah keajaiban cangkir mahal itu tidak pecah.


("Apa maksudnya? Apa dia sedang mengujiku? Tapi, pertunangan ya? Eh, aku memang memiliki janji untuk dunia ini, tapi tidak secepat ini sialaan!!!") Ren berteriak dalam hati, menggeleng gelengkan kepalanya cepat.


Childe tersenyum sekarang. Memang dari awal ini adalah hal yang dia incar.


Dengan kata lain, Ren masuk dalam jebakannya.


"Kenapa? Bukankah tadi kau yang mengatakan bahwa mereka semua adalah milikmu? Kenapa kau sekarang mundur?" Tanya Childe mengejek.


"A-ah! T-tapi, itu, oh ya! Aku belum pernah mengenalnya!" Teriak Ren memucat.


"Bukankah itu mudah untuk kita? Perkenalan tidaklah penting. Bahkan ada yang tiba tiba dinikahkan. Itu semua hal yang wajar." Jawab Childe tetap tenang.


("Orang ini benar benar gila! Apa yang harus kulakukan?!") Ren kembali berpikir, kini dengan keringat yang mulai muncul di pelipisnya.


"Ahh, kalau begitu, aku belum pernah menemuinya. Dan juga, bisa saja dia tidak menerimaku karena aku manusia. Itu semua hal yang mungkin, bukan?" Jawab Ren.


Dia mengingat masa lalunya, yang ditolak bahkan untuk berteman dengan teman perempuannya.


Pernah sekali dia mencoba untuk menyapa salah satu temannya, tapi dia hanya diacuhkan.


Ada yang justru membuang muka, atau membuat muka tidak menyenangkan. Mengingatnya membuat Ren kesal.


"Itu hal yang mudah. Kau tidak perlu memikirkannya." Childe tersenyum, tidak mengerti inti permasalahannya.


"Sepertinya, akan mustahil untukku menghentikan niatmu, ya?" Ren mulai tenang dan terduduk kembali.


Semua alibinya pasti dipatahkan. Dia semakin melihat bahwa Childe adalah orang yang mengerikan.


"Ya betul! Tapi aku juga melihat ini adalah hal yang terlalu cepat. Bagaimana jika kita mulai dari kau umur 11, begitu juga dengan Syila. Dia akan berumur 11."


"Pertama tama kau akan bertunangan dengannya, dan kau bisa sesuka hatimu menentukan tanggal pernikahan. Tapi ingat saja ya, jangan terlalu lama." Childe tertawa setelah menjelaskan panjang lebar.


("Topik, topik! Aku butuh topik!") Ren mulai tersiksa dengan semua ini.


"Hei, dari pada itu," kini Ren memadang wajah serius. Walau maksudnya mengalihkan pembicaraan, tapi kini dia berbicara dengan serius.


"Dari pada itu?"


"Kita harus berhati hati. Paman tahu bukan? Kain Eldian itu terbuat dari apa?" Tanya Ren menatap tajam ke arah Childe.


"Ya. Aku sedikitnya tahu. Itu adalah kain berbahaya yang digunakan di masa peperangan kelam dulu. Itu ampuh untuk melawan Elf." Jawab Childe sedikit berkeringat, meminum teh nya.


"Dan itu terbuat dari-"


"Air suci. Salah satu bahan yang dibutuhkan untuk membuat Kain Eldian." Childe menyela.


("Yeay! Aku berhasil mengganti topik!") Ren berteriak senang dalam hati.


"Benar. Dan Air Suci sudah diserahkan sepenuhnya kepada Elf, karena Elf yang bisa memaksimalkan potensinya. Selain itu, perjanjian damai antar ras juga memaksa seluruh negara untuk melakukan itu." Ren menutup matanya.


"Ya. Dan aku tidak tahu dari mana mereka mendapatkan Air Suci itu." Childe juga terlihat sedikit gelap.


"Bukankah kalian memilikinya? Di Guild." Ren meletakkan tangannya di meja pelan mendekatkan kepalanya ke arah Childe, berbisik.


"Maksudmu?! Orang di Guild yang merencanakan ini?!" Childe juga meniru Ren, berbisik tapi dengan suara yang kuat.


"Menurutku, ini bukan perkiraan lagi. Tapi memang benar adanya. Dan aku masih bingung apa motif yang mendasari perbuatannya. Ada kemungkinan dia ingin menggulingkan Guild. Tapi jika begitu, apa keuntungannya bagi mereka?" Ren kembali berfikir.


"Aku memikirkan suatu hal!" Childe berteriak antusias.


"Apa keuntungan mereka ketika berhasil memanggil Demon King? Bukankah mereka juga akan terkena dampaknya?" Tanya Childe realistis.


"Humm benar. Apa yang mereka dapat jika Kota ini hancur?" Ren terdiam.


("Childe benar ketika mengatakan itu. Bisa juga mereka hancur ketika Demon King terpanggil. Kalau mereka sudah berniat memanggilnya, kemungkinan mereka sudah menyiapkannya, kah?") Ren mulai menganalisa.


"Paman Childe. Bagaimana jika tujuan mereka menjatuhkan kepemimpinan Guild masa kini, dan mereka sudah menyiapkan senjata untuk menangkal Demon King?" Jawab Ren yakin.


"Heh?! Itu tidak mungkin! Demon King bukanlah entitas yang dapat dilawan dengan cara biasa! Dibutuhkan ksatria elite, dan itu tidak hanya 1 atau 2!" Childe menggebrak meja tak percaya.


Ren tersenyum kecut.


"Baiklah. Kalau begitu, apa yang akan paman lakukan jika kota ini diserang oleh Demon King?" Tanya Ren menyiapkan argumen. Dia melirik Childe tajam.


"Tentu saja aku akan bertarung melawannya!" Teriak Childe yakin.


Ren hanya diam, meminum teh nya lagi. Dia memejamkan mata, mengangguk angguk tanda mengerti. Tapi dia hanya diam, menunggu Childe untuk mengerti apa yang dia ucapkan sendiri.


"Ah, kau benar. Dia bisa memanfaatkan kami?" Tanya Childe.


"Akhirnya paman menyadarinya!"


"Kota ini penuh dengan orang kuat. Dia mungkin tidak cukup kuat, tapi orang orang Guild sangat kuat. Dia memang ingin menghancurkan kepengurusan Guild, tapi dia tidak ingin menghilangkan orang orang yang akan berguna baginya." Jelas Ren sambil menutup mulutnya dengan jari jari kedua tangannya.


"Dengan kata lain, dia hanya mengincar satu orang, satu posisi." Ren terdiam perlahan, ketika pandangannya mendingin.


"Dia mengincar ayahku, posisinya sebagai Guild Master kota Eldergale ini." Tatapan Ren dingin, penuh dengan rasa penasaran dan sedikit amarah.


"Dia telah salah mengincar keluarga ku saat ini." Lanjut Ren, kini semakin tenang.


"Kalau begitu, sepertinya aku harus segera menyelidiki pelakunya." Jawab Childe kembali duduk dengan tenang. Suasana sementara hening, menyisakan suara dentingan gelas yang beradu dengan piring.


"Aku rasa mereka salah memilih lawan. Aku akan membantumu. Jadi, apa yang harus aku lakukan?" Tanya Childe.


Suasana mencekam karena amarah Ren tidak terbendung. Semua diam, dengan Childe yang mengamati perubahan yang terjadi pada Ren.


("Orang orang bodoh. Aku sekarang tahu, orang biasa tidak akan lolos darinya. Aku tidak tahu apa yang mereka inginkan tapi, aku bahkan bisa merasakan amarahnya dari jarak segini.)" Childe mengambil teh yang air di dalamnya mulai bergetar.


("Mungkin ini jarak yang pendek, tapi setidaknya, dia memiliki kemampuan mengontrol Mana di udara yang baik, sehingga Fehl nya ditanggapi Mana dengan mudah. Aku benar benar takut. Aku benar benar kagum dengan manusia!") Childe sedikit bergetar dalam hatinya.


"Benar juga. Aku memilikimu, paman. Kau memang memiliki beberapa hal yang tidak masuk akal untuk diucapkan, tapi kau benar benar luar biasa." Tanggap Ren tersenyum.


"Aku bahkan tidak tahu, siapa yang pantas disebut "tidak masuk akal" disini." Childe berkata sedikit menyindir Ren. Ren hanya tertawa kecil, mendengar itu.


"Ya. Aku ingin minta tolong, untuk mencari siapa dalang di balik ini semua. Aku tidak bisa keluar dari sini, dan aku juga tidak bisa berkecimpung banyak dalam Guild. Itu akan sempurna untukku memilikimu di pihakku, paman Childe." Kata Ren mengulurkan tangannya.


"Hmm, aku mengerti. Tapi aku tidak berjanji untuk memberimu kabar baik dengan cepat." Childe menanggapi tangan Ren dengan menjabatnya, tanda setuju.


"Aku tahu ini akan sulit bagi paman, karena paman hanya bergerak sendiri dan tidak bisa mempercayai siapapun, tapi aku akan selalu menunggu kabar baik." Ren tersenyum lebar.


Childe tersenyum menggurat, lalu menarik lagi tangannya.


"Ya. Aku tahu itu tidak akan mudah. Mungkin aku membutuhkan waktu 3, tidak. 5 tahun untuk bisa mengetahui itu. Dan aku juga tahu mereka tidak akan bergerak cepat. Aku juga akan sering sering mampir untuk membicarakannya. Aku senang dengan teh buatanmu, nak!" Sahut Childe sedikit tertawa mengangkat cangkirnya.


"Ya! Aku akan dengan senang hati menunggu, dan jika paman datang, aku juga akan dengan senang hati menyiapkan beberapa teh!" Jawab Ren. Mereka hanya tertawa bersama.


***


Di suatu tempat yang lain, terdengar suara teriakan teriakan tidak mengenakkan, yang jujur terasa mengerikan untuk didengar.


Itu berasal dari suatu ruangan di sebuah mansion, dengan pintu terkunci, serta tidak terlihat ada tirai atau jendela yang terbuka.


Tidak ada cahaya disana, bahkan lilin atau lampu api di dinding pun padam.


Hanya ada teriakan serta suara buku buku serta barang barang yang dibuang pemiliknya, yang jelas nampak kesal.


"Semua rencanaku! Sialan! Aarhgh!"


PYARR! Terdengar suara pecahan dari suatu barang yang dilempar. Padahal dia tahu, barang pecah belah seperti kaca dan keramik disini adalah barang yang sangat mahal.


"Kenapa ada pahlawan sial itu? Aku, semua rencanaku! Semua ambisiku! Aku seharusnya bisa duduk di kursi Guild saat ini, menikmati semua rencana yang sudah kubangun. Melihat mereka berjuang melindungi kota sial ini!" Dia terus mengumpat, kini berhenti dan menggebrak meja dengan nafas tersengal.


"Jika aku berhasil menyingkirkan si Roy dan Suzu, kekuasaan pasti akan jatuh padaku. Tidak mungkin Edna yang mengambil, atau bahkan Ruly."


"Ruly tidak akan diterima karena sikapnya, bahkan Edna tidak memiliki umur yang cukup. Sedangkan yang tersisa dari mereka, hanya manusia bodoh seperti Nina dan anaknya yang ada. Aku yakin tidak akan yang mau menerima itu." Katanya sambil mulai terdiam.


"Apa aku harus mengacaukan Dungeon? Tidak. Itu akan terlalu mengandalkan kultus. Posisi ku akan berbahaya." Dia menggeleng gelengkan kepala.


"Lagipula, Dungeon di Eldergale ini adalah Rank-B. Monster di sini tidak terlalu kuat bagi mereka yang bisa dibilang party Rank-S!"


"Ahh! Mau bagaimana lagi! Aku akan menjalankan rencana terakhir! Walaupun ini membutuhkan 1 tahun, tidak. Untuk lebih sempurna aku membutuhkan 2 tahun!" Dia mulai tersenyum.


Dia mulai tertawa sendirian di ruangan gelap itu. Tawa yang mengerikan menggema sepanjang lorong, hingga sepanjang mansion itu.


***


note: Bagaimana cerita dengan Third person PoV? Author lagi nyoba menulis dengan pandangan Third person, tapi rasanya agak aneh. Mungkin nanti bakal balik ke First person? 🤔