Become A Human In Another World

Become A Human In Another World
ACT 5: Bab 37 - Tidak Ada Istirahat.



BZZTTT DOR DOR BAM BAM BAM!!!


Suara itu terdengar hingga ke seluruh Li Tian, membuat orang orang yang sedang berjaga di sekeliling kota, seperti Yuan Yi, yang berada di barat, dan Shelan yang berada di timur senang.


Tentu, Liu Xiu juga senang, karena dia tidak harus memikirkan satu Iblis yang melarikan diri dan selamat disini.


Tapi, memikirkannya kembali membuat Liu Xiu ngeri.


Bagaimana mereka bisa memanggil sangat banyak Iblis ke dunia ini, atau bahkan membuka gerbang untuk memanggilnya. Dan yang membuatnya lebih menakutkan, salah satu bahan utama yang digunakan untuk melakukan ritual, adalah Reinkarnator. Dengan kata lain salah satu dari dia.


Ada kemungkinan dia akan diculik, atau bahkan hal yang lebih buruk, Beta yang diculik oleh mereka.


Tapi selalu hidup dalam ketakutan lebih buruk dari pada mati atau ditangkap. Setidaknya itu yang Liu Xiu pikirkan sekarang.


Langit semakin gelap. Awan Cumulonimbus juga berarak, memberi tambahan suasana yang mencekam. Jelas, semua orang tahu hujan deras akan terjadi.


"Sudah mulai, kah? Hufft. Aku benar benar tidak diberi istirahat, bukan? Ini melelahkan." gerutu Liu Xiu, seraya menatap jauh ke kumpulan awan hitam yang semakin tebal.


BZZT DAR!!


Memikirkan itu Liu Xiu berdiri, dengan diiringi petir yang saling menyambar, menandakan badai akan datang.


"Hufft. Aku kira tadi akan cerah, tapi kenapa datang badai seperti ini? Dan juga..." Liu Xiu mrlihat sekeliling dengan tatapan tajam. Ada sesuatu yang dia awasi, tapi setelah beberapa saat, dia melepaskannya.


Merasa terlambat, Liu Xiu segera kembali ke gerbang kota, untuk bertemu dengan anggota Guild yang pasti sudah kembali ke Adventurer Guild.


Di tengah jalan, dia bertemu dengan Yuan Yi dari gerbang barat. Tidak, sepertinya dia menunggu Liu Xiu.


"Hey, Liu Xiu. Kenapa kau menyembunyikan fakta bahwa kau adalah Adventurer ternama di Fuheng?" tanya Yuan Yi, sedikit cemberut.


"Yahh, aku tidak menyembunyikannya. Kau tahu? Aku selalu mengatakan bahwa aku adalah Adventurer, dan aku tidak berbohong." kata Liu Xiu sedikit memiringkan kepalanya.


Yuan Yi masih cemberut, dan mulai mendekati Liu Xiu.


"Tapi! Kau tidak bilang bahwa kau se-" Yuan Yi tidak bisa menyelesaikan kalimatnya, karena Liu Xiu dengan cepat menutup mulutnya.


"Heuhhh!!! Kwenapwa? H-Hwei Lwiu Xiu!!!" Yuan Yi sedikit berontak, ketika Liu Xiu membekap mulutnya sedikit.


"Hei, Yuan Yi! Tenanglah sedikit! Dan juga, diam. Kalau di tempat ini tidak akan ada yang tahu!" bisik Liu Xiu sambil sedikit menyembunyikan Yuan Yi.


Yuan Yi yang terkejut terdiam, merasa bahwa Liu Xiu kali ini serius, tidak bermain main atau bahkan bercanda.


"Yuan Yi. Aku ingin kau jangan katakan tentang kekuatanku sekarang. Ini penting. Dan juga, aku ingin kau...." Liu Xiu membisikkan beberapa kata, pada Yuan Yi. Itu membuat Yuan Yi membelalakkan mata, tidak percaya.


"Liu Xiu, kau?!!" nada Yuan Yi meninggi, dan menatap Liu Xiu dengan mata penuh amarah.


Liu Xiu menarik nafas, dan hanya bisa tertawa kering. Bagaimanapun melihatnya, itu hanya tawa palsu yang menyembunyikan rasa lain di dalamnya.


"Lakukan itu, Yuan Yi. Dan jangan percaya siapapun kecuali orang yang aku sebutkan tadi. Ingat, ini adalah misi khusus. Hanya itu mungkin yang bisa aku katakan padamu." kata Liu Xiu, sambil mengangkat tangan, berlari pergi.


Yuan Yi hanya diam, sambil melihat punggung Liu Xiu yang semakin menjauh. Dalam hatinya, ada rasa marah, sedih, kecewa, bahkan kekaguman bercampur aduk membentuk ekspresi nya sekarang.


Mudahnya, ekspresi nya sekarang benar benar tidak puas, dan menyakitkan untuk dilihat.


"Oh ya! Katakan aku tidak bisa mengikuti acara nanti! Aku harus mengurus beberapa hal dengan rekan party ku. Yahh, kau akan segera bertemu dengannya. Jadi aku harus menceritakan kau dengan mereka!!" teriak Liu Xiu sebelum pergi.


BZZTTT DAR!!!


Suara petir terdengar menggema di kota yang masih terlihat kosong itu, dan suasana pagi juga gelap bagaikan malam hari.


Di tengah perempatan jalan kota, hanya ada Yuan Yi, yang menangis. Tapi air hujan yang turun berusaha untuk menghapus air matanya. Dan dalam derasnya hujan dan suara petir, suara rintihan kecil terdengar.


"Kenapa kau lakukan itu, Liu Xiu?"


Hujan semakin deras, menghapus jejak yang ditinggalkan Liu Xiu di jalanan yang semakin becek akan air hujan.


"Aku harus cepat sampai di penginapan!" ucapnya pelan. Lantas, dia teringat salah satu anggotanya, Dain.


"Dain! Kalau kau ada di sekitar sini, jawablah!!" teriak Liu Xiu di tengah derasnya hujan.


Tidak ada jawaban, hanya angin yang bertiup menjawab Liu Xiu.


"Dain?!?" Liu Xiu berhenti sesaat, dan melihat ke sebuah siluet bayangan di atap rumah. Tapi sesaat kemudian, siluet itu bergerak, dan melompat, segera turun dan menunduk ke arah Liu Xiu.


"Maaf tidak segera menjawab panggilan anda, Master. Saya pikir Master akan menunggu hingga ke penginapan, dan bertemu dengan saya." jawab Dain, seraya masih menunduk.


Liu Xiu sedikit tersenyum, lalu menggerakkan tangan, menepuk kepala Dain yang sedikit rendah dari dadanya.


"Tidak, ini salahku karena memintamu untuk segera datang walau hujan turun dengan deras. Tapi, ada hal yang ingin aku sampaikan padamu, pada kalian." kata Liu Xiu, mengambil bahu Dain, membuat tubuhnya tegak.


"Ya, Master?" tanya Dain sedikit mengalihkan mata, agar tidak menatap wajah Liu Xiu secara langsung.


Liu Xiu membungkuk sedikit, agar tingginya sama. Dia lantas maju, ke arah telinga Dain, membisikkan beberapa hal ke telinganya.


Liu Xiu juga menyelipkan beberapa hal di pakaian Dain, terlihat seperti tumpukan kain yang dijadikan satu. Dain terlihat bingung, dan sedikit memiringkan kepala.


"Baik, Master. Tapi jika boleh tahu, apa yang Master rencanakan? Selain itu, kenapa saya?" tanya Dain.


"Pertanyaan pertama, maaf aku tak bisa menjawabnya. Yang kedua, itu karena kau pasti sudah tahu dimana posisi masing masing dari anggota lainnya, bukan? Itu akan mempermudah pencarian." jawab Liu Xiu mudah.


"Kita berpacu dengan waktu. Maaf, tapi ini adalah perintah. Jangan menolak, dan lakukan saja. Kalau tidak, rencana ku bisa gagal." lanjut Liu Xiu lagi.


Dain terlihat sulit menerima itu, tapi dia mengangguk pelan.


Liu Xiu menunggu beberapa saat, kalau kalau Dain akan bertanya sesuatu. Tapi tampaknya kata "perintah" sudah cukup untuk membuat Dain bergerak tanpa menanyakan apapun lagi, jadi Liu Xiu bertepuk tangan senang.


"Baiklah. Kalau begitu, pergilah! Kita harus cepat!!" teriak Liu Xiu mendorong Dain, untuk segera berangkat.


Dain sedikit berat untuk segera berlari, meninggalkan Liu Xiu. Tapi setelah mendecak pelan, dia segera berlari, melompat ke atap dan menghilang.


Liu Xiu sedikit memperhatikan Dain sampai akhirnya Dian menghilang di balik rumah rumah yang tinggi. Liu Xiu termenung, memikirkan sesuatu. Dia lantas menatap ke langit, membiarkan air hujan membasahi matanya.


"Apakah hal yang aku lakukan ini sudah benar?" bisiknya pelan.


DARRR!!!


Petir menyambar lagi, seakan menyadarkan Liu Xiu dari lamunannya. Dia mengepalkan tangan, yakin akan pilihannya sekarang.


"Aku harus melakukannya!" teriak Liu Xiu pada dirinya sendiri.


Dia pun berlari menyusuri kota, walau itu sedang hujan lebat. Tidak ada rumah yang terbuka, kecuali beberapa toko seperti toko makanan dan bar, serta penginapan yang masih buka.


Suara gemerincing dari senjata dan beberapa armor ringan Liu Xiu terdengar berpadu dengan suara hujan.


Dia masuk beberapa kali ke beberapa toko, dan membeli beberapa barang, seperti tepung dan merica. Itu tampak seperti Liu Xiu ingin memasak sesuatu, tapi menurut orang itu adalah bahan yang aneh untuk memasak.


BLARR!!!


Petir menyambar, ditambah kilat yang menyilaukan, membuat Liu Xiu menutup matanya dengan tangan sesaat. Dia sampai di sebuah gang kecil untuk berteduh.


Ada sebuah masalah kecil di gang kecil di setiap kota, yaitu para bandit bandit yang suka membegal orang yang lewat di gang kecil itu. Tapi, Liu Xiu tidak memikirkannya dan masuk begitu saja.


Tapi yang ada di hadapannya setelah dia membuka mata, bukanlah gang yang biasa, tapi seorang dengan jubah hitam, dengan belati kecil di tangannya.


"Hei, apa yang-" suara Liu Xiu mulai menghilang, ditelan air suara petir dan suara hujan yang saling bersahutan.