
"Lawan aku. Dengan begitu, kau akan dimaafkan." Lanjutnya dengan senyum sadis.
"Permisi?!"
"Ya! Apapun yang terjadi, kau akan dimaafkan. Jadi, jika kau ingin dimaafkan, maka lawanlah aku di arena! Jika kau tidak datang, maka kami akan mencarimu sampai dapat. Setelah itu, entah apa yang akan kami lakukan. Berdoa saja semoga keluarga mu tidak terlibat!" Jawabnya sambil tertawa keras.
"Rian, kau pintar sekali!" Orang bernama "Doys" bertepuk tangan pelan. Wajahnya yang tidak mengenakkan juga menatapku.
Sedangkan aku melirik Aina. Dia terlihat seperti yang terprovokasi. Selain itu, aku bisa melihat sedikit semburat senyum di wajahnya. Oi oi! Apa yang sedang kau pikirkan, Aina?!
"Kalau begitu, ini kami akan menunggumu di arena 3. Datang atau keluargamu terlibat!" Doys dan rombongan nya pergi.
Aku terduduk, menghela nafas panjang. Dalam hatiku aku merasa senang, betul. Aku sangat senang. Karena dengan ini, akan menjadi batu loncatan agar manusia tidak lagi diremehkan. Aku sangat senang!
"Ka-Kakak. Apakah kakak akan melakukannya?" Aina bertanya padaku. Walau begitu, matanya memintaku untuk melakukannya.
Tapi memang benar. Aku sangat senang! Tidak aku sangka kesempatan akan datang secepat ini.
Dan tidak aku sangka, kesempatan ini akan datang kepada diriku sendiri.
"Aduh aduh, ini sangat merepotkan, ya?
***
"Suzu!" Salah seorang murid berkepang dua menyapa Suzu dan mendekatinya. Dia adalah salah satu teman terdekat Suzu di Akademi ini.
Suzu adalah orang yang terkenal di Akademi ini. Karena dia bisa dibilang adalah orang yang bisa melampaui beberapa guru di Akademi. Potensinya untuk menjadi penerus mage terkuat kerajaan Kin terbuka lebar.
Dia diketahui bisa mengendalikan semua elemen, bahkan elemen khusus seperti es dan kabut. Tapi tetap, dia tidak bisa menggunakan elemen cahaya dan kegelapan.
Sebenarnya, ada alasan tertentu kenapa Suzu bisa menggunakan semua elemen.
"Kau tahu? Kakak dan adikku datang hari ini lho! Bagaimana denganmu?" Siswa bernama Dyas ini maju mendekati Suzu yang dari tadi hanya diam.
"Ah, ya benar. Akan ada kakakku yang kemari, jadi aku sudah merapikan kamar sebaik mungkin." Jawab Suzu masih terlihat bingung.
"Hmm, kakakmu manusia itu, bukan? Tapi dia terlihat tampan! Apalagi dengan rambut putih dan senyum tulusnya! Benar benar idaman, bukan?" Kata Dyas sambil memegang pipinya dan sedikit berteriak.
"Hentikan! Dia sudah punya tunangan, tahu!" Jawab Suzu pada Dyas cepat.
"Ah, aku keduluan, kah?" Dyas terlihat sedih dengan itu.
Suzu tersenyum, melihat kepolosan temannya.
Suzu memilih pindah ke Furyuun karena dia merasa tertinggal dari yang lainnya. Dan sejak itu, dia memotong pendek rambutnya. Katanya, itu akan memudahkannya dalam latihan.
Walaupun pada awalnya dia agak kesepian, tapi memiliki teman seperti Dyas membuatnya merasa senang.
Menghabiskan hari harinya dengan berlatih, dan terkadang bermain dan saling ngobrol dengan teman temannya, itu adalah hal yang menjadi kebiasaannya di Akademi ini.
Tapi, ada hal tidak biasa terjadi siang itu.
Beberapa siswa, baik laki laki dan perempuan terlihat berlari di lorong, melewati Suzu dan Dyas satu persatu. Mereka tampak senang di wajah mereka.
"Ada apa ya? Mereka sampai berlari seperti itu? Bukannya tidak boleh berlari di lorong?" Dyas juga bahkan tampak heran.
Suzu berpikir, hanya melihat juga tidak akan membantu. Dengan cepat dia bergerak.
"Ah, permisi. Boleh saya bertanya kenapa semua orang terlihat terburu buru?" Suzu menghentikan salah seorang perempuan yang sedang berlari.
"Heh? Kamu tidak tahu? Ada seorang manusia datang ke Akademi ini, dan sebentar lagi akan diajak duel oleh Rian lho! Kau tahu? Rian yang terkuat dalam pertarungan jarak dekat, bahkan beberapa pengawal pun kalah olehnya!" Teriak siswi itu senang.
Ada rasa terkejut yang muncul dalam benak Suzu. Itu membuat dia mengingat sesuatu.
"Hmm, bukankah itu berbahaya? Manusia seperti itu melawan ras Beast." Dyas sedikit ragu mendengar nya.
Tapi siswi barusan tidak mendengarkannya, dan justru dengan cepat pergi. Sepertinya dia sangat ingin untuk menyaksikannya.
"Oi Suzu. Ini tidak seperti yang aku bayangkan, bukan? Bukannya manusia di Akademi hari ini hanya kakakmu satu satunya? Bagaimana jika terjadi apa apa." Dyas segera mengerti apa yang terjadi.
Dyas mengatakan apa yang menjadi pikiran Suzu sekarang. Tapi yang muncul bukanlah kekhawatiran, melainkan senyum dalam wajahnya.
"Tidak. Walaupun begitu, kakak itu sangat kuat. Dia juga sangat pintar. Mungkin dia semakin hebat karena dilatih oleh kak Ruly." Suzu mengingat ingat.
("Kalau tidak salah, kak Ruly tidak berangkat ke Akademi Lanjutan ya? Dia pasti melatih Ren.") Batin Suzu.
Tapi Dyas tidak memberinya waktu untuk melamun. Dyas segera menarik tangan Suzu, menyadarkannya.
"Hoi Suzu! Kalau kau ingin melihatnya, ayo kita segera melihatnya!" Kata Dyas sambil terus menarik lengan Suzu. Suzu juga menurut, karena dia memang ingin menontonnya.
***
Ren mencari Kurls yang baru saja masuk ke gerbang Akademi. Sepertinya Kurls bahkan sudah menebak bahwa Ren pergi ke Akademi sendirian.
"Hai, paman Kurls. Bisa tolong bantu aku sebentar?" Ren dan Aina akhirnya menunggu di depan istal.
Sedikit tergopoh-gopoh, Kurls datang ke depan Ren sambil sedikit mengatur bajunya. Terlihat itu masih sedikit berantakan. Dan Ren dengan mudah tahu, Kurls baru saja bersiap siap!
"Oh ya oh ya? Apa jangan jangan Paman Kurls kesiangan karena mabuk semalam? Apa itu benar? Oleh karena itu sekarang paman kurang rapi?" Ren berusaha menggoda Kurls untuk sementara.
"A-Ahh, bukan itu maksud sa-saya tuan! Mohon maaf yang sebesar besarnya!" Kurls langsung berteriak dan menundukkan kepalanya.
Sementara itu, Ren terlihat tertawa senang melihat itu.
"Yahh, jangan pikirkan. Aku akan langsung ke topik. Bisakah aku menitipkan Aina pada paman untuk menonton sebuah pertandingan di Arena 3?" kini Ren mengubah wajahnya menjadi serius.
Kurls bahkan tahu, bahwa ini bukanlah saat yang tepat untuk bercanda.
"Baiklah, Ren. Kalau boleh tahu apa yang akan anda lakukan?" Kurls setidaknya harus tahu apa yang akan terjadi, dan apa yang harus dia lakukan.
"Ahh, jangan khawatir. Aku hanya sedikit bermain main. Paman bisa lihat saja dari arena. Ini akan menyenangkan." Ren tersenyum menggurat. Senyum yang seharusnya tidak dimiliki oleh orang seumurannya.
Mendengar itu, Kurls hanya menghela nafas, lalu mengangguk dan menggandeng Aina, membawanya menuju bangku penonton di arena 3.
"Baiklah. Sekarang aku juga akan bermain?" bisik Ren pelan.
Kini Ren sedang bersiap di ruang tunggu salah satu arena di akademi. Disana ada beberapa pedang kayu dan perisai, mulai dari ukuran sebesar pisau sampai yang sebesar tubuh manusia, semua ada di sana.
"Guhum. Sepertinya aku harus mengukur kekuatanku dibandingkan dengan orang orang akademi, ya?" Ren berbicara pada dirinya sendiri, ketika dia duduk dengan pedang kayu dengan bilah sepanjang 1 meter di sampingnya.
"Ahh, akan sangat baik jika dia adalah orang terkenal. Tapi, aku juga berharap untuk boleh memenangkan pertandingan ini."
"Karena biasanya dalam cerita ada pertarungan yang seseorang tidak boleh menang, bukan?" Ren tersenyum mengingatnya seperti novel yang pernah dibacanya.
Tapi dia memiliki maksud tersendiri. Dia bermaksud untuk membuat pertaruangan ini sebagai batu loncatnya. Dengan adanya pertarungan ini, akan terlihat kekuatan sejati manusia. Dan dengan begitu, manusia akan lebih dihormati.
Itu yang dipikirkan Ren.
("Aku harus minta maaf pada Suzu nanti. Mungkin ini menyebabkan beberapa masalah padanya.") Ren menunduk dan tersenyum, menggeleng gelengkan kepala.
Suara ketok pintu terdengar, dan dari sana muncul seorang guru wanita yang mungkin pengawas pertandingan.
"Hei, apa kamu sudah siap?" Dia memiliki wajah yang keibuan, dan tentu saja raut wajah yang tegas.
Sempat terlihat wajah wajah sedikit kasihan, khawatir, dan sedih terlihat di wajah pengawas itu. Ren bahkan bisa tahu tanpa skill [Observer(Mimic)] miliknya.
"Kau bisa memikirkannya lagi untuk mundur. Dia adalah ras Beast lho! Selain itu, dia adalah yang terbaik di Akademi ini kalau dalam soal pertarungan jarak dekat!" Lanjutnya dengan khawatir membujuk Ren.
Ren hanya bisa tersenyum ramah dengan itu.
"Tidak bisa. Kalau aku mundur, nama baik keluarga Larvest akan tercoreng. Dan juga, aku sudah berlatih sangat banyak lho! Aku tidak akan kalah." Ren tertawa sambil membentuk pose otot.
"Apa?! Kau dari keluarga Larvest? Berarti, kamu adalah kakak dari Suzu?" Guru itu mulai sedikit histeris dan dengan mata berbinar menatap Ren.
Agak menakutkan, memang.
Dan sepertinya, nama keluarga Larvest sudah sangat terkenal disini.
"A-ah, benar. Ada apa?" Ren sedikit takut dan mundur.
"Hmm, benar juga. Suzu Larvest adalah murid terbaik dari seluruh angkatan yang ada sekarang. Jika kau mundur, itu akan mempengaruhi namanya." Lanjut guru itu mengerti.
Mata Ren membulat seketika saat mendengar itu. Dia mulai bersemangat.
("Suzu adalah yang terkuat di akademi ini?") Ren membatin kecil. Dia ingat ketika dahulu mereka berdua sempat bertanding bersama. Memang kemampuan sihir Suzu waktu itu sudah sangat bagus, tapi yang memenangkan pertandingan adalah Ren.
Ren masih tidak percaya dengan itu, tapi dia beranjak dari ruangan itu, lalu keluar ke arena pertempuran.