Become A Human In Another World

Become A Human In Another World
ACT 2: Bab 3 - Manusia di Dunia Lain



Ahh, hari ini cukup merepotkan! Pagi pagi aku bangun di kamarku, bersama kak Edna, setelah itu, ada sedikit hal yang menyenangkan, dan tiba tiba ada paman Childe datang ke kamarku!


Dia mengetahui jati diriku, dengan skill cheat nya itu. Dan parahnya lagi, dia memintaku untuk bertunangan dengan anaknya, Syila Royze!


Bukannya aku membencinya, tapi lihatlah aku! Aku masih berumur 6 tahun disini. Yahh, walaupun dunia ini menganggapnya sudah hampir remaja tapi aku di dunia sebelumnya hanyalah anak SD tahu!


Ini benar-benar menghilangkan akal sehat ku sebagai manusia di bumi!


"Yahh, benar benar hari hari yang merepotkan, tapi entah bagaimana aku bisa melewatinya! Ini baru hari pertama, tapi aku tidak tahu apa yang akan terjadi sebelumnya." Aku menarik nafas, merasa lelah dengan semua ini.


Aku mengingat kejadian kemarin, dimana aku sekarat karena terlalu banyak menggunakan Fehl. MP ku turun cukup jauh saat itu, membuat Fehl yang bocor sangat banyak. Jujur, aku akan mati jika tidak ada kak Edna kemarin.


"Itu artinya, akan sangat berbahaya untukku mengeluarkan sihir di luar penghalang. Sepertinya aku harus membiasakan diri menggunakan sihir di luar penghalang." Aku berfikir sejenak.


Matahari mulai memberikan cahayanya, ketika aku keluar dari hutan kawasan keluarga Larvest. Tentu, aku sudah mulai melewati penghalang.


"Sepertinya bukan hanya itu. Aku harus melatih adaptasi dengan Fehl yang besar ini. Dan yang paling penting, aku tidak bisa bergantung pada sihir." Aku terus berjalan sambil memegang dagu.


"Cara yang bagus meningkatkan statistik, adalah berlatih atau naik level ya? Tapi untuk naik level akan sulit untukku, karena exp yang dibutuhkan adalah 3 kali lipat. Tapi berkat itu, statusku bisa berkembang tidak sesuai level."


"Berarti, aku harus menemukan sesuatu untuk mengganti sihir ya? Tentu, aku bisa memperkuat diri dengan sihir, tapi untuk serangan jarak jauh, aku tidak punya gantinya." Aku menutup mata.


"Tidak, tunggu! Aku hanya perlu membuat senjata, bukan?" Aku menepukkan kepalan tangan ke telapak tangan kiriku.


"Apa ada suatu peledak di dunia ini? Aku membutuhkan peledak. Sepertinya aku harus ke kota sekarang!" Aku kembali semangat.


Begitulah, aku memutuskan untuk berlatih untuk beradaptasi dengan banyak Fehl ku, dan aku juga tidak bisa terlalu bergantung pada sihir.


Aku yakin ini akan berhasil, dan berjalan menuju kota. Pakaian yang terlihat biasa saja ini pasti akan memudahkan ku untuk mencari informasi. Seperti yang sering ada di anime anime, bukan?


Aku berjalan di kota dengan santai, ketika aku melewati gerbang dengan tatapan curiga.


Hehe, aku hanyalah orang biasa lo!


Walau begitu, aku merasa tatapan tatapan tidak menyenangkan terus mengarah padaku. Ini aneh. Padahal aku baik baik saja pada saat berjalan jalan dengan Suzu!


Tapi sepertinya, mereka menatapku dengan tatapan kebencian yang tajam.


Apa aku melakukan suatu kesalahan?


Apapun itu, terserah saja! Aku akan pergi ke toko alkimia, yang mungkin menjual bahan peledak.


Aku juga sudah membawa uang, jadi tidak ada yang perlu dipermasalahkan. Semua orang juga kelihatannya baik, bukan? Dan juga, sekarang aku adalah penduduk biasa, jadi tidak ada perbedaan derajat dengan mereka!


"Yosh! Ini akan mudah!" Aku percaya diri dan hanya santai masuk ke dalam toko.


Aku melihat beberapa orang disana, 2 orang pembeli dan 1 penjaga toko.


"Permisi, apa disini menjual bubuk peledak?" Aku menanyakan dengan sopan.


"Hah?! Apa maksudmu, manusia?" Penjaga toko itu berteriak marah.


"Eh?"


"Hei kalian! Cepat usir makhluk itu! Aku akan memberikan diskon jika kalian melakukannya!" Penjaga toko itu masih berkata aneh.


"Hoo! Kalau begitu!" 2 pembeli itu tersenyum lebar, dan kemudian [Critical Perception] ku berbunyi. Aku terkejut, tapi setidaknya masih bisa melindungi badanku dengan tanganku.


Mereka menendangku dengan masing masing kaki mereka, membuatku terpental ke belakang, keluar toko.


Beruntung aku memiliki sedikit pelatihan, dan mudah bagiku untuk memutar tubuh dan kembali berdiri di atas kedua kakiku.


"Apa maksudnya ini?!" Aku mulai menyiapkan diri melawan.


"Oh! Kau masih bisa berdiri! Lumayan juga kau, manusia!" Orang yang menyerangku mulai keluar satu persatu.


Kulihat dia. Mereka memiliki tubuh ber otot, yang dilapisi oleh pakaian hitam ketat yang menonjolkan ototnya.


Dengan kata lain, mereka adalah otak otot, tapi aku tidak tahu kenapa mereka menuju toko alkimia.


"Apa maksudmu? Aku hanya ingin membeli beberapa barang, dan kalian menendangku? Apa kalian bodoh?!" Aku berteriak sambil tidak menurunkan kuda kudaku.


"Haha! Kaulah yang bodoh! Berani beraninya datang kemari! Siapa yang membiarkan budaknya berjalan jalan, hah?!" Dia mulai berkacak pinggang, meneriakkan kata kata yang membuatku kesal.


Disana mulai terjadi kerumunan, jadi mungkin penjaga akan segera datang. Aku penasaran apakah yang akan mereka lakukan ketika penjaga datang.


"Itu lihat! Ada manusia di sana!"


"Heh? Bohong! Kenapa ras menjijikkan itu ada di sini?"


"Mereka lemah, tapi juga bodoh, ya! Aku merasa kasihan kepada mereka!"


Aku mendengar beberapa suara suara yang tidak mengenakkan telinga, tapi aku berusaha untuk tidak mendengarkannya.


"Cepat singkirkan dia! Pakai apapun yang ada di sini!" Pemilik toko itu kini mulai mengikuti alur.


Apa aku memiliki kesalahan pada pemilik toko ini? Apa aku sudah mengganggunya? Atau mungkin, aku tidak sadar memiliki kesalahan padanya?


Tapi beberapa pecahan itu cukup berbahaya, dan loncat hingga cukup jauh. Bahkan ada yang hampir mengenai penonton.


"Oi! Itu berbahaya tahu!" Aku masih terus melompat ketika kedua orang bodoh itu terus melempariku.


Aku memutuskan untuk tidak melawan sampai penjaga datang, dan aku akan memenangkan ini. Tapi semakin lama lemparannya semakin berbahaya. Aku juga lama kelamaan semakin terdorong menuju penonton.


"Gawat!" Aku sedikit tergelincir pecahan kayu, menbuatku mundur ke belakang.


Bersamaan itu, mereka melemparkan wadah kayu yang cukup besar, dan mengarah ke tempat sebelumnya aku berada.


Dan aku yang sudah pindah dari sana, bisa melihat bahwa kotak kayu itu mengarah ke anak perempuan seumuranku.


Aku mau tak mau mengambil tindakan, aku berlari menyelamatkannya, sambil menggendongnya di depan untuk mengambilnya dari tampat tadi, membawanya menjauh.


Semua orang hanya terbelalak melihat itu.


"Hoi hoi! Kau hampir saja mengenainya lo!" Aku hanya bisa berteriak marah saat itu.


"Kyaaa! Aku disentuhnya!" Anak di gendonganku berteriak.


"Berani sekali kau menyentuh kami para ellf, dasar manusia!" Seseorang berteriak sambil maju mengepalkan tangan.


"Tung- dia akan berbahaya jika kau melakukan itu!" Aku jelas khawatir dengan anak yang aku gendong ini!


Tapi yang melakukan itu tidak hanya 1 atau 2, melainkan puluhan! Aku mau tak mau menjatuhkan anak itu dan mencoba untuk bertahan.


Sudah kuduga, dengan orang sebanyak itu, aku tidak akan bisa bertahan.


Kebanyakan dari mereka membawa pemukul kayu, dan menggunakan sihir. Aku tidak tahu, kenapa mereka sampai mengeluarkan sihir untukku.


"Budak ini harus diajari sopan santun!"


"Kita harus mengukurnya di tubuhnya, hingga tertanam di otaknya yang sempit itu!"


Mereka terus menyerangku bagaikan gila mengerubungi ku. Dan apapun yang aku lakukan, aku tidak akan kuat jika harus menahan serangan sebanyak itu.


Aku terkena salah satu tendangan, tepat di perutku. Membuatku terlempar mundur.


Aku kehilangan gerakanku, yang langsung diisi oleh pukulan dan tendangan dari mereka. Aku hanya bisa meringkuk, sambil melindungi oragan vitalku.


Selagi di injak injak, semua itu terbayang padaku. Sebagaimana mereka membenciku.


Ya karena aku manusia.


Bahkan anak yang aku selamatkan juga ikut menginjakku.


Ya, karena aku manusia.


Aku dipukuli menggunakan kayu, hanya karena menyelamatkan, tidak. Menyentuh mereka.


Ya, karena aku manusia.


("Semua ini salahku? Apa salahnya menjadi manusia? Aku hanya ingin menjadi diriku sendiri! Salahkah aku menjadi manusia? Salahkan manusia menjadi pahlawan mereka?! Salahkah manusia untuk hidup di dunia ini!!") Aku mulai merasa marah atas ddnua ini. Panas mengelilingi tubuhku.


("Tidak bisa dimaafkan!") Sebuah suara muncul dalam hatiku. Aku juga merasa pandanganku semakin menggelap tangan kiri ku juga mulai berubah warna.


("Tidak bisa dimaafkan!") Aku sadar bahwa itu adalah kata hatiku.


"Tidak bisa dimaafkan!!" Kini mulutku mulai berbisik perlahan. Aku juga merasa rambut putih yang sedikit menghalangi pandangan ku itu mulai menjadi hitam.


"Tak bisa di-"


"Berhenti!" Teriakan ku dihambat, ketika aku bersiap berdiri untuk memusnahkan mereka semua. Aku tidak peduli jika mereka adalah orang baik, buktinya mereka tidak bisa menerima manusia.


Tapi mendengar itu, aku merasa tidak asing dengan suaranya. Pandanganku kembali jernih steketika, dan aku merasa pukulan pukulan yang ada juga tiba tiba berhenti.


Sedetik kemudian, ada asap, tidak. Debu yang mengelilingiku, membuatku tidak terlihat oleh siapapun. Dan tiba tiba aku merasa tubuhku terangkat, ditarik seseorang melayang.


Aku sudah babak belur, tapi organ kehidupanku masih baik. Bahkan aku masih bisa melihat siapa yang menggendongku di punggungnya.


"Soeye?!" Aku terbelalak melihat semburat wajahnya dari tatapan matanya.


Tapi aku belajar satu hal.


Aku membenci dunia ini.


Aku membenci dunia ini yang penuh diskriminasi ini. Aku akan menghancurkannya. Bukan menghancurkan dunia ini.


Tidak, itu pilihan terakhir.


Tapi aku memilih, aku akan menghancurkan sistem itu.


Aku akan menjadi pahlawan, dan menghapus sistem sial itu!