
"Mmhhh" aku mulai membuka mata, melihat sekelilingku yang agak gelap. Selain itu, tanganku menyentuh sesuatu yang lembut ada di sebelah kanan.
Ini benar benar nyaman untuk disentuh, jadi aku dengan senang hati meremasnya.
Tidak, ini bukan keberuntungan mesum seperti yang ada di banyak banyak novel atau manga. Dari bentuk dan teksturnya, aku bisa merasakan bahwa ini adalah telinga seekor Beast.
Tapi milik siapa? Ini tidak seperti telinga Aina yang aku kenal, jadi aku menoleh ke kanan, dan aku mendapati Aina yang sedang tidur di tanganku.
Aku sedikit mendongak, kemudian terlihat ada anak lain yang tidur di dekat tanganku. Telinga nya sedikit bergerak gerak karena kusentuh.
"Tidak mungkin! Siapa dia? Kenapa bisa dia ada di atas kasur ini? Apa salah satu anak itu?" aku sedikit heran.
Selain itu, dada dan perut ku agak berat, dan lengan kiriku agak panas. Jangan bilang?!
"A-Ahh, kenapa?! Kenapa bisa mereka berkumpul disini?!!" aku hampir berteriak, ketika mendapati aku berada di kasur, dikerubungi oleh anak anak yang dulu menjadi budak Weiss.
Aku menoleh ke kiri, mendapati Thui tidur di dekat pundakku.
Oi oi! Dia adalah putri penguasa kota ini lho! Mana bisa dia melakukan hal seperti ini dengan mudah!
Secara teknis, di kanan ada Aina, dikiri ada Thui, selain itu di atas tubuhku dan sekelilingku ada banyak sekali anak anak lain yang mengerubungiku!
"Hei, semuanya! Bangun! Ada apa dengan kalian?" aku mencoba duduk, sambil menggerakkan tubuh orang orang yang ada di sekelilingku.
Tapi yang muncul tidak aku duga, kak Edna dan Suzu tiba tiba menampakkan diri dari pintu, dengan tergesa gesa.
"Ren! Kau sudah sadar! Syukurlah! Kalau begitu, aku akan memanggil tuan Rice dulu! Ini adalah kabar gembira yang harus disampaikan kepada semuanya!" kak Edna berteriak, kemudian keluar kamar.
"Tunggu! Bagaimana bisa mereka ada di sini! Suzu! Tolong aku!" aku memohon pada Suzu, ketika anak anak di sekelilingku mulai bangun.
"Ahh. Mereka ingin mengatakan sesuatu, jadi mereka menunggumu sampai bangun loh!" kata Suzu.
"Oh ya. Ngomong ngomong, berapa lama aku tertidur?" tanyaku.
"2 hari." Suzu menjawabnya sambil pergi.
Tunggu! 2 Hari? Aku sampai tidak bangun 2 hari? Apa apaan itu?
Ughh, seluruh tubuhku masih sakit, dan saat bangun aku tidak menyadarinya, ternyata tubuhku dibalut oleh perban dari dada hingga ke leher. Ini menjadi sedikit mengerikan.
"Hei, kalian semua, cepatlah bangun. Kenapa kalian berkumpul di sini!" aku mencoba membangunkan semua orang.
Kuhitung ada 12 orang disini. Weiss itu. Bisa bisanya dia memperbudak mereka, apa orang itu tidak punya hati?
"Ahh! Kak Ren sudah bangun! Semuanya! Kak Ren sudah bangun!" Aina berteriak, membuat semua orang sedikit terkejut. Tapi berkat itu, semua anak bangun.
"Baiklah. Sekarang kita dengarkan kenapa kalian semua berada di sini, pagi ini." aku menatap mereka dengan wajah datar.
"Kami? Kami ingin mengucapkan terima kasih!" seorang anak Elf memulai.
"Ya! Terima kasih karena telah menyelamatkan kami dari orang tua itu. Kami sebenarnya ketakutan saat ada di sana." sekarang anak Beast kucing.
"Terima kasih juga karena telah menyelamatkan kota Furyuun." seorang Beast anjing kini berbicara sambil sedikit menunduk.
Suasana jadi ribut sekarang, karena semua orang mencoba mengungkapkan rasa terima kasih bersamaan.
"Oyaa? Intinya Ren, kami semua men-cin-ta-i-mu!" Thui membisikkan kata kata itu di telingaku.
Aku tidak bisa tidak memerah karena itu. Anak ini, dari mana dia belajar hal itu!
Ahh aku senang jika ada orang yang menyukaiku, tapi jika ini yang terjadi, apa yang harus kulakukan? Kenapa aku mendapat rute Harem untuk Loli? Aku bukan lolicon tolong!! Aku ingin berteriak, tapi itu tidak akan berguna.
Tapi tunggu. Umurku adalah 12 tahun, sedangkan mereka semua sekitar 6-7 tahun. Perbedaan hanya 5-6 tahun. Apalagi aku manusia. Ini tidak buruk, bukan?
Tidak tidak! Walau umurku 12, aku tampak seperti 15 tahun di dunia ini. Dan jika dijumlah, dengan umurku sebelumnya, aku berumur 27 tahun!
"Hei kalian semua! Ayo ke ruang tengah karena paman Rice akan mengadakan pesta!" aku mendengar kak Edna yang mengetuk pintu, dan dengan demikian, anak anak itu pergi dengan kericuhannya.
Tersisa kak Edna dan Thui yang ada di dalam.
"Yahh, saatnya mengganti perbanmu, Ren!" kata kak Edna sambil masuk.
Oh ya. Tubuhku penuh dengan balutan perban, tapi aku yakin aku tidak terluka apapun waktu itu.
Karena dengan kekuatan "Wrath Mask" tubuhku beregenerasi dengan sangat cepat. Dan saat aku mati dan hidup kembali, keadaan tubuhku juga utuh.
Apapun itu, kak Edna membuka perban, sedangkan Thui pergi sebentar, sebelum akhirnya masuk kembali membawa seember air.
"Tanganku?!" aku melihatnya, ketika aku menyadari ada bermacam tanda aneh seperti tulisan disana.
Itu berwarna hitam, bahkan itu menyeluruh hingga ke dada, mungkin juga sampai ke leher. Bisa dibilang, aku seperti dicoret coret dengan tulisan lambang lambang yang aneh.
Kak Edna mengambil sebuah perban, mencelupkannya ke air, sebelum kembali membalutkannya ke tanganku.
"Ugh!!" aku sedikit mengaduh ketika perih terasa di tempat yang dibalut oleh kak Edna. Dan yang lebih parah terlihat sedikit asap keluar dari sana!
"A-apa ini?!" aku tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.
"Ohh, kukira kamu sudah tahu, Ren. Ini adalah kutukan. Aku benar benar tidak tahu bagaimana kamu mendapat kutukan sekuat ini, tapi ini benar benar berbeda dengan kutukan biasa." jelas kak Edna.
Aku teringat dengan kutukan yang waktu itu paman Childe katakan. Yang bahkan tidak bisa disembuhkan dengan [Sanctuary].
"Bagaimana dengan kutukan yang di Eldergale?!" aku berteriak cepat.
"Wo wo wo Tunggu dulu, Ren. Kamu masih belum bisa banyak bergerak! Aku mengerti apa yang kau pikirkan, tapi saat ini pelan pelan saja dulu." Thui menahanku yang akan berdiri.
Aku menarik nafas, mengangguk.
"Lalu air ini?" aku menyentuh air itu. Itu sangat panas ketika menyentuh lukaku.
"Air ini? Ini adalah "Sacred Water". Kamu pasti sudah tahu sedikit tentang ini." Thui menjawab pertanyaanku sambil tersenyum.
Ahh, ini adalah salah satu bahan untuk membuat "Kain Eldian"? Aku masih ingat bagaimana Elf tidak bisa melihatnya.
"Kami masih memilikinya sedikit diantara barang barang yang berhasil diselamatkan. Walaupun jika tidak begitu, akan sangat sulit mendapatkannya karena harus mendapat beberapa izin dari pemerintahan yang lebih tinggi." Thui sebenarnya benar benar membaca pikiranku.
Oh ya! Karena pembicaraan ini, aku jadi ingat tentang Ibu! Aku harus segera bertanya padanya.
"Hei kak Edna! Apa kau tahu-"
"Semuanya! Ayo kita turun ke bawah! Dan Ren, syukurlah kamu sudah sadar. Tuan Rice ingin memberi sesuatu." muncul ibu yang memotong kata kataku.
"Hei, Ren. Apa yang barusan kamu ingin katakan?" tanya kak Edna.
"Tidak. Tidak ada." aku menggeleng cepat. Mana bisa aku mengatakannya ketika ibu berada di depanku? Aku tidak mau membuatnya lebih sedih dari ini.
Aku hanya diam, mengikuti mereka semua turun ke ruang utama.
Segera, aku menciptakan topeng mirip yang aku pakai saat menjadi "Shinigami" dan memakainya. Yahh, aku masih berharap agar jati diriku tidak diketahui siapapun, karena disana ada Diena yang sedang menunggu.
Aku tidak melihat Soraya, apa dia sudah kembali?
"Maaf membuat anda sekalian menunggu, tuan Rice, dan Guildmaster Diena." aku menundukkan badan, memberi hormat.
"Maafkan aku karena berpakaian tidak layak. Mungkin anda sekalian tahu, bahwa saya baru saja sadar, dan ini adalah pakaian terakhir saya saat itu." kataku.
Yahh, itu benar. Aku segera menggunakan skill [Change]. dan berubah menjadi Shinigami.
Aku lupa bahwa pakaianku tidak menjadi baik dengan sendirinya, san aku sekarang menggunakan pakaian sobek sobek serta berlubang di bagian dada. Agak beruntung bahwa berkas darah apapun sudah menghilang.
"Tidak apa. Pakaian itu menunjukkan betapa kerasnya anda bekerja untuk kami semua. Itu bukanlah hal yang memalukan, tapi patut dibanggakan." jawab Rice.
"Sekali lagi, kami ucapkan banyak-"
"Ahh, maaf. Lebih baik langsung ke intinya. Jangan bersikap formal padaku, karena aku sedikit tidak menyukai keformalan." aku memotong kata kata Diena yang langsung ditertawakan olehnya.
"Aku jadi mengerti bagaimana Tuan Nier dididik." Diena terkikik.
Ahh, Diena belum tahu bahwa kami adalah orang yang sama? Itu bagus, tapi aku yakin Rice sudah tahu. Thui tahu nama asliku.
"Baiklah. Aku akan langsung ke intinya. Intinya, apa yang anda lakukan terlalu besar untuk kota ini, jadi kami tidak tahu apa yang harus kami lakukan untuk berterima kasih."
"Aku tak melakukan sebanyak itu." aku hany menyilangkan tangan sambil menggelengkan kepala.
"Berhentilah merendah, Tuan Shinigami. Apa yang anda lakukan adalah mencegah monster itu pergi, dan membiarkan Guild untuk melakukan evakuasi. Dan waktu yang anda berikan membuat kami bisa menyelamatkan banyak nyawa dan banyak barang barang berharga." jelasnya.
Tunggu! Itu karena kesigapan Guild, bukan? Jujur saja, aku hanya memikirkan keselamatan keluargaku. Itu yang utama.
"Guild dan pemerintahan juga patut dipuji karena itu." aku tertawa pelan.
"Tapi tuan Shinigami, apa yang anda lakukan sangat besar, dan intinya, kami tidak tahu apa yang harus kami berikan untuk anda untuk membalas jasa." kini Rice yang mengambil alih.
Hmm, aku tidak terlalu membutuhkan uang, karena aku sudah mendapat banyak dari penjualan kemarin. Dan juga ada tambahan dari harta Weiss.
Tunggu! Aku kemarin pingsan, bukan? Bagaimana dengan sisa harta Weiss?!!
"Kalau kalian memikirkan sesuatu untuk membalas jasa, bagaimana dengan kota Furyuun sendiri? Karena ini, kota hampir hancur setengahnya loh!" aku ingat dengan kekacauan yang aku buat.
"Ahh, soal itu, kami menemukan bahwa harta Weiss sangat banyak. Kami menyita nya untuk membangun ulang." jawab Diena.
Tunggu! Mereka menyita seluruh harta Weiss? Tidak! Itu adalah uang yang aku tinggalkan!
Aku sengaja meninggalkan uang itu agar aku bisa mengambil nya nanti! Tapi tidak kusangka, aku bahkan mati dalam pertempuran itu, dan aku tidak sempat untuk kembali ke mansion Weiss!
Sial!! Kesempatanku untuk bisa hidup enak tanpa perlu bekerja hilang!
"Apa kau baik baik saja, Shinigami?" Diena sepertinya melihat perbedaan sikapku.
"Ya. Aku baik baik saja." aku berusaha menutupi tangisan di wajahku dengan tetap tenang.
Suasana menjadi hening, karena tidak ada yang memulai pembicaraan. Ugh, apa aku harus bertanya tentang kutukan itu sekarang?
"Uhm, maaf. Shinigami, aku ingin sedikit bertanya." Diena mengangkat tangan.
"Apakah ini berhubungan dengan kejadian di Eldergale? Dan apa yang akan kau lakukan selanjutnya?" tanya Diena. Itu adalah pertanyaan yang bagus, karena aku juga menanyakan hal itu.
"Berhubungan dengan kejadian Eldergale? Mungkin benar." aku hanya menjawab samar.
"Kalau kau berkata begitu, kau pasti sudah ke Eldergale saat bencana itu terjadi, bukan?" Diena bertanya dengan menyipitkan matanya.
"Yahh, aku ada di sana saat itu semua terjadi. Dan aku bisa melihat bahwa monster kemarin mirip dengan monster yang ada di Eldergale. Jadi besar kemungkinan bahwa kedua kejadian ini berhubungan." jawabku.
Selain itu, aku sudah mendengar bahwa Weiss tahu Kultus, dan sepertinya dia berhubungan dengannya.
"Aku tidak tahu, tapi sepertinya berurusan dengan hal hal seperti itu sangat berbahaya." sambung Diena.
"Berbahaya, kah?" aku mengingat kembali apa yang telah terjadi.
Itu semua membuatku tersenyum, mengingat aku akan menghancurkan orang orang ini. Aku akan menjadi lebih berbahaya untuk itu.
"Ya. Benar benar berbahaya!" aku menyeringai tajam.