Become A Human In Another World

Become A Human In Another World
ACT 3: Bab 37 - Rencana kecil



"Master!! Apa yang akan kita lakukan disini? Apakah kita akan melakukan bulan madu? Atau sesuatu yang lain? Tapi jika itu benar, aku agak meragukan selera anda, Master." dua orang sedang duduk di atas menara kastil.


Mereka berdua adalah Cilia dan Kei. Dan tempat meraka berasa sekarang, adalah Kastil di Ibukota kerajaan Kin.


"Hufft Cilia. Jangan panggil aku Master! Gunakan namaku, karena sudah aku bilang berkali laki, posisi kita sama sekarang!" Kei sedikit mengeraskan suaranya.


"Yahh, bagaimana mengatakannya? Kita ada urusan penting di sini. Selain itu tidak ada hal yang bisa kita lakukan, bukan?" lanjut Kei.


"Ada, Master! Bagaimana dengan mendaftar ke Adventurer Guild, dengan identitas palsu, dan membuatku menjadi budak Master seperti dulu? Itu pasti akan mengisi hari dengan sangat indah!!" teriak Cilia dengan wajah yang memerah dan tubuh yang begetar.


"Apakah kau ingin aku melepas ikatan kontrak kita?!" kata Kei pelan sambil tersenyum.


"Tidaakkkk!!!!!"


Cilia berteriak lemas dan segera bersujud meminta maaf kepada Kei berkali-kali. Karena jika kontrak mereka berdua diputus, maka Cilia tidak lagi menjadi partner Kei.


Kei mengheoa nafas panjang, merasa lelah.


"Apakah ini ada hubungannya dengan anak itu, Master?" tanya Cilia.


Itu membuat hening diantara mereka selama beberapa saat, dan Cilia juga tidak mengubah pertanyaan nya, yang berarti dia benar benar menanyakan itu.


Kei menutup mata, dan menatap kosong ke arah Ibukota Kin, Ronia.


"Kau benar benar tahu apa yang aku pikirkan ya, Cilia!"


"Ya. Aku benar benar penasaran dengan anak itu. Dan juga, dia benar benar tetap terlibat dengan Gereja. Padahal aku sudah memperingatkan nya. Aku benar benar bingung, apa yang dia lakukan." Kei tertawa pelan dengan nada mengejek ketika mengatakan itu.


Cilia tersenyum, mulai memandang jauh kota dengan tatapan yang sama.


"Dia mungkin tidak punya pilihan, Master. Seperti yang Anda tahu, sebuah ikatan adalah kelemahan kita paling besar. Dan itu juga dialami olehnya."


"Dan menurut saya, apa yang dia lakukan tidak salah. Mungkin saya juga akan melakukan hal yang jika Master di posisi yang sama, dengan keadaan yang sama. Dia juga tidak punya informasi sebanyak kita." lanjut Cilia sambil menaruh tangan di dada.


Suasana kembali menjadi sunyi, dan hanya ada suara angin yang bertiup mengatakan sesuatu. Tapi yang jelas, itu bukanlah sesuatu yang bisa dimengerti.


"Ikatan, kah? Seperti yang aku duga dari orang yang menguasai [Lust]. Kau benar benar memahami hal seperti ini." kata Kei di tengah kesunyian.


Mendengar itu, Cilia menjadi sedikit cemberut.


"Jangan katakan seperti itu, Kei. Itu membuatku terdengar seperti orang cabul, Kei!"


"Tapi jika itu berasal darimu, maka akan aku anggap itu sebagai pujian!!" kini Cilia terlihat kembali memerah sambil memeluk dirinya sendiri.


"Dia sudah tidak tertolong lagi." dengan suara "Hahhhhh!!" yang panjang, Kei menepuk dahinya.


Kei kembali menarik nafas. Kini dia menghadap kebawah, menandakan kebingungan yang ada dalam hatinya.


"Aku tidak akan melakukan itu dalam dekat dekat ini. Tapi, kemungkinan besar aku akan menyegel semua kekuatan sihir alam nya dan kemampuan [Wrath] nya jika terjadi hal yang mengerikan hari ini." Kei akhirnya berbicara setelah lama diam.


"Hari ini?"


"Ya. Kita lihat saja, aku yakin hari ini akan menjadi hari yang meriah. Dan kemungkinan besar dia akan mengamuk disana."


Kei mulai berdiri, menyilangkan tangannya di depan dada.


"Saat itulah aku akan datang dan menyegel kekuatannya. Setelah itu aku akan meninggalkan beberapa pesan pada rekan seperjalanan nya, agar dia jangan memendam amarah terlalu besar dalam dirinya."


"Karena jika aku tidak melakukan itu, dia jelas akan menghancurkan Ibukota, dan dia akan menjadi perhatian anggota lain. Itu lebih tidak aku inginkan." jelas Kei.


Cilia mengangguk pelan, tapi wajahnya masih menunjukkan tanda bingung.


"Kenapa Master melakukan ini semua untuk anak itu?"


"Bukankah aku sudah pernah mengatakannya padamu? Aku adalah pemilik [Wrath], jadi aku bisa merasakan apa yang berhubungan dengan kemarahannya."


"Itu sedikit mengingatkan ku terhadap kemarahan ku. Dia marah untuk orang lain, dia marah untuk keluarganya, dan dia marah untuk dunia ini. Dia sangat marah ketika melihat diskriminasi yang begitu tebal di dunia ini. Dia juga marah ketika melihat kota nya dihancurkan. Dia juga melihat ketika orang yang dia kasihi ma-" kata kata Kei terhenti seketika.


Tangan Kei sudah mengepal kuat, giginya sudah gemertak marah. Tapi di tengah itu, ada perempuan yang memeluknya dari belakang, menenangkannya.


"Aku tahu. Aku tahu semua itu. Sudah cukup, Kei. Sudah cukup. Jangan bawa dirimu lebih jauh lagi. Semua sudah baik baik saja. Asalkan ada dirimu, semua tidak apa. Aku ada disini. Disampingmu, selalu." kata Cilia sambil mempererat pelukan nya.


"Cilia~" Kei mengendurkan kepalan tangannya, dan menyentuh tangan Cilia pelan.


"Kau benar. Terima kasih. Aku sudah tidak apa."


Cilia mulai melepas pelukan nya perlahan, tapi masih menatap Kei dengan wajah cemas. Itu tergambar jelas di wajahnya.


"Seperti yang kau tahu, dia melewati itu semua, tapi tidak hancur. Itu benar benar luar biasa. Ditambah dengan dia yang seorang Reinkarnator, aku benar benar menantikan sesuatu yang menarik darinya." jelas Kei mengakhiri cerita nya.


"Humm, dimengerti, Master." Cilia menganggukkan kepalanya berkali kali.


"Ya. Dan semua acara festival itu akan terjadi malam ini. Jadi Cilia," Kei menghadap Cilia, mengulurkan tangannya sambil tersenyum aneh.


"Mari kita meriahkan festival ini!" kata Kei setengah tertawa


"Baik, Master!!"