
Beberapa jam sebelum penghancuran terjadi....
Itu adalah suatu tempat yang tidak diketahui keberadaan asli nya. Bahkan, Dela sendiri yang datang kemari tidak tahu dimana tempat itu.
Yang jelas, dia hanya datang ke sebuah tempat, yang mana dia dipindahkan oleh sebuah sihir dengan segera ke tempat lain.
"Hufft. Aku sudah berkali kali datang kemari, dan tetap merasa tidak enak sama sekali! Memang, Yang Mulia memiliki beberapa keinginan di tingkat yang berbeda..." gumam Dela sedikit menghela nafas.
Dia melihat sekeliling. Interior yang dia lihat tidak berbeda dengan yang dia amati terakhir kali.
Masih sama, dengan beberapa patung beberapa ras yang membawa senjata berbeda, dengan jenis kelamin yang tidak diketahui dari wajah mereka. Itu terlihat sangat detail, bahkan sampai setiap rambut mereka terlihat nyata.
Ekspresi wajah masing masing patung itu berbeda. Tapi ada satu kesamaan di wajah mereka.
Wajah wajah ketakutan, keputusasaan, dan kemarahan terpancar kuat di wajah mereka walau patung itu hanyalah benda mati. Dengan begitu, semua orang jelas percaya jika ada yang mengatakan bahwa mereka sejatinya adalah orang yang dikutuk menjadi batu.
"Ahh, memang melihat patung patung ini benar benar menyegarkan hati! Apalagi wajah lelaki yang begitu tersiksa ini! Ahhh!!! Benar benar tidak tertahankan!!! Tapi bukankah patung ini bertambah?" ucap Dela dengan senang.
Wajahnya kini memerah, tampak sangat bergairah ketika melihat patung patung itu begitu menderita dengan pose yang berbeda-beda.
?!!
("Kau orang mesum yang ada di lorong! Jangan jadikan lorong rumahku sebagai pemuas nafsu mu!! Atau aku akan jadi salah satu patung itu!!!")
Sebuah suara tajam terdengar dalam pikiran Dela, bersamaan dengan datangnya sebuah sihir yang dialiri emosi yang kuat. Bahkan Dela, orang yang dapat dibilang ahli dengan sihir terkejut, hampir terjatuh karena serangan sihir yang tiba tiba.
("S-sihir dan emosi yang m-mampu menggetarkan jiwa, t-tak salah lagi ini adalah milik Yang Mulia...") pikir Dela seraya gemetar ketakutan.
Dia lagi lagi memikirkan sosok orang yang akan ditemui nya. Sosok yang begitu sempurna di mata Dela. Sosok yang benar benar bagaikan Dewa untuknya. Semua tindakan wajib dia ikuti, dan semua kalimatnya bagaikan firman untuk Dela.
Hanya sosok itu, yang mampu membuat Dela, seorang Elf yang sangat percaya dengan kemampuan sihirnya di zaman dulu, bertekuk lutut dan menyembahnya.
"Yang Mulia adalah wujud dari ketakutan, keputusasaan, dan pengkhianatan yang sempurna! Dia benar benar menyilaukan bagiku untuk saat ini!!" kata Dela sambil sedikit melompat lompat senang.
"Agak menyedihkan bagiku untuk menyerahkan masalah kecil seperti ini pada Yang Mulia, tapi aku tidak bisa menahannya."
Tap tap tap... Suara langkah kaki Dela menggema dalam lorong kosong, hanya ada suara gumaman nya sendiri yang memantul melalui dinding lorong.
"Andaikan ada pertempuran pecah disana, aku tidak yakin akan bisa menangkal orang yang membuat penghalang disana."
"Ini memang memalukan untukku menyandang nama Apostle, tapi mau bagaimana lagi..." Dela mendesah pelan, terdengar pasrah. Karena bagaimanapun, harga dirinya sangat terusik ketika dia harus kembali ke markas dan meminta bantuan, terutama pada sosok yang dia kagumi ini.
Dela berhenti sebentar, melihat ke tempat tujuannya. Sebuah pintu dengan ukiran indah yang ukurannya sendiri tidak main main besarnya.
Pinggir pintu terbuat dari besi, dengan daun pintu berukir indah dari kayu, yang jelas bukan kayu sembarangan. Gagang pintunya terbuat dari sebuah batu mirip marmer, tapi semua orang tahu, itu bukanlah batu marmer, tapi batu sihir yang tak terhitung jumlahnya dipadatkan menjadi satu.
"Hufft....." Dela menarik nafas, sebelum membuka pintu.
AHHH!!!
HHRYGGGHAAAAHHHHH!!!!!
GRYSHHUAAAHHHHHN......
BB-BBUN-NNUH!!! B-BBUNUHH A-AK-KUUU!!!
Berbagai teriakan tersiksa yang memekakkan telinga terdengar begitu Dela membuka pintu sedikit, untuk mempersiapkan diri. Segera, wajahnya memerah dan kakinya bergetar.....
("Ahh... Yang Mulia memang memiliki selera musik yang indah...") pikirnya.
"Sampai kapan kau akan berdiri disana?!! Cepat masuk dan katakan perlu mu. Atau kau akan pindah ke sana bersama mereka jika kau tidak segera kemari!!" nada dalam nan kuat terdengar dari dalam kamar, dengan sihir yang mengalir dalam setiap kata katanya.
Dela terkesiap, dan segera kembali ke kesadarannya.
Melihat sekeliling, ada sebuah kaca tebal yang memisahkan ruangan utama dengan ruangan lain. Dalam beberapa ruangan yang dipisahkan kaca, ada banyak tabung besar, berukuran 3 meter kali 1.5, dengan jumlah yang cukup banyak.
Yang membuatnya mengerikan adalah, sesuatu yang ada di dalamnya.
Di dalam tabung tabung tersebut terdapat makhluk, tidak. Beberapa benda yang awalnya makhluk hidup, yang sekarang hanya bisa bergerak bagai kumpulan daging yang mengerikan!
Dan setiap daging tersebut menjerit, meminta untuk segera mati dan lepas dari penderitaan yang mereka terima.
Melihatnya lagi, semuanya tampak seperti sebuah percobaan yang gagal, dan orang yang membuatnya pasti adalah ilmuan gila. Padahal itu bukanlah tujuannya. Itu semua hanyalah hiburan untuk orang yang berada di ruangan utama.
Ruangan utama memiliki beberapa barang dan tempat duduk, serta makanan dan minuman untuk satu orang.
"Humm. Bagus jika kau mengetahuinya. Sekarang ada apa?! Katakan cepat! Aku sangat berharap bahwa apa yang akan kau katakan cukup berguna untuk mu mengganggu ku saat orchestra ku baru dimulai!" geram sosok itu dengan amarah.
Tekanan besar kembali muncul, tak urung membuat Dela lagi lagi bergetar.
"M-Maafkan hamba telah mengganggu Anda! Saya ingin melaporkan hal penting tentang sebuah rencana di Eldergale. Karena-"
PYARR!!!
Sebuah tabung yang ada di dalam ruangan lain pecah, saat aliran sihir meningkat.
"Eldergale lagi?! APA KAU TAHU MANA YANG PENTING DAN TIDAK?!! LIHAT! Aku kehilangan satu alat musik!!" teriak sosok itu mulai berdiri, dan menunjuk ke arahdaging yang sudah tidak bergerak, terlihat mati.
Segera, Dela ingin menjelaskan, tapi beberapa petir menyambar tubuhnya, membuatnya kejang!
"Ghiii!!! M-maaf kan h-hamba y-yang berpengetahuan sedikit, Yang Mulia! Tetapi, ada satu orang yang membuat sihir penghalang yang bahkan tidak bisa saya tembus ketika menggunakan seluruh sihir saya..." Dela dengan cepat menjelaskan situasi, sebelum semua menjadi lebih buruk.
??
"Huummm? Penghalang yang mencegah seranganmu?" tanya sosok tadi.
Pria itu yang awalnya mengacungkan tangan, akan mengeluarkan sihir yang lebih besar menurunkan lengannya, tapi masih mengarahkan jarinya ke arah kepala Dela.
"Lanjutkan." katanya.
"Ba-baiklah!" sahut Dela segera.
Dengan begitu, Dela menceritakan semua yang terjadi ketika mereka mencoba untuk menyerbu kota Eldergale, juga bagaimana penghalang itu terbentuk, sekaligus bagaimana itu semua memantulkan sihir yang sudah Dela lepaskan ke arah dirinya sendiri.
Pria yang mendengar itu tersenyum, dan mengangguk puas..
"YEA HA HA HA!! Kalau masalah kekuatan, aku sedikit mengakui mu! Dan mendengar ada orang yang bisa membuat penghalang menahan serangan mu, aku tidak bisa menahan diri!!" teriaknya dengan seringai tajam.
"A-ahh... K-kalau begitu, apakah saya bisa menyimpulkan bahwa Yang Mulia akan melawannya?" tanya Dela lagi, mengkonfirmasi.
"Ck..." Pria itu sedikit mendecakkan lidahnya, melirik Dela.
"Kau berisik. Aku akan pergi! Biar aku yang hebat ini akan melawannya! Sudah lama sejak aku bertarung dengan sesuatu yang kuat!"
"Ahhh!! Aku tidak boleh menyerang makhluk sekuat diriku, jadi selama ini aku merasa bosan! Setidaknya, mungkin ini bisa menjadi hiburan yang menarik bagiku!!" katanya.
"Dan juga, aku harus mengumpulkan kesedihan, amarah, rasa sakit, pengkhianatan, keputusasaan, dan seluruh emosi negatif lainnya. Untuk melakukannya, aku harus membunuh Harapan."
"Hu hu hu... Aku benar benar menantikannya..."
"Silakan kemari, Yang Mulia." ucap Dela pelan seraya tetap menunduk. Dia membawa membawa sosok laki laki yang tampak berwibawa di sebelahnya. Sosok itu adalah Apostle tingkat pertama, dengan nama panggilan Yang Mulia.
Dengan beberapa persiapan, mereka berdua masuk ke dalam lingkaran sihir, dan dengan sekejap mata, mereka pergi dari tempat itu.