Become A Human In Another World

Become A Human In Another World
ACT 2: Bab 26 - Naif



Aku mendapat salah satu informasi baru, bahwa ada title dan status khusus. Sebenarnya, ini akan mempengaruhi jalanku kedepannya.


Dari awal, sebenarnya, siapa yang memberikan title dan status itu?


Kalau dia tidak ingin orang dengan title itu hidup, kenapa mereka membagikan title itu? Bukankah title itu ada untuk melindungi?


Aku bingung.


Tunggu! Mari kita balik pertanyaannya.


Apakah "sesuatu" yang membagikan title itu sama dengan orang yang menambahkan status itu? Bukankah aneh jika orang yang memberikan title, justru menginginkan mereka mati?


"Tolong!!" Seseorang berteriak keras.


Ups aku terlalu larut pada lamunanku. Apapun itu, mari kita kesampingkan dulu.


"Bagus! Kalau kau berteriak begitu, kau lebih baik bisa menjadi umpan, bukan? Sana!!!" saat aku mengintip, aku melihat pemandangan kejam.


Gadis Beast tadi, dilempar kedepan monster itu oleh Adventurer botak disana!


Apa dia sudah gila? Dia membuat anak itu sebagai umpan agar dia bisa melarikan diri! Bajingan itu! Benar benar tidak bisa dimaafkan!


Dan benar saja, monster itu bereaksi, dan salah satu kepalanya menghadap ke gadis itu. Si gadis sudah tidak berdaya, hanya bersusah payah untuk bangun ketika tubuh kecilnya dilempar oleh Adventurer botak.


Aku sepertinya bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya.


Monster sejatinya adalah binatang buas. Mereka memiliki naluri yang baik.


Mereka pasti akan memilih untuk menyerang musuh yang masih bergerak dengan baik, dan akan mengurus nanti yang sudah lemah.


Dengan kata lain-


"Uuaghhhh!!""


-monster itu akan mengincar Adventurer botak terlebih dahulu.


Aku tahu itu dari salah satu kepalanya yang terus menatap ke Adventurer disana. Dan hasilnya, dia dihempaskan oleh ekor monster itu, hingga menabrak tembok.


Kebanyakan organnya hancur, bahkan mungkin walau kutolong pun dia akan mati kehabisan darah. Serangan tadi, adalah serangan instakill.


Aku tidak tahu apa yang gadis itu lakukan, tapi dia berlari ke arah Adventurer itu!


"Tolong!!" gadis itu berusaha membangunkannya sambil berteriak putus asa.


Aku tidak bisa tidak tertawa melihat itu.


"Ahh, betapa naifnya." aku tertawa semakin keras, karena dia bahkan tidak tahu apa yang seharusnya dia lakukan.


Atau mungkin dia sudah pasrah dan tidak mau melakukan apapun?


Ahh, sudah kuduga bahkan ini juga akan berlaku padaku. Mau bagaimana lagi, aku memang tidak bisa mengabaikannya.


"Baiklah! Ada apa? Apakah ada masalah? Aku mungkin bisa membantu!!" aku muncul sambil membuka masker dan wujud asliku.


Ada baiknya jika aku menggunakan nama manusia untuk meningkatkan pandangan manusia di dunia ini.


Bisa dikatakan melempar dua burung dengan satu batu, bukan?


Selain itu aku punya alasan tersendiri.


"Ya! Tolong aku mengangkat orang orang ini! Siapapun kamu, aku mohon!" dia berteriak sambil memiliki emosi yang penuh dalam setiap teriakannya.


Lihat! Dia sangat naif, bukan? Setelah diperlakukan seperti tadi, dia masih berniat menolongnya?


Aku benar benar tidak paham.


Apa orang ini bodoh? Aku yakin tidak, bukan? Mungkin dia hanya memiliki keinginan yang lemah? Kalau begitu, biar aku mengeluarkan keinginan aslinya.


"Apa itu benar benar yang kau inginkan?" aku hanya berdiam diri sambil membiarkan rambut asliku terlihat dirinya.


"Eh?!" raut wajahnya menjadi kosong setelah pertanyaanku barusan.


"Tadi, apa yang kau tanyakan?" tanyanya masih dengan tatapan kosong.


Humm, mungkin aku harus sedikit mengajarinya.


"Aku tanya sekali lagi. Apa kau benar-benar ingin menyelamatkan orang itu? Apakah itu adalah kata hatimu? Apakah kau bersedih ketika melihat dia seperti itu? Atau justru-" aku mendekat ketika wajahnya semakin menyedihkan.


"Kau lebih suka dia mati?" aku membisikkan kata kata itu di telinganya.


Baiklah. Bagaimana reaksinya? Dengan begini aku yakin keinginan aslinya akan terbuka.


"Tidak! Jangan katakan itu!" dia berteriak sambil menangis.


Bingo!


Ya. Tidak ada bentuk kenaifan sempurna di dunia ini. Bahkan dia, ingin memiliki perasaan untuk membalas dendam. Tidak ada hanya dengan meminta maaf, semua akan selesai.


Ya. Tidak ada di dunia ini.


Yahh, mungkin sekarang dia sedang melawan dirinya sendiri di dalam hatinya. Karena sejatinya, menbunuh orang bukanlah hal yang mudah.


"Katakan saja! Kita masih punya banyak waktu di sini. Dan kau yang disana, tolong diamlah!" aku memasang penghalang transparan untuk menekan monster kepala dua itu.


Itu menjepitnya, membuatnya tidak bisa bergerak sedikitpun. Yahh, aku masih belum mengakhirnya.


Apa alasannya aku memasang penghalang? Dia berisik, aku tidak bohong! Dia terus terusan mrngaum marah karena diabaikan. Apa kau wanita hah?!


Persetan dengan itu, mari kita kembali ke gadis ini.


Gadis itu menangis, kini datang ke arahku sambil berlari memeluk kakiku. Uhh, ini semakin membuatku mengingat adikku.


"Aku tahu ini jahat!" dia mulai bercerita?


"Aku tahu membiarkannya seperti ini adalah hal yang jahat!" dia memeluk perutku.


"Pesan ibu adalah untuk tidak menjadi orang jahat!" dia berteriak sambil memelukku semakin erat.


"Tapi, tapi!"


"Tapi kenapa aku merasa lega ketika dia meninggal? Kenapa? Padahal dia yang memberiku makanan sisa! Bukankah aku jahat?" dia berteriak sambil memelukku seperti berusaha mencekik ku.


Benar benar. Apa anak ini berniat membunuhku?


Ahh, tidak tidak! Aku salah fokus! Maksudku, orang itu hanya memberimu makanan sisa loh!


Apa itu sebanding dengan luka luka yang ada di tubuhmu, dan penampilanmu yang tidak terurus itu? Dan aku yakin kamu juga sudah sering mempertaruhkan nyawa!!


Jika makanan sisa saja sebanding dengan itu semua, apa yang akan kau berikan padaku jika aku memberimu makanan layak, baju, dan tempat tinggal?


Apa kau akan memberikan seluruh jiwa dan raga serta apapun dalam kehidupan selanjutnya milikmu untukku?!!


Ups! Kita keluar jauh dari topik!


"Apa pesan ibumu? Coba ingat baik baik." aku mulai mencoba melepas pelukannya yang mengerikan.


"Pesan ibuku?" pelukannya mengendur, wajahnya menatap ke atas, ke arahku.


"Ya. Ibumu melarang untukmu menjadi jahat, bukan?" aku berusaha tetap tersenyum, jadi tolong, lepaskan pelukanmu!!


"Ya. Dan aku senang ketika melihat orang lain tersiksa. Bukankah itu tindakan orang jahat?" tanyanya.


Ahh dia masih berpikir itu jahat?


"Baiklah. Kamu tahu apa arti jahat di dunia ini?" sepertinya aku harus menunjukkan padanya dunia yang kejam.


"Kau tahu, aku pernah melihat sesuatu yang kejam. Bahkan tidak akan bisa dibandingkan dengan kamu yang tidak melakukan apapun sekarang." ya, karena aku pernah membunuh orang sih.


"Kamu tahu, ada penculikan, pembunuhan, penindasan, dan lain lain yang bahkan lebih kejam yang pernah kamu lihat."


"Dan coba ingat kembali, apa yang sudah dia lakukan padamu. Apa itu baik?" aku bertanya padanya.


Ya! Jika dibanding kan bahkan denganku, aku bahkan lebih baik darinya. Aku berbuat jahat di mata penjahat, tapi dengan alasan yang baik bagi semua orang.


Berbeda dengan alasannya berbuat jahat hanya karena dirinya sendiri.


Dengan pertanyaan begini, dia pasti tidak akan bisa berkata kata.


"Baiklah. Kenapa kamu tidak lihat pekerjaan lain. Berapa yang kamu dapat ketika kamu bekerja? Bukankah kamu pernah bekerja di tempat lain? Berapa yang kamu dapat, coba bandingkan itu dengan pekerjaanmu dan yang kamu dapat disini." aku menjelaskannya.


"Justru akan menjadi jahat untukmu tidak melawannya." semoga saja dengan ini dia bisa paham.


"Aku, jahat untuk tidak melawan?" suaranya sudah semakin tenang. Sepertinya dia sudah mulai berpikir jernih.


Humm, mungkin ini saatnya mengubah mindset nya?


"Ya! Kamu membiarkannya berlaku sesuka hati. Jika itu terjadi, maka kamu membiarkan penjahat. Itu sama saja kamu menjadi penjahat."


"Sebaliknya, jika kamu melawan kejahatan seperti dia, maka kamu berada di jalan yang benar." uhh, melelahkan untuk menjelaskan seperti ini.


"Tapi, tapi aku tetap tidak bisa memungkiri bahwa aku merasa lega melihatnya mati!" teriaknya.


Jujur, apa pikirannya juga disegel oleh status "Seal" tadi? Kenapa orang ini bisa menjadi seperti ini? Tolong bukalah setidaknya otakmu untuk ini!


"Itu karena kamu hidup, Aina. Kamu adalah makhluk hidup. Normal untuk mereka menghindari bahaya." aku menghela nafas, berjongkok untuk mensejajarkan kepalaku dengan miliknya.


"Itu juga menandakan bahwa kamu masih memiliki hati, karena jika kamu membiarkannya, maka kamu bisa saja kehilangannya." jelasku.


Aku membiarkannya berpikir sebentar, tapi aku tidak menduga akan menjadi seperti ini.


"Kau benar, kak!" dia kini berteriak, berganti untuk memelukku dengan tangannya. Dan yang lebih parah, sekarang dia memelukku di bagian leher!


Anak ini, benar benar akan membunuhku!!


Yahh, walau begitu, aku harus membalas pelukannya.


"Ya. Menangis lah. Karena itu memang dirimu yang sebenarnya."