
"Baiklah. Semua sudah senang dan tenang. Yang menjadi masalah sekarang adalah dia." Kata Suzu pelan sambil menoleh kearah seseorng yang sedang meringkuk sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan, membenamkan kepalanya ke lututnya.
"Ahh! Aku sudah tidak tahan lagi!" Suzu tak urung menghampirinya.
Sosok itu tak lain adalah Soeye. Dan sepertinya, dia memang mengingat sesuatu.
"Soeye, ada apa?" Tanya Suzu pelan.
"Ha?" Soeye membalas dengan tatapan kosong di matanya. Terpancar raut muka kecewa dan putus asa dari matanya.
"Apa yang terjadi, Soeye?" Tanya Suzu lagi. Soeye tampak berpkir sesaat, mungkin mempertimbangkannya.
Sedikit perlawanan terlihat di wajahnya, yang membuatnya semakin terlihat bermasalah.
"Arrgggh! Baiklah. Kau mungkin juga akan merasakan hal yang sama denganku. Tapi aku akan langsung jujur." Soeye berteriak.
"Kemungkinan kita selamat sangat kecil!" Jelas Soeye sambil mengacak acak rambutnya.
"Apa maksudmu?" Raut muka Suzu mulai berubah.
"Aku, aku pernah melihat sebuah ritual seperti ini sebelumnya di buku. Seorang anak dengan fragmen dewa, dikorbankan untuk memanggil demon ke dunia ini. Dan selain itu, korbannya adalah anak dengan Fehl tinggi dengan rentang umur 5-10 tahun." Cerita Soeye.
Suzu terdiam. Matanya terbelalak, seperti tidak bisa menerima apa yang dikatakan Soeye barusan. Dia tersenyum perlahan.
"Tidak, tunggu! Apa yang kamu katakan?! Buku apa yang kamu maksud?! Suzu setengah tidak bisa menerima.
"Hei, kan kita akan diselamatkan besok! Hei! Tidak apa, bukan? Kita akan selamat dari sini besok! Hei!" Suzu setengah berteriak mengguncang badan Soeye.
"Ritual itu dilakukan pada malam bulan purnama, yang terjadi malam ini." Soeye memotong perkataan Suzu cepat.
"Bohong! Bagaimana kau bisa tahu ini malam bulan purnama?" Suzu kini mulai histeris.
"Aku Thief! Aku selalu menghindari malam bulan purnama karena cenderung lebih terang! Aku juga selalu menghitung sejak pertama kali aku dibawa kemari. Dan hitunganku tepat!" Balas Soeye dengan berteriak.
Suzy memperhatikan Soeye yang berteriak marah.
Terlihat di matanya bahwa dia bersungguh sungguh, tidak ada niat dalam diri Soeye untuk bercanda.
Dan Suzu pun sadar, bahwa Soeye tidak bercanda.
"Ahh," Suzu terduduk, mendesah perlahan.
"Dengan begini, mulai sekarang apa yang harus kita lakukan?" Suara Suzu pelan, terdengar pasrah.
Tidak ada jawaban, suasane diantara mereka menjadi suram. Dan Suzu pin tidak mengharapkan untuk dijawab pertanyaan nya.
"Haruskah kita ceritakan pada mereka?" Tanya Suzu pelan.
Mereka berdua diam, memikirkan apa yang akan mereka lakukan mulai sekarang.
"Tidak. Kalau kau ingin bertindak, maka lakukanlah sendiri. Melibatkan banyak orang hanya akan menimbulkan banyak masalah." Kata Soeye menatap Suzu.
Suasana diantara mereka menjadi kelabu.
Diantara mereka yang ada di sana, Syila mengetahui itu. Dia tahu, dan segera mendekat.
"Sepertinya kalian sudah mengetahuinya." Syila berkata pelan sambil duduk berjajar dengan mereka berdua.
Matanya sejak awal sudah kosong, dia sudah tahu ini.
"Sejak awal kau sudah tahu ini, Syila?!" Suzu dengan segera menoleh perlahan.
"Ya, dan seperti yang kalian pilih, aku tidak memilih memberitakannya pada kalian." Syila menunduk sambil memeluk kakinya.
"Tapi, sepertinya ini bukanlah akhir yang baik buat kita." Jawab Syila dengan nada pasrah.
"Tidak! Aku, kita tidak boleh menyerah! Aku tahu, kita bisa. Apapun itu, mari kita coba bagaimanapun caranya!" Kata Suzu sambil berdiri.
Mereka semua terdiam, mungkin menyadari ketidak berdayaan mereka. Mereka tahu, apapun yang mereka lakukan mereka hanya akan mati. Dan sekarang, mereka hanya menunggu waktu menjemput mereka.
"Hei, Suzu. Kau tahu monster Dori, bukan?"
"Monster itu dikembang biakkan untuk diambil dagingnya, karena dikenal enak dan bisa dimakan. Dan keadaan itu sama seperti kita. Kita hanya menunggu untuk mati atau mati secara sendirinya." Kata Syila sambil menggunakan analogi yang mengerikan.
Mungkin karena dia sudah pasrah, tapi Soeye tiba-tiba berwajah cerah.
"Tunggu! Sepertinya itu bisa! Bagus kau! Entah siapa namamu! Aku punya sebuah cara!" Soeye berteriak senang.
"Ah um, namaku Syila. Tapi baiklah. Apa rencanamu?" Jawab Syila sedikit bingung.
"Ahm! Sepertinya kalian tidak akan menyukai rencana ini!" Kata Soeye sambil tersenyum jahat.
***
"Ahh, sangat menyenangkan bukan, bagi anak anak itu? Mereka bisa langsung berkorban untuk Demon God yang agung! Aku merasa iri!" Dua orang penjaga akan segera lewat sel yang didiami Suzu dan yang lain.
"Ya! Aku sangat iri dengan mereka." jawab salah satunya.
Sepertinya memang, otak mereka sudah tidak benar.
"Hei! Bau darah!" Seseorang diantara mereka segera menepuk bahu yang lainnya. Mereka segera berlari mendekati sel yang didiami para tahanan.
"He-hei! A-apa yang kau lakukan?!" penjaga yang sampai berteriak histeris.
Terlihat Suzu yang membelakangi pagar, dengan pisau berlumur darah. Selain itu, ada banyak darah yang menggenang disana, serta teman temannya yang juga sudah banyak bermandikan darah.
"A-apa ini?!" Teriak penjaga itu.
Suasana menjadi berat. Rasa merinding menyerang para penjaga.
"Ahh, maaf. Tanganku licin!" Suzu tersenyum sadis.
"Apa yang-!" Suara mereka tertahan ketika mereka terjatuh pingsan disergap oleh Soeye dengan cepat.
Soeye yang terbiasa menjadi thief yang bekerja cepat, ini bukanlah hal yang sulit untuknya. Justru yang aneh adalah kenapa dia bisa tertangkap disini.
"Bagus Soeye! Kita berhasil jalankan rencana pertama!" Kata Suzu riang.
Karakter nya bisa berubah cepat!
"Ahh, ya! Dan peran itu, sangat cocok untukmu." Jawab Soeye sambil sedikit mengejek.
Suzu hanya tersenyum kecut, menanggapi itu.
"Sebenarnya, kenapa kita tidak menunggu tim penyelamat besok?" Tanya Admin yang membersihkan darah di wajahnya.
"Diam saja dan ikuti kami!" Syila yang mengatakan hal itu seperti berubah kepribadian.
Mereka semua segera mengendap endap untuk keluar dari gua itu, dan mereka akhirnya tiba di pintu Gua.
Suasana sangat gelap, sangat cocok untuk melakukan pelarian yang tidak diketahui. Tapi itu juga menandakan bahwa waktu mereka sudah sangat sedikit.
"Ada penjaga!" Armin sedikit berbisik melihat siluet yang ada di depan gua.
BRAK! Sebuah batu jatuh dan menimbulkan suara berisik.
Sebuah pola klise yang muncul untuk menggagalkan rencana mereka.
"Sial!" Soeye segera menyiapkan pisau di tangannya.
Suzu segera bergerak, maju berlari ke arah jalan lain untuk memancing mereka dengan suara suara keras.
"Apa itu?! Kejar dia!" Teriak kedua penjaga. Soeye yang mengetahui itu sontak ingin mengejar Suzu. Tapi Suzu mengetahui itu, dan segera berteriak.
"Kau larilah, Soeye! Kau adalah pelari tercepat disini! Kau pasti bisa mencari bantuan tepat waktu! Aku, aku percaya padamu! Dan aku minta maaf!" Teriak Suzu sambil masih terus berlari.
"Suzu! Jangan ceroboh!" Syila berteriak, berniat mengejar Suzu.
"Tapi!" Soeye masih disana sedangkan teman temannya yang lainnya sudah berlari keluar tanpa memperdulikan apa yang ada di belakangnya.
"Lakukan saja apa yang kusuruh!" Teriakan Suzu mulai menghilang ditelan dinding gua yang dalam.
"Eh, ahh, SIALAAN!! Kau seenaknya saja sendiri! Bangsat kau!! Kau, kau, kau tidak akan kumaafkan jika kau tidak bertahan!" Soeye segera berlari secepat yang dia bisa.
Nafasnya tersengal sengal, dengan air mata berderai di pelipisnya.
Sedangkan Syila, dia tidak mampu meninggalkan Suzu di sana. Dia mengejar Suzu, bahkan tidak peduli dengan apa yang dia katakan.oz
"Ahhh! Aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri jika kau mati! Kenapa?! Kenapa?!" Teriak Soeye dalam gelapnya hutan.
Tapi yang jelas, dia harus menemukan seseorang, tidak. Sebuah party untuk membantu mereka, dan itu harus tepat waktu. Kalau tidak, nyawa Suzu akan dalam bahaya!