Become A Human In Another World

Become A Human In Another World
ACT 2: Bab 17 - Hasil Melawan Naga



Aku berjalan perlahan mendekati item drop yang dijatuhkan oleh monster naga itu. Diantara ada sisik yang berkilauan, taring serta cakar naga, dan ada pedang khusus yang katanya lebih tajam dari Azantium!


Aku sedikit bingung, kenapa naga itu terbongkar secara sempurna dan menghasilkan semua item ini.


Seperti yang kuharapkan dari sebuah naga. Itu menjatuhkan banyak sekali item yang luar biasa dan berguna dan berkualitas tinggi.


Contohnya saja, sisik naga ini sekuat Admantium, dan jauh lebih ringan daripada logan manapun!


Ini sangat cocok untuk ribuat zirah dengan model apapun. Tapi jika disuruh memilih, aku lebih suka zirah ringan yang tidak menghalangi pergerakan ku.


Karena aku adalah orang dengan tipe kecepatan, jadi setidaknya aku harus mengurangi beban. Dan juga, aku tidak ingin terkena serangan sama sekali.


Sedangkan untuk perisai, aku tidak berfikir akan membuatnya, karena itu tidak sesuai dengan gaya bertarung ku.


Sejujurnya saja, aku lebih suka tidak menggunakan pedang atau sihir. Atau lebih tepatnya aku akan membuat ini menjadi lebih ke arah Sci-Fi. Tapi untuk tidak mengurangi rasa fantasy, aku tetap membawa pedang.


Ugh... Penyakitku mulai bangkit kembali, merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Mungkin inilah yang dinamakan bahagia diatas kematian makhluk lain?


Tidak! Ini adalah hal yang wajar karena aku makhluk hidup.


Kenapa? Makhluk hidup yang normal akan merasa lega ketika sesuatu yang membuatnya merasa terancam hilang. Setidaknya aku masih memiliki salah satu aspek makhluk hidup.


***


Meskipun begitu, ada banyak hal yang aku dapat hari ini.


Pertama, tentu saja aku merasakan perubahan pada tubuhku.


Singkatnya, tubuhku beradaptasi dan berevolusi menjadi sedikit lebih kuat. Itu membuatku lebih tinggi sedikit, tapi dalam jangka panjang akan membuatku stuck di tinggi ini, jadi itu berbahaya.


Kedua, aku mendapat beberapa item langka dari naga itu, dan juga laik level ke level 28, yang mana garis exp ku menuliskan 27.890/156.000, yang berarti naik level ke 29 apalagi 30 akan sangat sangat sulit, karena garis exp yang seperti gila menambah jumlah exp yang kubutuhkan.


Dan ketiga, yang paling penting, aku mendapat material pembuatan senjata, serta bisa membuat ultimate skill baru.


Ultimate skill [Seven Gates of Despair] adalah skill yang aku namani sendiri.


Itu tediri dari beberapa Elemental skill yang aku buat untuk menghancurkan lawan yang sangat kuat.


Dan untuk mengeluarkan seluruh Elemental Skill dan mengaktifkan Ultimate skill ini, aku membutuhkan sangat banyak Fehl.


Setiap elemental skill memerlukan MP senilai 10.000 point', dan dengan ketujuh elemen itu aku harus memiliki paling sedikit 70.000 poin MP.


Itu sama dengan mantra terlarang yang ada di dunia ini. Itu dilarang karena pada dasarnya orang orang di dunia ini memiliki Fehl rata rata 30.000 saja.


Dan orang yang memiliki lebih dari itu, bisa dibilang tidak banyak, apalagi sampai sebanyak Paman Childe yang menyentuh angka 56.000!


Setidaknya, itu hampir tercapai sekarang. Karena ternyata penghitungan level up Fehl di dalam tubuh adalah 10% dari jumlah Fehl pada level 1, aku mengalami semacam bug yang menguntungkan.


Aku mengalahkan naga dan meningkatkan levelku senilai 20, membuat itu dikalikan 10%. Dan jelas aku mendapat tambahan MP 200% dari jumlah Fehl awal pada level 1.


Sungguh bug yang nyaman.


Kembali ke skill ku. Aku sudah memikirkannya masing masing. Sayang sekali aku belum sempat mengeluarkan seluruhnya.


Aku membuat [Water Sword] Elemental skill dari elemen air.


Itu akan membentuk ratusan pedang air yang akan menghujani musuh seketika. Itu jika musuh masih bisa bertahan melawan skill sebelumnya.


Gerbang ke 5, elemen api. [Phoenix Dance] adalah namanya.


Itu akan mengeluarkan burung Phoenix yang terbang dari arahku, lalu mengitari musuh. Membuat penjara api di sekelilingnya, sebelum akhirnya terbang masuk menabrak musuh dan memberikan damage tambahan.


Sebenarnya, kemungkinan besar tidak ada yang bertahan setelah kelima elemen ini ku keluarkan. Tapi aku hanya berjaga jaga, misal aku harus melawan musuh seperti "Raja Iblis" atau bahkan Gereja.


Gerbang ke 6, elemen cahaya. [Punishment].


Aku membuat lingkaran sihir ekstra besar di atas musuh, kemudian beberapa lingkaran sihir berwarna emas juga mengelilinginya.


Setelah beberapa persiapan, aku akan mengirimkan serangan, seperti hal nya kaca pembesar yang memusatkan cahaya matahari.


Karena itu berbentuk pilar cahaya, maka aku menamakannya [Punishment].


Gerbang terakhir, elemen kegelapan. Entah kenapa, aku bisa memikirkannya, tapi nama terakhir untuk skill ini adalah [Lonelines]. Artinya adalah sebuah kesendirian.


Kesendirian, adalah penderitaan yang terberat. Jika kalian berkata ini adalah pengalaman pribadi, itu benar.


Maafkan aku melibatkan kehidupan masa lalu ku dengan ini.


Aku tidak bisa menjelaskan secara rinci tentang skill ini, karena aku belum mencobanya sama sekali.


Yang pasti aku membayangkan diriku yang suram dulu.


"Ugh, sakit!!" Aku hanya bisa berteriak ketika lamunanku dihentikan oleh pukulan keras di ujung kepalaku. Penyebabnya tak lain adalah kak Ruly!


"Makanya, dengarkan aku, dasar bodoh! Apa yang kau lakukan selama ini? Kau tahu, ada naga yang terbangun dan tiba tiba hilang di bukit Bolinn! Dimana kau?!" Kak Ruly berkacak pinggang sambil berteriak marah.


"Selain itu, kita juga sedang ada acara. Apa kau lupa, ini adalah pertemuan mu dengan Syila! Calon tunangmu!" Dia berteriak sangat marah!


Ugh, aku harus mencari alasan.


"Ahh, aku sedang berjalan jalan, lalu ada pohon besar yang rindang, dan aku merasa mengantuk dan tertidur di sana. Tee hee?!" Aku mencoba menirukan gerakan karakter favorit ku.


Dan sayangnya, aku justru mendapat tambahan dari kak Ruly.


"Apanya yang tertidur hah?! Mana bisa kau tertidur begitu saja ketika ada acara penting menantimu! Kau mengacaukannya!" Kak Ruly sepertinya bertambah marah.


"Ugh, bukan aku yang mengacaukannya. Bukankah naga itu yang mengacaukannya?" Aku mencoba berkelit.


"Kamu!!!" Sepertinya ini akan menjadi hari yang panjang.


"Sudahlah kak Ruly. Kita sudah bertemu disini, kan?" Seseorang memotong kemarahan kak Ruly. Aku menoleh ke arahnya, mungkin aku pernah mengenalnya.


"Kalau kau bilang begitu, aku akan berhenti." Kak Ruly menutup mata, lalu berhenti.


Heh? Siapa dia? Bisa bisanya dia menghentikan amukan kak Ruly?! Apa dia dewa? Ya! Dia pasti dewa! Tunggu. Karena dia perempuan, maka dia Dewi? Apapun itu, dia adalah Dewi penyelamatku!


"Terima kasih, kau adalah Dewi penyelamat yang diutus turun ke bumi untuk menyelamatkan ku, bukan?" Aku berlutut sambil menyatukan kedua tanganku berterima kasih.


Dia tidak bergeming, hanya menutup mulutnya.


Beberapa saat kemudian, dia tertawa lepas. Aku tidak tahu, hanya saja ikut tertawa garing melihat mereka berdua tertawa bersama.


"Uhh, aku belum memperkenalkan diri, ya. Perkenalkan, namaku Syila Royze. Uhm, bisa dibilang, aku adalah putri Childe Royze, dengan kata lain aku adalah calon tunanganmu." Dia, tidak. Syila mengatakan itu dengan gugup. Aku bisa melihat dia sedikit memerah.


.


.


.


.


.


Note: Maaf Author ga bisa update kemarin... Author lagi di Palembang ni gess, bantu bantu acara nikahan saudara Author....


Dan kemarin Author nyebrang pulang biar sampe kesini :v (Sekali sekali curhat gapapa ye kann๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ)


Tapi sebagai gantinya, hari ini Author bakal update banyak dahh๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜