Become A Human In Another World

Become A Human In Another World
ACT 3: Bab 2 - Keadaan di Furyuun



1 hari sebelum kedatangan Ren ke kota Furyuun...


Ini adalah waktu Aina dan Kurls mendapat informasi tentang Eldergale dari party yang entah bagaimana selamat dari kota tersebut.


Kurls juga memutuskan untuk membawa Aina untuk kembali ke asrama Suzu.


"Oh ya, Aina! Bagaimana dengan orang yang mengejarmu tadi?" Kurls bertanya sedikit, selagi masih berjaga jaga jika mereka kembali menyerang ketika mereka sedang berada di perjalanan.


Aina sedikit bergidik mengingat itu, lalu melirik Kurls.


"Y-ya, aku ti-tidak bisa bi-bilanh bahwa Aina tenang." jawab Aina cepat, kini tidak menyembunyikan ketakutannya.


"Tapi aku tahu paman Kurls pasti akan melakukan sesuatu pada mereka, bukan?" tanya Aina.


Kurls hanya diam, menangguk kecil sebagai jawaban.


Hampir tidak ada yang tahu, tapi Kurls adalah mantan Adventurer Rank-A. Dia bahkan untuk kemampuan, dia bisa dibilang setara bahkan melebihi beberapa Rank-S.


Tapi karena persyaratan untuk naik ke Rank-S adalah mengalahkan boss, ini agak sulit untuk Kurls yang memiliki job Assasin.


Selain itu, dia menyerang menggunakan belati, dan beberapa benang tajam.


Jadi dia sangat cocok untuk menjadi pembunuh, tapi tidak dengan melawan monster.


Agak aneh kenapa dia menjadi seorang Adventurer.


"Uhhm, Aina agak tidak tahu, kenapa paman Kurls bisa menyelamatkan Aina? Aina pikir Aina minta tolong pada paman untuk menjaga Suzu, jadi tidak mungkin paman ada di sana tepat waktu." tanya Aina.


"Yahh, itu karena Nona Suzu mengawatirkan mu, Aina. Sejujurnya, dia mendengar percakapan kita di pintu kamar." jelas Kurls.


Dia sebenarnya merasakan keberadaan Suzu, tapi dia hanya diam menunggu apa yang akan terjadi.


"Dan oleh karena itu, Nona Suzu meminta saya untuk menemani anda. Itu adalah bukti bahwa Nona Suzu mengkhawatirkan Aina.' lanjut Kurls.


Aina yang mendengarnya hanya mengangguk, lalu diam. Mereka melewati gerbang asrama, ketika Kurls melambai ke arah penjaga, karena dia sudah membuat koneksi dengan penjaga Asrama. Jadi mudah baginya untuk keluar masuk.


"Yahh, Aina sangat senang jika kak Suzu mengkhawatirkan Aina. Tapi sayang, Aina tidak bisa membawakan berita bagus untuk kak Suzu." Aina menutup matanya, berusaha tidak menangis.


Suasana menjadi hening, hanya ada suara jangkrik dan angin yang saling berbisik.


?!


Kurls merasakan seseorang sedang mengawasi mereka. Oleh karena itu, dia dengan segera masuk ke mode paling siapnya segera.


"Ada apa, paman Kurls?" tanya Aina yang merasakan perubahan pada Kurls.


Kurls hanya menggeleng, melihat sekeliling sambil terus berjalan, membuat dirinya tetap terlihat tenang.


Sesaat kemudian, seseorang dengan pakaian penjaga datang dari belakangnya, berjalan pelan tapi lebih cepat dari mereka berdua. Selain itu, dia tetap melihat mereka berdua dengan tatapan bingung.


Melihat itu, Kurls mengendurkan penjagaannya, dan kembali berjalan dengan tenang.


("Hufft, jelas saja dia memperhatikan kami, bukan? Kita adalah warga asrama yang datang kemari malam, bukan. Pagi hari.") Kurls menganggukkan kepalanya pelan.


Dengan begitu, mereka segera sampai ke depan kamar milik Suzu. Sebenarnya Aina ingin masuk dengan segera agar tidak mengganggu, kalau kalau Suzu sedang tidur.


"Selamat datang, silakan masuk." dan justru ternyata Suzu yang membukakan pintu untuk mereka berdua.


"Eh, kak Suzu? Kenapa kak Suzu belum tidur? Ini sudah hampir pagi loh!" kata Aina, berusaha tetap menjaga suaranya untuk ceria.


"Aku menunggu kalian. Jujur saja, aku tidak ingin tidur sendirian sekarang. Dan juga, aku sudah membuat teh herbal untuk kalian berdua. Katanya, ini bisa membuat pikiran lebih tenang." jawab Suzu sambil mengambil beberapa cangkir yang terlihat mewah.


Kurls tersenyum canggung, karena dia tahu apa yang Suzu maksud.


Aina juga segera duduk, dan mengambil dan memibum teh secara perlahan, menikmatinya.


"Ahh, ini sangat enak! Dari mana kak Suzu tahu resep ini?" tanya Aina antusias. Sebenarnya dia sedang menyiapkan diri untuk memberitahukan tentang Eldergale pada Suzu.


"Yahh, aku diberitahu Ren. Selain itu, dia juga sangat menyukai teh." jawab Suzu sambil mengelus cangkirnya, tersenyum.


"Anu, kak Suzu!" Aina berteriak memotong. Hatinya berpikir bahwa ini adalah hal yang tepat.


Udara menjadi berat, dengan beberapa rasa sedih di dalamnya. Semua orang dengan mudah tahu, bahwa ini akan menjadi percakapan yang tidak mengenakkan.


"Ya? Ada apa, Aina?" suara Suzu bergetar.


"A-Ahh, itu." Aina menarik nafas.


"Kami mendapat sebuah informasi dari party Rank-A, Gagak Hitam." kata Aina. Suzu hanya mengambil teh nya, meminumnya.


"Gagak Hitam, ya? Itu merupakan Party yang sangat terkenal. Bahkan beberapa diantara mereka sudah mencapai Rank-S dan mendapat tawaran menjadi Guildmaster." jelas Suzu. Sepertinya party "Gagak Hitam" ini sangat terkenal.


"Ya. Dan mereka sebenarnya dari Eldergale sebelum berangkat kemari." lanjut Aina sedih.


"Tapi maaf, mereka menarik mundur party mereka, karena bahkan tank mereka kalah hanya dalam satu kali serang oleh monster yang ada di kota Eldergale. Oleh karena itu, pemimpin mereka mengatakan itu tidak mungkin." lanjut Aina, berusaha untuk tidak memberikan harapan pada Suzu.


Mata Suzu yang awalanya sudah berbinar, kini kembali redup, dan mulai berair.


"Bahkan party Gagak Hitam pun mundur seketika ya?" air mata nya mulai deras.


"Aku sudah menduganya. Aku sudah menduganya. Tapi, tapi!" Suzu mulai menangis. Padahal terlihat matanya sudah sembab dan mulai bengkak.


"Aku hanya ingin se-" kata katanya terhenti, karena Suzu pingsan. Cangkir keramik yang dia pegang jatuh ke lantai, segera di tangkal oleh Kurls, dan badannya yang mulai condong juga didorong olehnya.


"Paman Kurls!!" Aina berteriak, sedikit menaikkan nada suaranya.


"Maafkan saya. Saya tahu ini salah, tapi ini harus dilakukan. Kamu lihat sendiri kan, kondisi Nona Suzu? Dia pasti sudah menangis sejak tadi." Kurls mengangkat badan Suzu untuk menaruhnya ke kasur.


"Dan setelah mendengar ini, Nona pasti akan kembali menangis. Otomatis itu akan mengurangi istirahatnya." lanjut Kurls.


Aina mengangguk dalam diam dia juga sepertinya setuju dengan cara Kurls.


"Aina, kamu tidurlah juga. Saya akan berjaga di sekitar sini. Sebentar lagi matahari akan terbit, tapi saya akan mencoba agar tidak ada yang mengganggu kalian." kata Kurls sambil menyiapkan selimut.


"Baiklah. Terima kasih paman Kurls." Aina mulai mencari tempat, sedangkan Kurls keluar ruangan.


"Ibu!" Suzu setengah berteriak. Dia awalnya pingsan, tapi sepertinya kini dia tertidur. Aina sedikit mengingat apa yang Ren lakukan padanya, ikut untuk naik ke kasur, mencoba menenangkannya.


("Kak Ren. Aku akan percaya! Ya. Aina selalu percaya!")


***


Akademi Furyuun, lorong halaman utama...


"Bos!" seseorang dengan pakaian penjaga datang mendekati seseorang yang berjalan cepat di lorong itu.


"Apa apaan kau! Berani sekali kamu berbicara denganku disini?!" teriak orang yang dipanggil "Bos".


"Hii!!! Ma-maafkan saya. Sa-saya menemukan target! Sa-saya hanya ingin menyampaikan hal itu Bos!" penjaga itu terlihat ketakutan, hingga terjatuh karena intimidasi nya.


Orang itu berhenti, lalu segera berbalik.


"Apa katamu? Kamu menemukannya? Jangan bercanda denganku!" kata orang itu.


"Y-ya! S-saya bisa memastikannya benar! Seorang anak Beast berambut perak, sekitar 7 tahun! Tapi di sampingnya ada seseorang, yang sangat waspada. Sepertinya dia kuat." jelas si prajurit.


Seketika, orang itu berbalik, dan mempercepat langkahnya. Tapi, wajahnya tersenyum lebar.


"Per-permisi, mau kemana Anda?" tanya penjaga itu sambil mengikuti orang misterius itu. Orang itu berbelok, lalu mendorong sebuah pintu besar. Tapi itu tetap tidak terbuka.


"Hoi tua bangka! Buka pintunya! Aku punya kabar baik untukmu!" teriak orang itu sambil terus menggedor pintu itu.


Pintu itu terlihat sedikit bercahaya gelap, dan kemudian terbuka.


Terlihat pemandangan yang agak menyenangkan sekaligus mengerikan.


Di sepanjang jalan, ada banyak anak perempuan dari berbagai ras, mengenakan berbagai kostum. Dan ada juga, salah satu anak yang sedang berpakaian tepat di depan mereka semua.


Dan yang berada di tengah, seorang laki laki, yang terlihat berumur dengan jubah dan tongkat di sebelah nya.


Tongkat itu bukanlah tongkat kayu biasa. Itu adalah tongkat sihir, yang terlihat dia bukan orang sembarangan.


"Hei, Ford! Kau mengganggu acara malam ku! Aku selalu melakukan ini hingga pagi, dan kini kau mengacaukannya! Apa kau sudah bosan hidup?!" teriak pria itu dengan penuh amarah.


Orang itu yang sekarang diketahui bernama Ford, hanya menggelengkan kepala.


"Kau tidak akan berani melakukannya. Tapi, aku tidak memilih untuk melakukannya. Aku hanya memiliki informasi yang bagus untukmu." kata Ford sambil menyilangkan tangannya.


"Informasi? Apa itu? Jangan bicara soal Dungeon, aku benar benar tidak menyukainya!" teriak pria itu.


"Tidak. Aku menemukannya. Aku menemukan "mainan" favoritmu, tahu!" kata Ford.


Mata pria itu terangkat, dia segera bangkit dari duduknya. Wajahnya juga berubah menjadi bersemangat, berbeda saat pertama kali kedatangan Ford.


"Benarkah? Itu bagus! Benar benar bagus! Kali ini aku tidak akan melepaskannya! Akan aku beri dia kalung budak apapun yang terjadi!" kata pria itu.


Dalam setiap kata dan wajahnya, tergambarkan sesuatu yang tidak mengenakkan, dan niat jahatnya.


"Tangkap dia apapun yang terjadi. Aku tidak menerima kegagalan. Aku juga akan membayar berapapun yang kau inginkan. Selain itu, aku akan menggunakan kekuasaanku untuk menyudutkan nya!" pria itu mengibaskan jubahnya, berjalan dan berputar, seperti berdansa dengan bayangan.


"Jadi, apakah itu bisa dibilang sepakat?" tanya Ford dengan tersenyum sinis.


"Apa aku harus menjelaskannya lagi pada otak kecilmu?" Pria itu masih menari nari kegirangan, tidak memikirkan sekitarnya.


"Akan aku anggap itu jawaban ya."