Become A Human In Another World

Become A Human In Another World
ACT 1: Bab 18 - Rapat yang Tidak Menyenangkan (1)



"Bukannya Suzu dalam bahaya, sekarang?!' aku berteriak panik.


Aku kembali membaca bagian "Pemanggilan Demon ke dunia ini".


***


Anak utama yang harus dikorbankan adalah anak dengan rambut putih, yang biasanya berisi fragmen dewa.


Dan untuk pendukungnya, anak anak dengan Fehl tinggi dibutuhkan. Semakin banyak, akan semakin baik.


Biasanya upacara dilakukan oleh sangat banyak orang, dan dilakukan pada saat malam bulan purnama di saat tengah malam.


***


Heh?! Malam bulan purnama? Segera berlari ke jendela.


"Sial! Sekarang bulan purnama kah?" aku baru sadar sekarang tapi beruntungnya ini masih agak sore.


"Berarti waktu yang kumiliki, hanya sampai tengah malam saja. Selebihnya kita akan bisa. Mungkin sebaiknya aku bicarakan kepada ayah," aku berlari keluar ruangan.


Tidak. Bagaimana dengan kak Edna? Apa yang terjadi jika kita meninggalkannya?!


Dari awal, dimana dia? Jangan bilang dia sudah ditangkap? Itu, itu adalah sesuatu yang tidak mungkin, bukan?!


Aku melihat kak Ruly sedang membawa beberapa buku, mungkin mencari petunjuk sama sepertiku.


"Kak! Dimana kak Edna?!" aku berlari, berteriak panik.


Dia sedikit bingung, tapi sepertinya dia bisa dengan cepat menguasai dirinya.


"Dia ada di kamar. Kenapa?" jawabnya sambil menunjuk ke arah atas, tempat kamar berada. Setidaknya, aku bisa sedikit bernafas lega.


Beberapa saat kemudian, Seuird keluar. Mungkin mendengar keributan.


"Ada apa, Ren? Ada apa dengan wajahmu?!" luar biasa!Dia bisa menyadarinya dengan cepat! Ups! Aku harus fokus ke tujuan utamaku!


"Kak! Dimana ayah?!" segera aku mengubah pertanyaan.


"Ayah? Ayah ada di kantor guild! Kenapa? Kok wajahmu panik seperti itu?" jawab Kak Ruly sambil menaruh buku bukunya.


"Seuird! Aku butuh bantuanmu! Tolong jaga kak Edna. Apapun yang terjadi, jangan lepaskan pengawasanmu darinya!" aku berteriak.


"Jaga dia dengan nyawamu. Kalau kau gagal," aku menatapnya tajam, mengalirkan semua emosiku.


Maafkan aku, Seiurd. Aku justru melampiaskan emosiku padamu.


"Tunggu Ren! Jelaskan apa yang terjadi di sini sekarang!!" kak Ruly meminta penjelasan.


Aku hanya berlari meninggalkannya. Aku sedikit merasa berdosa karena tidak menjawabnya, tapi maaf. Aku tidak bisa menjawabnya sekarang.


Aku tak tahu apa dia akan mengejar, tapi ini adalah keadaan darurat! Kakak, maafkan aku!


DUGG! Jantungku kembali berdenyut keras.


Ini, ini pasti gejala yang pernah aku rasakan waktu itu. Ughh, ini sangat mengganggu, tapi mau bagaimana lagi!


Ahh, aku lupa bahwa aku sudah melewati penghalang. Tapi apapun itu, aku harus cepat.


Jalanan kota terlihat agak sepi. Hanya ada beberapa orang dengan senjata di punggung atau penjaga yang sedang berkeliling kota.


Sepertinya, Guild bertindak cepat dengan mengamankan warga untuk masuk ke rumah masing masing.


Ini sangat memudahkan ku untuk berlari. Aku bisa mengerahkan kecepatan tercepatku.


"Hei! Ada apa?!" Kak Ruly tiba tiba ada di sampingku. Aku cukup terkejut, dia bisa mengejar ku bahkan setelah aku berlari, walaupun dia tampak lelah.


Nafasnya terengah engah, mungkin mengejarku sekuat tenaga.


"Masalah serius. Kalau kakak juga mau mendengarnya, kakak juga bisa ikut! Tapi aku tidak akan menunggu lo!" aku berteriak sambil menambah kecepatan.


Kak Ruly mengikutiku di belakang dengan kecepatan yang sama.


***


"Permisi!" aku membanting pintu kantor guild dengan keras.


Mungkin terdengar tidak sopan untuk membuat mereka terkejut, tapi aku berhasil menarik perhatian.


Di dalamnya ada banyak orang sedang berkumpul. Kemungkinan, mereka adalah para petinggi guild.


Dan sepertinya mereka sedang mengadakan rapat penting.


"Tidak sopan! Siapa yang mengizinkan manusia ada di sini?!" teriak salah seorang di sana.


Ughh, baru saja masuk, aku sudah dicela.


"Hei dasar manusia rendahan! Berani beraninya kau berada di sini?!" sekarang aku melihat pamanku sedang membisiki seseorang untuk menginaku.


Itu membuat penilaianku pada dia semakin menurun.


Suasana menjadi ricuh sementara. Itu penuh dengan celaan celaan untukku. Dan semua itu didasari dengan kata manusia!


Aku sebenarnya tidak terlalu menghiraukannya, justru aku sedang mencari ayahku. Untuk beberapa alasan, dia tidak ada.


Kak Ruly menyentuh pundak ku, mungkin menghiburku dari celaan celaan itu.


Dia menarikku untuk keluar ruangan. Heh? Apa kak Ruly tidak tahu? Kalau aku keluar, maka kita berlari menjadi tidak ada gunanya, tahu!


Tapi beruntung beberapa saat kemudian, ayahku masuk.


"Mereka anakku! Biarkan mereka masuk. Pasti ada sesuatu yang sangat penting!" kata ayahku yang dengan segera membungkam mereka semua.


Sedangkan pamanku, dia hanya menatapku dengan tidak senang.


Serius, aku tidak menyukainya!


"Terima kasih, ayah." aku menundukkan badan hingga punggungku lurus 90 derajat.


"Kalau boleh tahu, sedang ada rapat apa ini?!" tanyaku memulail pertanyaan, berdiri di sebelah ayah. Ayahku hanya mengangguk perlahan.


Mungkin aku akan mendapat jawabannya nanti?


"Mulai dari sekarang, rapat dalam mengatasi penculikan anak anak yang terjadi akhir akhir ini akan dilaksanakan! Mohon para anggota untuk saling memberi salam!" kata ayahku dengan tegas, yang menampakkan kewibawaan di wajahnya.


Semua orang berdiri, dan mereka menundukkan kepala mereka masing masing.


Ada banyak orang di sana, kebanyakan terlihat seperti bangsawan, dengan perut gendut serta pengawal kekar dan terlihat kuat.


Ada juga orang dengan tampang peneliti, dengan wajah yang serius. Aku yakin, dia pasti cocok menggunakan kacamata.


Ayahku mempersilahkan semuanya untuk duduk, mengawali agar rapat bisa segera di mulai.


"Bagaimana laporannya?!" tanya ayahku memulai rapat.


"Dilaporkan 20 anak hilang, mayoritas anak bangsawan dari Akademi dasar. Rentang usia, 5-10 tahun. Dan ada beberapa yang tidak dilaporkan, tapi diketahui diculik." Jelas orang dengan tampang peneliti.


(Sudah kuduga dia adalah peneliti!) aku hampir berteriak seperti itu.


"Wah wah! Sudah sebanyak itu?! Apa yang penjaga lakukan?!" si bangsawan gendut berlaku sok.


Tunggu. Siapa dia?!


"Bagaimana bisa guild kota Eldergale ini kecolongan sampai sebanyak itu?" Kini pamanku ikut mencibir ayahku.


Aku tidak tahu, apakah itu memang tujuan awalnya. Tapi yang pasti, suasana menjadi semakin riuh akan keluh kesah peserta rapat.


(BERISIK KALIAN SEMUA!!!) aku ingin berteriak menyalurkan emosiku.


"Yah. Saya akui, ini memang memalukan bagi para kesatria penjaga. Tapi, kami gagal juga bukan karena tanpa alasan." uwahh, ayahku bisa menghadapinya dengan tenang.


"Belakangan ini diketahui, para penyusup itu memiliki sebuah alat sihir, "Kain Eldian"" ayahku menunduk.


"Ap-!" semua tampak terkejut. Tapi aku tetap penasaran pada pamanku.


Aku sepertinya harus mengamati wajahnya terus.


"Bukankah "Kain Eldian" itu hanya bisa didapatkan dengan "Air suci"?" seseorang berteriak keheranan.


Sebenarnya, aku juga sudah mencari apa yang dimaksud dengan "Kain Eldian" itu. Dan kenyataannya, penggunaan kain itu sudah dilarang oleh Perjanjian Damai Antar Ras.


Dan kini pembuatannya hanya ada di dalam buku. Itu pun disimpan dengan baik di suatu tempat di kota ini. Jadi, aku mencurigai adanya penyusup disini.


"A-apapun itu, itu tidak mengubah diculiknya 20 anak lebih disini!" pamanku berteriak. Wajahnya berkeringat lebih banyak dari biasanya.


"Ya! Itu benar. Tapi sedikitnya, kami bisa mengkira kira. Musuh kali ini adalah para pemuja Demon God. Kali ini kita benar benar berurusan dengan mereka," jelas ayahku.


Aku sedikit lega. Kemungkinan ayahku mengetahui runyamnya keadaan sekarang ini.


"Baiklah. Jadi, langkah apa yang akan kau ambil, Roy?" sekarang seseorang dengan tampang bijak yang sedari tadi diam menatap tajam.


"Tentu saja. Kita sudah tahu betapa kejam mereka. Kita tidak akan segan pada mereka. Aku akan membentuk langsung pasukan pencari untuk fokus mencari besok pagi." Ayahku menjawab dengan tenang.


Tunggu?! Besok?!!


"Begitukah? Bagaimana dengan anak yang kemungkinan dijadikan sandera?" tampaknya si wajah bijak belum puas.


"Aku akan memimpin langsung pasukannya besok. Kau juga bisa ikut, Childe. Aku tahu kau mengkhawatirkan anakmu, bukan?" ayahku mengangguk perlahan.


Tidak tidak tidak! Sekarang bukan waktunya itu! Apa benar mereka akan melakukan pencarian besok? Ini berbahaya!!


"Baiklah! Kita akan segera membentuk pasukan untuk pencarian khusus dalam pembasmian sekte pemuja Demon God besok! Ada yang keberatan?" Ayahku berdiri.


Tunggu! Tidak ada yang bersuara? Dan ayah? Apa kau tidak tahu? Dan apakah tidak ada yang tahu disini? Ayolah! Jangan buat aku mengangkat tangan!


"Kalau begitu, diputu-"


"Keberatan!" aku melakukannya!


Aku menyela dengan mengangkat tangan.