
Haruskah aku mengatakan selamat malam?
Entahlah. Saat ini aku hanya ingin menutup mataku, menarik nafas dengan baik dengan paru paruku yang sudah rusak.
Aku ingin menikmati tenangnya hidup di saat saat terakhirku.
"Khuhuhu. Jangan berpura pura mati. Aku tahu kau masih belum mati! Kau memang luar biasa. Jauh dari orang lain yang pernah aku lawan sebelumnya. Jujur saja, aku sedikit berharap darimu." suara itu, suara mengerikan yang mendekat.
Aku bisa mendengar dan merasakan perutku yang diinjaknya, dan dia menginjak nya sampai kakinya menyentuh tanah.
Darah bercucuran di kakinya, yang itu adalah darahku.
"Ups! Aku akan membunuhmu! Aku tidak bisa melakukan itu dahulu!" dia sedikit menghentikannya, lalu menaburkan sihir ke lukaku, menghentikan pendarahannya, walau bentuknya tetap mengerikan.
"Aku akui kamu bahkan jauh lebih kuat daripada Beast, dan sihirmu bahkan lebih baik dari Elf."
"Kalau kau berminat masuk ke Kultus, kau pasti akan masuk ke peringkat ke 7" dia mulai terkekeh pelan.
("Kultus? Oh iya. Aku masih memiliki tujuan untuk membalas dendam pada orang yang pernah menghancurkan kota Eldergale. Apa aku ingin melupakan itu?") perasaanku mulai panas mendengar itu.
Aku tidak mau mati! Aku belum membalas dendam ku, belum mewujudkan keinginanku.
Dan aku belum memenuhi janjiku pada Syila!
"Hoo! Apa kau marah?" sepertinya monster itu merasakannya.
Aku tidak tahu ekspresi nya tapi sepertinya dia tersenyum sekarang.
"Ya! Biar aku katakan tujuanku tidak membunuhmu. Aku akan menangkap semua keluargamu, ibumu, kakakmu, dan adikmu dan aku akan memperk*sa mereka hingga mereka rusak! Dan aku akan melakukan itu semua di depanmu!" dia tertawa senang.
Sial. Aku tahu dia memprovokasi ku, tapi dia bisa saja tidak berbohong.
Melihat aku marah, dia sangat puas. Mungkin ini memang tujuannya, tapi aku tidak bisa menahan diri untuk tidak melakukan nya.
Aku tidak bisa menahan amarahku. Aku ingin membunuhnya. Aku ingin menghancurkannya! Walau tubuhku juga hancur disini, aku harus membunuhnya!
Untuk melakukan itu, aku butuh kekuatan! Kegelapan, atau apapun, kutukan, apapun itu! Aku butuh kekuatan untuk mengalahkannya!
Ya! Jika dia mendapat kekuatan dari kebencian Weiss, maka aku akan menyerahkan seluruh jiwa dengan kemarahan ku saat ini untuk menjadi kekuatanku! Aku tidak peduli jika itu sama dengan menyerahkan jiwaku pada setan, aku tidak peduli!
...Curse Actived, "Wrath seed" didapatkan...
Sebuah pengumuman berdengung di kepalaku.
..."Wrath seed" beresonansi dengan skill: "Duality", menjadi skill: "Wrath Mask"...
Itu kembali mengatakan sesuatu. [Duality]? Kalau tidak salah, itu skill untuk meningkatkan status, tapi aku harus menggunakan kekuatan Topeng Setan yang sejatinya [Armor the God of Darkness].
Itu versi kecil darinya, dan sama sama meningkatkan statusku.
...Skill: "Wrath Mask" akan menaikkan status tinggi, tapi akan memberikan sejumlah kutukan pada penggunanya. Pakai? [Yes]/[No]...
Aku sudah tidak peduli! Walau kutukan akan memperlemah ku, atau menurunkan statusku secara perlahan nantinya, aku tidak memikirkannya sekarang!
Yang terpenting sekarang adalah aku ingin membunuh monster ini!
"Kuhaahahaa! Sudah kuduga kau masih memiliki hal lain! Ayo! Ayo! Tunjukkan semuanya! Berikan semuanya untuk melawanku! Teruslah! Teruslah marah dan membenciku!!" dia berteriak senang ketika topeng setan itu mulai terbentuk di wajahku.
Aku juga merasa seluruh tubuhku seperti terkena sengatan listrik, tapi ini lebih baik.
Monster itu mulai menyerang ku lagi, tapi aku sudah kembali bangun dan segera mundur.
"[Reflect]" aku tidak tahu, tapi tubuhku dan mulutku mengatakannya begitu saja.
Seluruh pukulan dari tangan, kaki, cakar, hingga ekor monster itu tertahan oleh dinding tak kasat mata, lalu tanganku bergerak, seperti meninjunya.
Walau itu tidak mengenainya, tapi itu memukul udara, mengalirkan dampaknya padanya.
Ini seperti aku menahan semua serangannya tadi, dan melepaskan semuanya dalam satu pukulan!
"Guhahaha! Bagus! Sangat bagus! Kau meningkatkan kekuatanmu ketika menggunakan topeng itu? Dan kemampuan itu, 7 Demon Lord kah?" dia terkekeh sambil berusaha keluar dari puing puing.
Tapi aku merasakan amarah yang luar biasa, dimana itu serasa membakar dadaku. Rasa amarah ini, keinginan membunuh ini. Padahal karena insiden Dark Magic, emosiku tertekan kuat, tapi ini kemarahan yang berbeda.
"Yahh aku tidak peduli, jadi [Lightning Root]! Dan juga, [Bladefield of Wind]!" aku mengeluarkan sihir sesegera mungkin.
Akar akar listrik kini berwarna ungu kehitaman berusaha menarik monster itu untuk menundukkannya.
Selain itu, bilah angin juga terus menerus melemparkan pisau pisaunya. Itu harusnya memberikan damage yang banyak, tapi-
"Hragggghhhh!!!!" aku tidak pernah menyangka bahwa dia berusaha lepas dari [Lightning Root] milikku, san berhasil!
Akar akar mulai lepas satu per satu, membuatnya kembali bebas.
"Gawat! [Meteor Shower]!" aku menambah satu lagi mantra besar untuk menghentikan gerakannya.
"Geo Shield!" batu batu milikku yang melayang berhenti dan hancur seketika ketika suatu penghalang melindunginya. Aku sudah tidak habis pikir, makhluk ini bahkan bisa sihir?
"Hei hei. Jangan lupa tubuh asliku sebenarnya ahli sihir, jadi jika kita ingin beradu sihir aku akan meladeni sebanyak yang kau mau." jelasnya.
Uhh, ini memang menjengkelkan, tapi aku dan dia hampir sama dalam hal sihir.
Mau bagaimana lagi, saat ini aku harus bertarung jarak dekat! Aku memang sempat kalah tadi, tapi dengan peningkatan statusku saat ini, aku pasti akan berhasil membunuhnya!
Aku mengambil Dragon Claw Sword dan Dragon Fang Knife di kedua tanganku.
"Hoo! Perlengkapan naga? Kalau itu mungkin bisa melukaiku." monster itu tertawa pelan.
"Bukan, bodoh!"
"Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk menghancurkanmu, membunuhmu disini! Dan aku akan menang!" aku berteriak yakin.
***
"Hei, Cilia." seseorang berrambut hitam sedang terbang di atas sebuah kota di Kekaisaran Aentiah. Dia melayang tenang sambil menggunakan jubah hijau dengan tombak hijau di tangannya.
"Ya, Master?!" seseorang dengan pakaian mewah yang mencolok datang mendekat.
Dari perawakannya, dia terlihat berumur belasan, tapi umur aslinya jauh melebihi itu.
Terlihat sayap panjangnya yang berkedut sesekali, yang menandakan dia adalah Ras Priest. Tapi jika melihat lebih jauh, sepertinya dia adalah petarung jarak dekat, atau lebih tepatnya Assasin.
Penampilannya yang ceria menutupi kemampuan aslinya.
"Hei, ayo kita pergi ke Furyuun." laki laki rambut hitam itu melihat ke tombak hijau nya.
"Hehh?! Tiba tiba sekali! Kita harus menyebrangi lautan untuk itu, Master. Tapi, tapi tapi tapi, jika dengan kecepatan Master, dan Master bersedia menggendongku, aku. Aku! AKU SANGAT MAU!" kini perempuan bernama Cilia itu berteriak sambil menutup wajahnya yang kemerahan.
"Ya ya ya. Aku akan menggendongmu. Jadi, cepatlah." jawab si laki laki sambil memutar tombaknya ke belakang, dan tombak itu seperti menghilang menjadi cahaya.
Cilia memiringkan kepalanya bingung, tapi dia tetap melompat dan bercokol di tangan laki laki itu.
"Hehh, tumben sekali Master menurut dan tidak berdebat denganku? Ada apa ini?" Cilia bertanya dengan pose yang dibuat imut.
"Hufft. Sudah kubilang, jangan memanggilku Master lagi. Posisi kita sama sekarang." laki laki itu mendengus.
"Wrath seed sudah lahir. Kita sebagai pemilik asli harus menghancurkannya. Dengan begini, kita bertujuh harus berkumpul untuk membahas ini. Aku tidak menyangka itu akan terlahir kembali setelah sekian lama." dia menutup mata pelan, lalu mempercepat kecepatan terbangnya.
Seketika, Cilia mengubah ekspresi wajahnya.
"Kalau itu, kau bisa merasakannya?"
"Ya. Karena itu adalah sebagian dari jiwaku, aku bisa merasakan dimana munculnya."
"Hufft. Kita harus melenyapkannya ya, Kei?" Cilia tersenyum sedikit, tapi tetap terlihat wajahnya yang sulit.
Kei hanya menunduk, memikirkan beberapa hal yang ada di kepalanya.
"Ya. Kita harus membunuhnya."
.