
"Kalian semua! Jangan bermalas malasan! Cepat! Ini adalah masalah hidup dan mati!!"
"Baik, pak!!"
"Hei kau yang disana! Ikut aku!! Orang bagian pagar masih kekurangan orang! Cepat bantu!"
"Dimengerti!!!"
Suara suara yang teriakan yang teratur terdengar saling betsahutan. Teriakan yang berani, menunjukkan kekuatan mental mereka sebagai seorang petualang. Ya. Itu adalah suara para Adventurer yang sedang bekerja keras untuk membuat beberapa pagar di sekeliling kota.
Sementara itu, Roy berlarian kesana kemari untuk membantu setiap orang yang tampak kesulitan. Tapi bagaimana pun, yang terlihat paling kesulitan adalah Roy itu sendiri.
Kericuhan sedikit terjadi, tapi segera tenang ketika Roy berlari dan sedikit memarahi mereka.
Oleh karena itu, massa Adventurer yang sangat banyak itu bisa terkendali, dan terus melakukan pekerjaan mereka masing masing. Bisa dibilang, Roy memang sangat cocok untuk menjadi seorang Guild Master.
Berbeda dengan di dalam kota, keadaan di luar sangat mengerikan. Dimana benda hitam mirip kabur asap bergerak dengan sangat cepat, menelan semua pepohonan yang kehijauan.
Itu terjadi beberapa saat yang lalu, kini sudah mulai mencapai setengah kawasan hutan yang mengelilingi kota.
Jelas, hal itu menambah kepanikan seluruh warga yang mengetahui nyawanya terancam.
Karena itu, Guild menyuruh semua orang kecuali para Adventurer untuk menyiapkan diri dan masuk ke dalam rumah masing masing. Roy sendiri juga sudah mengambil beberapa langkah pencegahan, untuk mengungsikan seluruh warga nya.
Tapi grup pertama yang dijalankan oleh Guild Master yidak kunjung kembali, bahkan suara pun tidak menunjukkan tanda kembali.
Jelas, itu membuat mereka yang ingin mengungsi merasa takut, dan mengurungkan niat mereka untuk meninggalkan kota.
Roy juga segera bertindak cepat, untuk memindahkan semua anak anak dan wanita ke tempat pengungsian sementara yang berada di sekitar Mansion keluarga Larvest.
Pengungsian itu dibuat sederhana dan terburu buru, jadi tidak terlalu baik, tapi bisa dibilang cukup. Dengan adanya ketakutan yang ada di dalam diri apa warga, kenyamanan atau apapun itu tidak lagi dipentingkan dibanding dengan nyawa mereka.
Sementara para wanita dan anak anak mengungsi, yang laki laki sedang bersiap memperkuat pertahanan kota, dan membuat penghalang besar dari kayu di beberapa gerbang kota.
"Sebenarnya, kita berbuat seperti ini untuk apa?" tanya salah seorang pria sambil mengangkat balik kayu bersama yang lainnya.
"Kau tidak tahu? Guild Master sudah memerintahkan kira secara langsung loh!!" jawab yang lain.
"Justru karena itu!! Sampai Guild Master turun tangan, sebenarnya apa yang terjadi?" jawab yang lain sedikit kesal.
"I-itu..." semua orang hanya terdiam, sambil menandbag langit. Berkat itu, semua orang yang sedang bekerja juga terpengaruh, dan suasana pekerjaan semakin tidak enak.
Kayu yang sedang mereka angkat bersama dijatuhkan, dan orang yang awalnya bertanya mulai kesal dan menendang kayu itu hingga terguling. Tidak hanya itu, beberapa orang yang melihat itu juga mulai mengelilingi nya, melihat apa yang terjadi.
"Benar kan?!! Harusnya kita diberi tahu apa yang terjadi sekarang ini!! Kita hanya disuruh suruh seperti ini! Kita juga warga kota!!" teriaknya.
"Kita adalah warga Eldergale, maka kita harus tahu apa yang sedang terjadi dalam kota kita sendiri. Lalu kenapa hanya para Adventurer yang diberi tahu soal ini, dan hanya memerintah kita seperti pekerja!" orang itu mulai berorasi, ketika melihat makin banyak orang yang berkumpul di sekeliling nya.
Mendengar itu, para warga yang tidak pernah memiliki pengalaman dalam bekerja kasar mulai mengangkat tangan dan mulai meneriakkan beberapa hal yang membuat kerumunan itu semakin memanas.
?!!
BOOMMN!!!
Sebuah kilatan cahaya tiba tiba muncul di tengah tengah kerumunan itu, bagaikan petir yang datang menyambar tepat ke tengah.
Segera, orang orang tertegun melihat itu, dan bersiap untuk berlari. Tapi, melihat sesosok gadis muda yang muncul dari balik cahaya yang berasal itu, mereka mulai tenang. Walau begitu, mereka tetap tidak ada yang berani bersuara.
"A-apa itu?" salah satu dari mereka akhirnya berani mengeluarkan suara.
Sosok yang tertutup asap itu menggerakkan tangan cepat, menerbangkan kabut asap yang mengelilingi tubuhnya, menunjukkan dirinya sebagai sosok yang dikenal semua orang.
"Perkenalkan! Aku Edna Larvest! Puteri dari Roy Larvest! Aku ada di sini untuk mendengar semua keluhan kalian!" teriak Edna yang muncul di tengah tengah kerumunan itu.
("Baiklah, aku sudah melompat ke kerumunan ini seperti kata Ren. Sekarang, apakah mereka semua akan mematuhiku?") gumam Edna bertanya tanya di dalam hatinya.
"Apa yang kalian lakukan? Bukankah Guild Master meminta kalian untuk bekerja sama dan bersatu? Dan sekarang lihat! Apa yang terjadi!" teriak Edna menggema.
Tidak ada yang berani menjawab, karena bagaimana pun, Edna adalah anak dari Guild Master itu sendiri.
"Hufft. Tidak ada yang menjawab, kah? Hei kau yang disana!" teriak Edna seketika menunjuk seseorang.
"Heh? Aku?" orang yang ditunjuk itu segera berwajah pucat.
"Ya! Kau. Jika kau tidak mengatakan ada apa sebenarnya, aku akan menangkap dan membawamu sebagai dalang kerusuhan. Baiklah aku akan menghitung sampai tiga. Satu sampai...."
"T-tunggu! Baiklah baiklah! Aku tidak tahu apa apa, tapi seperti nya pemuda yang ada di tengah itu tahu apa yang terjadi! Dan dari tadi, dia yang berbicara...." kata bapak bapak yang ditunjuk oleh Edna tadi.
Edna tersenyum, mendengar itu.
("Yahh, aku sedikit berlebihan kalau tidak diperintah Ren, tapi sepertinya memang harus seperti ini?") tanya Edna sambil tersenyum masam.
"Baiklah. Kau. Ada apa, jelaskan dalam 5 detik. Aku tidak punya waktu seluang itu untuk mengurusi kalian!!" teriak Edna seraya menepuk pundak pemuda di hadapannya dengan keras.
"Ah uh. Itu. Kami hanya tidak tahu bekerja untuk apa. Kami sebagai warga seharusnya tahu apa yang terjadi! Bukankah kita sama sama warga kota Eldergale? Seharusnya kami-"
"Baik cukup!" sela Edna di tengah-tengah kalimat pemuda itu yang mulai membara lagi di akhir. Walau begitu, semua tetap diam, dengan wajah yang menunduk ke bawah.
Edna sebenarnya sudah mengetahui itu. Tapi, bagaimana dia harus mengatasi dan menjelaskan semua nya, itu adalah hal yang sulit. Tapi, seseorang pernah mengatakan kepada nya, bahwa kekerasan dengan cara yang tepat terkadang perlu untuk mengatur massa yang tak terkendali.
Edna tersenyum sesaat, sebelum menaruh tangan nya di pinggang, dan merubah ekspresi wajah nya kembali menjadi datar.
"Apakah kalian mau mati?" tanya Edna dengan nada rendah.
"Eh?" kerumunan itu secara refleks menanyakan hal yang sama.
"Kutanya sekali lagi! Apa kalian mau mati?!!" teriak Edna, kini lebih keras. Dan dengan datangnya pertanyaan itu, orang orang di sekitar segera saling bertanya, dan keadaan sekali lagi menjadi ramai.
"Jawab!!" tanya Edna semakin keras.
"I-itu... Jelas kami tidak ingin mati! Karena itu lah kami-"
"Karena itu lah kalian harus mengikuti apa yang Guild Master katakan!!" potong Edna segera.
"Jika kalian ingin tahu keadaan di luar, biar aku beti tahu. Kita sudah terkepung oleh musuh yang kekuatan nya luar biasa. Bahkan para Adventurer di seluruh kota juga belum tentu bisa mengeluarkan kita dari situasi ini!" jelas Edna dengan kesal.
"Tidak mungkin....."
"Apakah itu kenyataan?" suara suara putus asa mulai bermunculan di antara mereka.
"Karena itu, kalian sebagai warga kota harus bisa membantu kami, untuk mempertahankan kota ini! Jangan mau enak nya saja, dan bersembunyi seperti wanita dan anak anak! Aku akan ikut bertempur, tapi kalian hanya memperkuat pertahanan mengeluh? Malu lah pada diri kalian sendiri!" teriak Edna.
Setelah memberikan ceramah barusan, Edna mengeluarkan katalis sihir nya yang berupa tongkat, dan mulai berjalan ke arah gerbang kota, meninggalkan orang orang yang terdiam, memberi jalan.
"Putri Guild Master benar. Dia adalah wanita, dan juga belum masuk umur dewasa. Dia sudah berjuang melawan sesuatu yang bahkan kita tidak tahu...." salah seorang angkat bicara.
"Yosh! Kalau begitu, mari kita lakukan apa yang kita bisa, untuk mempertahankan kota ini!!" teriak salah seorang pemuda, mengangkat tangan nya dengan semangat, memicu teriakan yang lain.
Edna yang berlalu menengok sedikit, meninggalkan senyum di wajahnya.
"Seperti yang Ren katakan, orang orang itu memiliki harga diri yang tinggi, ya? Ahh, Ren. Padahal kau adalah adikku yang manusia, tapi kenapa kau bisa memikirkan berbagai hal dengan sangat cepat? Tidak, tunggu. Apakah karena dia adalah manusia?" tanya Edna keheranan.
"Kalau memang seperti itu, Manusia adalah ras yang mengerikan...." Edna tersenyum kecut sambil mengangkat tongkat nya, memberi sinyal pada Ren untuk melaksanakan rencana selanjutnya.