
"Sial!" Aku hanya bisa berlari ketika aku melihat batang hidung dari lebah lebah mulai muncul di belakangku.
("Kenapa mereka bisa menemukanku secepat ini?") Aku terheran melihat mereka yang dengan gigih mengejarku tanpa tahu harus kemana.
("Tidak. Mereka bukannya mengejar ke segala arah. Pasti mereka memiliki sistem komunikasi sendiri. Kalau begitu.") Aku menoleh kembali ke depan, dan aku kembali berdoa bahwa prediksiku salah.
Tapi apapun yang terjadi, itu benar benar menjadi kenyataan. Lebah lebah sekarang muncul di depanku, mengarah ke arahku dengan kecepatan tinggi.
Ahh! Bagaimana bisa aku dalam kondisi terkepung seperti ini?! Ini mengerikan!
"Ahhh, merepotkan!" Aku melompat berputar di udara, mengisi tenaga sihir di tanganku untuk melemparkan bola api.
BAM! BAM! BAM! Ledakan beruntun dihasilkan karena serangan ku menembus lebah lain, membersihkan jalanku dari monster monster yang siap menyerangku.
Aku tidak perlu khawatir untuk mengeluarkan sihir disini, tapi tampaknya aku memiliki masalah baru.
Banyak item drop berjatuhan karena itu, tapi aku tidak ada waktu untuk mengurus itu!
...Anda membunuh "Hell Bee"...
...Anda membunuh "Hell Bee"...
...Anda membunuh "Hell Bee"...
...Anda membunuh "Hell Bee"...
"Berisik!" Aku menyapu log pengumuman dari tengah tengah wajahku, menyimpannya ke samping. Aku kembali berfokus ke lebah lebah yang masih mengejar di belakang.
Ini gila! Aku harus menghancurkan mereka semua sekaligus, lalu segera keluar dari sini!
"[Zadkiel]!" Aku melompat mundur cukup jauh, lalu menyetelnya.
"First!" Aku berteriak, ketika suara klik terdengar. Aku tersenyum ke arah para lebah, menembakkan peluru khusus Zadkiel.
BOOMM!! Sebuah tembakan mirip bazooka keluar dari Zadkiel. Itu adalah peluru pertama, yang sangat cocok untuk keadaan melawan musuh dalam lorong lurus seperti ini.
"Masih belum selesai lho! Rasakan ini!" Tangan kiri ku sudah siap untuk menembakkan peluru selanjutnya, ketika aku masih melayang tenang sebelum akhirnya kembali ke tanah sambil menembakkan peluru dari Zadkiel di tangan kiri.
"Fuh!" Aku mencoba tenang sambil meniup ujung Zadkiel, membuat asap pergi. Tapi nyatanya, aku tidak diberi waktu luang untuk melakukan hal hal seperti itu.
"Hwaaa!" Sesuatu mirip anak panah terlempar ke arahku dengan sangat cepat. Aku menoleh ke arah tembok Dungeon yang terkena panah itu. Tembok itu menghitam dengan cepat!
("Apa apaan itu? Bahkan tembok Dungeon pun menghitam! Apa itu racun?!") Aku hanya bisa berteriak dalam hati.
Lari. Hanya itu yang terpikirkan olehku. Beruntung beberapa sat kemudian, aku melihat portal dan pintu untuk kembali ke dunia atas.
"Yosh aku kembali ke depan portal. Dengan begini, aku tidak perlu terlalu bertarung. Kalaupun perlu, aku hanya harus menahan mereka dari sini. Itu akan mudah!" Aku bersiap memasuki portal biru itu.
...Pintu Dungeon tertutup....
Hal itu seperti vonis mati untukku. Walau aku tidak mungkin mati disini. Hanya saja, madunya. Madunya hancur! Aku akan menangis untuk itu!
"Diena! Soraya sialan kaliaaan! Buka pintunya!!" Aku menggedor pintu batu itu sekuat tenaga.
Tapi tetap, tidak ada yang akan terjadi. Aku harus menghadapi kenyataan yang ada di sini sekarang, para lebah yang akan mengepungku!
"Uh gawat!" Aku bersiap membuat beberapa sihir di sekitar tubuhku. Lingkaran sihir kecil muncul di kanan dan kiri ku. Sedangkan aku bersiap menggunakan Zadkiel.
Aku harus bertahan di sini sampai, ahh! Aku tak tahu!
Kemungkinan terburuk, aku harus mengalahkan boss lantai yang bisa membuatku memilih untuk lanjut atau teleport keluar Dungeon.
Tidak, tunggu. Itu berarti aku harus melewati sarang lebah ini dulu, bukan?
Dan bahkan aku belum tahu boss lantai Dungeon ini!
***
Diena dan Soraya sedang terduduk diam, sambil terus menatap ke portal Dungeon. Portal itu terlihat tenang, tidak menunjukkan adanya bahaya apapun. Seperti mengatakan "Ayolah, aku tidak berbahaya!" sambil mengajak mu masuk.
"Apakah benar-benar baik-baik saja untuk dia masuk ke sana, kak?" Diena bertanya dengan khawatir.
Soraya terdiam, lalu melihat ke arah pintu Dungeon yang terbuka. Portal yang membawa Ren masuk kesana sudah menghilang beberapa saat yang lalu.
"Entahlah. Bagaimana jika kita menunggu 15 menit?" Tanya Soraya sambil duduk sambil mengambil teh dan permen. Sebelumnya tampak khawatir, tapi kini terlihat tenang.
Diena paham, mengikuti kakaknya untuk duduk dan memakan permen di sana.
15 menit berlalu cukup cepat, ketika mereka tiba tiba terhanyut dalam obrolan mereka sendiri.
Sepertinya, kesedihan yang terpampang di wajah mereka 15 menit yang lalu sudah hilang tak berbekas. Jika Ren ada di sini, pasti dia akan mengomentari hal tersebut.
Sudah 15 menit waktu berlalu, dan pintu Dungeon masih terbuka. Sementara itu, portal masih belum muncul juga.
"Bagaimana ini kak? Jika dia tidak muncul?" Tanya Diena menatap pintu Dungeon.
"Mudah saja. Jika dia tidak keluar ketika portal Dungeon muncul, maka dia sudah mati. Mungkin dia beruntung dengan bisa membawa anggota badannya kembali dengan utuh. Atau mungkin tidak?" Jawab Soraya.
"Seperti yang aku duga dari kakak! Kau sangat tenang bahkan dalam masalah seperti ini!" kini Diena memuji dengan mata berkilat kilat.
Sriingg! Sebuah portal melingkar muncul memenuhi pintu Dungeon yang terbuka. Jeda waktu 15 menit sudah selesai.
Soraya dan Diena berdiri di pinggir pintu, menatap ke bawah ke arah portal tersebut. Walau begitu, mereka tampak tidak terlalu mengharap apapun.
Soraya mengunyah permennya, sedangkan Diena masih menyeruput teh nya sambil berdiri.
"Sudah kuduga. Kita terlalu banyak berharap padanya. Ayo kita tutup." Kata Soraya menarik pintu Dungeon itu, menutupnya.
"Hufft, kau benar kak. Salahku mempercayainya." Diena menambahi dan menutup dan menghalangi pintu Dungeon dengan kayu lantai lantai guild.
Mereka tidak tahu, karena saat ini Ren sedang berdebat dengan sistem untuk dirinya sendiri di dalam Dungeon. Seperti orang bodoh memang, tapi itu yang dia lakukan sekarang.
Tapi, itu adalah ketenangan sesaat, sebelum Ren lengah dan membiarkan dirinya tertangkap basah oleh monster lebah itu.
Alarm lebah itu dibunyikan, membuat gempa Dungeon terasa hingga keatas.
"Gempa!" Soraya berteriak ketika tanah yang dia pijak ergwtar hebat, seperti mengocok orang orang yang ada di atasnya.
Secara langsung, itu disebabkan oleh monster yang mengamuk di dalam Dungeon yang disebabkan oleh Ren. Dan itu bahkan mengguncang permukaan dengan keras.
Gempa itu bukanlah gempa lokal yang mengguncang bangunan Adventure Guild, tapi bahkan juga mengguncang seluruh kota Furyuun!
Itu menunjukkan betapa besarnya dampak Dungeon itu terhadap lingkungan sekitarnya.
"Gempa yang cukup besar ya? Apa ada naga di dalam tanah ini?" Tanya Diena tetap tenang sambil terus menyeruput teh nya.
Sebuah tindakan yang tenang, tapi tidak bisa dikatakan cocok untuk saat ini. Dia mencoba meniru kakaknya, tapi dalam hal yang salah!
"Ya itu benar." Jawab Soraya singkat.
Dok dok! Sebuah suara pelan terdengar dari pintu Dungeon. Itu Ren yang sedang sekuat tenaga mencoba untuk memberitahu mereka berdua untuk membuka kayu penutup.
"Kakak, apa kau mendengar sesuatu?" Tanya Diena.
"Tidak. Biarkan saja. Itu mungkin hanya orang orang yang mengamuk ke Adventurer Guild karena gempa barusan." Jawab Soraya.
***
"Fire ball!" Aku masih mencoba bertahan dari serbuan lebah lebah sial yang datang.
Yang lebih menyedihkan, aku terkunci disini oleh kedua orang bodoh itu! Mereka pasti menutup pintunya karena aku tidak kunjung keluar.
"Ugh, [Zadkiel]!" Aku terus meneriakkan beberapa skill dan menembakkan sihir.
Tapi, mereka benar benar sangat banyak! Aku tidak bisa terus terusan menghabiskan sihir untuk melawan mereka.
Untuk jaga jaga kalau aku harus melawan boss lantai, aku harus menghemat MP dan peluru Zadkiel ku. Yahh, walau peluru Zadkiel ini sudah kubuat sangat banyak dan seperti tidak terbatas di dalam ruang hampa ku, tapi aku tetap khawatir.
Terutama dengan MP ku.
"Kalau begitu, mari kita cek kemampuanku!"
...Anda membunuh "Hell Bee"!...
...Anda membunuh "Hell Bee"!...
...Anda membunuh "Hell Bee"!...
...Anda naik level!...
Heh? Ada sesuatu yang terselip disana. Sepertinya pemberitahuan aku naik level, ya? Itu sepertinya hal yang lazim setelah memberantas monster sebanyak ini.
"Hyahyrrrghhh!" Aku maju, menggunakan pisau di kedua tangaku, menyerbu lebah lebah itu. Aku harus mencegah mereka menggunakan serangan jarak jauh mereka, karena itu sangatlah berbahaya.
Tentu aku sudah mengganti senjataku dengan senjata Azantium. Mana mungkin aku menghadapi monster itu dengan pisau aneh buatanku?!
Selain itu, aku juga sekalian meningkatkan kemampuanku dalam bidang assasin!
Dalam beberapa detik, sekelompok lebah di depanku terpotong tapi, meninggalkan beberapa barang dan jatuh dengan suara berdentang.
?!
Waktu melambat.
("Aku pernah merasakan ini sebelumnya.") Aku segera melompat, merasakan sesuatu yang melayang ke arahku dengan cepat.
Itu bahkan lebih cepat dariku, tapi tidak lebih cepat dari peluru Zadkiel.
Apapun itu, itu sangat cepat, dan juga besar. Aku hanya bisa menghindar dengan meloncat ke belakang, membiarkan tubuhku melenting untuk bisa mendarat dengan selamat di tanah.
"Sudah lama aku tidak merasakan [Critical Perception] ku aktif. Tapi, apa itu!" Aku hanya bisa berteriak, ketika melihat tembok Dungeon yang hancur dan menghancurkan debu debu. Disana, terlihat benda mirip logam dengan warna perak.
Sungguh hampir tidak bisa dipercaya bahwa tembok Dungeon bisa dihancurkan dengan kekuatan biasa, tidak menggunakan sihir!
Aku segera bersiap, karena bahkan saat melawan naga pun [Critical Perception] tidak aktif. Apapun itu, sepertinya ini merepotkan.
Kulihat ke sekeliling, sampai aku menemukan asal pelempar senjata itu. Untuk berjaga jaga, aku juga menggunakan [Evaluator] padanya.
..."King of Hell Bee"...
...Level: 80...
...Skill: Unlimit spear, Flash...
...(Raja dari para Lebah! Dia kuat, memiliki racun yang dapat membunuhmu dalam sedetik, dan dia memiliki Agility yang super cepat. Merupakan kesalahan untuk melawannya tanpa stat Agility yang cukup.)...
"Sudah kubilang ini akan sulit, bukan?" aku hanya bisa mendesah perlahan.