Become A Human In Another World

Become A Human In Another World
ACT 6: Bab 5 - Persiapan



"Baiklah. Dengan begini ke yang ke 7...." suara keluhan terdengar pelan.


Itu adalah Ren, yang sedang mengelap peluh seraya menghadap ke matahari.


Matahari sudah menunjukkan keberadaan nya, ketika Ren menanam sebuah benda bulat yang terlihat aneh di beberapa titik di kota.


Semalaman ini, dia sibuk menghitung keliling kota, dan membaginya menjadi beberapa bagian yang tepat, dan berkeliling untuk menanam alat aneh itu di tempat yang sudah dia tentukan sebelum nya.


Cukup sulit bagi Ren untuk memasang di beberapa tempat yang ada penjaga, karena memang tempatnya harus tepat. Tapi dengan beberapa rencana nya, Ren bisa memasangkan beberapa alat itu.


Tapi, ini baru 7 yang dapat Ren tanam. Sebenarnya, Ren merencanakan untuk memasang 20 buah alat itu.


Apa sebenarnya yang dia pasang?


Itu adalah sebuah alat untuk menyalurkan sihir nya, dengan kata lain itu adalah sebuah katalis sihir.


Katalis sihir biasanya sulit untuk dibuat, tapi akhirnya Ren menemukan cara untuk membuat nya. Tentu, benda yang akan dibuat Katalis sihir ini harus menghantarkan sihir dengan sangat baik, juga melepaskan sihir dengan lebih baik juga.


Oleh karena itu, bahan yang dibutuhkan biasanya Mithril, atau bahkan beberapa kertas yang memiliki kemampuan menyerap dengan baik.


Banyak Katalis sihir yang berbentuk buku, dan biasanya merupakan item yang sangat langka.


Dan kini Ren membutuhkan 20 dari nya, itu tidak salah lagi merupakan hal yang gila.


Tapi, Ren sudah meneliti beberapa bulan ini. Penelitian ini juga dia rahasiakan dari orang yang berhubungan dengan nya. Contoh nya saja anggota Black eyes. Dia merahasiakan penelitian ini dari mereka.


Dan hasilnya dia menemukan sesuatu hal, bahwa ada bahan yang lebih baik untuk digunakan sebagai katalis. Selain itu, benda itu jauh lebih murah dan mudah didapat, berbeda dengan kertas suci yang harus melalui beberapa ritual untuk mendapatkan selembar nya.


Itu adalah slime.


Ya. Monster lemah yang berjalan dengan memantul, yang biasanya berwarna biru dan berbentuk bulat. Monster yang biasanya muncul di semua game sebagai monster pertama dan yang paling lemah.


Pada dasarnya, semua monster di dunia ini akan menghilang menjadi debu cahaya, meninggalkan beberapa barang serta batu sihir. Berbeda dengan hewan yang akan tetap tersisa sebagai mayat, atau monster yang diidentifikasi mirip sebagai hewan.


Dan sebelum Ren kembali ke masa ini, Ren sudah bisa membuat monster yang biasanya menghilang menjadi cahaya, justru mempertahankan bentuk tubuhnya, dan menjadi mayat biasa.


Memang cukup aneh, tapi jika membunuh monster secara perlahan dan tidak memberikan serangan langsung, monster akan berubah menjadi mayat.


Ditambah dengan skill [I am the Sadistic] milik Ren, dia bisa menahan kematian monster hingga keadaan terpenuhi, dan mencegah monster itu berubah menjadi cahaya.


Dengan slime itu, Ren membuat sebuah alat katalis yang bisa menyalurkan sihir, dengan kemampuan menghantar kan yang baik, mirip seperti katalis biasanya.


Itu juga menghemat sangat banyak biaya, dan Ren juga berencana untuk menjual benda itu dengan harga yang sedikit lebih murah, sebagai salah satu pendapatan nya.


"Tapi tak kusangka, benda ini justru berguna di saat saat seperti ini, kah?" tanya Ren pelan.


Dia berkacak pinggang, menghela nafas perlahan.


Walaupun sudah melewati beberapa batasnya, Ren tetaplah manusia. Dan lagi, dia yang sekarang masih berumur 10 tahun. Dia sepanjang malam bekerja membuat rencana dan katalis sihir, lalu harus berkelit menghindari penjaga dan memasang semua alat ini di tanah. Bohong jika dia mengatakan dia tidak merasa lelah.


Terlihat dari segaris kantong hitam di bawah pelupuk mata Ren yang mulai membesar.


"Ugh... Ini sudah mulai pagi, dan aku hanya memasang 7, kah? Bukanlah ini terlalu sedikit? Apa aku harus lebih berusaha lagi untuk memasang semuanya sebelum aku kembali?" tanya Ren pelan sambil menimang nimang katalis slime di tangan nya.


"Tidak. Tidak ada hal baik dari setiap hal yang dipaksakan. Lebih baik aku beristirahat. Melihat kondisi ku seperti ini, bukan berarti tidak ada kemungkinan bahwa aku akan jatuh sakit kalau aku terus melanjutkan." bisik Ren pelan.


"Ya. Aku harus beristirahat, menjaga kesehatan ku. Aku tidak tahu bagaimana tubuh ini bereaksi terhadap penyakit, jadi lebih baik berjaga jaga kalau tubuh ini cukup lemah." kata Ren lagi sambil memegang kepalanya yang mulai pusing.


"Selain itu, aku sudah cukup membuat kemajuan yang sangat bagus hari ini, jadi mari kita akhir sebentar..." lanjut Ren berusaha meyakinkan diri nya sendiri.


Mulut nya berkata begitu, tapi hati nya tidak. Dia sebenarnya masih ingin melanjutkan nya, dan memaksakan diri nya lebih dari ini. Tapi kepala nya sudah mulai pusing, dan jalan nya juga tidak terlalu lurus.


Terpaksa keadaan, Ren akhirnya memutuskan kembali, dan masuk ke bawah selimut, untuk mengistirahatkan tubuh nya.


Tak lupa, dia menghabiskan semua sihir nya sebelum tidur, agar tidurnya tidak sia sia, pikir Ren.


Tapi sesaat sebelum Ren menutup mata nya, dia mengingat sesuatu, yang berhubungan dengan kakak nya. Dan karena itu, dia berusaha susah payah untuk menuliskan surat, tentu dengan beberapa tambahan di atas nya.


Sementara itu, ketika Ren mulai masuk ke dalam kamar nya dan menutup mata, sang fajar mulai bangkit.


Cahaya merah yang hangat mulai menyinari seluruh daratan, bagaikan menyerukan semua orang untuk segera bangun, bekerja dan beraktivitas. Begitu juga dengan Kurls, yang sudah menyiapkan kereta kuda, untuk mengantarkan Ruly ke Furyuun.


Ini mundur satu hari, tapi tidak ada pilihan lain.


Itu karena Ren tiba tiba sakit, dan Ruly yang mengganti kan nya. Jadi ayah mereka, Roy menunda perjalanan itu sehari.


"Silakan lewat sini, Nona Ruly." kata seorang pelayan berumur 30 an, yang tidak lain tidak bukan adalah Kurls.


"Ya, Terima kasih, paman. Kita berangkat lebih cepat dari biasanya, ya?" tanya Ruly seraya melangkahkan kaki masuk ke dalam kereta.


"Ya, nona. Ini karena kita harus segera sampai di Furyuun untuk mengidentifikasi orang yang datang, agar kita tetap dapat terdaftar di sana sebagai keluarga siswa Akademi. Oleh karena itu, Tuan Muda meminta saya untuk berangkat lebih cepat." kata Kurls sambil membungkuk.


"Tuan Muda?" tanya Ruly pelan.


Kurls berputar dan menutup pintu, sebelum akhirnya dia naik ke kursi kusir, dan memacu kuda agar berjalan perlahan.


Nina dan Roy, serta beberapa anggota keluarga lain seperti Edna dan Borls melambaikan tangan, mengantar kepergian Ruly sementara Ruly juga membalas lambaian tangan mereka.


"Ya. Tuan Muda Ren, mengatakan hal itu. Seakan ingin mengalihkan sesuatu di pagi hari." lanjut Kurls membahas hal tadi.


Itu membuat Ruly terdiam, dan menatap ke langit langit kereta kuda miliknya.


Cukup lama dia terdiam, sampai akhirnya dia menghela nafas pelan.


Hanya terdengar sebuah suara seduhan teh yang berasal dari seorang pelayan pribadi Ruly, yang bersama Ruly untuk melayani sekaligus menjaga Ruly dari siapa pun.


"Hufft. Aku tidak tahu apa yang ingin dia lakukan, tapi seperti nya itu adalah sesuatu yang besar. Dan aku tidak bisa ikut campur dalam itu, seperti aku hanyalah seorang karakter sampingan biasa. Huhh....." keluh Ruly pelan.


"Yahh, aku tahu aku karakter sampingan, tapi setidak nya aku tahu bahwa adik ku itu, Ren sedang serius. Aku tidak tahu apa yang bisa membuat anak jenius itu benar benar serius seperti itu..."


"Yahh, aku berdoa untuk kebaikan nya." lanjut Ruly sambil merentangkan tangan.


Pelayan yang ada di dalam kereta itu mengangguk, sambil menuangkan teh untuk Ruly dengan asap yang masih mengepul. Terlihat teh yang berkualitas tinggi sedang dituangkan, membuat wajah murung Ruly berubah menjadi cerah.