
"A-apa yang harus aku lakukan? Kalau begini terus, Liu Xiu akan segera pergi meninggalkan ku!!" sebuah suara gelisah terdengar di sebuah ruangan. Tampaknya mengatakan sesuatu tentang Liu Xiu
Dia bolak balik, berputar, dan berjalan jalan terus dalam kamarnya. Sepertinya dia sedang bingung.
"Pulan. Ya! Pulan!! Tolong bantu aku!!" teriak Xi sambil memanggil familiar nya.
"Ya, putri. Apakah anda memanggil saya?" sebuah suara berat tiba tiba muncul di sebelah Xi. Itu adalah Pulan, yang merupakan rusa raksasa. Tapi di dalam kamar ini, dia menggunakan bentuk rusak kecil yang imut.
"Tolong bantu aku. Aku tidak ingin Liu Xiu pergi. Apa yang harus aku lakukan agar dia tidak pergi?" tanya Xi.
"Apa maksud anda, yang mulia?" tanya Pulan.
"A-aku tidak tahu! Aku hanya ingin Liu Xiu tetap tinggal tapi, ahh.... Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan!! Tapi.. Bagaimana? Tidak! Itu tidak mungkin!!" semprot Xi dengan kata katanya yang tidak nyambung sama sekali.
Pulan yang mendengar itu, tersenyum menahan tawa.
"Tenang, putri. Lakukan pernafasan dengan benar, lalu anda akan bisa menjelaskan semuanya dengan benar." kata Pulan berusaha menenangkan Xi.
"Kau benar. Aku harus tenang." kata Xi sambil memulai pernafasan nya.
Itu terjadi beberapa detik, tidak. Justru Xi melakukan pernapasan selama beberapa menit, entah karena dia gugup atau sesuatu menyerang otaknya.
"Putri, apakah kau sudah nyaman dengan pernafasan mu?" tanya Pulan.
"Ya. Ini menenangkan. Kau harus coba sekali sekali, Pulan. Ini sangat luar biasa." kata Xi sambil tersenyum, dan mengambil nafas lagi.
"Mungkin anda akan berkultivasi jika anda terus menerus melakukan nya, putri." Pulan mengingatkan dengan sedikit menyindir Xi. Itu membuat Xi meledak dan wajahnya berwarna merah karena malu.
Setelah itu terjadi, dia beteriak dan berlari ke sekeliling ruangan. Itu terlihat seperti orang yang kesurupan, tapi bedanya dia lucu.
"Kenapa? Kenapa aku tidak bisa menghilangkan bayangan Liu Xiu dari wajahku?!" akhirnya Xi mengatakannya dengan keras.
"Senyumnya, bagaimana dia menjaili ku, bagaimana dia tertawa, itu semua tidak bisa hilang dalam pikiranku! Apakah ini mantra sihir? Tidak mungkin, bukan? Liu Xiu tidak bisa menggunakan sihir. Aku tahu itu."
"Tidak. Itu bisa jadi. Aku tidak pernah tahu kekuatan terkuat Liu Xiu. Jangan jangan dia memiliki kekuatan untuk mengendalikan pikiran?!!" teriak Xi semakin melantur.
Dia sekarang berjalan bolak balik sambil menganggap kepalanya, dan berkata beberapa hal yang aneh. Itu membuat Pulan tertawa.
"Seperti nya saya tahu apa yang terjadi pada anda, Tuan Putri." kata Pulan setelah beberapa lama memperhatikanmu Xi.
"Apa itu? Apakah aku benar benar menjadi gila sekarang!" tanya Xi dengan ekspresi agak putus asa.
Pulan terkekeh pelan, lalu berjalan mengitari Xi.
"Apa yang Tuan Putri rasakan itu disebut jatuh cinta. Singkatnya, itu berarti Anda menyukai tuan Liu Xiu." jelas Pulan dengan senyum. Melihat ekspresinya, dia terlihat sangat puas saat mengatakan hal itu.
Sedangkan Xi, dia hanya melongo sambil melihat Pulan dengan wajah penuh tanya.
"Apa yang kau katakan. Aku tentu menyukai Liu Xiu. Dia adalah penyelamat kita semua, bukan? Dan apa itu jatuh cinta. Aku mengerti definisi jatuh, tapi apa arti cinta? Jangan gunakan kata kata yang sulit! Jelaskan dengan lebih mudah!" teriak Xi.
Pulan menghela nafas. Padahal, dia sudah menjelaskan semudah mungkin pada Xi, takut dia tidak mengerti. Tapi Pulan tidak menyangka bahwa kepolosan tuannya sampai seperti ini.
"Putri pasti sering melihat banyak orang yang menikah, bukan? Nahh, orang itu menikah karena perasaan itu, perasaan cinta." jelas Pulan.
"Hehh? Bukanlah mereka hanya ingin memperoleh keturunan?" tanya Xi.
"Y-yahh, itu juga benar. Tapi intinya adalah itu." kata Pulan terbata bata.
"Jelaskan dengan benar!" teriak Xi marah.
"Hufft. Mau bagaimana lagi, di sekitar Tuan putri tidak ada teman perempuan apalagi teman laki laki. Jadi Putri tidak akan mengerti." kata Pulan sambil menghela nafas, tampak lelah.
Lantas, Pulan mengajarkan Xi tentang hal hal itu, dan beberapa hal lainnya. Dan bahkan sampai beberapa yang tidak seharusnya dikatakan.
Itu membuat wajah Xi memerah, tapi dia tetap menahan diri untuk mendengarkan itu semua sampai akhir.
"Jadi, saya tanya lagi. Apa yang anda inginkan dari tuan Liu Xiu?" tanya Pulan setelah memberikan kuliah panjang lebar.
"A-aku~"
"Aku ingin bersamanya. M-memang memalukan untuk mengatakannya, tapi aku ingin terus bersamanya, kapan pun. Aku juga ingin tidur, makan, dan melakukan keseharian dengannya seperti biasa. Melakukannya selama beberapa hari ini, membuatku bahagia. Dan jika dia tiba tiba pergi..."
Xi terdiam sesaat, lalu menarik nafas.
"Aku merasa sedikit tidak rela." kata Xi pelan. Itu membuat Pula mengangguk kan kepalanya puas mendengar itu.
Klak!!
Suara pintu yang dibuka. Segera, Xi menutup mulutnya dengan kedua tangan untuk mencegah suara keluar sedikitpun.
Beruntung, beberapa lentera untuk penerangan sudah dia matikan. Itu membuat rumah gelap seperti semua penghuni nya sudah tidur terlelap.
Suara pintu itu adalah Liu Xiu, yang baru saja datang setelah berbicara dengan Beast tadi sebentar.
"Pulan, itu Liu Xiu! Apa yang harus aku lakukan?" tanya Xi dengan gelisah. Dia mengintip keberadaan Liu Xiu dari jauh, dan takut untuk mendekat.
"Bukankah ini kesempatan terakhir anda, putri?" tanya Pulan.
"Hah? Apa maksudmu?" tanya Xi.
"Bagaimana jika anda katakan perasaan anda sekarang? Kesempatan seperti ini tidak datang dua kali, tuan putri. Jika tidak sekarang, mungkin tuan Liu Xiu akan pergi besok. Saat itu terjadi, apakah putri bisa menyatakan nya?" tanya Pulan.
Itu membuat Xi terdiam, menunduk ke bawah. Hatinya bimbang karena kata kata Pulan.
"Mungkin tidak bisa." jawab Xi pelan.
"Oleh karena itu, Anda harus percaya diri, putri. Mungkin akan berakhir buruk, tapi yang terpenting putri sudah mengatakan yang sejujurnya, dan tidak akan menyesal di kemudian hari." kata Pulan.
Nasihat itu terngiang ngiang di pikiran Xi karena dia berpikir bahwa itu benar. Bagaimanapun, kenyataannya dia mencintai Liu Xiu. Dan dengan cara apapun juga, Dia akan segera mengatakannya cepat atau lambat.
"Baiklah, Pulan. Aku akan melakukannya." jawab Xi yakin.
***
Liu Xiu sedang bersiap untuk tidur sekarang, sedangkan Xi sedang mempersiapkan hati dan mental nya untuk menyatakan perasaan nya pada Liu Xiu.
Dia bahkan berdoa bahwa Liu Xiu belum tidur, jadi dia mulai mengetuk pintu.
Kurang beruntung untuk Xi, karena saat dia mengetuk pintu, Liu Xiu baru saja menutup matanya dan terlelap.
Jelas tidak ada yang mengetahui ketikan pintu Xi.
"Tidak ada jawaban, apakah dia tidur?" tanya Xi ketika dia mengetuk pintu Liu Xiu. Walau begitu, dia mengetuk pintu sangat pelan karena gugup.
Dia lantas membuka pintu, dan menghasilkan sedikit suara.
Itu membuat Liu Xiu seketika bangun. Penjagaan yang sangat tinggi dari Liu Xiu membuat dirinya bisa menyadari beberapa suara saat tidur. Tapi agak aneh dia tidak mendengar suara ketukan pintu Xi.
...("Ada seseorang yang masuk? Siapa itu? Siapapun itu, aku harus bersiap.") pikir Liu Xiu....
Dia saat ini terlihat tidak bersenjata, padahal di bawah bantal dia sudah menyiapkan sebilah pisau yang dapat dia tarik dengan cepat bahkan sebelum disadari penyerangnya. Jadi, dia bahkan tanpa celah saat tidur.
Tap... tap....
Suara langkah kaki kecil Xi terdengar lembut, tapi Xi audah berusaha untuk tidak membuat suara semampunya.
("Suara langkah ini, Xi? Apa yang dia lakukan disini? Apakah dia lakukan disini? Apa dia ada perlu denganku? Atau mungkin dia ada sebuah barang yang akan dia ambil. Oleh karena itu dia mengendap-endap agar tidak membangunkan ku?") tanya Liu Xiu dalam pikirannya.
Dia terus mendengarkan dan menggunakan skill [Sharp Hearing] untuk mendengarkan arah langkah kaki Xi
Langkah itu berjalan ke kaki Liu Xiu, membuat dia bingung sesaat. Liu Xiu kira, dia akan berjalan menuju sampingnya atau lain tempat.
Terdengar suara anggukan kepala dari Xi sesaat, sebelum dia berusaha untuk menguatkan dirinya. Liu Xiu mendengarkan itu semua dengan baik, termasuk beberapa gerakan tangan Xi yang membenarkan rambut yang jatuh ke telinganya.
Itu adalah Xi yang sedang bergumul dan merangkak di bawah selimut Liu Xiu!
Liu Xiu hampir berteriak menyadari itu, tapi dia menahannya sekuat mungkin.
Selimut yang digunakan Liu Xiu terlihat menggunung, dengan benda di dalamnya yang terus bergerak menuju perut Liu Xiu. Itu sedikit geli, tapi Liu Xiu masih bisa menahannya.
Karena tubuh Xi yang kecil, mudah baginya untuk menyusup melewati selimut itu hingga ke dada Liu Xiu dan menyingkap selimut yang menghalanginya.
Sampai akhirnya, Xi sampai di penghujung selimut, dan menatap wajah Liu Xiu langsung.
Dia menggosokkan pipinya di dada Liu Xiu sesaat, sebelum dia memanggil Liu Xiu.
"Kau tidak tidur bukan, Liu Xiu." tanya Xi.
Mendengar itu, Liu Xiu hanya bisa menghela nafas panjang, menyerah. Karena bagaimanapun, tidak ada gunanya meneruskan drama yang tidak berguna itu.
"Seperti yang kau tahu." jawab Liu Xiu membuka matanya.
Saat dia membuka mata, Liu Xiu menyadari bahwa wajah Xi benar benar dekat. Dengan wajahnya yang memerah dan fitur wajah yang cantik dari Xi, tidak mungkin bagi Liu Xiu untuk tidak memerah melihat itu.
Apalagi posisi mereka yang sedang berada di atas satu ranjang yang sama, bahkan berbagi selimut yang sama membuat Liu Xiu harus membuang mukanya.
"Ada apa, Liu Xiu." tanya Xi.
"Itu harusnya kalimat ku. Apa yang kau lakukan disini? Ini adalah kamarku! Apakah kau ngelantur dan salah kamar?" tanya Liu Xiu.
"Secara teknis, ini adalah rumahku. Jadi aku bebas masuk kemanapun yang aku mau." jawab Xi dengan mudah.
Liu Xiu mendengus kesal dengan itu, dia membuat wajahnya benar benar datar sekarang. Itu adalah efek skill [Poker Face] yang membuat wajahnya tetap dalam posisinya dan tidak menjadi merah sekarang.
"Baiklah. Kalau begitu, biar aku yang keluar." kata Liu Xiu sambil mulai berdiri.
"Liu Xiu, tunggu." kata Xi, menahan tubuh Liu Xiu dengan menaruhkan kepalanya di dada Liu Xiu.
Liu Xiu sedikit terkejut, tapi dia membiarkan nya untuk sesaat. Tapi karena Xi tidak kunjung mengatakan sesuatu, Liu Xiu sedikit menggoyangkan tubuhnya, membuat Xi segera sadar.
"Ya. Bukankah kau ingat apa yang kau katakan padaku tadi?" tanya Xi.
"Kau berjanji untuk melakukan apapun." lanjutnya. Itu membuat Liu Xiu segera mengingat kata katanya, dan segera menerka-nerka apa yang akan Xi minta darinya.
"Baiklah, Xi. Apa itu?" tanya Liu Xiu.
"Tetaplah tinggal di sini bersama ku." kata Xi sambil memeluk erat Liu Xiu.
"Heh?" tanya Liu Xiu tidak percaya.
"Ya! Tinggal lah disini berama ku! Mungkin sangat memalukan untuk ku mengakui nya, tapi aku selalu gugup ketika bertemu dengan mu, jantung ku selalu berdebar kencang setiap melihatmu, dan berbicara dengan mu membuatku bahagia."
"Memang ini menyedihkan untuk diucapkan oleh orang seperti ku, tapi aku mencintaimu, Liu Xiu!" kata Xi dengan keras.
Itu membuat Liu Xiu membeku saking terkejutnya. Bahkan setelah menggunakan skill [Poker Face] itu tidak bisa menutupi ekspresi nya yang benar benar kaget.
"Aku tidak ingin kau pergi, Liu Xiu. Aku ingin kau terus bersama ku. Dengan kata lain, aku ingin menikah dengan mu! Tidak. Salahku." Xi menghentikan kata katanya, dan sedikit melepas pelukannya.
Dia lantas mengangkat kepalanya, agar bisa menatap wajah Liu Xiu secara langsung.
"Tolong jadikan aku istrimu, Liu Xiu!" kata Xi dengan yakin.
Terlihat wajah Xi yang sedikit menangis, dan pipi yang memerah membuatnya sangat manis. Ditambah dengan cahaya bulan yang perlahan masuk, Xi terlihat sempurna sekarang.
Xi benar benar tidak mampu berpikir jernih sekarang. Dalam posisi seperti ini bahkan jantungnya berdegup kencang sekarang.
Itu adalah beberapa detik paling menenangkan dalam hidup Liu Xiu selama ini.
Dia juga memiliki beberapa kondisi padanya. Jika dia tidak menerima dan melakukan sesuatu pada Xi, maka harga dirii nya sebagai laki laki akan berkurang. Tapi jika dia menerima nya, dia akan kehilangan tujuan awalnya.
Itu adalah beberapa detik yang terlihat cepat, tapi sangat lama bagi Liu Xiu. Apalagi dia berusaha berpikir sangat cepat di setiap detiknya membuat itu bertambah lama.
Tapi akhirnya Liu Xiu mendapat kesimpulan cepat.
Dia menggerakkan tangannya, dan membelai pipi Xi sedikit.
"Xi... Aku mengerti."
"Kau mengerti, bukan?" tanya Xi dengan senyum.
"Tapi maaf." Liu Xiu dengan satu gerakan cepat, Liu Xiu membalikkan keadaan, menyalakan lampu, dan meyingkap selimut.
"Hah?"
"Aku tidak bisa menikah dan tinggal disini." kata Liu Xiu cepat.
Xi yang mendengar itu terdiam, dan menjadi murung seketika. Dia mendekap selimut, merasa bahwa hatinya hancur. Rasanya ingin menangis.
Liu Xiu juga tahu, ini akan terjadi, tapi Liu Xiu tidak mengira bahwa Xi akan mengambil langkah agresif untuk secara langsung menyatakan perasaannya pada Liu Xiu. Karena memang sejak awal, Liu Xiu memiliki skill [Observer(Mimic)], jadi dia tahu hanya dengan mengamati wajah Xi.
"Kenapa." bisik Xi pelan.
"Kenapa kau tidak mau menikah dengan ku? Apakah aku kurang menarik? Apakah kau membenciku? Atau ada orang lain di hatimu?" tanya Xi sedikit mengeluarkan air mata.
"Semuanya!" teriak Liu Xiu dengan semangat.
"Hah?" lagi lagi kata itu keluar dari mulut Xi, saking terkejutnya.
"Tidak. Aku hanya bercanda." lanjut Liu Xiu sambil sedikit menjulurkan lidahnya. Itu membuat Xi yang tadinya akan menangis jadi bernafas lega, tapi bersamaan dengan itu dia merasa kesal.
"Liu Xiu, kau!!!"
"Tapi!!" Liu Xiu segera menyela sebelum terjadi hal hal yang lebih mengerikan.
"Aku sedikit menyukai mu, kau tahu? Yahh, walaupun sedikit sihhh...." kata Liu Xiu berusaha memalingkan mukanya.
"Kalau begitu?" Xi bertanya pelan.
"Tapi, aku akan berjalan ke sekeliling dunia, meninggalkan mu akan sulit jika aku harus menikahi mu. Dan juga, perjalanan ku akan lebih berbahaya dari perjalanan sebuah adventurer biasa. Aku tidak akan membawa mu dalam perjalanan itu." kata Liu Xiu dengan wajah serius.
Xi yang mendengar itu terdiam, menatap wajah Liu Xiu dengan kagum dan wajahnya yang sedikit memerah mendengar bahwa Liu Xiu benar benar memperhatikan nya.
"Kau curah, Liu Xiu!" kata Xi pelan.
"Yahh, memang ini caraku, kau tahu?" jawab Liu Xiu sambul tertawa.
"Kalau begitu, maukah kau berjanji?" tanya Xi.
"Apa?"
"Berjanjilah akan kembali kemari. Kau harus janji." kata Xi.
Liu Xiu mendengarnya tersenyum sambil menyentuh kedua pilih Xi.
"Aku mungkin tidak bisa kembali kemari, tapi aku berjanji." jawab Liu Xiu seraya memberikan tepukan ke kepala Xi. Itu membuat Xi senang, tapi karena tangan Liu Xiu ada di atasnya, dia segera meraihnya dengan cepat.
"Untuk permintaan ku..."
"Bisakah kita tidur bersama hanya untuk malam ini?" tanya Xi dengan malu.
Liu Xiu menghela nafas, dan berpikir bahwa mungkin ini adalah hari terakhir nya di Pohon Dunia ini. Jadi permintaan yang hanya sekali ini akan cukup menyedihkan jika tidak dia turuti.
"Baiklah. Tapi berjanjilah untuk tidak berbuat yang aneh aneh." jawab Liu Xiu sambil sedikit mencubit hidung Xi.